Tidak Ada Pernikahan Ideal!

Posted on Minggu, 25 Januari 2009. Filed under: acara, cinta, komunikasi, pernikahan | Tags: , , , , , , , |

Sabtu kemarin (24/01/09) Aku dan 2 orang teman  menghadiri seminar pranikah yang diadakan oleh lembaga Skill and Personal Development Course; sebuah lembaga milik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang bergerak di bidang pengembangan keterampilan dan pribadi.

Pukul 10.15, acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan prakata dari moderator; Khrisnaresa Adytia, alumni Psikologi UI. Selanjutnya, tanpa basa-basi lagi, Adriana S. Ginanjar pun memulai seminar.

Motivasi Menikah

Menurut konselor perkawinan dan keluarga ini, ada banyak hal yang memotivasi seseorang untuk melangsungkan pernikahan, antara lain:

  • memperoleh kebahagiaan,
  • merancang masa depan bersama,
  • memiliki anak,
  • hubungan seks,
  • lepas dari rongrongan orang tua,
  • status,
  • kehidupan ekonomi lebih baik,
  • keluar dari keluarga yang penuh konflik,
  • menyenangkan orang tua,
  • melepaskan diri dari pacar yang abusive,
  • mengejar umur, dan
  • hamil di luar rencana.

Dan, karena pernikahan sama artinya dengan mempersatukan dua orang dengan latar belakang berbeda untuk seumur hidup, dimana perubahan akan selalu terjadi dan masalah akan sering muncul, maka dari itu persiapan menuju pernikahan menjadi suatu hal yang sangat penting. Persiapan ini yang nantinya bisa menjadi salah satu pondasi dalam membangun pernikahan yang kokoh.

Untuk bisa mewujudkan pernikahan yang kokoh, ada beberapa keterampilan penting yang perlu diketahui calon suami-istri, yaitu:

  1. komunikasi yang efektif,
  2. ekspresi cinta,
  3. penanganan masalah, dan
  4. hubungan seks.

Komunikasi Efektif

Pasangan, walaupun menggunakan satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, namun belun tentu komunikasi mereka bisa berjalan dengan baik. Mereka pasti terpengaruh oleh gaya komunikasi dalam keluarga mereka sendiri, kondisi emosi dan fisik, dan juga pengalaman sebelumnya. Contoh perbedaan dalam berkomunikasi yang sering terjadi antara lain adalah:

Pria cenderung bicara singkat dan padat, bosan mendengarkan cerita yang panjang, dan ingin selalu memberikan solusi. Sedangkan, wanita senang bercerita mendetil, ingin didukung, namun belum tentu membutuhkan solusi.

Pria lebih banyak bicara dengan melibatkan fakta tanpa perasaan, sedangkan wanita, kebalikannya; melibatkan perasaan serta pengalaman subyektif.

Pemahaman akan bagaimana gaya berkomunikasi serta pengalaman-pengalaman komunikasi sebelumnya dari pasangan, adalah salah satu pondasi dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Lanjutannya, adalah saling memahami satu sama lain.

Ekspresi Cinta

Menurut Gary Chapman, setiap manusia memiliki cara mengungkapkan cinta masing-masing. Namun, secara umum, ungkapan cinta itu terbagi ke dalam 5, yaitu:

  1. words of affirmation (ungkapan afirmasi). Bentuknya antara lain: kata-kata yang membesarkan hati, ungkapan dengan nada suara lembut, permintaan dengan kerendahan hati, atau pujian.
  2. quality time (waktu berkualitas). Bentuknya antara lain: memberikan perhatian penuh, kasih sayang dan  menikmati kebersamaan. Menikmati kebersamaan ini bisa berupa komunikasi timbal balik (saling mendengar dan bercerita) dan melakukan kegiatan bersama (nonton film, bepergian, dll).
  3. receiving gifts (menerima hadiah). Bentuk ungkapan cinta ini adalah yang paling mudah dipelajari. Contohnya adalah memberi hadiah dan kejutan.
  4. acts of service (pelayanan). Pasangan tentu memiliki kesibukan atau pekerjaan masing-masing. Bentuk ekspresi cinta ini adalah dengan memberikan bantuan pada  pasangan ketika sedang membutuhkan bantuan. Misalnya, suami  membantu istri untuk mengurus anak, atau istri membantu suami ketika sedang mengerjakan pekerjaan. Namun pemberian bantuan ini hanya akan memperkuat rasa cinta jika dilakukan dengan senang hati, bukan karena rasa bersalah atau terpaksa.
  5. physical touch (sentuhan fisik). Sentuhan fisik yang dimaksud disini bukan melulu aktifitas seksual, melainkan bisa hanya berupa sentuhan di pundah, tangan, dsb. Bentuknya antara lain: pijatan, kecupan, menggandeng tangan, mengusap punggung, dll. Konon, ungkapan sentuhan ini sangat efektif dalam mengkomunikasikan cinta.

Bila pasangan memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan cinta, hal ini tak akan menjadi masalah besar. Namun jika pasangan memiliki cara yang berbeda, tidak apa-apa. Pasangan tersebut haruslah mulai beradaptasi dengan cara mulai mengungkapkan cintanya sesuai dengan yang disukai pasangannya. Ingat! Penekanannya adalah dalam hal menyenangkan pasangan, bukan hanya memenuhi kebutuhan pribadi.

Penanganan Masalah

Selanjutnya, konselor yang juga bergerak di bidang anak autis ini mengutarakan cara menangani masalah dalam pernikahan. Menurutnya, ada 2 masalah yang muncul dalam pernikahan, yaitu masalah yang berulang serta masalah yang bisa dipecahkan.

Masalah yang berulang adalah sebuah masalah yang sudah berulang kali coba dipecahkan, namun tetap saja muncul. Masalah ini juga kadang menimbulkan pertengkaran. Contohnya antara lain: sifat keras dari pasangan, sifat pemalu pasangan. dsb. Penyelesaian masalah ini, menurut Mbak Ina, begitu ia sering dipanggil, adalah dengan menerima kondisi pasangan apa adanya.

Sedangkan masalah yang bisa dipecahkan biasanya tidak memiliki muatan emosi yang besar, seperti masalah pengaturan waktu, mengatur kesibukan, dsb.

Hubungan Seks

Keterampilan terakhir yang dibahas namun seringkali dinilai tabu untuk dibahas secara umum, adalah keterampilan dalam hubungan seksual. Hubungan seksual yang dimaksud disini adalah segala kegiatan, mulai dari bersentuhan, hingga bersanggama.

Keterampilan ini sepatutnya dikuasai oleh setiap pasangan, karena percaya tidak percaya, hubungan seks adalah sebuah aspek penting dalam pernikahan dan nantinya akan mempengaruhi kepuasan pasangan dalam pernikahan.

Lalu, ia melanjutkan materi dengan memberikan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Dalam cerita itu, ditemukan beberapa masalah yang sering muncul, berkaitan dengan hubungan seksual, yaitu:

  1. frekuensi hubungan seksual tidak sesuai dengan harapan,
  2. pasangan terlalu pasif,
  3. tidak puas dalam berhubungan seks, namun tidak berani mengutarakannya,
  4. kehadiran anak seakan menjadikan hubungan seks menjadi kurang penting,
  5. perasaan cinta dan gairah menurun drastis, dan
  6. disfungsi seksual.

Apakah Anda Cocok Sebagai Pasangan?

Di bagian akhir seminar, Mbak Ina menjelaskan tentang genogram. Genogram sendiri adalah suatu bagan pemetaan keluarga pria dan wanita, beserta dinamika hubungan di dalamnya.
contoh genogram
Dari genogram ini diharapkan pasangan akan makin saling mengenal. Pengenalan ini dalam hal: sifat-sifat yang menonjol, nilai-nilai yang penting, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, pengalaman masa kecil yang berkesan, dan alasan tertarik satu sama lain.

Selain itu, dari pemetaan keluarga beserta dinamika hubungan di dalamnya, pasangan akan bisa melihat bagaimana pola interaksi antara ayah dan ibu masing-masing, interaksinya dengan anak, nilai-nilai penting dalam keluarga, gaya komunikasi masing-masing keluarga, pola pengasuhan, pengalaman-pengalaman dalam keluarga, dan bagaimana pengelolaan keuangan dalam keluarga.

Dari genogram pula, pasangan diharapkan akan mulai mendiskusikan peran dan harapan-harapan dalam pernikahan, sebab peran dan harapan ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Misalnya seorang wanita yang melihat ibunya diselingkuhi beberapa kali akan memiliki pandangan negatif terhadap laki-laki, sehingga ia akan mengharapkan suaminya kelak tidak akan melakukan hal serupa padanya.

Yang perlu diingat dari harapan serta peran ini adalah, keduanya haruslah fleksibel dan realistis, sebab perubahan akan selalu terjadi dan tidak mungkin semua harapan akan terpenuhi.

Simpulan

Di akhir seminar, pembicara menyimpulkan 3 hal berkaitan dengan pernikahan, yaitu:

  1. tidak ada pernikahan yang ideal. Setiap pernikahan akan didera masalah,
  2. kebahagiaan dalam pernikahan akan datangnya dari diri sendiri, yaitu cara pandang pasangan terhadap masalah yang mendera. Jika pasangan melihat masalah sebagai cobaan menuju arah yang lebih baik, mereka (mudah-mudahan) akan bisa melewatinya dengan baik pula,
  3. dan kuncinya adalah komitmen satu sama lain untuk tetap berada dalam dan membangun pernikahannya.

Pukul 13.oo lewat, seminar pun diakhiri. Sekitar 20 pengunjung yang hadir segera membubarkan diri, walau ada beberapa yang terlihat hendak bertanya-tanya pada pembicara lebih dulu.

Pengalamanku

Aku merasa senang bisa datang ke seminar ini. Alasannya:

  1. tujuan utamaku, mendapatkan pengetahuan tentang pernikahan, bisa tercapai disini.
  2. pembicaranya menguasai apa yang dibicarakannya. Beberapa pertanyaan yang diajukan audiens ketika sesi tanya jawab, mampu dijawabnya dengan baik.
  3. banyak kasus nyata yang digunakan sebagai contoh, untuk memudahkan pemahaman penonton.
  4. pembicara membawakan materi dengan baik. Selain memberikan ceramah, ia juga melakukan tanya jawab dengan audiens, serta memberikan beberapa kuis, berkaitan dengan materi (dari kuis ini, Aku semakin yakin bahwa Aku dan pasanganku, memiliki bahasa cinta yang kurang lebih sama(waktu berkualitas, sentuhan fisik).
  5. membayangkan kesulitan yang pasti bakal dialami setiap pasangan yang menikah, membuatku merasa cemas. Namun, dibalik kecemasan itu, berkat pengetahuan yang didapat hari ini, setiap orang pasti akan merasa siap. Alasannya, karena mereka tahu apa yang akan dihadapinya nanti, bukan seperti masuk sebuah ruang gelap tanpa adanya peringatan lebih dulu, dan merasa terjebak.

Suatu saat, jika ada seminar-seminar sejenis dan temanya menarik, mungkin Aku akan ikut lagi. Aku pun siap menabung lagi demi membayar Rp.125.ooo untuk biaya investasinya.

~ materi tulisan ini diambil dari materi yang disampaikan pembicara dalam seminar.

Make a Comment

Make a Comment: ( 51 so far )

blockquote and a tags work here.

51 Responses to “Tidak Ada Pernikahan Ideal!”

RSS Feed for POPsy! – Jurnal Psikologi Populer Comments RSS Feed

Pernikahan itu memang potensi masalah, tergantung kita menyikapinya, dan komitmen ketika akan menikah dulu, apalagi pasangan yang berlainan suku, bangsa atau agama, banyak hal yang harus disesuaikan dengan pasangan kita. Ini contoh pada pernikahan saya yang berlainan suku ( suami saya dayak dan saya campuran ayah saya suku Jawa dan Ibu dari Jepang ) Di awal pernikahan banyak hal-hal kecil yang bertentangan yang memicu untuk kles, tetapi dengan berjalannya waktu kita semakin matang dan dewasa untuk mengarungi bahtera RT dengan komitmen yang kuat dan tujuan untuk keluarga yang bahagia. Walaupun masih ada kadang kala riak-riak kecil perbedaan tapi kami masing- masing semakin meredam diatas komitmen awal. Memang tidak mudah tapi itulah kehidupan ibaratnya kita dengan pasangan kita itu seperti rel kreta api yang tidak harus numpuk sama untuk mengarungi hidup ini tapi tetap sejalan dan searah dan satu tujuan , seperti hasil seminar diatas yaitu tidak ada perkawinan yang ideal, tapi kita tetap mengupayakan untuk ideal seperti rel kereta api tadi. Okay terima kasih tulisannya. Sukses untuk anda.

Regards. agnessekar.wordpress.com

Mau nikah Mat Sade? Ikut seminar Pranikah

Menikah pada dasarnya membentuk lembaga ibadah/keagamaan, Semua persoalan pernikahan bakalan dijawab dalam agama. Persoalan menjadi rumit ketika persoalan pernikahan dijawab dengan kaidah ekonomi apalagi psikologi semata

Wuah. Sampe ikut seminar begitu. Hehe. Nice post. Saya suka yang ekspresi cinta yang act of service. :mrgreen:

Kuncinya adalah memang saling menyesuaikan diri. Sebagai contoh misalnya: Saya memang orangnya tidak senang cerita yang bertele-tele dari seseorang, apalagi cerita yang didramatisasi dan penuh dengan embel2 yang perlu. Sedangkan istri saya walaupun juga ia tidak suka sesuatu yang didramatisir tetapi ia suka mendengarkan kisah orang yang panjang lebar, mungkin karena itu ia suka dengan sinetron yang paling saya benci. Nah, setelah menikah kita berusaha saling mengerti dan memahami walaupun terkadang tidak selamanya 100% berhasil. Kesukaan kita masing2 yang menjadi ketidaksukaan pasangan kita, solusinya kita harus ngalah sedikit2. Pada intinya, menurut saya, pernikahan adalah mencoba dan mencoba terus jika tidak ada kesesuaian, karena memang keadaannya tidak ada pernikahan yang 100% sempurna. Walaupun begitu nampaknya angka 100% itu sama sekali bukanlah sesuatu yang wajib dicapai…..

Hebat..jadi kapan menikah?

This is a good and insightful review. Thanks for sharing. Ada potongan video klipnya kah di youtube?

menikah pada dasarnya adalah komitmen kepada Tuhan dan penyesuaian diri dan pasangan

selamat menikah!
:)

ya ya ya….sepertinya yg dapat melihat pernikahan kita ideal pa tidak…pasangan itu sdr…..

wah, kalau anda mau menikah dalam waktu dekat, jangan lupa undang undang mas :mrgreen:

pernikahan…oh pernikahannnnn
huhuhuhuhu
kek sambel kasih gula
pedes2 manis kali yahhhh?

.
Weh…
Apa yang pengen sayah tulis sebagian dalem novelete sayah, ternyata ada di sinih….

Ciamik tenan…

ya ya ya… kadang2 kalo bayangin kompleksitas hubungan pasutri itu bikin mikir juga… padahal terus dikejar-kejar sama umur…

tar dulu deh bacanya, tar kalo tiba2 pengen nikah bisa repot nih :D

@ Semua
makasih atas sharingnya :)
lalu, ingin meluruskan bahwa bukan Catshade yg nulis review ini, melainkan saya. dan, saya juga belum berencana menikah dalam waktu dekat :D

Ohh… Gitu ya…
Tpi kayaknya saya masih terlalu muda utk menjalani pernikahan, n blm terlalu mikirin juga, hehe

aku tunggu info barunya

.
?
:roll:

tidak ada pernikahan yang ideal. Setiap pernikahan akan didera masalah

Salah satu alasan mengapa banyak pasangan artis kawin-cerai? :?

duh kapan yah saat itu datang…

Kalo bercita cita nikah 2 taun lagi, udah harus mulai ikut seminar begituan kali ya,, :P

[...] kasih kado spesial ini aja deh [...]

Hmm..ta link di blog saya tentang artikel ini..
Utk kado spesial seseorang :D
thx popSy! :)

mnikah menjadikan kita memaknai arti hidup yang sesungguhnya karena disana pula kita menemukan arti dicintai dan mencintai

makasih banyak atas informasi yg sangat ak butuhin…saat ini ak sedang berusaha memahami pasanganku. dan berharap semua akan baik-baik aj

Ideal itu relatif, karena setiap manusia punya ukuran ideal menurut persepsinya masing-masing.

Pernikahan tidak ada yang ideal, karena manusia itu sendiri tidak ada yang sempurna.

thanks buat tulisannya
berhubung kita diciptakan adalah sebagai pasangan satu sama lain. untuk itu kita memang harus saling melengkapi satu sama lain. mengisi diantara kelemahan dan kelibihan kedua pasangan tsbt,

Just passing by.Btw, you website have great content!

______________________________
Don’t pay for your electricity any longer…
Instead, the power company will pay YOU!

Seringkali pasangan suami istri, terutama pasangan muda memiliki ekspektasi yang berlebihan mengenai kehidupan pernikahannya kelak, apalagi kalau pada masa-masa dating atau pacaran individu biasanya memperlihatkan yang baik-baik saja tanpa memperlihatkan sifat jeleknya.

mau juga ikut seminarnya
apalagi kalo siap tu bisa langsung nikah :D

Keputusan menikah adalah sebuah keputusan besar, memerlukan tanggung jawab dikemudian hari.
Perlu komitmen antara pasangan, saling menghormati dan menghargai. Harus percaya bahwa bahagia itu harus dibuat…karena kalau mengejar kebahagiaan maka tak akan pernah tercapai.

1PRIA+1PEREMPUAN=1 ATAU LEBIH PRIA/PEREMPUAN
1PRIA+1PEREMPUAN=1KELUARGA
1PRIA+1PEREMPUAN=1RUMAH,1PIRING,1RANJANG,1SAJADAH,KIBLAT,1KESALAHAN NAMUN 1000 JALAN KELUAR.
DAN, JIKA 1PRIA+1PEREMPUAN BERPISAH KARNA ALASAN TELAH MENIKAH (dan apapun alasannya mengapa menikah); JANGAN TANYA SIAPA SALAH DAN SIAPA BENAR. KARNA NOL BUKAN KOSONG DAN KOSONG BUKANLAH NOL.

pernikahan adalah perjuangan tanpa akhir…pencarian tanpa batas… Bersyukur kita tidak mengetahui semua hal mengenai pasangan kita dari awal pernikahan..( bosen kale..), tapi mendapatkan hal baru tiap hari mengenai buruk atau baiknya dia merupakan hal yang luar biasa yang bikin kita makin menyadari betapa karya tuhan itu besar. Dan itu adalah pelatihan hidup yang Tuhan ijinkan..

Wah, bagus sekali tips-tipsnya, bermanfaat sekali buat para pasangan yang berencana membentuk keluarga.

Mudah-mudahan kita dapat membentuk pernikahan dan keluarga yang ideal.

makasih ya… untuk tulisannya:)
jd nambah wawasan qt sebelum melangkah
kejenjang yg lebih serius (menikah)….
di tunggu informasi berikutnya….

lebih baik pikir2 dulu sebelum terjadi pernikahan.caritau tntng pribadinya dulu yg sesungguhnya,karna bisa saja pasangan hanya ingin memanpaatkan kita hanya karena suatu benda…bukan ketulusan..

Saya berdo’a aku berlindung kepadamu Ya Allah, dari nafsu yang tidak perna puas

wah keren abis dech iformasinya….apalagi skrg aku lg mempersiapkan diri bwt kejenjang pernikahan…so berguna banget nech..

aku homo
tapi kalo mau menikah bisa tidak

Tq bwt tulisannya, inspiring me alot.
Saya jd tau byk tanpa mengikuti seminarnya..
Salam-

Saya belum ada pikiran untuk nikah,
untungnya calon juga belum ada… ^_^

Info yang menarik … ada tulisan tentang pacar yang abusive gak?

duhh… berguna bgt nich, membuka sedikit pandanganku dalam persiapan membangun rumah tangga.karena selama ini yang ku lihat hanya hal2 buruk dalam sebuah pernikahan

trimakasih atas di terbitkannya seminar ini ke internet..akan lebih baik lagi kalo selalu menerbitkan ke situs ini pada setiap seminar.

Melembagakan pernikahan bisa bikin dunia lebih damai. Salut buat POPSY atas motivasinya.

Perlu qta pahami ttg paradigma “masalah’…Menikah itu banyak masalah??? Apakah yang blm menikah itu ga punya masalah??? Ga begitu kan??So..Jgn jadikan pernikahan itu sbg “kambing hitam” atas tiap masalah…Hidup itu memang banyak masalah, itulah namanya hidup…Dengan menikah ada 1 keuntungan, yaitu kita memiliki Partner dan supporter u/ menghadapi masalah, jd setiap masalah yg ada dihadapi ber2 bukan sendirian seperti yg dialami oleh para jomblo…:-)

menikah kan menyatukan 2 sifat yang berbeda,
jadi saling pengertian, sabar, jujur dan komunikasi adalah proses yang sebaiknya slalu dijaga agar pernikahan itu langgeng.
;)
salam knl yaa

pernikahan adalah momen yang sngat di inginkan oleh setiap orang.setelah kita menikah akan banyak kejutan2 yg timbul dari setiap pasangan msing2.jika pasangan tidak siap menghadapi kejutan trsbt,maka di sinilah akan mulai muncul sebuah masalah kecil.Namun jika pasangan saling emosi maka masalah kecil itu akan menjadi masalah besar.itulah sebabnya kita harus benar2 mengenal sifat pasangan kita.untuk itu perlu sifat kedewasaan dari kita dan pasangan,karena kebahagiaan RT sangat berawal dari bagaimana sikap kita terhadap pasangan.jika kita sudah saling dewasa dan bisa menghargai pasangan kita maka kebahagiaan perlahan akan kita rasakan bersama.makasiiiih


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...