Menggunakan Sindiran untuk Mendeteksi Dementia

Posted on Minggu, 14 Desember 2008. Filed under: abnormal, kesehatan mental, klinis, kognitif, komunikasi, perkembangan, sosial | Tags: , , , , , , , , , , |

Latar belakang sedikit: Salah satu tanda umum penuaan adalah berkurangnya fungsi kognitif: Sering lupa, ngomong mulai nggak lancar, perhatian susah fokus, atau kesulitan mengerjakan hal-hal yang membutuhkan kerja keras otak. Kalau tanda-tanda itu sudah muncul sebelum jadi manula (biasanya digolongkan sebagai yang 65 tahun ke atas), sebutannya adalah dementia.

Nah, beberapa peneliti dari Australia (UNSW) menemukan metode unik untuk mendeteksi salah satu gejala penuaan dini ini: sarkasme. Dari studi mereka, dementia membuat penderitanya jadi tidak sensitif terhadap bahasa non-verbal dan makna ganda atau tersembunyi dalam pembicaraan; akibatnya, merekapun sering dianggap menjengkelkan atau tidak punya empati oleh orang-orang di sekitarnya.

Sayangnya, para peneliti itu hanya melakukan eksperimen dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga belum diketahui apakah dementia juga mempengaruhi sensitivitas mereka terhadap sarkasme tertulis, misalnya seperti beberapa blog satir yang ada di ranah WordPress Indonesia ini. ;)

clipped from news.yahoo.com

Researchers at the University of New South Wales found that patients under the age of 65 suffering from frontotemporal dementia (FTD), the second most common form of dementia, cannot detect when someone is being sarcastic.
“This is significant because if care-givers are angry, sad or depressed, the patient won’t pick this up. It is often very upsetting for family members,” said John Hodges, the senior author
“(FTD) patients present changes in personality and behaviour. They find it difficult to interact with people, they don’t pick up on social cues, they lack empathy, they make bad judgements,”
“People with FTD become very gullible and they often part with large amounts of money,”
“One of the things about FTD patients is that they don’t detect humour — they are very bad at double meaning and a lot of humour (other than sarcasm) is based on double meaning,”

The sarcasm test could replace some more expensive and less widely available tests for dementia, he said.
blog it

Make a Comment

Make a Comment: ( 14 so far )

blockquote and a tags work here.

14 Responses to “Menggunakan Sindiran untuk Mendeteksi Dementia”

RSS Feed for POPsy! – Jurnal Psikologi Populer Comments RSS Feed

Salah satu tanda umum penuaan adalah berkurangnya fungsi kognitif: Sering lupa, ngomong mulai nggak lancar, perhatian susah fokus,

:?

saya sering lupa n suka nggak fokus apakah saya mengalami dementia?
*segera ke dokter*

Waduh .. pantesan aja suka ga nyambung ya mbak kalo bicara dengan orang yang dementia.

*ngitung² umur sendiri*

lupa, ngomong nggak lancar, berat untuk fokus, terkadang mulai saya rasakan. padahal saya baru setengah dari umur itu. bgmana mendeteksi untuk memastikannya? bgmana mencegah atau memperbaikinya?

oiya, salam kenal sebelumnya. thx banget atas infonya.

Oooo… bahasa sehari2nya telmi gitu ya?? Hmm… tapi mungkin nggak ya, kalau seseorang itu ‘bodoh’ banget sehingga dia gagal to read between the lines, walaupun mungkin saja dia belum terkena dementia??

Atau mungkin ada tingkat2nya…. kalau masih nggak sadar ’sinisme’ belum parah dementia-nya sedangkan kalau sudah nggak sadar ’sarkasme’, nah itu dia udah parah….

Oooo… bahasa sehari2nya telmi gitu ya?? Hmm… tapi mungkin nggak ya, kalau seseorang itu ‘bodoh’ banget sehingga dia gagal to read between the lines, walaupun mungkin saja dia belum terkena dementia??

Atau mungkin ada tingkat2nya…. kalau masih nggak sadar ’sinisme’ belum parah dementia-nya sedangkan kalau sudah nggak sadar ’sarkasme’, nah itu dia udah parah….

saya sering mengalami kondisi ‘membaca tanpa memahami’. itu kenapa ya? :(

*nyolong2 curhat*

Sebelum lebih banyak lagi orang yang merasa dirinya menderita dementia, rasanya perlu saya tegaskan: Pelupa, daya perhatian yang menurun, atau mengalami gejala-gejala lainnya yang saya sebut di atas bukan berarti anda menderita dementia. ^^; Ibaratnya sama seperti sakit perut: sebab musababnya bisa mulai dari karena belum makan hingga kanker lambung. Untuk memastikannya, tentu anda perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis (neurolog, untuk kasus dementia) dan menjalani serangkaian tes sebelum divonis itu.

Tapi kalau anda masih muda (di bawah 40an tahun) dan gejalanya tidak luar biasa parah, saya kira sangat kecil kemungkinannya anda menderita dementia. :)

ah, sukur lah. sy dah kuatir :P

Alhamdulillah, ternyata belum tentu demetia toh. saya udah takut aja :lol:
*tetep pergi ke dokter*

wah ide bagus tuh “apakah dementia juga mempengaruhi sensitivitas mereka terhadap sarkasme tertulis”, ayo sapa yg kuliah psikologi buat tugas akhirnya tuh…:D

tulisan yang kasar ndak bisa mendeteksi munculnya dementia, sebab orang yang mbaca sudah ndak fokus sama kalimatnya ..

wah mungkin apa yang saya sebut ‘bego’ atau ‘telmi’ buat orang yang ga nyambung dengan suatu lelucon itu bahasa kerennya ‘dementia’ yah..

menarik….sprtinya saya juga mengalami hal2 tersebut pdhl umur saya baru 23 tahun. apa ada ya terapi pengobatannya?


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...