Skip to content

Membaca Arah Tendangan Penalti

Rabu, 23 Mei 2007
by

Diambil dari Wikipedia

PRIIITTT!! Peluit wasit telah ditiup. Jantung jutaan penonton pun serasa berhenti, dan stadion yang biasanya riuh rendah kini sunyi. Sekarang yang memisahkan antara pemenang dan pecundang hanyalah sebuah tendangan langsung atau tepisan penjaga gawang. Tak ada pagar betis, tak ada umpan yang cantik, tak ada manuver yang spektakuler. Hanya beberapa detik yang dibutuhkan untuk mengambil nafas dan ancang-ancang, dan satu detik lagi yang dihabiskan sang kulit bundar untuk melayang ke gawang lawan, atau ke tangan penjaganya.

Dua blog membahas mengenai sebuah temuan dari Masters, van der Kamp, dan Jackson (2007) mengenai proses psikologis yang terjadi pada detik-detik yang menentukan itu. Apa yang membuat seorang pemain menendang ke arah tertentu? Apa yang membuat seorang penjaga gawang tak kuasa meraih bola yang terarah ke gawangnya? Bidang olahraga merupakan ranah yang jarang tersentuh oleh ilmu psikologi dibandingkan bidang-bidang lainnya, sehingga temuan ini patut disimak lebih lanjut.

Masters dkk memulai penelitiannya dengan sebuah statistik: penjaga gawang hanya mampu menghentikan 18% tendangan penalti! Untuk mengetahui lebih jauh mengenai apa yang mempengaruhi ‘prestasi’ yang buruk itu, mereka kemudian mengamati 200 tayangan tendangan penalti dari berbagai kejuaraan (dari Piala Dunia, Piala Champions, hingga Piala Afrika). Dari pengamatan itu, mereka mendapat dua temuan penting:

  • Dalam 96% tendangan penalti, penjaga gawang berdiri tidak persis di tengah gawang. Hal ini menghasilkan perbedaan jarak antara penjaga gawang dengan kedua palang gawang, meskipun perbedaannya cukup kecil, sekitar 9.95 sentimeter, atau hanya 2.9% dari total lebar gawang. Perbedaan itu sepertinya tidak disadari penjaga gawang, karena tidak mempengaruhi ke arah mana mereka melompat ketika bola ditendang.
  • Namun, 103 dari 174 tendangan penalti dilakukan ke sisi penjaga gawang yang lebih jauh dengan palang gawang. Dari data ini, tampaknya penendang bola menyadari adanya perbedaan dalam posisi penjaga gawang, karena secara statistik pengaruhnya terhadap ke arah mana bola ditendang cukup signifikan.

Untuk menindaklanjuti pengamatan itu, Masters dkk. merancang tiga rangkaian eksperimen laboratorium agar mendapat bukti yang lebih meyakinkan. Dengan menggunakan simulasi tendangan penalti di komputer, mereka memanipulasi posisi penjaga gawang buatan dan meminta partisipan penelitian untuk menentukan ke arah mana mereka akan menendang bola. Secara keseluruhan, hanya dengan menggeser posisi penjaga dari titik tengah sekecil 0.5% – 1.6% (dari total keseluruhan lebar gawang), para partisipan cenderung menendang ke sisi di mana jarak penjaga-tiang gawang lebih jauh.

Apakah para partisipan menyadari posisi penjaga gawang tersebut? Ternyata meskipun mereka mengetahui pergeseran posisinya, mereka tidak menyadari pengetahuan mereka. Para partisipan tidak sadar jika penjaga gawang tidak benar-benar tepat di tengah gawang hingga pergeserannya mencapai 3.0%. Sebagai kesimpulan, Masters dkk. memberikan pergeseran optimum sebesar 6-10 sentimeter. Penendang bola tidak akan menyadari pergeseran ini, namun kemungkinannya 10% lebih tinggi untuk menendang bola ke arah yang lebih lebar; strategi yang bisa dimanfaatkan oleh para penjaga gawang untuk memperbaiki ‘prestasi’ 82% kebobolannya dalam tendangan penalti.

Sumber:

Mixing Memory: The Science of Goalkeeping

Cognitive Daily: Can Soccer Goalkeepers Influence Penalty Kicks?

About these ads
11 Komentar leave one →
  1. Rabu, 23 Mei 2007 10:51 pm

    menarik…menarik, semoga aja Dida (Milan) ngerti tentang konsep ini dan Reina (Liverpool) ga tau hehe jadi kalo sampai nanti malam ada adu penalti pas Milan-Liverpool, hancur deh Liverpoll haha

    tp kalo uji laboratorium nya dilakukan oleh penendang yg bukan pro, apa bukan jadi lain tendensi pengambilan keputusannya dengan yang pro? jadi penasaran hehe

    Contoh: Scholes kadang malah nendang seenak jidat pas penalti ke arah tengah gawang dengan tenaga ga kira-kira.

  2. Fourtynine permalink
    Senin, 28 Mei 2007 11:37 am

    Saya tendang dan…………..

    Goooool!!!!!!!!!!!!!!!

    Anda gagal menahan tembakan penalti saya

  3. Senin, 28 Mei 2007 11:39 am

    @gerry:
    Memang eksperimennya hanya menggunakan penendang amatir, mungkin karena sulit kli ya mengumpulkan pemain dan penjaga gawang profesional di satu waktu dan tempat yang sama. Tapi dari hasil observasi rekaman pertandingan profesional, hipotesisnya juga terbukti kok Mas Gerry.

  4. Senin, 28 Mei 2007 11:48 am

    @Fourtynine:
    Hahaha, saya bener2 kebobolan! Komentar anda masuk pas sebelum saya mengomentari gerry tadi, jadi saya gak perhatiin :D

  5. akbar permalink
    Rabu, 6 Juni 2007 8:37 pm

    wah bagus tapi kayaknya gw jg mesti baca ini berkali2 soalnya tulisannya terlalu kecil

  6. Jumat, 8 Juni 2007 8:08 am

    Wah, kekecilan ya? Di WP-nya sih sepertinya tidak ada pilihan untuk mengubah ukuran hurufnya. Mungkin bisa anda sesuaikan sendiri dengan menekan (ctrl +) atau (ctrl -) untuk browser Firefox, atau pilih View > Text Size untuk browser Internet Explorer. Trims buat masukannya :)

  7. Selasa, 12 Juni 2007 11:41 am

    hmm.. saya juga pernah liat di Discovery, atau NatGeo ya ? lupa. Tapi bukan tentang penalty. Kenapa sering kali penjaga gawang berpose bodoh pada waktu free kick. Yang jadi penendang adalah mesin. Sedangkan goalkeepernya dari amatir sampai pro. Kesimpulannya, otak manusia itu hanya bisa memprediksi gerakan yang alami, gerakan linear. Seperti benda jatuh pasti kebawah. Sedangkan bola yang dikasih efek macem2, seperti spin hingga bisa melengkung itu susah diantisipasi. Makanya sering kali kejadian goalkeeper mati gaya

  8. reo permalink
    Selasa, 19 Juni 2007 11:04 am

    kurang detil bagaimana mekanisme otak/kognitif melakukan itu semua, dari analisis hingga pengambilan keputusan menentukan kemana arah tendangan? coba klo diperdetil lagi aspek ilmiahnya asyik juga tuh

  9. Kamis, 21 Juni 2007 2:09 pm

    @Q:
    Ada penelitian juga, para penjaga gawang lebih merasa bersalah kalau mereka kebobolan dan nggak melakukan apa-apa daripada kebobolan tapi melakukan sesuatu yang salah. Maka biar gaya2nya aneh ato ngasal, yang penting udah ‘beraksi’ duluan daripada cuma berdiri terpaku ketika pertahanannya dijebol.
    @reo:
    Iya, memang disayangkan penelitiannya nggak bener2 sampe neliti ke neurosciencenya, mungkin karena belum diciptakan pemindai otak portabel yg bisa dipasangkan ke para penendang/penjaga gawang itu ketika mereka melakukan aksinya. Kalau cuma sekedar ditanya2i langsung, mungkin mereka bakal nggak ngerti kalo disuruh njelasin tindakannya, karena proses analisa dan pengambilan keputusannya secepat kilat dan banyak melibatkan pemrosesan kognitif bawah sadar.

  10. asto permalink
    Rabu, 25 Juli 2007 12:13 pm

    mnurut gw se, penjaga gawang tuh kalo dah ngadepin penalti lebih ngandelin reaksi dan kecepatannya membaca arah bola. karena dalam latian, setau gw gak ada trik khusus yang dijarin pelatih penjaga gawang. nurut temen2 gw yang juga penjaga gawang, arah bola bisa dibaca, dengan liat arah kaki yang akan menendang tuh bola. tapi masalahnya adalah ketika melihat arah kakinya,kalah cepet dgn gerakan kaki lawan yang nendang bolany. ngadepin penalti kudu tenang, insting dan reaksi yang nentuin. buat gw sendiri, ngadepin penalti susah2 gampang, loe bayangin ja, gawang gedenya seberapa, kecepatan bola ketika ditendang seberapa kenceng, lum lagi penjaga gawang kudu baca arah bolanya, penjaga gawang juga kudu gerak, kalo penalti, itu hukumnya. jangan cuma bengong doank, melototin tuh bola masuk ke gawang.mnurut aku, pemain profesional pastinya punya kualitas yang berbeda dengan pemain2 amatir, gitu juga ketika mereka para pemain profesional menendang penalti, pastinya jauh lebih akurat. penjaga gawang profesional juga gak asal gerak waktu nagdepin penalti… artikel ini menarik, hehehehe… gimana kalo ditambahin dengan hasil wawancara penjaga gawang profesional, baik dalam maupun luar negeri seputar pengalaman mereka ngadepin penalti..

  11. orangbaru permalink
    Kamis, 2 Agustus 2007 3:09 pm

    bagi si penjaga gawang, sebenarnya hanya satu yg perlu dia perhatikan sebelum ‘menebak’ kearah mana kira-kira si penendang akan mengarahkan bolanya. lirikan terakhir si penendang. itulah arah yg akan dibidiknya. secara teori, itulah petunjuk satu2nya yg paling hampir ‘pasti’ daripada menggunakan ‘feeling so good’. setidak-tidaknya itulah kesimpulan sementara saya dalam mengamati momen2 menegangkan itu. secara logika (wah… sok taunya kumat nih) hampir tidak mungkin kalau lirikan terakhir ronaldinho ke kanan tapi tendangannya ke kiri. too risky. bagi eksekutor – setelah otaknya memutuskan akan menendang ke kiri – secara refleks dia pasti akan menyempatkan membidik arah tersebut dgn ‘lirikan terakhirnya’.

    sang eksekutor dgn caranya masing2 akan berusaha agar lirikan terakhirnya itu tidak diketahui penjaga gawang. nah… bagi penjaga gawang, lirikan terakhir itulah sebenarnya kunci dia memenangkan ‘pertempuran psikis’ itu.

    ya… kalo salah mahap deh, at least kan itu mnrt gw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 289 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: