“Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 1)
Beberapa minggu belakangan ini media kita (termasuk blog) diramaikan oleh pembahasan seputar insiden yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dalam insiden tersebut, seorang praja tewas karena dianiaya oleh para seniornya dalam rangka pemberian hukuman –atau dalam istilah mereka sendiri, ‘pembinaan’ atau ‘koreksi’– atas kesalahan yang dilakukan sang praja. Ini bukan yang pertama kalinya; menurut penelitian yang dilakukan oleh seorang dosen IPDN, terdapat lebih dari 30 kasus kematian tak wajar yang dicurigai disebabkan oleh penganiayaan. Kasus-kasus itu terjadi dalam rentang waktu yang panjang, dan diduga telah menjadi tradisi di institut itu.
IPDN tidak sendirian. Beberapa tahun sebelumnya juga sempat ramai diperdebatkan aktivitas ‘perploncoan’ di sebagian universitas yang dianggap menyiksa dan menganiaya mahasiswa baru. Dalam skala yang lebih kecil, hubungan siswa senior-junior yang tidak sehat juga terjadi di sekolah-sekolah menengah. Bullying, adalah kata kunci untuk mendeskripsikan semua gejala itu. Apa sebenarnya bullying? Perbuatan apa saja yang dikategorikan sebagai bullying? Mengapa pelaku melakukan bullying, dan apa dampaknya bagi korban?
Apa itu Bullying?
Ada banyak definisi mengenai bullying, terutama yang terjadi dalam konteks lain (tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual). Namun di sini penulis akan membatasi konteksnya dalam school bullying. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Mereka kemudian mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori:
- Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
- Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
- Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
- Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
- Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Dari beberapa penelitian sebelumnya, juga ditemukan perbedaan umur dan gender yang dapat mempengaruhi perilaku bullying. Pada usia 15 tahun, anak laki-laki ditemukan lebih cenderung mem-bully dengan kontak fisik langsung, sementara anak perempuan lebih cenderung mem-bully dengan perilaku tidak langsung. Namun tidak ditemukan perbedaan dalam kecenderungan melakukan bullying verbal langsung. Pada usia 18 tahun, kecenderungan anak laki-laki mem-bully dengan kontak fisik menurun tajam, dan kecenderungannya untuk menggunakan perilaku verbal langsung dan perilaku tidak langsung meningkat, meskipun anak perempuan masih tetap lebih tinggi kecenderungannya dalam hal ini.
Patut dicatat bahwa ini adalah hasil penelitian di luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Riauskina dkk. menemukan dalam penelitiannya pada 2 SMA di Jakarta bahwa kecenderungan untuk melakukan kontak fisik langsung masih terlihat pada anak laki-laki di usia 18 tahun.
Mengapa Melakukan Bullying?
Seperti yang telah terjadi pada kasus IPDN dan sebagian kasus-kasus lainnya, bullying adalah sebuah siklus, dalam artian pelaku saat ini kemungkinan besar adalah korban dari pelaku bullying sebelumnya. Ketika menjadi korban, mereka membentuk skema kognitif yang salah bahwa bullying bisa ’dibenarkan’ meskipun mereka merasakan dampak negatifnya sebagai korban. Hal ini tampak dalam sebuah potongan wawancara pra-survei:
Tanya: …kalo nanti kalo kalian udah kelas dua gitu, mungkin ga jadi kaya mereka sekarang…?
Jawab: …tergantung si, tergantung ade kelasnya…kalo ade kelasnya nyolot ya gue marahin…
Mengapa seorang korban bisa kemudian menerima, bahkan menyetujui perspektif pelaku yang pernah merugikannya? Salah satu alasannya dapat diurai dari hasil survei: sebagian besar korban enggan menceritakan pengalaman mereka kepada pihak-pihak yang mempunyai kekuatan untuk mengubah cara berpikir mereka dan menghentikan siklus ini, yaitu pihak sekolah dan orangtua. Korban biasanya merahasiakan bullying yang mereka derita karena takut pelaku akan semakin mengintensifkan bullying mereka. Akibatnya, korban bisa semakin menyerap ’falsafah’ bullying yang didapat dari seniornya. Dalam skema kognitif korban yang diteliti oleh Riauskina dkk., korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena
- Tradisi
- Balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki)
- Ingin menunjukkan kekuasaan
- Marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan
- Mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan)
- Iri hati (menurut korban perempuan)
Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena
- Penampilan menyolok
- Tidak berperilaku dengan sesuai
- Perilaku dianggap tidak sopan
- Tradisi
Apa Dampak dari Bullying?
Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.
Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.
Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Dari 2 SMA yang diteliti Riauskina dkk., hal-hal ini juga dialami korban, seperti merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri!
Dari informasi di atas, kita dapat melihat bagaimana perilaku bullying sebenarnya sudah sangat meluas di dunia pendidikan kita tanpa terlalu kita sadari bentuk dan akibatnya. Dalam bagian ke-2, penulis akan menelusuri beberapa sumber lebih jauh lagi untuk melihat karakteristik pelaku bullying, mitos dan fakta tentang bullying, serta bagaimana menghadapi bullying, baik bagi korban, siswa lain yang menonton, maupun bagi pihak sekolah atau orangtua.
Sumber:
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13



ga suka!! kaya di film film anak SMA gitu,, ihh,, apaan sih!! (kok Ma ga inget jaman SMA ada yang kaya gitu,,)
Rizma Adlia
Sabtu, 28 April 2007
Ini lain hal sih, bgmn dengan bullying di lain tempat misal di tempat kerja atasan atau senior yang sewenang2 dan berkata2 kasar + jorok kadang2 apakah itu juga bisa disebut sebuah bullying ( pelanggaran susila)? kalau iya apakah ada aturan khusus yg mengatur tentang itu. Bgmn dgn atasan yg selalu menyudutkan karyawannya dengan alasan(motivasi) agar karyawannya lebih taat rajin dan bisa sesuai dengan kriterianya bekerja,mngkin dgn cara menyindir saat meeting, atau apabila dalam waktu 1 bln terjadi pelanggaran yg tdk disengaja maka pd saat meeting selalu disindir terus2an bahkan merendahkan dgn bahasa ironi. apakah itu jg bullying? jadi atasan selalu mengecap jelek karyawannya karena suatu kekurangan yg sebetulnya wajar,lalu menyudutkan dgn berbagai sumber termasuk apabila ada suatu berita di internet yang menyangkut jabatan yg sama langsung dikirim attachment/YM berita itu disebarluaskan ke semua karyawan.seolah-olah pelaku dari berita itu ya karyawan yg menerima berita itu.
begitu pula pada saat menyumbang ide utk tempat kerja selalu pada awalnya diejek dulu ditekan dulu dicari sisi negatifnya dulu sampai tdk ada solusi , barulah ide itu bisa dinegosiasikan, seolah2 atasanlah yg selalu punya kemampuan lebih dlm berbagai bidang.
deky
Jumat, 4 Mei 2007
Iya sih sekarang kayaknya mulai di”bongkar” deh soal kekerasan yang tersembunyi ini. Ya bagus saya kira pekembangan di Indonesia. But, memang istilah bullying sendiri masih kurang “familiar” di kalangan Indonesia sendiri.
Oiya.. aku mo skripsi soal tema “bullying” ini. Ada yg punya temen yg pernah jadi pelaku or korban nggak ya?mo dimintai bantuan nih jadi subyekku.
asri plasma
Sabtu, 5 Mei 2007
minta kirimin jurnal psikologi yang jadi sumber tulisan ini donk!!!
boleh ya!!!
dwigantara
Minggu, 6 Mei 2007
@deky:
Wah, ini pertanyaan yang sulit ^^;. Pertama, saya belum bekerja (sarjana aja belum!). Kedua, saya nggak begitu mendalami psikologi industri. Tapi dalam artian ‘yang lebih kuat menyiksa yang lebih lemah’, kejadian yang anda sampaikan bisa termasuk workplace bullying (http://en.wikipedia.org/wiki/Workplace_bullying).
Memang bullying (dalam konteks apapun) suka menggunakan alasan2 “supaya tahan banting”, “supaya nggak cengeng”, “supaya respek/hormat/tau aturan” dsb, untuk membenarkan perbuatannya, padahal tujuan-tujuan itu sebenarnya bisa dicapai tanpa harus mengorbankan kondisi fisik dan psikologis orang lain.
Nah, sulitnya adalah menghentikan hal itu, karena berbeda dengan institusi pendidikan, perusahaan jarang punya aturan eksplisit terkait dengan workplace bullying ini. Kalaupun ada, pembuktiannya juga sulit sekali. Mungkin bisa dicek dulu aturan perusahaannya seperti apa, juga mekanisme ‘pengaduan’nya, mungkin bisa lewat divisi HRD.
@asri plasma:
Masa sih kesulitan nyari subjek? ^^; Setahu saya di tiap sekolah (bahkan kalau baca berita akhir2 ini, juga di SD!) pasti ada bullying-nya kok (meski mungkin tarafnya masih ringan). Tapi kalau penelitian bullying begini sepertinya mesti ‘gerilya’ ya, soalnya pihak sekolah sendiri suka nutup2in hal ini biar (katanya) gak merusak nama baik.
@dwigantara:
Wah, saya nggak ada versi softcopy-nya tuh. Ke perpustakaan Psikologi UI aja, di sana ada jurnalnya
Catshade
Minggu, 6 Mei 2007
kalo emang bulliying segitu seremnya apa ya iya IPDN masih akan terus bertahan seperti itu????
ga bakaln bisa maju negara ini kalo pejabat nya aja arogan karena bulliying berarti IPDN hanya menciptakan pejabat sakit jiwa yang seluruh jiwa dan raganya tersiksa oleh kepentingan pemerintah akan dana APBN yang jumlahnya ga sedikit
shintha
Selasa, 8 Mei 2007
@shinta:
Ya, sistem yang rawan bullying seperti yang dipake di IPDN (dan di sekolah tinggi/akademi/univ lain) itu memang sudah selayaknya diganti dengan sistem yang lebih memanusiakan siswanya, biar nantinya mereka juga mengangap rakyat yang diabdinya itu manusia, bukan angka statistik atau tikus yang bisa digusur2. Tapi akhirnya ya kembali lagi ke political will pemerintah, mbak
Catshade
Rabu, 9 Mei 2007
Hari ini di Kompas, ada lagi kekerasan anak di SMA Pangudi Luhur.
Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, anak pertama saya ikut test di PL, dan saat diterima, ada pertemuan sebelumnya antara pihak sekolah (Kepala sekolah plus guru) dengan calon orangtua murid. Disitu ada ortu yang menanyakan, bagaimana tanggung jawab dan cara monitoring sekolah terhadap mapram yang dilakukan senior terhadap yuniornya. Jawaban pihak sekolah, bahwa sekolah hanya bertanggung jawab dilingkungan sekolah. Dari tanya jawab saya jadi mengerti, bahwa di PL (sekitar tahun 97 an) telah ada kasus anak2 senior yang melakukan tekanan pada juniornya. Dan ini banyak juga terjadi di SMA lainnya…(saya ketahui dari hasil percakapan dengan ortu yang anak2nya telah sekolah di SMA ,baik negeri maupun swasta).
Pulang pertemuan, saya langsung datang ke psikolog dan psikiater (ketahuan bingungnya ya??)…diskusi bagaimana sebaiknya dan apa yang harus saya lakukan agar anak aman selama sekolah tetapi tetap mandiri. Kebetulan anak saya diterima di sekolah negeri…akhirnya saya disarankan diskusi dengan anak, dan anak saya memilih sekolah negeri. Itupun ortu tiap kali mengendap-endap di sekolah, makan di kantin hanya untuk melihat bagamana situasi sekolah, gantian dengan bapaknya (maklum suami isteri bekerja). Syukurlah sekolah sering mengadakan pertemuan dengan ortu, disinilah kami bisa memberi masukan dan juga mengikuti perkembangan yang terjadi di sekolah.
edratna
Rabu, 16 Mei 2007
@edratna:
Bener itu bu, kalo sekolahnya terlihat enggan mengatasi bullying di lingkungannya, para orangtua harus bersatu dan menuntut pertanggungjawaban sekolah. Kalo para orangtuanya ‘berani’ menghadapi bullying, diharapkan anak2nya juga merasa didukung dan gak takut untuk ngomong kalo memang di-bully.
Catshade
Kamis, 17 Mei 2007
minta ijin mengutip definisi school bullying itu yaa… boleh kah?
thanks
dwiagus
Jumat, 18 Mei 2007
@dwiagus:
Saya juga mengutip dari sumber yang saya cantumkan di bawah itu. Jadi tolong itu dicantumkan juga nanti ya?
Catshade
Minggu, 20 Mei 2007
Hati hati, bullying pun pernah dilakukan guru, (apalagi guru SD). Teman saya pernah mengalami bullying yang dilakukan gurunya. Waktu itu ia masih SD. Bullying yang dilakukan memang tidak secara fisik seperti memukul atau menjewer tapi ia melalukan bullying verbal, berupa omongan yang mempermalukannya di depan teman-temannya. Masalah ini serius. Peran guru itu :seharusnya menjadi teladan, contoh yg baik, dan melakukan perbaikan, meluruskan sesuatu yang tidak benar, Seharusnya ia menjadi pelurus juga pencegah. Peran guru adalah me-monitoring siswa kalau2 ada kekerasan, perkelahian(bullying antar teman). namun yang terjadi, guru nya sendiri melakukan bullying. Teman saya sampai sekarang (sudah mahasiswa) masih ingat dengannya.
eye_no0n
Rabu, 23 Mei 2007
maaf, mengutip artikel ini. saya ada tugas buat makalah.
eye_no0n
Rabu, 23 Mei 2007
@eye_no0n:
Silakan dikutip, asal jangan lupa disebutkan sumber aslinya (termasuk sumber yang saya pake). Soal guru yang mem-bully muridnya, itu memang hal yang patut disesalkan. Hukuman fisik dan teguran keras memang gak salah asal diterapkan dengan proporsional, tapi guru itu mestinya tahu batas-batas antara ‘hukuman fisik’ dengan ‘penyiksaan’ dan antara ‘teguran’ dengan ‘merendahkan/melecehkan.’
Memang ada kemungkinan murid yang dipermalukan kemudian bangkit memperbaiki kinerjanya, tapi besar juga kemungkinan harga diri murid tersebut jatuh, dia makin minder, dan akhirnya kinerjanya makin merosot (jadi lingkaran setan). Dalam kasus seperti ini (seperti yang sudah ada contohnya di atas), orangtua memang harus proaktif buat memonitor sekolahnya juga, jangan masa bodo dan mempercayakan segala-galanya ke mereka.
Catshade
Rabu, 23 Mei 2007
Aku pengen nanya-nanya aja. Boleh kan? Punya literatur tentang bullying? Soalnya yang banyak aku baca (terutama dari penelitian-penelitian) bullying hanya terjadi antar siswa, sedangkan antara guru-siswa masih jarang banget. Paling-paling cuma disinggung dikit kalo guru juga melakukan bullying tapi gak dibahas secara lebih detail. Apa emang bener guru juga melakukan bullying (berdasarkan penelitian ilmiah lho) ato cuma perilaku agresif? Beda bullying ama perilaku agresif apa?
ratna
Selasa, 5 Juni 2007
@ratna:
Literatur tentang bullying (yang betul2 literatur ilmiah) yang saya punya cuma satu, itupun jurnal kertas. Mungkin di google bisa ada lebih banyak jurnal online, cuma saya belum cari. Mestinya sih ada banyak.
Soal perilaku agresif dari guru ke siswanya, sepertinya memang masih sangat jarang diteliti, mungkin karena sulit mendapat jawaban yang betul2 jujur dari subyeknya untuk masalah sesensitif itu (belum lagi masalah persetujuan dari pihak sekolah kalau mau meneliti di sekolah tertentu).
Soal bullying dengan perilaku agresif, sepertinya memang tidak terlalu dibedakan ya. Melihat dari definisinya, kedua2nya sama2 perilaku yang ditujukan untuk melukai atau menyakiti orang lain. Saya sendiri sih melihat bullying sebagai sekumpulan perilaku agresif (jadi lebih dari satu kali) yang dilakukan terhadap orang-orang yang itu2 juga selama jangka waktu tertentu.
Catshade
Jumat, 8 Juni 2007
kasus psikologi yang terjadi diindonesia itu seperti apa? tolong dibalas, karena saya mendapat tugas dari kampus STIP (sekolah tinggi Ilmu Psikologi)
edinda
Sabtu, 9 Juni 2007
@edinda:
Maksudnya ‘kasus psikologi’ di sini apa ya? Maaf, soalnya saya kurang begitu menangkap maksudnya Mbak/Mas ^^;
Catshade
Minggu, 10 Juni 2007
minta dong informasinya yang lebih tentang scool bullying,.kaya menarik kalau diteliti.mau bikin skripsi nih…..tolong emeil aja ke web q maksih sebelumnya
Titea
Jumat, 15 Juni 2007
ada saran gak buat modul yang berkaitan sama bullying… lagi dapet tugas dari kampus niyh?? thanx a lot…………………. =)
apa aja deh, masukan2 gitu mungkin.
tiq...
Senin, 18 Juni 2007
oia,, kalo ada balasan tolong dikirim ke e-mail akuh jg boleh =)
tiq...
Senin, 18 Juni 2007
@Titea dan tiq…:
Sebagian besar informasi mengenai bullying yang saya punya berasal dari website ini: http://www.bullying.org. Di sana ada macem2 bahan, mulai dari penelitian mengenai bullying sampai cara konseling korban dan pelaku bullying. Silakan dilihat2 di sana…
Catshade
Senin, 18 Juni 2007
Assalamualikum, hai semua, perkenalkan nama saya Arya Verdi Ramadhani, atau biasa dipanggil Verdi. Saya lulusan F.Psi UI angkatan 2002, dan sekarang lagi “nerusin” lagi di pascasarjana di kampus dan universitas yang sama. Menarik dan seneng bgt ngeliat banyaknya respon mengenai bullying. Kbetulan (walaupun saya ga percaya sama yg namanya kbetulan) saat ini saya sedang aktif di sebuah LSM bernama semai jiwa amini (SEJIWA) yang bergerak di bidang pendidikan dan saat ini sedang gencar menggalakkan gerakan Anti-Bullying. Terakhir kami baru saja membuat workshop mengenai anti-bullying di hotel J.W. Marriot yg mengundang sekolah2 dan yayasan2 seluruh Indonesia. Alhamdullilah responnya luar biasa. Inti dari pesan ini, apabila ada temen2 yg berminat untuk mengetahui lebih dalam mengenai bullying, kami amat senang sekali berdiskusi dengan temen semua. Utk awalan bisa ngintip website kami di http://www.sejiwa.org. Atau bisa juga langsung hub saya di 021-687-29-890/ 0818-889-3445. Dengan makin banyaknya org yang memahami arti dan dampak buruk dari bullying maka kita ikut membantu pendidikan Indonesia mengarah ke yg lebih baik dan mulia. : )
Wassalam,
Arya Verdi R.
Arya Verdi R.
Sabtu, 23 Juni 2007
kalo kasus bullying memang serem buat dibicarakan…
kenapa yaw bullying itu seperti sebuah keharusan dalam setiap komunitas… kira2 setiap komunitas itu harus memiliki seseorang yang menjadi korbannya..
jangan sampai tradisi ini dibiarkan..
mau jadi apa sebenarnya anak2 yang tega dan dibiarkan seperti ini nantinya???
Zaza
Minggu, 8 Juli 2007
wah senangnya banyak orang juga perhatian tentang masalah bullying…kebetulan saya sudah lama tertarik untuk meneliti masalah ini,tapi saya belum banyak menemukan literatur yang terkait…oh ya saya sedang mencari bukunya Dan Olweus yang terkenal itu lho, bs bantu g?Kira-kira ada yang punya g di indonesia? Oh ya lagi kebetulan saya kuliah di fakultas keguruan yang dipersiapkan untuk menjasdi seorang guru, ternyata di tempat saya kuliah belum pernah disinggung masalah bullying lho…Usul saya bullying harusnya masuk juga dalam kurikulum pendidikan tinggi…
Benny
Selasa, 17 Juli 2007
[...] Jumat, 20 Juli 2007 Posted by Catshade in perkembangan, pendidikan, sosial. trackback Dalam bagian pertama, kita telah melihat gambaran singkat mengenai fenomena bullying yang terjadi beberapa sekolah di [...]
“Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2a): Mengenal Korban Lebih Jauh « POPsy! - Jurnal Psikologi Populer
Jumat, 20 Juli 2007
guys! aku psikolog baru alias bau kencur dan sok tau dari bandung
kapan kita bisa teliti fenomena bullying bareng-bareng
hayu atuh
sarah
Senin, 20 Agustus 2007
lam kenal sebelumnya,,
Saya sedang tertarik membuat tulisan tentang bullying,,dan popsy! kau referensi hebat!^^
Btw,,ada referensi buku bullying berbahasa indo gak ya?
chau
Jumat, 14 September 2007
ngakunya bpenddkan, tp skp gk mncerminkan.
sprti org yg tdk mmlki pnddkn sj, apalagi dah ddk dbangku perguruan tinggi malu dong skp msh layaknya bocah smp.
nit_nit
Senin, 1 Oktober 2007
Popsy,, (catshade ataupun mas toso)
chau bisa memperoleh copy an jurnal ini gak?? atau dikirim ke email chau? butuh niy,,buat STP
>>> Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13 <<
thanks before ^^
chau_kemudian
Selasa, 30 Oktober 2007
sapa ya yang sblmnya ngajak neliti bullying?? hayu ajah.. ni lg bikin buat skripsi.. minta dukungannya yach..
buat yg pnah jadi korban (me too), boleh kirim2 cerita & masukan ke fsQ or imel.. qta knalan n ngobrol2 d.. oce..oce..
fara
Senin, 19 November 2007
oia, imel khusus neh buat temen2, faralovers@yahoo.com
fara
Senin, 19 November 2007
@Chau_kemudian
Saya hanya punya Hard copy jurnalnya, tak punya bentuk dokumen apapun yang bisa dikirimkan ke emailmu.
Atau mau fotokopi jurnalnya langsung?
toso
Senin, 19 November 2007
ada referensi buku ttg bullying dlm bhs inggris khususny ind ga???? kalo ada,,, tlg sekali beri tau saya apa nama bukuny. tlg krm k emai saya di ditaaaditaaaditaaa@yahoo.com.. penting bgt… thx
dita
Kamis, 29 November 2007
saya ingin tahu apakah perilaku bullying dapat juga di akibatkan karena di masa lalunya pernah menjadi korban bullying? singkatnya korban bullying dapat menjadi pelaku bullying?
tommy
Jumat, 30 November 2007
hweiksss,,baru buka comment lagi
mas toso atau cat, yowess chau mau mengcopy nya. boleh gak? mungkin bisa ketemu,kalo chau ke perpus Psi.UI? thanks before
chau
Selasa, 18 Desember 2007
gini deh!!!! sekarang kan udah gk zaman lg tuch yang namanya kekerasan!!!! belum tentu kan sekelompok orng yang nyakitin lebih pinter dari yang disakitin !!!!!!!So…. menurut aq pinter2 pinter aja sekolahnya… orang tua kan ngirim kt sekolah bkan bwt sok anggar jago,,,,,, trus peran psikologi disetiap sekolah itu pnting banget. minimal 3 sampai 5 orang….
fera
Selasa, 18 Desember 2007
@Chau
Bisa hubungi saya di kuwe_mochi@yahoo.com
Mungkin nanti bisa juga saya kenalkan pada teman yang aktif di LSM anti bullying.
toso
Selasa, 18 Desember 2007
Maaf sebelumnya, artikelnya saya comot sedikit. Artikelnya bagus n insya Allah bermanfaat. Makasih…
melianaaryuni
Kamis, 27 Desember 2007
Hal ini sulit ditindak, karena sifatnya intern. Bahkan pihak sekolah sering kecolongan. Yang tau hanya siswa itu sendiri. Mau gimana lagi.
Denny
Sabtu, 26 Januari 2008
wah, kayanya anda perlu baca juga buku Stop Bullying terbitan Penerbit Serambi…
emil hakim
Senin, 28 Januari 2008
wah..memberi informasi yang lumayan penting!!kebeneran gw lagi neliti bully-membully nikh..bisa minta no.contactnya atau e-mail biar lebih asik ngobrolnya!!!..n_n..thanks
Fira _ Psikologi-UNPAD
Jumat, 14 Maret 2008
MAS mau nanya nih, bullying tuh sebenarnya ada hubungan gak sih ama inferiority compleks ni? kalau ada jurnal psikologi tentang inferiority mau, dong. lagi nyusun skripsi tentang bullying tap dihubungin dengan inferiority ni…. tolong ya. ni alamat e mailnya: watashi_fenx@yahoo.com
fendi
Selasa, 29 April 2008
tolong ulas donkz ttg kenapa orang tuh lebih senang nonton atw liat hal atw tayangan yg bersifat agresif???
thx
J
Senin, 12 Mei 2008
Rasanya ada hal yang berbeda ketika bicara soal ‘pembinaan’.Bagaimana seseorang menerapkan apa yang mereka sebut pembelajaran kepada orang lain, dengan atau tanpa relevansinya terhadap pendidikan.Visioner yang termodulasi dalam tindak pembinaan harus pula dikaji lebih dalam.Belajar mengenai tatanan hidup yang acak dan keras ada kalanya memberi resistensi terhadap hal yang sama kelak.
Selama ini,energi pembinaan masih terpasung dalam pundi-pundi institusi yang juga dikekang arah zaman.
kodo
Sabtu, 24 Mei 2008
kami,merasa sbg mahasiswa di institut seni denpasar,meliat terjadinya kkn, msh ada hak asasi sbg maha siswa terpasung karena terjadi ketipangan2x dalam dunia pendidikan,msalah pemilihan rektor, yg mana rektor baru ter pilih,tdk ada turun2x sk. dari pusat ,karena ada unsur-unsurpermainan orang pusat bersama rektor yg lama, di sini telah terjadi ketidak adilan depdiknas pusat,yg dimana inti-intinya kkn dng pejabat pusat dng rektor ISI-dps yg sblm nya.krn yg ter pilih saat ini tdk ada keluar surat ska.penetapan sbg rektor baru ISI-dps yg baru,dan jga kami sbg maha siswa ISI dps (NEGERI) masalah pembayaran SPP, seharusnya pembayaran SPP Di BANK BNI46, skr DiBANK BPD bali.kami sebagai mahasiswa negeri kecewa krn ada ke tdk beresan dng rektor yg sebelumya dng pihak BANK BPD-bali yg inti-inti nya KKN masih ada .
arix
Kamis, 5 Juni 2008
MINTA DONK REPERENSI BUKU BULLYINGNYA SOLERINARINDU@YAHOO.CO.ID
PRETORIANX
Rabu, 18 Juni 2008
bullying di dunia pendidikan padahal bisa lebih luas dari itu….bukan cuma saling nunjukkin siapa yang kuat tapi guru pun bisa juga ngelakuin bullying terhadap murid yang bisa bwat murid itu tertekan….
wawa_bubu
Sabtu, 21 Juni 2008
bulliying harus dihentikan…. selamatkan citra
pendidikan di Indonesia untuk melahirkan generasi
yang bermartabat, berakhlak mulia, cerdas, terampil
dan berkualitas untuk memasuki persaingan global
MT NUR
Kamis, 26 Juni 2008
VERY INFORMATIVE AND OPEN MY HORIZON. THANK YOU.
Unan
Senin, 21 Juli 2008
.ukh!!!
.ga banget deh ma yang namanya bullying kyak geto…
.ga asik banget!!
.udah degh…
.stop!ma yang namanx bullying!!!
amanda
Rabu, 23 Juli 2008
minta referen buku bullying dong
iNdRa
Minggu, 27 Juli 2008
HuH.. jangan kata di Sma ATO kerja. Bullying
sekarang udah jadi BUDAYA kekerasan yang bisa
menimpa sapa aj. bHahkan bsa anak SD, TK, SMP,
dll. yang bs QTA lakukan hnylah berusaha for:
BUDAYA STOP BULLYING mulai dari diri qta sndr!!
-w-
Senin, 25 Agustus 2008
kemarin saya ke ui buat cari jurnalnya, tapi tidak ketemu, mas toso tlong dong minta sekolah yang sudah pernah menjadi tempat pengisian quisioner jurnal riauskinanya…. please ……
fendi
Jumat, 17 Oktober 2008
Haloo aku Dian…ijin ngutip artikelnya ya.
Sekarang saya sedang tesis untuk Magister Prof Psikologi.
ngambil tema Bullying yang dilakukan olapi saya maseh guru.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dari mulai
cari subyek dan penggalian data. Tapi saya masih kesulitan
nemuin jurnal penelitiannya. Bisa bantu ngasih tau alamat
online nya nggak? atau dimana saya bisa dapetin jurnal
tentang bullying yang banyak?
dian
Jumat, 7 November 2008
kenapa Anda tidak mengkaitkan keberadaan bullying dengan kesalahan sistem pendidikan??? ini bukan semata masalah psikologis dan berdampak psikologis, tapi merupakan fenomena sosial akibat ketimpangan kekuatan dan kekuasaan. menjadikan bullying sebagai sebuah bahan kajian tidak akan mampu menyelesaikan bahkan menemukan sumber masalah sesungguhnya, jika anda membatasi diri pada subjektivitas subjek penelitian. Anda perlu mengkritisi sistem pendidikan dan bagaimana kolektivitas menciptakan kemungkinan munculnya bullying.
sapto
Selasa, 2 Desember 2008
yups…bullying emanga bahaya banget,,,
yuk kita sama2 say stop to do bullying!!!
oky guys (^,^)
manda
Kamis, 22 Januari 2009
STOOOOOOOOP BULLYING!!!!!!!!!!!!!
THEWIR
Jumat, 6 Maret 2009
Saya juga tidak setuju dengan adanya bullying. Menurut saya itu benar-benar merendahkan derajat kita sebagai manusia.
Apalagi kasus ini sering didapati di ranah pendidikan. Benar-benar hal yang mencemari dunia pendidikan kita.
Saya sendiri sekarang merupakan salah satu mahasiswa di universitas terkemuka di Indonesia. Tetapi, bullying juga tak lepas dari kehidupan kampus. Dalam hal ini saya khususkan saat kita ingin bergabung di suatu himpunan mahasiswa. Sebelum masuk ke Himpunan tersebut, kita harus mengikuti masa orientasi yang didalamnya terdapat proses bullying. Penyelenggara hanya bisa berdalih “Kalau mau bergabung, ikut dulu. Ini sudah ketentuan.” Padahal, Kebanyakan dari kami mau bergabung karena murni ingin berorganisasi. Kenapa harus melewati proses itu?
Saya merasakan dampak langsung saat menjadi peserta dan setelah kegiatan tersebut. Sangat jelas efek psikologi yang saya rasakan. Sebaiknya, setiap pendidikan memiliki peraturan khusus yang mengatur tentang masalah ini, lebih jelasnya mengenai hukumannya. Tidak perlu pandang bulu untuk masalah ini. Jika terus dibiarkan, kejadian yang lebih parah akan terjadi.
indra
Kamis, 12 Maret 2009
kebetulan saya sedang membuat skripsi mengenai bullying…buat saya menarik sekali topik ini karena yang saya temui banyak sekali kasus bullying yang terjadi khususnya di sekolah tapi belum banyak diungkap….
tapi, untuk saat ini saya masih kesulitan mencari referensi buku bacaan…tolong ya kalau ada buku yang baru mengenai bullying beritahu aq….key…trims atas inspirasinya……
apoe
Jumat, 27 Maret 2009
Saya ingin berjuang mengakhiri bullying di dunia pendidikan kita. Sebab sejak SD hingga bangku kuliah setelah adanya istilah ini saya akhirnya berkesimpulan kalau saya dulu adalah korban bullying di dunia pendidikan.
Saya adalah anak dari orang tua yang tidak mampu namun dengan tekad yang membara, saya berhasil mencapai S-1. Itupun dengan duri dan onak serta trauma disingkirkan, direndahkan masih ada dalam hati saya. Waktu itu saya berpikir Tuhan tidak adil kepada saya dan Tuhan terus menyiksa saya. Terakhir waktu itu adalah saya masih duduk di semester 3. Hari itu adalah mid test mata kuliah (lupa saya) waktu itu teman saya (seangkatan) meminta saya untuk memberitahukan jawabannya kepada dia (nyontek) namun saya tidak kasih karena saya takut ketahuan sama dosen. Setelah mid test berakhir saya dihampiri oleh sekitar 3 orang dari teman saya yang tadi minta jawaban. Dan yang paling membekas dalam diri saya adalah adanya cacat di tangan saya berupa luka akibat di sundut rokok oleh mereka yang sampai sekarang masih ada akibat perlakuan mereka.
Mungkin saya sudah tidak memikirkan lagi bullying yang terjadi pada saya. bagaimana dengan 2 orang anak saya kelak? Oleh sebab itu siapapun diantara teman, kakak, om dan lain-lain yang memiliki komitmen untuk memerangi bullying di dunia pendidikan kita akan sangat saya dukung.
Edi Suhaedi SH
Kamis, 2 April 2009
setuju gag kalo pelaku bullying di hukum penjara????????
yucha
Rabu, 22 Juli 2009
setuju banget, stop bullying..!! cukup butuh waktu lama untuk meningkatkan kembali harga diri dan rasa minder yang derita. keluarga punya andil yang besar untuk memotivasi, so love your kids
Ida
Sabtu, 8 Agustus 2009
permisi,maf tapi semua hal ini awal mulanya dari mana?dengan siapa?dan tahun berapa?penanganan paling pertama di temukannya BULLYING apa?
terima kasih….
wassalam…!^_^
fatimah
Selasa, 29 September 2009
ADA YANG PUNYA TEORI DARI BULLIYING GA?????
FA
Jumat, 9 Oktober 2009
Bullyin adalah satu hal yang terdiri dari perlakuan kasar disertai kata-kata yang vulgar dan terakhiri oleh berantem. gue benci banget ama hal itu karena masih sodaraan ama setan.
vazza amrie
Selasa, 10 November 2009
Coba saja gerakan STOP BULLYING di tiap sekolah. Insya Allah angka bullying menurun
B. Amrie
Selasa, 10 November 2009