Saat Wajah Tak Lagi Menarik
“Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.”
Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita tentang ini dan itu, namun kali ini Aku tak menduga ia akan bercerita tentang hal personal itu. Selain kaget, Aku juga khawatir ketika temanku itu menceritakan permasalahannya. Aku Khawatir tak cukup berpengalaman dan bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya.
Kata-kata pria itu, kemudian membuatku berpikir dan menyimpulkan sesuatu. Manusia itu berkembang. Yang tadinya cuma sebuah sel telur dan sperma yang menyatu, kemudian, menjadi janin, lahir, jadi bayi, lahir, bisa jalan, hingga kemudian makin tua dan mati.
Pada suatu titik dalam perkembangan manusia, yang terjadi adalah kemunduran fisik; kekuatan otot, kecepatan reaksi, dll. Yang tadinya istrinya cantik atau suaminya ganteng, lama-lama pasti akan keriput, tak montok lagi, perutnya tak six pack lagi atau rambutnya sudah tak tak bisa diberi gel (karena sudah tak memiliki satupun). Di saat inilah, sepertinya hal-hal berbau tampilan luar dan fisik akan mulai berkurang perannya dalam kehidupan berpasangan, dan kemampuan komunikasi akan mengambil alih. Temanku pun mengiyakan asumsi tersebut.
“Lo akan ngiri kalo liat mereka. Mereka bisa berjam-jam ngobrol. Kadang obrolannya pun ngalor ngidul; apa aja yang bisa mereka obrolin. Padahal, mereka udah sepuluh tahun menikah,” lanjutnya.
Wajahnya tampak lesu. Senyum yang biasanya lebar terlihat, kini seakan terpaksa diangkat. Suaranya pun tak terlalu keras; lirih, seperti mengandung penyesalan.
Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat; makin bingung bagaimana harus menanggapinya. Kubayangkan, bagaimana rasanya jika komunikasi dengan pasangan, tak berjalan sebagaimana mestinya. Sepertinya hampa sekali hidup ini; karena setiap hari, jam, menit dan detik, kita akan bersamanya. Jika tanpa komunikasi, ibarat selalu mendengarkan tik tok tik tok; bunyi jam dinding berdetik di ruangan kosong.
Aku masih tak tahu bagaimana bantuan yang bisa kuberikan; mungkin hanya telinga dan hati untuk mendengarkannya saja. Namun, untuk masalah komunikasi? Hmmm, nanti dulu; Aku tak terlalu kompeten. Ujung-ujungnya paling hanya memberi penguatan, kalau komunikasi itu bisa dipelajari, jadi kawanku ini tak perlu putus asa.
Dari situ, Aku berkesimpulan bahwa kriteria “komunikasi baik dengan calon pasangan” sepertinya bisa menjadi salah satu syarat penting dalam penentuan pasangan. Apakah pasangan bisa saling mendengarkan dan saling berbagi perasaan dan pemikiran, bisa menjadi beberapa kriterianya. Sehingga, jika wajah pasangan tak lagi menarik; sudah tak ganteng/cantik dan peyot, masih ada yang bisa menjadi pupuk bagi kelangsungan hidup berpasangan. Yup! Dialah komunikasi!
–
Ah, tapi ini baru pemikiran dan kesimpulanku sendiri.



Tepat sekali, fisik tidaklah menempati posisi terpenting dalam hubungan, seperti yang saya tulis di sini. Di sisi lain, komunikasi juga bukan fondasi utama, melainkan hanya salah satu saja.
Lex dePraxis
Senin, 10 Agustus 2009
Yup, benar sekali; bukan pondasi utama, namun salah satu pondasi
toso
Selasa, 11 Agustus 2009
lebih dari sekedar komunikasi, dalam memilih pasangan harus dipikirkan kecocokan karakter, kesamaan visi misi sampai idealisme hidup.
jadi kalo masing-masing udah enggak cantik, kalo lagi berantem atau ngerasa udah enggak asik diajak ngobrol, ingatlah kalo dalam pernikahan itu ada sebuah tujuan besar tentang idealisme hidup keduanya. juga ada janji besar yg telah diucap dan harus dipertahankan hingga akhir hidup
d1ny
Selasa, 11 Agustus 2009
@D1ny
kecocokan karakter, kesamaan visi misi sampai idealisme hidup –> ini kan bisa dicaritahu dengan berkomunikasi
toso
Rabu, 12 Agustus 2009
selain kepercayaan, komunikasi jg penting mnrt sy. tanpa ada komunikasi, ga akan ada chemistry yg terbentuk.
Toko Kaos Online
Rabu, 12 Agustus 2009
Hmm, bisa jadi pertimbangan nanti saya mencari pacar (komunikasi dulu) ho ho. Trims.
Yellow
Senin, 17 Agustus 2009
menarik sekali tulisannya. makasih ya.
salam kenal. hidup komunikasi!!
antown
Senin, 17 Agustus 2009
saya setuju, penampilan fisik memang bukan faktor utama kelanggengan hub. suami istri.
Ini menguatkan fenomena banyaknya artis yang cerai, padahal mereka itu secara fisik oke.
Bang Doel
Psikologi Praktis
Senin, 17 Agustus 2009
tidak salah kalu sso melihat fisiknya… tapi fisik bukanlah tolak ukur untuk mencapai kebahagiaan…
artikel itu bisa jadi pembelajaran bagi yang melihatnya…..
kita tidak dapat menyimpulkan kulit luar sso.
febrina
Sabtu, 22 Agustus 2009
bnr bgt slh 1 yg pnting adlh mslh komunikasi dimana pasangan kt bisa d ajk bicara mengenai apa saja. yang paling penting lg menurut saya pasangan kita jg hrs bs menghibur/lucu, ada pembicaraan konyol yang bisa membuat kita terhibur dari kepenatan yg ada. Sehingga, tidak akan merasakn cpt bosan pada pasanganny masing2
naya
Kamis, 27 Agustus 2009
iam very agree, karena dengan komunikasi semua permasalahan dalam hidup khususnya dalam berumah tangga adalah salah satu kunci pokok menuju kelanggengan.
Ferri
Selasa, 1 September 2009
Cantik bisa direkayasa.
Budaya Pop
Jumat, 11 September 2009
sangat jelas sekali yah bahwa tubuh fisik manusia itu hanya fana.
penggambaran cerita anda sudah cukup mewakili semua asumsi tentang fisik. dan ada solusi yang jelas yakni komunikasi.
begitu yang saya tangkap tentang artikel anda ini, bukan begitu?
hamka
Minggu, 13 September 2009
yahh itu sudah alami semua orang akan mengalami
riyanto
Selasa, 15 September 2009
Ya saya setuju dalam mencari pasangan hidup itu bukan hany lihat luarny tp kita hrs melihat jauh kedalam hatiny, kr lbi lama kita hidup dgn pasangan drpd d ortu kita
Rana
Rabu, 16 September 2009
cinta karena wajah cantik atau tampan itu nafsu
cinta karena hartanya itu matre
cinta karena anda bahagia tanpa ada alasan logic itu bisa jadi sejati,,,,
tidy
Minggu, 27 September 2009
Benar, dengan komunikasi yang baik dapat membuka atau membangun suatu hubungan atau pendekatan personal.
Sabatina
Rabu, 7 Oktober 2009
ya.,aq juga stuju,emag bner yg nmax kcantkan kan hnya sbatas klit,
apsara-902
Jumat, 9 Oktober 2009
Oyi. Dr Pengalman ortu memang akhirx menyesal klo cm penampilan thok yg dipertimbangkan. Perhitungan sl kepribadiannya jg perlu.
Dewi ayaya
Senin, 12 Oktober 2009
[...] dibaca juga di POPsy! Jurnal Psikologi Populer. Bagikan tulisan [...]
Saat Wajah Tak Lagi Menarik | fa triatmoko hs
Rabu, 14 Oktober 2009
cinta tidak memandang fisikly.. tpi cinta melihat mata hati,,,, dari pancaran mata hati yang bersinar kita akan tau mana cinta sejati dan mana cinta nafsu belaka…..begitulah cinta tpi kenapa orang masih banyak orang jatuh cinta karena melihat fisik,,, kenapa ?? apakah mereka bagi orang yang mementingkan fisik adalah segala-galanya masih patut dipertanyakan cintanya………
riani
Rabu, 21 Oktober 2009
andai sm kmbli pd yg kuasa.surga,phla,ridhoNya mjd hl yg bhrga dbndgkn fisik s.d materi.
nilai2 msyrktlh yg mjdkn parameter cool,cakep,ga2h,dll mjd psaingi ats nilai2 kTuhanan.
dluar itu,sygx bbrp kalangan knsep anti kmapanan jstru mjd prilaku asosial.
ARDI
Jumat, 23 Oktober 2009
hmmm…. kira2 bisa nggak setiap org begitu?
Fitri lagi Pengen mengembalikan jati diri bangsa
Selasa, 27 Oktober 2009
di nikmati aj deh
mbah gendeng
Jumat, 30 Oktober 2009
Komunikasi mang pnting…byngin jka hdup tnpa komunikasi.
Visi-misi,,,dll akan diketahui dari komunikasi….
Argmen yg baik!
Salam!!!
Rahma
Sabtu, 31 Oktober 2009
Saya setuju sekali mengenai hal itu karena setelah menikah lagi sebenarnya saling pengertian dan komunikasi yang baiklah yang menjadi aspek penting
cs
Senin, 2 November 2009
komunikasi itu penting, cantik/tanpan juga penting kalau bisa mendapatkanya, biar ga bosen kalau memandang.. harta juga penting, biar ga sengsara.. keturunan dari keluarga baik2 juga penting.. akhlaq yg berdasarkan agama itu lebih penting..
Arrizal
Kamis, 5 November 2009
tidak ada yang bisa mengalahkan segala-galanya kecuali komunikasi, juga tidak ada kata “HEMAT” dalam komunikasi.
Ade
Minggu, 15 November 2009