Ketika Penjara Berwarna Pink

Posted on Kamis, 12 Juli 2007. Filed under: persepsi | Tags: , , |

Diambil dari www.colormatters.comApa yang ada di dalam bayangan anda ketika mendengar kata ”penjara”? Ruangan-ruangan berjeruji yang suram? Tempat orang-orang yang menyeramkan? Meskipun telah ada usaha penghalusan istilah menjadi ”lembaga pemasyarakatan” (correctional facility), tetapi citra yang buruk mengenai ketidakefektifan institusi ini tidak bisa lepas dari persepsi masyarakat. Dan memang, persepsi ini tidak jauh dari kenyataan: banyak orang yang ditahan malah semakin menjadi-jadi kelakuannya di dalam penjara. Maka orang-orang kemudian takut ditahan bukan karena takut nama baiknya tercoreng atau terisolasi dari dunia luar, melainkan karena takut menghadapi para residivis yang ‘mengendalikan’ penjara dengan uang dan kekerasan sebagai dasar kekuasaannya.

Berbagai cara telah dicoba untuk mengatasi hal ini, seperti sel isolasi atau relokasi ke penjara berpengamanan maksimum bagi tahanan yang dikenal ‘kakap’ atau berbahaya. Namun sebuah penelitian psikologi mengambil pendekatan yang agak nyleneh dalam menghadapi masalah ini: menjadikan penjara berwarna pink. Lho?

Menguji Pengaruh Warna

Sudah menjadi anggapan umum bahwa manusia memiliki respon persepsi dan emosi yang khas terhadap warna-warna tertentu. Warna biru dan hijau, misalnya, dipercaya membuat orang merasa lebih tenang dan lebih sejuk berada di dalam ruangan yang dicat dengan kedua warna tersebut. Sebaliknya, warna merah, oranye, dan kuning dipandang lebih dinamis dan lebih ‘menghangatkan’ ruangan. Lalu bagaimana dengan warna pink, warna yang dianggap sebagai warna yang feminin?

Adalah Alexander G. Schauss, direktur American Institute for Biosocial Research, Tacoma, Washington, yang meneliti mengenai hal ini. Studi pendahuluannya menunjukkan bahwa subyek secara lebih konsisten terlihat lebih rileks ketika melihat papan yang diwarna pink. Sebuah eksperimen kecil terhadap dirinya sendiri juga memperlihatkan bahwa warna pink dapat menurunkan detak jantung, denyut nadi, tekanan darah, dan pernafasan, setelah Schauss melakukan olahraga keras. Iapun ingin menguji pengaruh warna pink lebih jauh lagi terhadap perilaku seseorang, dalam hal ini adalah tingkat agresivitasnya.

Selama beberapa tahun kemudian ia mengadakan percobaan di 3 penjara AL AS, 2 penjara daerah California, dan 2 rumah sakit jiwa. Dengan campuran warna pink yang kemudian dikenal sebagai ”Baker-Miller Pink” (R: 255, G: 145, B:175), sebuah sel dicat seluruhnya kecuali lantai yang dibiarkan coklat polos. Hasilnya, potensi perilaku kasar atau agresif yang dimiliki tahanan berkurang hanya dalam waktu 15 menit, dan efek tersebut tetap bertahan 30 menit setelah tahanan dikeluarkan dari sel pink tersebut.

Dalam penelitiannya pada subyek yang terlibat kasus kenakalan remaja, 2-3 menit pertama dalam ruangan pink akan mengurangi agresi verbal mereka. Kekerasan fisik (menendang pintu, memukul atau menggedor dinding) tidak lagi dilakukan setelah 5-6 menit pertama. Pada menit ke-8 atau 9, mereka sudah duduk atau berbaring di tengah ruangan, sehingga di menit ke-10 mereka sudah cukup tenang untuk dibawa kembali ke ruangan biasa. Hasil tambahan yang unik ditemukan dari replikasi studi yang dilakukan John Hopkins University Hospital terhadap orang-orang yang ingin mengendalikan berat badan mereka. Sepertiga lebih dari 1700 subyek merasa lebih dapat menahan hasrat untuk makan ketika berada di ruangan tersebut.

Tidak ingin temuannya ‘dinodai’ oleh variabel yang tidak diinginkan (yang kerap terjadi dalam penelitian lapangan), Schauss bersama dengan Robert J. Pellegrini dari San Jose State University, California, mengadakan dua eksperimen mengenai pengaruh pemaparan warna pink terhadap kekuatan genggaman. Hasilnya, subyek yang terpapar warna pink lebih lemah kekuatan genggamannya dibandingkan subyek dalam kelompok kontrol yang terpapar warna biru. Namun patut dicatat bahwa efek yang ditemukan Schauss dan Pellegrini cukup kecil dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Lalu, kalau warna pink sebegitu efektifnya dalam meredam agresivitas dan nafsu manusia, kenapa sekarang kita tidak melihat penjara di seluruh dunia dicat pink? Rupanya pengecatan pink ini masih memiliki beberapa kekurangan: Pertama, efeknya hanya berlaku secara individual dan tidak berlangsung lama. Sebuah penjara di San Jose, California, dengan begitu antusiasnya mencoba menerapkan strategi ini dengan memasukkan beberapa tahanan sekaligus dalam waktu yang lama. Efek yang diharapkan terjadi pada 15 menit pertama, namun pada menit ke-20 para tahanan mulai beringas kembali. Tiga jam kemudian, para tahanan kedapatan sedang mengelupas lapisan cat di dinding dengan kuku mereka. Yang kedua adalah harus diperhatikannya luas ruangan dan paparan cahaya: Schauss menyarankan ukuran ruangan yang tidak lebih besar dari 10 kaki x 15 kaki, dengan cahaya lampu 100 watt atau lebih dari itu.

Sumber:

Pink Clink – TIME

The Effect of Color on the Body – Color Matters

The Physiological Effect of Color on the Supression of Human Agression: Research on Baker-Miller Pink (kertas kerja Alexander G. Schauss, peneliti fenomena ini)

Make a Comment

Make a Comment: ( 9 so far )

blockquote and a tags work here.

9 Responses to “Ketika Penjara Berwarna Pink”

RSS Feed for POPsy! – Jurnal Psikologi Populer Comments RSS Feed

Kenapa kok penjara warna temboknya cenderung suram?
Bukankah hal itu menambah tingkat depresi?

Trus kenapa kok tembok RS warnanya putih…
Ini efeknya apa mas?
Apa putih bisa mempercepat kesembuhan?

sumpe warnanya pink?
Ma ga mau masuk penjaraa!! bisa gatel gatel liat warna pink dimana mana,,

Jangan-jangan ada graffiti Hello Kitty-nya :?

penjara berwarna pink… *ponders*
crime rate bisa turun duluan tuh kali ya, napinya udah ogah duluan dimasukin kotak ukuran 4 x 4 yang warnanya pink semua :P

warna pink dapat menurunkan detak jantung, denyut nadi, tekanan darah, dan pernafasan

now then you talked about it… *gelinding* kamar kos gw warnanya pink. gw ga terlalu nyadar juga sih, apakah ada pengaruhnya ama gw. tapi mungkin kalo dicek bakalan ada.

Waii, dah ditulis. xD Kajiannya lebih lengkap pula. Sepertinya pink cm efektif dalam kondisi tertentu ya. =d

@dnial:
Soal kenapa warna tembok suram, itu ada 2 kemungkinan: (1) depresi memang dijadikan salah satu bentuk hukuman mereka, atau (2) nggak ada anggaran buat beli cat :D

Tentang warna tembok RS yg putih, saya rasa itu lebih karena kepraktisan; debu dan kotoran (yang tentunya nggak kondusif buat para pasien) lebih gampang terlihat sehingga bisa lebih cepat dibersihkan sebelum menyebarkan kuman/bakteri. Kalo mempercepat kesembuhan, saya belum nemu penelitiannya tuh.

@Rizma:
Kayaknya di Indo belum ada yang dicat pink, jadi Ma gak perlu kuatir kok kalo mau masuk penjara di sini ;)

@Geddoe:
Disarankan sih ruangannya polos-los, Ged…

@Kappa,May:
Yep, klo berada di ruangan pink kelamaan atau keseringan, lama2 orang jadi terbiasa dengan warna itu sehingga efeknya udah nggak kerasa lagi.

pasti isinya banyak ceweknya nih

hi catshade!

Pertama, gw mau minta ijin untuk kasih link untuk ke halaman ini ke seorang temen gw yang agak alergi sama warna pink, boleh? :) sebenernya bukan untuk tujuan sama sekali sih, gw minta ijin ini… bolehkah?

Kedua, menanggapi pertanyaan dnial dan jawaban lo: IYA, dana yang dialokasiin pemerintah untuk mengurusi LP kita emang sedikit banget…. Ga usah mengenai tembok yang tidak secara langsung vital untuk mereka… kasur aja kebanyakan sudah ga layak pakai…. Kasian deh mereka… Mungkin ga ya, dengan istirahat yg ga berkualitas mereka juga jadi makin agresif?

thanks anyway!

ps: salut untuk ide-ide dalam menulis lo! sepertinya lo punya talenta untuk bertutur dengan gaya yang ringan sehingga topik yang berat tidak mengintimidasi, ya? :) keep up the good work!

[...] Artikel POPsy! Lain yang Terkait: Ketika Penjara Berwarna Pink [...]


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...