Persiapan Menuju Perkawinan Bahagia
Judul : Sebelum Janji Terucap
Penulis : Adriana S. Ginanjar
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga : Rp. 38.250
Format : softcover
Halaman : 191
Tahun Terbit : 2011
Bahasa : Indonesia
Kurangnya pengetahuan dan persiapan pasangan menjelang pernikahan, diyakini menjadi penyebab banyaknya masalah dalam perkawinan. Kira-kira itulah keprihatinan yang dirasakan Adriana S. Ginanjar, konselor perkawinan dari Psikologi Universitas Indonesia, yang kemudian mendorongnya untuk menulis sebuah buku.
Read more…
Musisi Mengatasi Demam Panggung – bagian dua
Setelah memahami apa itu demam panggung, gejala dan si musisi sendiri sebagai sumbernya, sekarang akan dijelaskan beberapa sumber lanjutan serta metode mengatasinya.
Musisi Mengatasi Demam Panggung – bagian satu
Salah satu hal menyenangkan bagi seorang musisi adalah bermain musik dan menampilkankannya di depan penonton. Bisa mengekspresikan diri lewat musik, membagikan musiknya dan menerima energi kembali dari penonton itu seperti menjadi ‘candu’ bagi mereka. Namun tak selamanya yang terjadi bisa seideal itu, akibat munculnya performance anxiety atau kecemasan penampilan atau biasa dikenal dengan demam panggung. Alih-alih merasakan kesenangan bermusik, seorang musisi justru merasakan stres hingga kemudian merusak penampilan mereka.
Lalu, bagaimana seorang musisi bisa mengatasi demam panggung itu?
Menghadapi Perubahan

Di suatu sore di bulan Juli, saya dan beberapa teman yang baru saja selesai sidang tugas akhir berkumpul dan mengobrol santai. Topik pembicaraan yang kami angkat tidak spesifik, namun secara natural topik ‘apa yang akan saya lakukan setelah ini?’ muncul ke permukaan.
Salah satu teman mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya mengurus anak dan suami, teman lain mengatakan bahwa ia akan segera mencari pekerjaan sebelum ia sibuk dengan persiapan pernikahannya, satu teman lagi (yang single) bercerita cara-cara menjawab pertanyaan keluarganya seperti ‘kapan bekerja?’ ‘kapan menikah’ dan kapan, kapan lainnya.
Dari Psikolog Jadi Pembuat Kue
“Lalu (gelar) S2-nya mau diapain?”
Begitulah komentar yang diterima Andita Saviera (28) saat memutuskan meninggalkan aktivitas sebagai psikolog dan menjadi seorang pembuat kue. Namun ia tetap melaju menjalani hasrat hatinya itu dan menemukan kegembiraan dalam profesi barunya.
Senangnya Kita, Derita Mereka
Diambilnya puntung rokok yang masih membara itu. Bapak tak sengaja meninggalkan rokok itu di dekatnya. Kala itu, Tika masih kelas 5 SD. Karena ingin mencoba seperti apa enaknya merokok, ia pun menghisapnya. Setelah asap rokok memasuki mulutnya, Tika terkejut. Katanya, merokok itu nikmat, tapi Tika justru merasakan sebaliknya. Ia terbatuk-batuk hingga mata dan hidungnya berair. Sejak saat itu, Tika tidak ingin lagi merokok. Namun beda soal dengan bapaknya. Sepuluh tahun kemudian pun, bapak masih saja merokok.
Sepuluh Menit Menjadi Gelandang Jempolan
Siapa tak kenal Steven Gerrard, ikon klub sepakbola kota Liverpool? Atau Kaka, playmaker kebanggaan Brasil? Atau pemain terbaik dunia saat ini, Lionel Messi? Mereka semua adalah pemain sepabola kelas wahid. Memiliki teknik bermain sejago mereka, barangkali adalah idaman setiap pesepakbola. Namun, kadang kita juga harus realistis dengan kemampuan kita. Kita bisa jadi tidak mungkin akan mampu menjadi gelandang sehandal mereka. Tapi walaupun begitu, kita tak perlu berkecil hati. Sekelompok peneliti telah menemukan sebuah program intervensi psikologis yang bisa membantu kita menampilkan performa apik ketika bermain bola. Dan berita baiknya lagi, kita bisa menerapkannya sendiri dengan mudah!

