Skip to content

“Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2a): Mengenal Korban Lebih Jauh

Jumat, 20 Juli 2007

gambar diambil dari teens.novita.org.auDalam bagian pertama, kita telah melihat gambaran singkat mengenai fenomena bullying yang terjadi beberapa sekolah di Indonesia serta dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap para korban. Dalam bagian kedua ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam fenomena tersebut. Tulisan awal ini terlebih dahulu akan melihat korban bullying lebih dalam lagi: Mengapa ada anak yang lebih rentan mengalami bullying dibandingkan anak-anak lainnya? Tanda-tanda apa saja dari korban bullying yang dapat dikenali oleh orangtua dan guru? Ada pula tips yang berguna untuk anak: Bagaimana seorang anak harus bertindak jika ia menjadi korban bullying?

Faktor dan Karakteristik yang Terkait dengan Korban Bullying

Pepler dan Craig (1988) mengidentifikasi beberapa faktor internal dan eksternal yang terkait dengan korban bullying. Secara internal, anak yang rentan menjadi korban bullying biasanya memiliki temperamen pencemas, cenderung tidak menyukai situasi sosial (social withdrawal), atau memiliki karakteristik fisik khusus pada dirinya yang tidak terdapat pada anak-anak lain, seperti warna rambut atau kulit yang berbeda atau kelainan fisik lainnya. Secara eksternal, ia juga pada umumnya berasal dari keluarga yang overprotektif, sedang mengalami masalah keluarga yang berat, dan berasal dari strata ekonomi/kelompok sosial yang terpinggirkan atau dipandang negatif oleh lingkungan.

Tentu karakteristik di atas bukanlah harga mati. Banyak anak-anak yang sepintas kelihatannya ’biasa-biasa saja’, ternyata tanpa sepengetahuan orangtua atau guru mereka telah menjadi korban bullying selama berbulan-bulan. Padahal, jika mereka mengetahui tanda-tandanya, anak tersebut dapat ditangani sedini mungkin sebelum efek negatif dari bullying semakin merusak dirinya. Apa saja gejalanya? Hal-hal berikut ini bisa menjadi indikasi awal bahwa anak mungkin sedang mengalami bullying di sekolahnya.

  • Kesulitan untuk tidur
  • Mengompol di tempat tidur
  • Mengeluh sakit kepala atau perut
  • Tidak nafsu makan atau muntah-muntah
  • Takut pergi ke sekolah
  • Sering pergi ke UKS/ruang kesehatan
  • Menangis sebelum atau sesudah bersekolah
  • Tidak tertarik pada aktivitas sosial yang melibatkan murid lain
  • Sering mengeluh sakit sebelum berangkat sekolah
  • Sering mengeluh sakit pada gurunya dan ingin orangtua segera menjemput pulang
  • Harga diri yang rendah
  • Perubahan drastis pada sikap, cara berpakaian, atau kebiasaannya
  • Kerusakan atau kehilangan barang-barang pribadi, berkurangnya uang jajan yang tak dapat dijelaskan
  • Lecet atau luka yang tidak dapat dijelaskan, atau dengan alasan yang dibuat-buat
  • Bersikap agresif di rumah
  • Tidak mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas sekolah, prestasi menurun
  • Sering merasa tidak berdaya menghadapi permasalahan, submisif

Bagaimana Sebaiknya Bertindak Ketika Menghadapi Bullying

Beberapa orangtua biasanya sudah memiliki kerangka berpikir tertentu mengenai bagaimana anaknya harus bertindak ketika di-bully oleh teman-temannya, seperti ”kalau kamu dipukul, pukul balik saja!” Anakpun juga seringkali mempunyai kerangka berpikir yang lain, contohnya ”kalau saya melapor pada ortu/guru, saya akan dicap sebagai ‘pengadu’ dan akan semakin di-bully.” Tepatkah pandangan-pandangan semacam itu? Bullying.org, berikut beberapa tambahan dari penulis, memberikan beberapa tips dan saran bagi anak yang berisiko terkena bullying atau sedang mengalaminya.

Jangan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan. Merampas, merusak, atau menyandera barang-barang korban adalah tindakan-tindakan yang biasanya dilakukan pelaku bullying. Karena itu, sebisa mungkin jangan beri mereka kesempatan dengan membawa barang-barang mahal atau uang yang berlebihan ke sekolah. Jika terpaksa, sembunyikan di tempat yang aman, titipkan ke guru atau teman yang anda percaya, atau setidaknya hindarkan meletakkan barang atau uang tersebut di tempat terbuka yang bisa menarik perhatian pelaku bullying.

Jangan sendirian. Pelaku bullying melihat anak yang penyendiri sebagai mangsa yang potensial. Karena itu, jangan sendirian di dalam kelas, di lorong sekolah, atau di tempat-tempat sepi lainnya. Kalau memungkinkan, beradalah di tempat di mana guru atau orang dewasa lainnya dapat melihat anda. Akan lebih baik lagi jika anda bersama-sama dengan teman, atau mencoba berteman dengan anak-anak penyendiri lainnya yang kemungkinan juga telah menjadi korban. Anda mungkin tidak berdaya menghadapi pelaku bullying sendirian, namun anda akan lebih aman bersama-sama dengan yang lain.

Namun bukan berarti juga anda seolah-olah menantang. Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying. Jika anda tahu ada anak-anak tertentu yang tidak menyukai anda, atau sudah dikenal luas sebagai pelaku bullying, sebisa mungkin hindari berada di dekat mereka atau di area yang sama dengan mereka. Ini termasuk area di luar sekolah, seperti jalan yang biasa anda lewati ketika pergi/pulang sekolah atau di dalam kendaraan jemputan. Kalau terpaksa, pastikan di situ ada orang dewasa (orangtua, guru, pegawai) yang bisa melerai perilaku bullying atau teman-teman anda.

Bagaimana jika suatu saat anda tetap terperangkap dalam situasi bullying? Kuncinya adalah tampil percaya diri. Jangan perlihatkan diri anda seperti orang yang lemah atau ketakutan, seperti berdiri dengan postur yang tidak tegap, menunduk ketika diajak bicara atau menjawab dengan gugup. Tetaplah tenang, utarakan keberatan anda dengan tegas, lalu tinggalkan mereka. Jangan biarkan emosi anda terpancing dan membalas perbuatan mereka kecuali anda merasa punya cukup kemampuan untuk itu; jika tidak (misalnya karena pelaku membawa senjata atau jumlah pelaku jauh lebih banyak), anda hanya akan membuat situasi bertambah buruk. Lakukan perlawanan hanya sebagai alternatif terakhir untuk mempertahankan diri jika tidak memungkinkan untuk pergi dari situ.

Terakhir, bullying hanya akan berhenti untuk seterusnya jika anda berani melapor pada orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya yang anda percayai. Anda sama sekali bukan pengecut; butuh jauh lebih banyak keberanian untuk bertindak dan mencoba mengubah kondisi yang salah semampu anda daripada hanya berdiam diri dan berharap semua penderitaan yang anda rasakan akan berlalu dengan sendirinya.

Sumber:

Bullying Information for Young People – Bullying.org (pdf)

Making a Difference in Bullying – Bullying.org (pdf)

About these ads
8 Komentar leave one →
  1. Selasa, 24 Juli 2007 3:46 pm

    Jujur aja semasa SMA, saya merasa tidak pernah di-bully sama sekali. Padahal saya tidak berteman dengan mereka (bullies). Dan sayapun sering berselisih atau bersitegang dengan mereka. Tapi anehnya mereka seperti tidak mau memperpanjang masalah dengan saya dan bisa diajak berdamai saat ada yang menengahi.

    Saya memberi saran bagi para korban bullying. Kalian harus memiliki kelebihan yang bisa ‘disombongkan’ melebihi kesombongan mereka akan sikap mereka yang ‘mirip anjing liar’. Misalnya kalian adalah juara Karate, Juara Olimpiade Fisika, dsb.

    Saya yakin di dalam hati mereka-pun akan ada sedikit rasa hormat bila kita telah menjadi orang yang berilmu apalagi berprestasi.

    Jadi jangan takut ama bully-bully kampung di sekolah kalian…!!!

  2. nela permalink
    Kamis, 26 Juli 2007 12:21 pm

    Menangani korban bulying memang penting, tetapi bagaimana dgn pelaku bulying sendiri?Bagaimana menangani mereka?Karena pasti ada penyebab yg mendasar secara psikis mengapa akhirnya mereka menjadi pelaku bulying.Apalagi kalau pelaku bulying itu adalah seorang anak kecil usia SD.

  3. Kamis, 26 Juli 2007 11:13 pm

    @purmana:
    Kalau mas purmana sampai bisa berselisih atau bersitegang dengan mereka, sepertinya mas memang mampu menyetarakan posisi di hadapan mereka. Pelaku bullying tentunya menganggap mas bukan mangsa yang enak untuk digarap, mendingan milih anak yang nggak bisa ngelawan atau mbantah :P Soal sarannya, saya sangat setuju! :)

    @nela:
    Sip, nanti bakal dibahas di sambungan artikel berikutnya ;)

  4. Jumat, 27 Juli 2007 10:46 pm

    Untuk sedikit menjawab pertanyaan Nela, saya mau memberikan sedikit komentar (utk catshade, mhn maaf kalo komen saya ini mendahului artikel anda berikutnya : ) )
    I. Mengapa seseorang menjadi perilaku bullying
    Penelitian menunjukkan bahwa banyak alasan mengapa seseorang menjadi pelaku bullying. Alasan yang paling jelas adalah bahwa pelaku merasa kepuasan apabila ia berkuasa di antara teman2nya. Selain itu, dengan melakukan bullying, ia akan dapat mendapatkan sanjungan teman2nya karena dianggap punya selera humor yang tinggi, keren, dan tentu saja, populer. Selain itu, Pelaku biasanya adalah seorang anak yang temperamental, mereka melakukan bullying terhadap anak lain sebagai pelampiasan kekesalan dan kekecewaan mereka terhadap suatu hal.
    Pelaku bullying kemungkinan besar juga sekedar mengulangi apa yang pernah dilihat atau dialaminya sendiri. Ia menganiaya org lain karena mungkin ia sendiri dianiaya oleh ortunya di rumah. Bisa juga karena ia pernah ditindas oleh sesama siswa di masa lalunya. Dari sinilah sikuls kekerasan akan terus berlanjut, turun temurun dari generasi ke generasi.

    II. Menangani Pelaku bullying
    Apabila anda mengetahui atau mengenal seorang anak yang men jadi pelaku bullying, maka anda harus menghadapi dia dengan sabar dan jangan pernah memojokkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang interogatif. Anda harus memelihara harga dirinya dan perlakukan ia dengan respek. Ajaklah sang pelaku tersebut untuk merasakan perasaan korban, dan tumbuhkanlah empatinya. Contohnya dengan pertanyaan “apakah kamu mau dihina atau dipukuli oleh orang lain?”
    Selain di atas, anda juga dapat mengangkat kelebihan2 atau bakat yang terdapat pada si pelaku di bidang yang positif. Usahakan untuk mengalihkan energinya kepada kegiatan2 positif tadi daripada sibuk menganiaya orang. Anda juga dapat membantu si pelaku untuk mengatasi kelemahan dan kekurangannya. Ini bisa menjadi jalan untuk memberdayakan dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
    Proses menangani pelaku tidak bisa dilakukan hanya sekali dan instant, melainkan harus berulang2 dan konsisten. Pelaku bullying, seperti halnya korban dan anak2 lain, memerlukan perhatian dan kepercayaan org lain bahwa ia pun bisa menjadi seseorang yang bersikap, berperilaku, dan bahkan berprestasi di bidang positif.

    Perlu diingat, bahwa kemungkinan besar sang pelaku tidak menyadari bahwa ia telah menjadi seorang pelaku serta tidak mengetahui dampak2 buruk yang bisa disebabkan oleh perilakunya tersebut. Oleh karena itu, telah menjadi tugas kita, yang telah menyadari penuh bahaya dari bullying, untuk menjelaskan mengenai seputar bulliyng, dan membimbingnya untuk berhenti menjadi seorang pelaku.

    Bagi yang ingin mengetahui info2 seputar bullying, dapat mengirimkan email ke sejiwa.cbn.net.id atau ke email pribadi saya di aryaverdi@yahoo.com.
    Semoga bermanfaat buat kita semua.(visit our website http://www.sejiwa.org)

    Sumber :
    Yayasan Semai Jiwa Amini. (2007). BULLYING : Panduan Bagi Orang Tua dan Guru : mengatasi kekerasan di sekolah dan lingkungan.

    Wassalam,

    Arya Verdi R.

  5. chau permalink
    Senin, 24 September 2007 10:21 pm

    popsy! saya hendak mengcopy all of about bullying yaq,,tentang peraturan moral copy paste,,okayyy dehh.
    Btw,chau masih nunggu referensi buku dan tempat bisa memperoleh buku bullying tsb di jakarta.thanks before^^

  6. Selasa, 25 September 2007 7:50 pm

    @chau:
    Silakan dikutip ^^ Soal buku itu, saya gak punya, dan saya gak tau siapa atau dimana yang jual buku2 akademis mengenai bullying di jakarta. Tapi kalau mau bertandang ke perpustakaan Fakultas Psikologi UI, di sana ada beberapa buku mengenai bullying yang rasanya bisa dijadikan rujukan. ;)

  7. co3k permalink
    Kamis, 4 Desember 2008 6:51 pm

    klo boleh tau,defenisi bullying itu sendiri apa?tapi menurut para ahli psikologi..
    apakah ada bukunya mengenai teori tersebut?
    tolong di balas y…trim’s ;)

Trackbacks

  1. “Bullying” dalam Dunia Pendidikan (bagian 2b): Pelaku Juga Adalah “Korban” « POPsy! - Jurnal Psikologi Populer

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 291 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: