237 Alasan untuk Berhubungan Seks (bagian 2)
Bagi kita, orang Timur yang konservatif, mungkin sulit untuk menyebutkan alasan yang tepat dan gamblang mengenai mengapa kita ingin berhubungan seks dengan orang lain (apalagi bagi yang belum menikah). Tapi jangan salah; bahkan bagi masyarakat Barat sekalipun (yang konon lebih terbuka soal seks), masalah ‘alasan’ ini juga belum sepenuhnya terungkap. Beberapa penelitian telah mencoba untuk menyusun beberapa alasan mendasar yang melandasi aktivitas ini (misalnya untuk menghasilkan anak atau untuk mengekspresikan rasa cinta), namun penelitian-penelitian setelah itu selalu mengungkap alasan-alasan baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Untuk menuntaskan masalah ini, Cindy Meston dan David Buss dari University of Texas mencoba untuk menggali seluas mungkin alternatif jawaban yang mungkin timbul dari banyak subyek. Dalam lanjutan dari bagian pertama ini, akan dibahas mengenai hubungan gender terhadap jawaban subyek dan mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Perbedaan Gender dalam Alasan
Dari keseluruhan alasan, Meston dan Buss menemukan bahwa pria rata-rata memberikan alasan yang bersifat fisik (“orang itu memiliki tubuh yang menarik”), kenikmatan fisik (“saya ingin mencapai orgasme”) dan juga ‘menyalahkan’ kesempatan yang muncul (“orang itu sedang mabuk dan saya bisa memanfaatkannya”). Selain itu, pria juga berhubungan seks untuk meningkatkan status sosial (“saya ingin pamer ke teman-teman saya”), memperbanyak pengalaman seksual (“saya ingin meningkatkan kemampuan seksual saya”), dan alasan-alasan praktis (“saya ingin mengubah topik percakapan”). Sementara itu, wanita lebih banyak mengungkapkan alasan emosional untuk berhubungan seks (“saya ingin mengekspresikan cinta saya pada orang itu”).
Mengapa ada perbedaan itu? Menurut mereka, temuan ini mendukung hipotesis berdasar evolusi yang memperkirakan bahwa pria cenderung lebih terangsang secara seksual oleh stimulus visual daripada wanita, karena penampilan fisik menyediakan banyak petunjuk mengenai kesuburan dan kapasitas reproduktif seorang wanita. Ditambah lagi, secara historis status sosial seorang pria diukur dari seberapa banyak wanita yang bisa dibuahi, sehingga ‘dorongan alam’ ini akhirnya mengembangkan hasrat pria untuk mencari pasangan seksual yang beragam. Di sisi lain, evolusi mengembangkan wanita untuk lebih memilih seks sebagai bagian dari sebuah hubungan yang berkomitmen, dan perasaan atau ekspresi cinta merupakan sebagian sinyal yang menandakan adanya komitmen tersebut.
Penelitian ini juga menemukan bahwa, secara umum, pria memberikan lebih banyak alasan untuk berhubungan seks daripada wanita. Meston dan Buss menjelaskan perbedaan jumlah pemberian alasan untuk berhubungan seks ini dengan sebuah teori: teori investasi (parental investment theory). Pria dianggap memiliki investasi yang rendah (hanya perlu ‘plug-and-play’ kurang dari sejam), sementara wanita harus berinvestasi tinggi (hamil selama sembilan bulan dan mengalami proses melahirkan yang menyakitkan). Karena itulah, alasan yang lebih banyak (dan usaha yang lebih gigih) dikeluarkan oleh kaum pria, hanya untuk dapat menancapkan kelaminnya pada kaum wanita yang pemilih. Tentu patut dicatat juga: terdapat pula perbedaan antarindividu (dalam gender yang sama) yang cukup besar, dan wanita yang mencari pasangan jangka pendek juga besar kemungkinannya untuk memulai pendekatan terlebih dahulu.
Sumber:
Meston, C. M., & Buss, D. M. (2007). Why humans have sex. Archive of Sexual Behavior, 36, 477-577. (pdf)



Offensive picture
dnial
Jumat, 24 Agustus 2007
lumayan
Anton
Rabu, 29 Agustus 2007
mnrut gue y……ML itu bikin ketagin,baik itu cwo?cwe x sama2 ketagin.sepeti kt sedang merokok
haidi
Minggu, 6 Januari 2008
pgn tw lebih ttg mslh tsb dari sudut pandang wanita.tq
thata
Kamis, 13 Maret 2008
Pertanyaannya, apakah alasan pria untuk berhubungan seks itu banyak (beragam) atau jenisnya sama tapi frekuensinya yang banyak? Tulisannya sudah menarik dan menambah sedikit wawasan, hanya akan lebih baik jika ada pemikiran kritis sehingga pola dalam membacanya bisa terlihat. Terimakasih
Bagus
Rabu, 23 April 2008
menurut saya..
g juga cwe ya lemah..malahan lebih kuat lagi..
itu tergantung stamina sesorang
abi
Kamis, 11 September 2008
boleh gak klo tulisan tentang pengaruh gendernya lebih spesifik lagi??
rut
Minggu, 21 September 2008