<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>POPsy! - Jurnal Psikologi Populer</title>
	<atom:link href="http://popsy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://popsy.wordpress.com</link>
	<description>Semua tentang pikiran dan perilaku manusia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Aug 2009 02:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='popsy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fa49264611f8a3f1721a78207cc607b9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>POPsy! - Jurnal Psikologi Populer</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Saat Wajah Tak Lagi Menarik</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 00:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.&#8221;
Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=390&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.&#8221;</p>
<p>Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita tentang ini dan itu, namun kali ini Aku tak menduga ia akan bercerita tentang hal personal itu. Selain kaget, Aku juga khawatir ketika temanku itu menceritakan permasalahannya. Aku Khawatir tak cukup berpengalaman dan bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya.<br />
<span id="more-390"></span><br />
Kata-kata pria itu, kemudian membuatku berpikir dan menyimpulkan sesuatu. Manusia itu berkembang. Yang tadinya cuma sebuah sel telur dan sperma yang menyatu, kemudian, menjadi janin, lahir, jadi bayi, lahir, bisa jalan, hingga kemudian makin tua dan mati.</p>
<p>Pada suatu titik dalam perkembangan manusia, yang terjadi adalah kemunduran fisik; kekuatan otot, kecepatan reaksi, dll. Yang tadinya istrinya cantik atau suaminya ganteng, lama-lama pasti akan keriput, tak montok lagi, perutnya tak six pack lagi atau rambutnya sudah tak tak bisa diberi gel (karena sudah tak memiliki satupun). Di saat inilah, sepertinya hal-hal berbau tampilan luar dan fisik akan mulai berkurang perannya dalam kehidupan berpasangan, dan kemampuan komunikasi akan mengambil alih. Temanku pun mengiyakan asumsi tersebut.</p>
<p>&#8220;Lo akan ngiri kalo liat mereka. Mereka bisa berjam-jam ngobrol. Kadang obrolannya pun ngalor ngidul; apa aja yang bisa mereka obrolin. Padahal, mereka udah sepuluh tahun menikah,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Wajahnya tampak lesu. Senyum yang biasanya lebar terlihat, kini seakan terpaksa diangkat. Suaranya pun tak terlalu keras; lirih, seperti mengandung penyesalan.</p>
<p>Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat; makin bingung bagaimana harus menanggapinya. Kubayangkan, bagaimana rasanya jika komunikasi dengan pasangan, tak berjalan sebagaimana mestinya. Sepertinya hampa sekali hidup ini; karena setiap hari, jam, menit dan detik, kita akan bersamanya. Jika tanpa komunikasi, ibarat selalu mendengarkan tik tok tik tok; bunyi jam dinding berdetik di ruangan kosong.</p>
<p>Aku masih tak tahu bagaimana bantuan yang bisa kuberikan; mungkin hanya telinga dan hati untuk mendengarkannya saja. Namun, untuk masalah komunikasi? Hmmm, nanti dulu; Aku tak terlalu kompeten. Ujung-ujungnya paling hanya memberi penguatan, kalau komunikasi itu bisa dipelajari, jadi kawanku ini tak perlu putus asa.</p>
<p>Dari situ, Aku berkesimpulan bahwa kriteria &#8220;komunikasi baik dengan calon pasangan&#8221; sepertinya bisa menjadi salah satu syarat penting dalam penentuan pasangan. Apakah pasangan bisa saling mendengarkan dan saling berbagi perasaan dan pemikiran, bisa menjadi beberapa kriterianya. Sehingga, jika wajah pasangan tak lagi menarik; sudah tak ganteng/cantik dan peyot, masih ada yang bisa menjadi pupuk bagi kelangsungan hidup berpasangan. Yup! Dialah komunikasi!</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ah, tapi ini baru pemikiran dan kesimpulanku sendiri.</p>
Posted in cinta, komunikasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=390&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Minat Baca pada Anak</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 16:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[minat baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[“Ma.. Pa.. Baca buku itu lagi ya..”
Tak terbayangkan betapa senangnya hati ketika mendengar permintaan buah hati kita.
Membangun kecintaan anak terhadap buku bukanlah hal yang mudah. Namun jelas akan memberikan banyak sekali manfaat dalam kelangsungan hidupnya dikemudian hari, terutama bagi kesuksesan pendidikannya. Sebab, kecintaan terhadap aktivitas membaca adalah modal utama dalam proses belajar dan mengajar yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=385&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>“Ma.. Pa.. Baca buku itu lagi ya..”</em></p>
<p>Tak terbayangkan betapa senangnya hati ketika mendengar permintaan buah hati kita.</p>
<p>Membangun kecintaan anak terhadap buku bukanlah hal yang mudah. Namun jelas akan memberikan banyak sekali manfaat dalam kelangsungan hidupnya dikemudian hari, terutama bagi kesuksesan pendidikannya. Sebab, kecintaan terhadap aktivitas membaca adalah modal utama dalam proses belajar dan mengajar yang dilaluinya. Selain itu, melalui membaca anak dapat mengembangkan imajinasinya, mengenali karakter-karakter kepribadian dan mengembangkan kemampuan serta minat anak.</p>
<p>Singkat kata, membaca bisa disebut  sebagai “salah satu sarana utama untuk mencapai kehidupan yang sejahtera”.</p>
<p><span id="more-385"></span></p>
<p><strong>Bagaimana menumbuhkan kecintaan membaca pada anak?</strong></p>
<p>Sebagai orangtua atau pendidik, kita sering kali bertanya adakah cara yang paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap membaca?</p>
<p>Jawabnya adalah tidak ada.</p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian tentang minat membaca anak diketahui bahwa ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada membaca dan seluruhnya adalah satu kesatuan yang utuh.</p>
<p>Berikut adalah cara-cara yang dapat kita contoh:</p>
<ul>
<li><strong>Memberikan contoh </strong></li>
</ul>
<p>Di setiap masa perkembanganya cara belajar anak yang paling utama adalah dengan cara mencontoh. Sehingga, bila kita hendak menumbuhkan kecintaan membaca pada anak kita, sebaiknya kita pun memiliki dan menampilkan kecintaan terhadap membaca. Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memilih membaca Koran di ruang keluarga setiap pagi dan bukan menonton berita di televisi. Anak-anak akan melihat dan walaupun mereka tidak tahu dengan pasti apa yang kita baca, tetapi mereka dapat dengan nyata melihat bahwa kita membaca.</p>
<ul>
<li><strong>Membangun kebiasaan membaca dalam diri kita </strong></li>
</ul>
<p>Kita tentu ingat pada pepatah seperti “kita bisa karena biasa” atau “<em>practice makes perfect”</em>, keduanya seakan memberitahukan bahwa proses pengulangan aktivitas akan menimbulkan jejak memori pada otak, termasuk untuk proses ingatan dan emosi. Semakin sering anak melihat kita membaca maka akan semakin tertarik dia untuk mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Ketertarikan ini kemudian hendaknya kita tanggapi dengan melibatkan anak dalam kegiatan membaca kita, sehingga ia akan semakin tertarik dengan aktivitas membaca.</p>
<ul>
<li><strong>Menciptakan suasana kondusif saat membaca</strong></li>
</ul>
<p>Menciptakan suasana yang bahagia dan penuh kasih sayang saat membaca sangat diperlukan untuk membangun jejak memori terutama yang melibatkan emosi.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Karena berdasarkan penelitian terdahulu, sekitar 60% dari proses pembelajaran melibatkan amigdala (merupakan pusat emosi yang dimiliki manusia) dalam otak. Contoh sederhana mengenai hal ini adalah jawaban anak ketika ditanya apa yang dilakukanya saat liburan. Anak kemungkinan akan menjawab dengan cerita kebahagiannya ketika diajak berwisata ke taman safari oleh kita.</p>
<p>Bagaimana caranya menciptakan suasana kondusif saat membaca?</p>
<p>Hmm.. sederhana sekali. Kita hanya perlu santai, menjadi diri kita sendiri, dan tersenyum. Sebagai contoh, saat sedang dalam perjalanan di mobil. Kita bisa memangkunya atau duduk disebelahnya kemudian mengeluarkan beberapa buku cerita, memintanya memilih mana yang disukai lalu perlahan bersama-sama membaca halaman demi halaman dari buku tersebut.</p>
<ul>
<li><strong>Penghargaan atas minat anak</strong></li>
</ul>
<p>Bila anak sudah mulai menunjukkan ketertarikkannya terhadap membaca, apa itu berarti tujuan kita sudah tercapai dan tugas kita selesai??</p>
<p>Upst! Ternyata tidak.</p>
<p>Ketika ia sudah mulai menujukkan ketertarikan terhadap membaca maka sebaiknya kita memberikan pengahargaan kepadanya supaya ketertarikan tersebut bertahan dan berubah menjadi kebiasaan positif, yaitu kebiasaan membaca.</p>
<p>Bagaimana cara? Bermacam cara dapat dilakukan. Dari yang paling sederhana dengan cara selalu menemaninya membaca atau menjadi teman diskusi bacaannya bila anak sudah dapat diajak berdiskusi. Hingga cara yang paling kompleks yaitu membantunya mengkordinir <em>book club </em>sederhana yang beranggotakan teman-teman anak kita yang juga punya hobi membaca.</p>
<p><strong>Sejak kapan usaha kita sebaiknya dimulai?</strong></p>
<p>Waw! Ternyata sederhana sekali cara untuk menumbuhkan kecintaan anak pada membaca. Hmmm, kira-kira kapan sebaiknya kita mulai ya?</p>
<p>Jawabnya adalah SEKARANG.</p>
<p>Ya, sekarang adalah saatnya.</p>
<p>Bahkan kita dapat menumbuhkan kecintaan anak pada membaca sejak bayi dalam <strong>kandungan</strong>. Kita perkenalkan suara dan perubahan intonasi kita saat membaca buku cerita. Ketika ia sudah mulai berusia <strong>3 bulan</strong>, kita bisa mulai menunjukkan buku dan membaca di sebelahnya. Ketika ia berusia <strong>6-9 bulan</strong>, kita bisa memangkunya atau duduk di sebelahnya dan nampilkan buku sederhana untuk “dibaca” bersama-sama. Ketika ia berusia <strong>1-2 tahun</strong>, kita bisa membaca bersama dan memintanya untuk pura-pura memegang buku yang kita baca. Ketika berusia <strong>2-5 tahun</strong>, kita bisa bersama-sama membaca bersama buah hati kita, kita bisa meminta bantuannya untuk membuka halaman per halaman dan kita bahkan sudah bisa mengajaknya memilih buku yang ia suka di toko buku.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Adakah referensi jenis buku?</strong></p>
<p>Apakah ada referensi judul buku yang baik dibaca anak? Tidak ada. Semua buku dan bacaan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing untuk setiap anak. hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menyesuaikan tahap perkembangan anak dengan jenis buku yang ada.</p>
<ul>
<li><strong>Catalogue book (0-6 bulan)</strong></li>
</ul>
<p>Catalogue book adalah buku tanpa cerita. Biasanya di tiap halaman berisi gambar benda dengan namanya dibawahnya atau gambar aktivitas dan nama aktivitas dibawahnya. Biasanya buku ini berbentuk board book.</p>
<ul>
<li><strong>Picture book (7 bulan-3 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Picture book adalah buku cerita yang teksnya masih sedikit. Tiap halaman biasanya berisikan 1-2 kalimat. Dalam buku ini biasanya ada hubungan langsung antara teks dengan gambar. Buku jenis ini dapat terus digunakan sampai anak bisa membaca sendiri.</p>
<ul>
<li><strong>Longer picture book (3 Tahun- 6 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Longer picture book adalah buku cerita yang teksnya sudah lebih banyak per halaman dan ceritanya lebih panjang, biasanya terdapat 2-5 kalimat.</p>
<ul>
<li><strong>Illustrated chapter book (6/7 tahun – 12 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Illustrated chapter book adalah buku cerita yang teksnya sudah banyak, ceritanya mulai panjang (sudah dibagi dalam bab) tetapi masih ada ilustrasinya. Buku jenis ini cocok untuk anak usia 6 tahun keatas, terutama saat ia sudah mulai belajar membaca namun masih mudah bosan untuk membaca dalam durasi yang panjang.</p>
<ul>
<li><strong>Short novel, novel dan story collection.</strong></li>
</ul>
<p>Ketiga jenis buku ini dapat diperuntukkan kepada anak diatas usia 12 tahun yang diasumsikan sudah mahir membaca. Ketiga jenis buku ini memiliki kesamaan, yaitu tidak lagi menggunakan ilustrasi gambar. Namun mereka memiliki perbedaan dalam panjang cerita dan jumlah cerita dalam satu buku. Short novel memiliki satu cerita pendek didalamnya, novel memiliki satu cerita dalam durasi yang panjang sedangkan story collection memiliki beberapa cerita yang masing-masingnya berbeda durasi dalam satu buku yang sama.</p>
<p>Nah, ternyata menumbuhkan kecintaan terhadap membaca adalah kegiatan yang sederhana kan?</p>
<p>Kalau begitu. Tunggu apa lagi? Ayo membaca..:)</p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<p>Berk, Laura E. (2003). <em>Child Development 6<sup>th</sup> ed.</em> New York: Allyn and Bacon</p>
<p>Trelease, Jim. (2006). <em>Read-Aloud Handbook.</em> London: Peguin Books</p>
<p>*Evi Junita, S.Psi</p>
Posted in parenting Tagged: anak, membaca, minat baca <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=385&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Read Aloud: Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 14:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[read aloud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya”
Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..Buku merupakan salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=377&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya”</p>
<p>Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..<span id="more-377"></span>Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku sangat beragam mulai dari yang sifatnya mendidik sampai yang sifatnya menghibur. Selain itu, buku tak lekang oleh masa. Kita akan bertemu dan memerlukan buku sepajang hidup kita. Lalu apa yang akan terjadi bila anak-anak kita tidak mencintai buku? Hmm, yang paling sederhana dan mendesak dimasa-masa awal kehidupannya adalah kemungkinan mereka menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Betapa tidak, walaupun teknologi telah berkembang dengan pesat, buku tetap merupakan media utama dalam proses belajar.<br />
<strong>Jika demikian apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku ya?</strong><br />
Banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara memumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).</p>
<p><strong>Apakah read aloud berbeda dengan mendongeng?</strong><br />
Ya. Berdasarkan tujuannya kedua aktivitas tersebut adalah berbeda. Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.<br />
Dikarenakan read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini, sedangkan pada aktivitas mendongeng buku tidak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.</p>
<p><strong>Bagaimana cara melakukan read aloud?</strong><br />
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memulai bercerita dengan teknik read aloud, yaitu:</p>
<ul>
<li>Cari buku yang baik untuk anak dan diri kita. Dalam memilih buku ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:</li>
</ul>
<ol>
<blockquote>
<li>Sesuaikan panjang cerita dengan usia dan rentang perhatian anak. Dapat dimulai dengan cerita yang pendek, secara bertahap ke yang lebih panjang. Cobalah dengan 2 atau 3 buku cerita yang pendek terlebih dahulu.</li>
<li>Pilih buku cerita yang bisa membuat kita senang, baik cerita atau ilustrasinya.</li>
<li>Pilih cerita yang menarik, banyak dialog, menggambarkan beberapa keadaan, adventure, dan memiliki muatan emosional yang sesuai dengan usia anak dan latar belakang anak.</li>
<li>Bacakan sebanyak mungkin buku cerita anak. Jika menemukan pengarang atau illustrator yang baik, cari beberapa judul dari mereka. Anak akan mempunyai pengarang favorit. Biarkan dia membaca berulang-ulang. Sementara tetap perkenalkan dengan yang buku dan pengarang lainnya.</li>
<li>Cari buku yang mengambarkan keadaan sehari-hari.</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa buku disebut baru, jika anak belum pernah mendengar.</li>
</blockquote>
</ol>
<ul>
<li>Baca terlebih dahulu buku yang hendak kita bacakan ke anak kita</li>
<li>Pilih buku cerita sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak</li>
<li>Bila usia anak sudah memungkinkan, sertakan anak dalam pemilihan buku</li>
<li>Pilih buku diatas kemampuan baca anak tetapi dengan panjang cerita yang sesuai dengan ketahanannya mendengarkan cerita.</li>
</ul>
<p>Bila tahap persiapan sudah dilalui dengan baik, maka selanjutnya adalah tahap pelaksanaan read aloud. Dalam tahapan ini ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang</li>
<li>Baca perlahan, ekspresif dan semenarik mungkin.</li>
<li>Usahakan menggunaan suara/intonasi berbeda sesuai karakter</li>
<li>Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraug,meringkik dll sesuai karakter (dalam cerita)</li>
<li>Tambahkan ‘body language’</li>
<li>Ketika hendak membacakan cerita:</li>
</ul>
<ol>
<blockquote>
<li>Tunjukkan halaman depan</li>
<li>Sebutkan judulnya, nama pengarang dan ilustratornya</li>
<li>Sebutkan tema utama buku yang akan dibaca seperti “buku cerita ini mengenai&#8230;”</li>
<li>Mulai dengan membicarakan gambar yang ada dibuku atau dengan membolak-balikkan gambar. Bayi perlu dibantu membolak-balikkan buku sedangkan anak usia 3 tahun keatas sudah bisa melakukannya sendiri</li>
</blockquote>
</ol>
<ul>
<li>Tunjukkan kata-kata dengan jari kita</li>
<li>Mulai dengan beberapa menit membaca, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan anak maka waktu membaca akan bertambah.</li>
<li>Bila perkembangan anak sudah memungkinkan maka ajukan pertanyaan seputar cerita</li>
<li>Pancing dengan beberapa pertanyaan, apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?</li>
<li>Biarkan anak bertanya mengenai cerita</li>
<li>Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap</li>
<li>Biarkan anak menceritakan ceritanya, diusia 3 tahun seorang anak sudah bisa menghafal cerita dan biasanya senang diberi kesempatan untuk bercerita.</li>
</ul>
<p><strong>Kapan sebaiknya mulai melakukan read aloud?</strong><br />
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Mengapa demikian? Ini terkait dengan tujuan read aloud yaitu menumbuhkan kecintaan pada buku. Sehingga semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal.</p>
<p><strong>Kapan dan dimana sebaiknya kita melakukan read aloud?</strong><br />
Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukan read aloud. Kita bisa melakukannya dirumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, saat menunggu pesawat atau kereta api atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.</p>
<p><strong>Apa ada referensi judul buku untuk read aloud?</strong><br />
Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. Namun bila diperlukan anda dapat merujuk kepada beberapa referensi berikut:<br />
ü Judul : Camille pergi ke dokter<br />
Penulis : Aline de Petigny &amp; Nancy Delvaux<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.<br />
ü Judul : Pierre nonton TV<br />
Penulis : Gustavo Masali<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.<br />
ü Judul : Untuk Bunda dan dunia<br />
Penulis : Abdurahman Faiz<br />
Penerbit : Dari Mizan.<br />
ü Judul : 366 Hal-hal yang perlu anak anda ketahui<br />
Penulis : Andree Bertino dan Fredo Valla<br />
Penerbit : Happy Books<br />
ü Judul : Kisah-kisah teladan untuk keluarga<br />
Penulis : Dr. Mulyanto<br />
Penerbit : GIP, 2008</p>
<p>Hmmm setelah menambah informasi tentang read aloud, diharapkan kita lebih memahami bahwa hal sesederhana membacakan buku singkat yang mungkin hanya memerlukan kurang lebih 20 menit setiap harinya, dapat membantu membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak.</p>
<p>Bila anda tertarik untuk memahami read aloud lebih menyeluruh ada dapat mengakses <strong>http://www.readingbugs.org</strong> dengan contact person ibu Roosie. Beliau juga dapat membantu anda dan guru-guru anak-anak anda bila tertarik mempelajari read aloud melalui workshop yang beliau dan reading bugs prakarsai.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
Trelease, Jim. (2006). Read-Aloud Handbook. London: Peguin Books.<br />
Roosie (2009). Bagaimana “read aloud” yang baik bagi orangtua dan pendidik usia balita. Dalam makalah seminar read aloud. Depok: Reading Bugs.</p>
<p>*Evi Junita, S.Psi<br />
Terapis anak, mahasiswi pascasarjana psikologi klinis anak  Universitas Indonesia</p>
Posted in parenting Tagged: anak, buku, membaca, read aloud <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=377&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Temenan Yuuuk&#8230;</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/05/26/temenan-yuuuk/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/05/26/temenan-yuuuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 02:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan anak]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Anda menyadari, Si kecil yang dulu ketika sendiri akan merengek minta bermain dengan Anda, kini lebih senang bermain dengan temannya. Ya, usia 6-8 tahun merupakan saat ia berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, melatih kemandiriannya serta mengembangkan minatnya akan sesuatu yang menarik perhatiannya. Saat ini, keterampilan mental, sosial, dan fisik berkembang begitu pesat. Inilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=369&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Mungkin Anda menyadari, Si kecil yang dulu ketika sendiri akan merengek minta bermain dengan Anda, kini lebih senang bermain dengan temannya. Ya, usia 6-8 tahun merupakan saat ia berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, melatih kemandiriannya serta mengembangkan minatnya akan sesuatu yang menarik perhatiannya. Saat ini, keterampilan mental, sosial, dan fisik berkembang begitu pesat. Inilah masa kritis baginya untuk membangun kepercayaan diri dalam berbagai hal, seperti olah raga, sekolah, dan tentu saja, dalam berteman.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Berteman adalah kegiatan yang bertujuan untuk membina sebuah hubungan keakraban yang melibatkan kebersamaan dimana setiap individu yang terlibat memiliki keinginan untuk bersama. Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan keterampilan social dan kesehatan psikologis anak pada tahap-tahap perkembanganya selanjutnya, karena berteman memiliki beberapa keutungan sebagai berikut:</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">·<span style="white-space:pre;"> </span>Memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi diri dan sikap memahami orang lain</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">·<span style="white-space:pre;"> </span>Membantu memperbaiki sikap penyesuaian diri di sekolah dan meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar mengajar di kelas.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">·<span style="white-space:pre;"> </span>Memberikan kesempatan untuk berlatih menghadapi masalah dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">·<span style="white-space:pre;"> </span>Memberikan dasar untuk hubungan interpersonal di masa remaja dan dewasa</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hal-hal diataslah yang menyebabkan berteman merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan anak.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Kenali perubahannya</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Bila pada usia-usia sebelumnya keterlibatan unsur kerja sama dalam pertemanan dan bermain belum tampak jelas, maka pada usia ini unsur kerja sama merupakan unsur paling penting dari permainan anak. Hal ini dapat terlihat melalui jenis dan tema-tema permainan yang mereka pilih. Salah satu contohnya adalah jenis permainan pura-pura yang bertemakan rumah sakit dimana ada yang berperan sebagai dokter dan ada yang berperan sebagai suster yang bertugas membantu sang dokter.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Terkait dengan karakeristik kerjasama pada pertemanan dan pola permainan anak, maka pada usia ini anak memiliki kecenderungan untuk memilih menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-temannya. Anak makin  tak tergantung dengan orang tua, ia juga mulai memperhatikan teman-temannya, ia mulai belajar memilah yang mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak boleh, serta ia mulai memiliki keinginan lebih untuk diterima dan disukai oleh lingkungan sekitar.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Mencari teman</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Usia 6-8 tahun merupakan usia awal anak duduk disekolah dasar. Kebutuhan untuk memiliki teman dilingkungan sekolah meningkat. Mereka mengenali dirinya sendiri dan kemampuan yang dimilikinya dari umpan balik yang didapat dari temannya, dimana reaksi teman akan berpengaruh dalam proses pembentukan gambaran diri anak. Misalnya, jika teman-teman menyukai hasil gambarnya, ia akan percaya diri dan menganggap dirinya artistik, atau jika teman-temannya tertawa karena celetukannya, anak akan menganggap dirinya lucu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Pada usia ini juga, anak-anak cenderung memilih dan membandingkan teman-teman yang ada disekitarnya. Mereka cenderung memilih teman yang pola bermain, aktivitas, hobi, dan sifat yang sama. Sebagai orang tua, kita perlu memfasilitasi kebutuhan anak untuk berteman. Namun frekuensi dan intensitas pertemanan yang terjadi, sebaiknya kita kembalikan kepada kemampuan dan minat anak untuk terlibat dalam hubungan keakraban dengan teman-temannya yang lain. Tidak semua anak akan memiliki banyak teman dan menjadi anak yang popular diantara teman-temannya. Ada anak yang bahagia hanya memiliki satu orang sahabat dekat. Selama teman-temannya membawa pengaruh positif, maka kita tidak perlu melakukan intervensi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Cari teman yang positif</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Usia 6-8 tahun merupakan usia ketika anak belajar bekerja sama, berkompetisi, berbagi serta belajar mengatasi konflik. Mereka berlatih untuk saling mendukung atau berkompetisi hampir dalam setiap hal yang menarik perhatian mereka. Jika buah hati Anda memiliki sahabat yang hobi membaca, maka ia pun akan belajar menyukai buku. Begitu juga, jika sahabatnya seorang pemain bola hebat, ia akan belajar lebih keras agar dapat menyamainya.  Kesulitan akan muncul, jika sahabat dekatnya membawa pengaruh negatif. Misalnya ia memiliki sahabat yang terlalu mendominasi dan cenderung menjadikan anak Anda “kaki tangannya” atau teman dekatnya adalah si trouble maker di kelas. Jika ini terjadi, bagaimana cara untuk mengatasinya ya? Berikut adalah beberapa cara yang dapat anda jadikan referensi dalam melakukan intervensi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Tanyakan bagaimana ia menilai tindakan temannya dan bagaimana cara ia mengatasinya efek negative dari tindakan temannya tersebut.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Undanglah teman-temannya yang menurut Anda dapat membawa pengaruh positif  dan ikutsertakan mereka dalam aktivitas Anda dan si kecil.  Ingat juga untuk menyertakan teman yang memberikan pengaruh negative. Biarkan anak untuk membandingkan dan mengevaluasi hasil yang ia dapat setelah menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-temannya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Bila ada kesempatan ngobrol dengan anak, ceritakan alasan mengapa Anda khawatir dengan teman bermainnya itu. Lebih baik spesifik menyebutkan perilaku yang Anda tak sukai daripada mengkritik temannya. Contohnya, jelaskan mengapa Anda tak suka sikap memaksa si A dan apa akibat dari sikap itu, daripada mengkritik A bukan teman yang baik.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Jangan paksa si kecil “bercerai” dengan teman bermainnya, lebih baik Anda menjelaskan konsekuensi jika anak mengikuti perilaku temannya itu dan jelaskan mengapa perilaku itu tidak baik.  Biarkan anak merasa percaya diri dan memutuskan pilihannya sendiri.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Libatkan teman yang memberikan pengaruh negatif pada si kecil dalam aktivitas positif anda dan si kecil.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Jika ia tak punya teman</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Oo, bagaimana jika justru anak tidak mempunyai teman? Mungkin ia terlalu pemalu atau justru anak Anda yang menjadi “si trouble maker” dan dijauhi teman? Pahamilah bagaimana anak seusianya berpikir dan berperilaku. Coba tempatkan diri anda diposisinya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dengan cara yang halus, cari tahu mengapa ia tak punya teman, misalnya dengan bertanya “Siapa teman yang kamu ingin ajak berteman?” atau “Apa yang kamu khawatir dari teman-temanmu?” tentu pada saat yang tepat. Sebab, jika si kecil tahu Anda cemas, ia justru akan menarik diri atau malah menyangkalnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Bicarakan dengan gurunya, amati teman-temannya, dan dengan berbagai informasi yang sudah Anda kumpulkan, duduklah bersama dengan si kecil dan obrolkan tentang berbagai kesulitannya mencari teman.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Tinggikan rasa percaya dirinya dengan bercerita tentang kelebihan-kelebihannya dan mungkin ia bisa memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman yang memiliki hobi yang sama</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Sarankan ia mengundang teman yang disukainya dan bicaralah bersama bagaimana cara agar mendapat teman</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Jika ia tetap saja kesulitan mendapatkan teman,bicarakan dengan dokter anak atau psikolognya. Sekali ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan diri dan cara untuk mendapatkan teman, maka ia akan merasakan senangnya memiliki teman.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Referensi:</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Berk, Laura E. (2003). Child Development 6th ed. New York: Allyn and Bacon</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Tedjasaputra, Mayke S. (2001). Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: P.T. Gramedia</div>
<blockquote><p>Untuk beberapa edisi ke depan, <strong>POPsy! </strong>kedatangan penulis tamu (bukan tidak mungkin akan menjadi penulis tetap). Namanya <strong>*Evi Junita, S.P</strong><strong>si</strong>. Ia adalah teman kuliah seangkatan saya di Psikologi UI. Sejak lulus tahun 2005, ia aktif bekerja di sebuah klinik terapi bagi anak-anak. Untuk menunjang minatnya di bidang anak, saat ini ia sedang mengambil kuliah pascasarjana psikologi klinis anak di Universitas Indonesia, sambil sesekali menulis artikel di beberapa majalah anak. Oleh sebab itu, tulisan-tulisannya pun akan berisi pembahasan seputar anak-anak. Selamat belajar dan menikmati!</p></blockquote>
<p>&#8211;</p>
<p>Mungkin Anda menyadari, Si kecil yang dulu ketika sendiri akan merengek minta bermain dengan Anda, kini lebih senang bermain dengan temannya. Ya, usia 6-8 tahun merupakan saat ia berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, melatih kemandiriannya serta mengembangkan minatnya akan sesuatu yang menarik perhatiannya. Saat ini, keterampilan mental, sosial, dan fisik berkembang begitu pesat. Inilah masa kritis baginya untuk membangun kepercayaan diri dalam berbagai hal, seperti olah raga, sekolah, dan tentu saja, dalam berteman.</p>
<p>Berteman adalah kegiatan yang bertujuan untuk membina sebuah hubungan keakraban yang melibatkan kebersamaan dimana setiap individu yang terlibat memiliki keinginan untuk bersama. Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan keterampilan social dan kesehatan psikologis anak pada tahap-tahap perkembanganya selanjutnya, karena berteman memiliki beberapa keutungan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi diri dan sikap memahami orang lain</li>
<li>Membantu memperbaiki sikap penyesuaian diri di sekolah dan meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar mengajar di kelas.</li>
<li>Memberikan kesempatan untuk berlatih menghadapi masalah dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.</li>
<li>Memberikan dasar untuk hubungan interpersonal di masa remaja dan dewasa</li>
</ul>
<p>Hal-hal diataslah yang menyebabkan berteman merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan anak.</p>
<p><span id="more-369"></span></p>
<p><strong>Kenali perubahannya</strong></p>
<p>Bila pada usia-usia sebelumnya keterlibatan unsur kerja sama dalam pertemanan dan bermain belum tampak jelas, maka pada usia ini unsur kerja sama merupakan unsur paling penting dari permainan anak. Hal ini dapat terlihat melalui jenis dan tema-tema permainan yang mereka pilih. Salah satu contohnya adalah jenis permainan pura-pura yang bertemakan rumah sakit dimana ada yang berperan sebagai dokter dan ada yang berperan sebagai suster yang bertugas membantu sang dokter.</p>
<p>Terkait dengan karakeristik kerjasama pada pertemanan dan pola permainan anak, maka pada usia ini anak memiliki kecenderungan untuk memilih menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-temannya. Anak makin  tak tergantung dengan orang tua, ia juga mulai memperhatikan teman-temannya, ia mulai belajar memilah yang mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak boleh, serta ia mulai memiliki keinginan lebih untuk diterima dan disukai oleh lingkungan sekitar.</p>
<p><strong>Mencari teman<br />
</strong></p>
<p>Usia 6-8 tahun merupakan usia awal anak duduk disekolah dasar. Kebutuhan untuk memiliki teman dilingkungan sekolah meningkat. Mereka mengenali dirinya sendiri dan kemampuan yang dimilikinya dari umpan balik yang didapat dari temannya, dimana reaksi teman akan berpengaruh dalam proses pembentukan gambaran diri anak. Misalnya, jika teman-teman menyukai hasil gambarnya, ia akan percaya diri dan menganggap dirinya artistik, atau jika teman-temannya tertawa karena celetukannya, anak akan menganggap dirinya lucu.</p>
<p>Pada usia ini juga, anak-anak cenderung memilih dan membandingkan teman-teman yang ada disekitarnya. Mereka cenderung memilih teman yang pola bermain, aktivitas, hobi, dan sifat yang sama. Sebagai orang tua, kita perlu memfasilitasi kebutuhan anak untuk berteman. Namun frekuensi dan intensitas pertemanan yang terjadi, sebaiknya kita kembalikan kepada kemampuan dan minat anak untuk terlibat dalam hubungan keakraban dengan teman-temannya yang lain. Tidak semua anak akan memiliki banyak teman dan menjadi anak yang popular diantara teman-temannya. Ada anak yang bahagia hanya memiliki satu orang sahabat dekat. Selama teman-temannya membawa pengaruh positif, maka kita tidak perlu melakukan intervensi.</p>
<p><strong>Cari teman yang positif<br />
</strong></p>
<p>Usia 6-8 tahun merupakan usia ketika anak belajar bekerja sama, berkompetisi, berbagi serta belajar mengatasi konflik. Mereka berlatih untuk saling mendukung atau berkompetisi hampir dalam setiap hal yang menarik perhatian mereka. Jika buah hati Anda memiliki sahabat yang hobi membaca, maka ia pun akan belajar menyukai buku. Begitu juga, jika sahabatnya seorang pemain bola hebat, ia akan belajar lebih keras agar dapat menyamainya.  Kesulitan akan muncul, jika sahabat dekatnya membawa pengaruh negatif. Misalnya ia memiliki sahabat yang terlalu mendominasi dan cenderung menjadikan anak Anda “kaki tangannya” atau teman dekatnya adalah si trouble maker di kelas. Jika ini terjadi, bagaimana cara untuk mengatasinya ya? Berikut adalah beberapa cara yang dapat anda jadikan referensi dalam melakukan intervensi.</p>
<p>Tanyakan bagaimana ia menilai tindakan temannya dan bagaimana cara ia mengatasinya efek negative dari tindakan temannya tersebut.</p>
<p>Undanglah teman-temannya yang menurut Anda dapat membawa pengaruh positif  dan ikutsertakan mereka dalam aktivitas Anda dan si kecil.  Ingat juga untuk menyertakan teman yang memberikan pengaruh negative. Biarkan anak untuk membandingkan dan mengevaluasi hasil yang ia dapat setelah menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-temannya.</p>
<p>Bila ada kesempatan ngobrol dengan anak, ceritakan alasan mengapa Anda khawatir dengan teman bermainnya itu. Lebih baik spesifik menyebutkan perilaku yang Anda tak sukai daripada mengkritik temannya. Contohnya, jelaskan mengapa Anda tak suka sikap memaksa si A dan apa akibat dari sikap itu, daripada mengkritik A bukan teman yang baik.</p>
<p>Jangan paksa si kecil “bercerai” dengan teman bermainnya, lebih baik Anda menjelaskan konsekuensi jika anak mengikuti perilaku temannya itu dan jelaskan mengapa perilaku itu tidak baik.  Biarkan anak merasa percaya diri dan memutuskan pilihannya sendiri.</p>
<p>Libatkan teman yang memberikan pengaruh negatif pada si kecil dalam aktivitas positif anda dan si kecil.</p>
<p><strong>Jika ia tak punya teman<br />
</strong></p>
<p>Oo, bagaimana jika justru anak tidak mempunyai teman? Mungkin ia terlalu pemalu atau justru anak Anda yang menjadi “si trouble maker” dan dijauhi teman? Pahamilah bagaimana anak seusianya berpikir dan berperilaku. Coba tempatkan diri anda diposisinya.</p>
<p>Dengan cara yang halus, cari tahu mengapa ia tak punya teman, misalnya dengan bertanya “Siapa teman yang kamu ingin ajak berteman?” atau “Apa yang kamu khawatir dari teman-temanmu?” tentu pada saat yang tepat. Sebab, jika si kecil tahu Anda cemas, ia justru akan menarik diri atau malah menyangkalnya.</p>
<p>Bicarakan dengan gurunya, amati teman-temannya, dan dengan berbagai informasi yang sudah Anda kumpulkan, duduklah bersama dengan si kecil dan obrolkan tentang berbagai kesulitannya mencari teman.</p>
<p>Tinggikan rasa percaya dirinya dengan bercerita tentang kelebihan-kelebihannya dan mungkin ia bisa memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman yang memiliki hobi yang sama</p>
<p>Sarankan ia mengundang teman yang disukainya dan bicaralah bersama bagaimana cara agar mendapat teman</p>
<p>Jika ia tetap saja kesulitan mendapatkan teman,bicarakan dengan dokter anak atau psikolognya. Sekali ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan diri dan cara untuk mendapatkan teman, maka ia akan merasakan senangnya memiliki teman.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Berk, Laura E. (2003). Child Development 6th ed. New York: Allyn and Bacon</p>
<p>Tedjasaputra, Mayke S. (2001). Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: P.T. Gramedia</p>
<div>*<strong>Evi Junita, S.Psi</strong></div>
<div>Terapis anak, mahasiswi pascasarjana psikologi klinis anak  Universitas Indonesia</div>
Posted in parenting Tagged: bermain, perkembangan anak, teman <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/369/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=369&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/05/26/temenan-yuuuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NKRI = Negara Keluarga Republik Indonesia</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/03/18/nkri-negara-keluarga-republik-indonesia/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/03/18/nkri-negara-keluarga-republik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 06:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[NKRI]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah esaiku yang ada di dalam buku Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter, terbitan Kanisius, yang digagas olehku dan teman-teman di Komunitas Penulis Agenda 18. Esai ini juga pernah dibawakan menjadi contoh tulisan dalam workshop penulisan mahasiswa baru Psi UI 2008.
&#8211;
Laut dan Sungai
Laut. Bumi kita sebagian besar diisi oleh air laut. Kehidupan manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=360&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tulisan ini adalah esaiku yang ada di dalam buku <a title="http://www.kanisiusmedia.com/prod_detail.php?idprod=026904" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=52622863058&amp;h=27ba67303d5b171f8003781c874b38ae&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.kanisiusmedia.com%2Fprod_detail.php%3Fidprod%3D026904" target="_blank">Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter</a>, terbitan <a title="http://www.kanisiusmedia.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=52622863058&amp;h=5d4645b3e400365c50cb7e535471cca1&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.kanisiusmedia.com%2F" target="_blank">Kanisius</a>, yang digagas olehku dan teman-teman di Komunitas Penulis <a title="http://www.agenda18.co.nr" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=52622863058&amp;h=ca7e71db3b099d8f1e9b7ab6837f8cb5&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.agenda18.co.nr" target="_blank">Agenda 18</a>. Esai ini juga pernah dibawakan menjadi contoh tulisan dalam workshop penulisan mahasiswa baru Psi UI 2008.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><strong>Laut dan Sungai</strong><br />
Laut. Bumi kita sebagian besar diisi oleh air laut. Kehidupan manusia dan spesies-spesies lain amat tergantung darinya. Kita butuh air laut, bukan hanya sebagai sarana rekreasi, melainkan penghasil makanan (ikan, udang dsb), sumber mata pencaharian, dan juga elemen penting dalam siklus hujan. Spesies lain, seperti ikan, membutuhkan air sebagai ruang hidupnya.</p>
<p>Bayangkan jika laut terisi oleh air yang kurang sehat. Sungai yang menyumbang air bagi lautan, ternyata memberikan air dengan kualitas seadanya; kotor, banyak sampah, limbah, penuh bakteri yang memicu penyakit. Tentu saja, kualitas air laut secara keseluruhan pun ikut menurun. Imbas penurunan ini tentu saja akan dirasakan oleh seluruh makhluk hidup yang menggantungkan dirinya pada laut.</p>
<p>Lalu bagaimana cara membuat laut tetap berguna bagi penikmatnya? Tentu saja dengan menjaga kualitas air yang diberikan oleh sungai. Lalu bagaimana menjaga kualitas air sungai? Tentu, air dari mata air haruslah tetap dijaga kemurniannya. Selain itu, kita juga perlu melakukan suatu tindakan untuk mencegah pencemaran sungai, atau setidaknya melakukan upaya untuk membersihkan sungai yang telah tercemar.</p>
<p>Intinya, jika ingin menciptakan laut yang bersih dan berguna bagi kehidupan, kita perlu menjaga kebersihan sumbernya, yaitu mata air sungai.<br />
<span id="more-360"></span><strong></strong></p>
<p><strong>Keluarga Sebagai Mata Air</strong><br />
Saya disini tidak ingin berbicara mengenai pencemaran sungai, maupun pencemaran laut. Melainkan, Saya ingin bicara tentang Indonesia, negeri kita tercinta.</p>
<p>Sama seperti lautan, negara kita terdiri dari berbagai macam &#8220;sungai&#8221;; ada 30an lebih propinsi, yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Propinsi-propinsi tersebut lalu terbagi ke dalam berbagai satuan kotamadya, kabupaten, desa, dusun, dan yang terkecil adalah keluarga.</p>
<p>Keluarga inilah yang Saya sebut sebagai mata air, karena dari sinilah muncul individu-individu yang akan mengisi negara kita. Individu-individu ini yang nantinya akan terjun ke berbagai lapisan masyarakat. Ada yang menjadi penjual di pasar, buruh pabrik, nelayan, pengusaha berdasi, hingga pejabat di instansi pemerintah, dan bahkan presiden! Keluarga akan mempengaruhi kondisi individu, dan sebaliknya, individu juga dapat mempengaruhi keluarga secara keseluruhan. Dan mereka nantinya akan mempengaruhi masyarakat di sekitarnya. Jika kehidupan dalam keluarga berjalan dengan baik, individu-individu di dalamnya tentu akan dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, dan negara nantinya.</p>
<p><strong>Keluarga Tercemar dan Tidak</strong><br />
Namun, sama seperti sungai, individu-individu ini sangat mungkin mengalami &#8220;pencemaran&#8221; selama hidupnya, pergaulan bebas, narkoba, kejahatan, korupsi, dsb. Yang terparah, jika individu ini sudah tercemar semenjak di dalam mata air. Ya, mereka memiliki keluarga yang &#8220;tercemar&#8221;. Tak terbayangkan bagaimana individu-individu dari keluarga semacam ini, akan bertingkah laku dalam masyarakat.</p>
<p>Keluarga disini Saya definisikan sebagai sekelompok individu yang memiliki hubungan generasi (hubungan anak-orang tua). Dalam kelompok tersebut, anggotanya saling berbagi kedekatan (berbagi komitmen, rasa percaya, dan penghargaan). Selain itu, orang tua dalam keluarga juga berbagi kedekatan seksual. Terakhir, keluarga ini memiliki tujuan tertentu.</p>
<p>Sedangkan istilah pencemaran mengacu pada suatu kondisi dalam keluarga, yang menyebabkannya tidak berfungsi dengan baik atau mengalami disfungsi. Kondisi ini muncul karena anggota keluarga ternyata tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk (1) mencintai diri sendiri dan orang lain, tanpa syarat; dan (2) bernegosiasi dalam kehidupan keluarga.</p>
<p>Kemampuan untuk mencintai ini seperti: (1) melihat kebaikan dalam diri sendiri dan orang lain; (2) memperhatikan diri sendiri dan orang lain secara fisik dan juga finansial; (3) memaafkan kesalahan diri dan orang lain; dan (4) menjaga keintiman—berbagi rasa sakit dan perasaan takut disakiti. Sedangkan, kemampuan untuk bernegosiasi melibatkan: (1) pengambilan keputusan; dan (2) pemecahan masalah.</p>
<p>Ketidakmampuan untuk mencintai, bisa memunculkan penolakan, penelantaran, agresi, kekerasan, keterasingan, atau bahkan ketergantungan yang berlebihan. Sedangkan ketidakmampuan untuk bernegosiasi bisa memunculkan hiperaktifitas, impulsifitas (bertindak tanpa berpikir panjang), atau penarikan diri.</p>
<p>Untuk menciptakan suatu keluarga yang berfungsi dengan baik, tentu harus diadakan suatu program yang bisa mencegah keluarga itu menjadi tidak berfungsi dengan baik. Pencegahan disini adalah segala pendekatan, prosedur, atau metode yang ditujukan dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi seseorang; sebagai individu, pasangan dan orang tua. ini berarti, pasangan yang hendak menikah, sudah menikah, dan juga yang telah bercerai merupakan target utama program-program ini. Dan kesemua program tersebut tetap berpusat pada peningkatan kompetensi.</p>
<p><strong>Negara Kuat Adalah Keluarga Kuat</strong><br />
Kembali ke tema besar dari buku ini, yaitu pandangan kaum muda terhadap calon presiden RI 2009, maka Saya ingin presiden yang melihat bahwa mengembangkan bangsa ini sama artinya dengan mengembangkan seluruh keluarga warga negaranya; untuk menciptakan negara yang kuat, keluarga-keluarga di dalamnya juga harus kuat. Dengan perkataan lain, keluarga bisa berfungsi dengan baik. Namun bukan hanya melihat saja, namun juga menerapkan pengembangan tersebut dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh!</p>
<p><strong>Undang-undang</strong><br />
Saya membaca Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, serta Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Kesan Saya setelah membaca keduanya adalah: tidak jelas dan juga sangat muluk-muluk!</p>
<p>Ketidakjelasan dapat dilihat dari definisi-definisi yang diutarakan di dalam kedua peraturan tersebut. Sebagai contoh, dalam UU No.10, ketahanan keluarga didefinisikan sebagai sebuah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik-materiil dan psikis-mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. (ah, capai sekali Saya membaca pengertian tersebut). Dari definisi di atas, tak diketahui seperti apa ketangguhan dan keuletan itu, apa itu kemampuan fisik-materiil serta psikis-mental spiritual, seperti apa hidup mandiri itu, bagaimana mengembangkan diri dan serta keluarga, apa itu hidup yang harmonis, dan juga apa itu kebahagiaan lahir dan batin. Kalaupun ada pasal penjelasnya, tetap tak menjelaskan.</p>
<p>Dari definisi di atas pula, dapat dilihat betapa idealnya ketahanan keluarga tersebut. Karena terlalu ideal, sehingga merupakan suatu konsep yang mengawang-awang, dan sulit untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.</p>
<p>Dampak dari ketidakjelasan dan kemuluk-mulukan tadi adalah tidak mampunya kedua peraturan tersebut untuk diterjemahkan dengan baik ke dalam sebuah program. Bagaimana bisa membuat sebuah program untuk menciptakan keluarga yang harmonis, sedangkan Kita tidak tahu apa yang dimaksud dengan harmonis itu sendiri? Dampak lebih jauh, karena tidak adanya program dengan dasar yang jelas, keluarga sejahtera yang diidam-idamkan dalam kedua peraturan itu, tak akan pernah bisa terwujud.</p>
<p>Oleh sebab itu, siapapun presiden yang akan terpilih, wajib melakukan revisi pada undang-undang tentang keluarga. Atau bahkan membuat suatu lembaga khusus yang menangani masalah keluarga (mungkin suatu saat akan ada satu menteri baru: Menteri Urusan Keluarga?).</p>
<p><strong>Tokoh Panutan</strong><br />
Dalam pandangan Saya, program ini sulit sekali untuk dilaksanakan, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 200 juta jiwa lebih. Belum lagi jika banyak penduduk yang tidak menganggap program ini adalah sesuatu yang penting bagi mereka. Oleh karena itu, dibutuhkanlah satu figur presiden yang bukan hanya memiliki kemampuan kepemimpinan yang mumpuni, namun juga mampu memberi contoh sebuah keluarga yang berfungsi dengan baik. Sehingga masyarakat pun tergerak untuk mengikuti presidennya.</p>
<p>Namun, haruskah presiden memiliki keluarga sempurna? Saya rasa, istilah keluarga yang sempurna itu tidak ada, karena tiap-tiap keluarga pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karena itu, setidaknya, keluarga presiden harus bisa menunjukkan bahwa mereka mampu untuk mencintai sesamanya tanpa syarat, serta bisa bernegosiasi dalam berhubungan dengan anggota keluarga lainnya.</p>
<p>Apakah semua itu bisa terwujud? Sulit memang. Namun bukan tidak mungkin kan?</p>
Posted in keluarga Tagged: keluarga, NKRI, presiden <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/360/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/360/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/360/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=360&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/03/18/nkri-negara-keluarga-republik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Pernikahan Ideal!</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/01/25/tidak-ada-pernikahan-ideal/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/01/25/tidak-ada-pernikahan-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 09:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[acara]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu kemarin (24/01/09) Aku dan 2 orang teman  menghadiri seminar pranikah yang diadakan oleh lembaga Skill and Personal Development Course; sebuah lembaga milik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang bergerak di bidang pengembangan keterampilan dan pribadi.
Pukul 10.15, acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan prakata dari moderator; Khrisnaresa Adytia, alumni Psikologi UI. Selanjutnya, tanpa basa-basi lagi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=346&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sabtu kemarin (24/01/09) Aku dan 2 orang teman  menghadiri <a href="http://popsy.wordpress.com/2009/01/21/seminar-pranikah-siapkan-diri-sebelum-melangkah/#more-334" target="_blank">seminar pranikah</a> yang diadakan oleh lembaga <em>Skill and Personal Development Course;</em> sebuah lembaga milik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, yang bergerak di bidang pengembangan keterampilan dan pribadi.</p>
<p>Pukul 10.15, acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan prakata dari moderator; <a href="http://www.psigoblog.com/" target="_blank">Khrisnaresa Adytia</a>, alumni Psikologi UI. Selanjutnya, tanpa basa-basi lagi, Adriana S. Ginanjar pun memulai seminar.</p>
<p><span id="more-346"></span><strong>Motivasi Menikah</strong></p>
<p>Menurut konselor perkawinan dan keluarga ini, ada banyak hal yang memotivasi seseorang untuk melangsungkan pernikahan, antara lain:</p>
<ul>
<li>memperoleh kebahagiaan,</li>
<li>merancang masa depan bersama,</li>
<li>memiliki anak,</li>
<li>hubungan seks,</li>
<li>lepas dari rongrongan orang tua,</li>
<li>status,</li>
<li>kehidupan ekonomi lebih baik,</li>
<li>keluar dari keluarga yang penuh konflik,</li>
<li>menyenangkan orang tua,</li>
<li>melepaskan diri dari pacar yang abusive,</li>
<li>mengejar umur, dan</li>
<li>hamil di luar rencana.</li>
</ul>
<p>Dan, karena pernikahan sama artinya dengan mempersatukan dua orang dengan latar belakang berbeda untuk seumur hidup, dimana perubahan akan selalu terjadi dan masalah akan sering muncul, maka dari itu persiapan menuju pernikahan menjadi suatu hal yang sangat penting. Persiapan ini yang nantinya bisa menjadi salah satu pondasi dalam membangun pernikahan yang kokoh.</p>
<p>Untuk bisa mewujudkan pernikahan yang kokoh, ada beberapa keterampilan penting yang perlu diketahui calon suami-istri, yaitu:</p>
<ol>
<li>komunikasi yang efektif,</li>
<li>ekspresi cinta,</li>
<li>penanganan masalah, dan</li>
<li>hubungan seks.</li>
</ol>
<p><strong>Komunikasi Efektif</strong></p>
<p>Pasangan, walaupun menggunakan satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, namun belun tentu komunikasi mereka bisa berjalan dengan baik. Mereka pasti terpengaruh oleh gaya komunikasi dalam keluarga mereka sendiri, kondisi emosi dan fisik, dan juga pengalaman sebelumnya. Contoh perbedaan dalam berkomunikasi yang sering terjadi antara lain adalah:</p>
<blockquote><p>Pria cenderung bicara singkat dan padat, bosan mendengarkan cerita yang panjang, dan ingin selalu memberikan solusi. Sedangkan, wanita senang bercerita mendetil, ingin didukung, namun belum tentu membutuhkan solusi.</p>
<p>Pria lebih banyak bicara dengan melibatkan fakta tanpa perasaan, sedangkan wanita, kebalikannya; melibatkan perasaan serta pengalaman subyektif.</p></blockquote>
<p>Pemahaman akan bagaimana gaya berkomunikasi serta pengalaman-pengalaman komunikasi sebelumnya dari pasangan, adalah salah satu pondasi dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Lanjutannya, adalah saling memahami satu sama lain.</p>
<p><strong>Ekspresi Cinta</strong></p>
<p>Menurut <a href="http://www.garychapman.org/bio.htm" target="_blank">Gary Chapman</a>, setiap manusia memiliki cara mengungkapkan cinta masing-masing. Namun, secara umum, <a href="http://www.fivelovelanguages.com/learn.html" target="_blank">ungkapan cinta itu terbagi ke dalam 5</a>, yaitu:</p>
<ol>
<li>words of affirmation (ungkapan afirmasi). Bentuknya antara lain: kata-kata yang membesarkan hati, ungkapan dengan nada suara lembut, permintaan dengan kerendahan hati, atau pujian.</li>
<li>quality time (waktu berkualitas). Bentuknya antara lain: memberikan perhatian penuh, kasih sayang dan  menikmati kebersamaan. Menikmati kebersamaan ini bisa berupa komunikasi timbal balik (saling mendengar dan bercerita) dan melakukan kegiatan bersama (nonton film, bepergian, dll).</li>
<li>receiving gifts (menerima hadiah). Bentuk ungkapan cinta ini adalah yang paling mudah dipelajari. Contohnya adalah memberi hadiah dan kejutan.</li>
<li>acts of service (pelayanan). Pasangan tentu memiliki kesibukan atau pekerjaan masing-masing. Bentuk ekspresi cinta ini adalah dengan memberikan bantuan pada  pasangan ketika sedang membutuhkan bantuan. Misalnya, suami  membantu istri untuk mengurus anak, atau istri membantu suami ketika sedang mengerjakan pekerjaan. Namun pemberian bantuan ini hanya akan memperkuat rasa cinta jika dilakukan dengan senang hati, bukan karena rasa bersalah atau terpaksa.</li>
<li>physical touch (sentuhan fisik). Sentuhan fisik yang dimaksud disini bukan melulu aktifitas seksual, melainkan bisa hanya berupa sentuhan di pundah, tangan, dsb. Bentuknya antara lain: pijatan, kecupan, menggandeng tangan, mengusap punggung, dll. Konon, ungkapan sentuhan ini sangat efektif dalam mengkomunikasikan cinta.</li>
</ol>
<p>Bila pasangan memiliki cara yang sama dalam mengekspresikan cinta, hal ini tak akan menjadi masalah besar. Namun jika pasangan memiliki cara yang berbeda, tidak apa-apa. Pasangan tersebut haruslah mulai beradaptasi dengan cara mulai mengungkapkan cintanya sesuai dengan yang disukai pasangannya. Ingat! Penekanannya adalah dalam hal menyenangkan pasangan, bukan hanya memenuhi kebutuhan pribadi.</p>
<p><strong>Penanganan Masalah</strong></p>
<p>Selanjutnya, konselor yang juga bergerak di bidang anak autis ini mengutarakan cara menangani masalah dalam pernikahan. Menurutnya, ada 2 masalah yang muncul dalam pernikahan, yaitu masalah yang berulang serta masalah yang bisa dipecahkan.</p>
<p>Masalah yang berulang adalah sebuah masalah yang sudah berulang kali coba dipecahkan, namun tetap saja muncul. Masalah ini juga kadang menimbulkan pertengkaran. Contohnya antara lain: sifat keras dari pasangan, sifat pemalu pasangan. dsb. Penyelesaian masalah ini, menurut Mbak Ina, begitu ia sering dipanggil, adalah dengan menerima kondisi pasangan apa adanya.</p>
<p>Sedangkan masalah yang bisa dipecahkan biasanya tidak memiliki muatan emosi yang besar, seperti masalah pengaturan waktu, mengatur kesibukan, dsb.</p>
<p><strong>Hubungan Seks</strong></p>
<p>Keterampilan terakhir yang dibahas namun seringkali dinilai tabu untuk dibahas secara umum, adalah keterampilan dalam hubungan seksual. Hubungan seksual yang dimaksud disini adalah segala kegiatan, mulai dari bersentuhan, hingga bersanggama.</p>
<p>Keterampilan ini sepatutnya dikuasai oleh setiap pasangan, karena percaya tidak percaya, hubungan seks adalah sebuah aspek penting dalam pernikahan dan nantinya akan mempengaruhi kepuasan pasangan dalam pernikahan.</p>
<p>Lalu, ia melanjutkan materi dengan memberikan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Dalam cerita itu, ditemukan beberapa masalah yang sering muncul, berkaitan dengan hubungan seksual, yaitu:</p>
<ol>
<li> frekuensi hubungan seksual tidak sesuai dengan harapan,</li>
<li>pasangan terlalu pasif,</li>
<li>tidak puas dalam berhubungan seks, namun tidak berani mengutarakannya,</li>
<li>kehadiran anak seakan menjadikan hubungan seks menjadi kurang penting,</li>
<li>perasaan cinta dan gairah menurun drastis, dan</li>
<li>disfungsi seksual.</li>
</ol>
<p><strong>Apakah Anda Cocok Sebagai Pasangan?</strong></p>
<p style="text-align:left;">Di bagian akhir seminar, Mbak Ina menjelaskan tentang genogram. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Genogram" target="_blank">Genogram</a> sendiri adalah suatu bagan pemetaan keluarga pria dan wanita, beserta dinamika hubungan di dalamnya.<br />
<a href="http://www.genopro.com/genogram/Sample.aspx"><img class="alignnone size-full wp-image-351" title="contoh genogram" src="http://popsy.files.wordpress.com/2009/01/sample-genogram-full-size1.png?w=435&#038;h=190" alt="contoh genogram" width="435" height="190" /></a><br />
Dari genogram ini diharapkan pasangan akan makin saling mengenal. Pengenalan ini dalam hal: sifat-sifat yang menonjol, nilai-nilai yang penting, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, pengalaman masa kecil yang berkesan, dan alasan tertarik satu sama lain.</p>
<p>Selain itu, dari pemetaan keluarga beserta dinamika hubungan di dalamnya, pasangan akan bisa melihat bagaimana pola interaksi antara ayah dan ibu masing-masing, interaksinya dengan anak, nilai-nilai penting dalam keluarga, gaya komunikasi masing-masing keluarga, pola pengasuhan, pengalaman-pengalaman dalam keluarga, dan bagaimana pengelolaan keuangan dalam keluarga.</p>
<p>Dari genogram pula, pasangan diharapkan akan mulai mendiskusikan peran dan harapan-harapan dalam pernikahan, sebab peran dan harapan ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Misalnya seorang wanita yang melihat ibunya diselingkuhi beberapa kali akan memiliki pandangan negatif terhadap laki-laki, sehingga ia akan mengharapkan suaminya kelak tidak akan melakukan hal serupa padanya.</p>
<p>Yang perlu diingat dari harapan serta peran ini adalah, keduanya haruslah fleksibel dan realistis, sebab perubahan akan selalu terjadi dan tidak mungkin semua harapan akan terpenuhi.</p>
<p><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align:left;">Di akhir seminar, pembicara menyimpulkan 3 hal berkaitan dengan pernikahan, yaitu:</p>
<ol>
<li> tidak ada pernikahan yang ideal. Setiap pernikahan akan didera masalah,</li>
<li> kebahagiaan dalam pernikahan akan datangnya dari diri sendiri, yaitu cara pandang pasangan terhadap masalah yang mendera. Jika pasangan melihat masalah sebagai cobaan menuju arah yang lebih baik, mereka (mudah-mudahan) akan bisa melewatinya dengan baik pula,</li>
<li> dan kuncinya adalah komitmen satu sama lain untuk tetap berada dalam dan membangun pernikahannya.</li>
</ol>
<p>Pukul 13.oo lewat, seminar pun diakhiri. Sekitar 20 pengunjung yang hadir segera membubarkan diri, walau ada beberapa yang terlihat hendak bertanya-tanya pada pembicara lebih dulu.</p>
<p><strong>Pengalamanku</strong></p>
<p style="text-align:left;">Aku merasa senang bisa datang ke seminar ini. Alasannya:</p>
<ol>
<li>tujuan utamaku, mendapatkan pengetahuan tentang pernikahan, bisa tercapai disini.</li>
<li>pembicaranya menguasai apa yang dibicarakannya. Beberapa pertanyaan yang diajukan audiens ketika sesi tanya jawab, mampu dijawabnya dengan baik.</li>
<li>banyak kasus nyata yang digunakan sebagai contoh, untuk memudahkan pemahaman penonton.</li>
<li>pembicara membawakan materi dengan baik. Selain memberikan ceramah, ia juga melakukan tanya jawab dengan audiens, serta memberikan beberapa kuis, berkaitan dengan materi (dari kuis ini, Aku semakin yakin bahwa Aku dan pasanganku, memiliki bahasa cinta yang kurang lebih sama(waktu berkualitas, sentuhan fisik).</li>
<li>membayangkan kesulitan yang pasti bakal dialami setiap pasangan yang menikah, membuatku merasa cemas. Namun, dibalik kecemasan itu, berkat pengetahuan yang didapat hari ini, setiap orang pasti akan merasa siap. Alasannya, karena mereka tahu apa yang akan dihadapinya nanti, bukan seperti masuk sebuah ruang gelap tanpa adanya peringatan lebih dulu, dan merasa terjebak.</li>
</ol>
<p>Suatu saat, jika ada seminar-seminar sejenis dan temanya menarik, mungkin Aku akan ikut lagi. Aku pun siap menabung lagi demi membayar Rp.125.ooo untuk biaya investasinya.</p>
<p>~ materi tulisan ini diambil dari materi yang disampaikan pembicara dalam seminar.</p>
<p style="text-align:left;">
Posted in acara, cinta, komunikasi, pernikahan Tagged: keluarga, komitmen, motivasi, perempuan, perkawinan, pernikahan, pria, wanita <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=346&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/01/25/tidak-ada-pernikahan-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://popsy.files.wordpress.com/2009/01/sample-genogram-full-size1.png" medium="image">
			<media:title type="html">contoh genogram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seminar Pranikah &#8220;Siapkan Diri Sebelum Melangkah&#8221;</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/01/21/seminar-pranikah-siapkan-diri-sebelum-melangkah/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/01/21/seminar-pranikah-siapkan-diri-sebelum-melangkah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 03:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[acara]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[konflik]]></category>
		<category><![CDATA[seksual]]></category>
		<category><![CDATA[perceraian]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Banyaknya artis yang bercerai di tahun 2008 lalu, membuatku bertanya-tanya,  &#8220;apakah ini bisa menjadi gambaran masyarakat Indonesia pada umunya?&#8221; Jawaban tak kudapat. Pertanyaan susulan justru muncul, &#8220;bagaimana caranya supaya angka perceraian  bisa diturunkan?&#8221;
Kalau menurutku, sebelum terjadi perceraian, pasangan yang hendak menikah perlu mengetahui apa itu menikah. Sehingga mereka sudah tahu segala hal yang akan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=334&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Banyaknya <a href="http://celebrity.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/22/33/176076/18-artis-cerai-rata-rata-karena-orang-ketiga" target="_blank">artis yang bercerai di tahun 2008 lalu</a>, membuatku bertanya-tanya,  &#8220;apakah ini bisa menjadi gambaran masyarakat Indonesia pada umunya?&#8221; Jawaban tak kudapat. Pertanyaan susulan justru muncul, &#8220;bagaimana caranya supaya angka perceraian  bisa diturunkan?&#8221;</p>
<p>Kalau menurutku, sebelum terjadi perceraian, pasangan yang hendak menikah perlu mengetahui apa itu menikah. Sehingga mereka sudah tahu segala hal yang akan mereka hadapi nantinya; konflik-konflik, pembagian peran, komunikasi, dsb. Dengan bekal pengetahuan tadi, diharapkan pasangan yang hendak menikah akan menjadi lebih siap untuk hidup dalam pernikahan.</p>
<p><span id="more-334"></span>Mungkin pemikiran tersebut yang melatarbelakangi adanya seminar pranikah berjudul &#8220;Siapkan Diri, Sebelum Melangkah&#8221;. Seminar ini diadakan oleh sebuah lembaga di <a href="http://www.psikologi.ui.ac.id/" target="_blank">Fakultas Psikologi Universitas Indonesia</a>, bernama Skill and Personal Development Courses, pada:</p>
<blockquote><p>Sabtu 24 Januari 2009</p>
<p>pukul 10.00-13.00 WIB</p>
<p>di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Kampus Baru Depok.</p>
<p>dan dibawakan oleh <a href="http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/adriana-soekandar-ginanjar-terapi-autis-tak-bisa-instan&amp;channel=profil" target="_blank">Dr. Adriana S. Ginanjar</a> (konselor perkawinan, terapis autis dan pengajar F.Psikologi UI)</p></blockquote>
<p>Materi yang akan disampaikan antara lain:</p>
<ul>
<li>Nilai-nilai dalam keluarga besar</li>
<li>pembagian peran dan harapan terhadap perkawinan</li>
<li>hubungan seks</li>
<li>komunikasi yang efektif</li>
<li>penanganan masalah dan resolusi konflik</li>
</ul>
<p>Bagi yang tertarik dan ingin mendaftar, segera daftar, karena peserta hanya akan dibatasi sebanyak 50 orang saja. Investasi yang dikeluarkan pun tak terlalu mahal. Dengan Rp. 125.000, Anda akan bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang pernikahan, dan juga seminar kit, sertifikat, merchandise dari sponsor, serta snack.</p>
<p>Segera saja hubungi:</p>
<p><strong>SPDC F. Psikologi UI </strong>di <strong>021-7270004/ 7270005/ 7863520 ext.1504</strong></p>
<p>atau</p>
<p><strong>Sari </strong>di <strong>085710916065</strong></p>
<p>Sampai jumpa!</p>
Posted in acara, cinta, komunikasi, konflik, seksual Tagged: perceraian, perkawinan, pernikahan, pranikah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=334&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/01/21/seminar-pranikah-siapkan-diri-sebelum-melangkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunika: Jurnal Ilmu Sosial dan Komunikasi milik LIPI</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/01/10/komunika-jurnal-ilmu-sosial-dan-komunikasi-milik-lipi/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/01/10/komunika-jurnal-ilmu-sosial-dan-komunikasi-milik-lipi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 09:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[lintas budaya]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[LIPI]]></category>
		<category><![CDATA[majalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang pernah mengetahui sepak terjang LIPI selama ini? Membaca hasil-hasil penelitian dari para ilmuwan di lembaga tersebut? Mungkin sama seperti saya, anda juga jarang, atau malah tidak pernah, mendengarnya sama sekali dari berbagai media massa yang anda langgani.
Bisa saja sih sebenarnya media sudah mencoba memuatnya, tapi entah karena jarang-jarang punya pencapaian khusus atau pemberitaannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=328&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada yang pernah mengetahui sepak terjang LIPI selama ini? Membaca hasil-hasil penelitian dari para ilmuwan di lembaga tersebut? Mungkin sama seperti saya, anda juga jarang, atau malah tidak pernah, mendengarnya sama sekali dari berbagai media massa yang anda langgani.</p>
<p>Bisa saja sih sebenarnya media sudah mencoba memuatnya, tapi entah karena jarang-jarang punya pencapaian khusus atau pemberitaannya terpencil di halaman dalam, anda akhirnya melupakannya. Karena itulah saya cukup terkejut dan terheran-heran ketika kemarin di Gramedia Mal Taman Anggrek mendapati ini di salah satu rak:</p>
<div id="attachment_330" class="wp-caption aligncenter" style="width: 374px"><img class="size-full wp-image-330" title="komunika-s" src="http://popsy.files.wordpress.com/2009/01/komunika-s.jpg?w=364&#038;h=511" alt="Majalah Ilmiah Komunikasi Dalam Pembangunan" width="364" height="511" /><p class="wp-caption-text">Komunika: Majalah Ilmiah Komunikasi Dalam Pembangunan</p></div>
<p><span id="more-328"></span></p>
<p>&#8216;Majalah&#8217; (lebih tepat disebut jurnal, sebenarnya) ini cukup lawas (Vl. 10, No. 2, tahun 2007), dan cuma edisi itu satu-satunya yang ada di sana (dan rasanya tidak pernah saya jumpai di Gramedia lain) sehingga saya tanpa pikir panjang langsung membelinya meski harganya lumayan mahal (Rp. 45.000,00).</p>
<p>Apa saja isinya? Berikut beberapa di antaranya yang menurut saya cukup menarik dari sisi ilmu psikologi, dan mungkin akan saya bahas nanti di POPsy:</p>
<ul>
<li>Minoritas di Tengah Mayoritas: Interaksi Sosial Katolik dan Islam di Kota Palembang</li>
<li>Tayangan Pornografi, Kekerasan, dan Mistik/Supranatural di Televisi Cenderung Memotivasi Perilaku Negatif</li>
<li>Problem Komunikasi antara Aparat Polri danPengunjuk Rasa dalam Pengendalian Unjuk Rasa yang Mengarah pada Kerusuhan Massa</li>
<li>Perbandingan Perspektif Disiplin dan Tradisi dalam Kajian Komunikasi Antarmanusia</li>
</ul>
<p>Bagaimana? Penasaran untuk mengetahui isinya lebih lanjut? Silakan tinggalkan komentar di bawah mengenai judul mana yang anda inginkan saya untuk membahasnya lebih dulu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in budaya, komunikasi, lintas budaya, media, resensi, sosial Tagged: indonesia, jurnal, LIPI, majalah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=328&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/01/10/komunika-jurnal-ilmu-sosial-dan-komunikasi-milik-lipi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://popsy.files.wordpress.com/2009/01/komunika-s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">komunika-s</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>13 Tips Membuat dan Melaksanakan Resolusi Tahun Baru yang Efektif</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/01/02/13-tips-membuat-dan-melaksanakan-resolusi-tahun-baru-yang-efektif/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/01/02/13-tips-membuat-dan-melaksanakan-resolusi-tahun-baru-yang-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 05:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[behaviorisme]]></category>
		<category><![CDATA[goal setting]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[sasaran]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Anda sudah membuat resolusi tahun baru? Bagaimana pencapaian resolusi tahun baru anda kemarin? Atau anda seperti saya: tidak pernah membuat resolusi tahun baru karena sudah pesimis duluan akan kemampuan diri sendiri dalam mencapainya tidak percaya kalau metode memotivasi diri semacam itu akan berhasil memberi dampak pada hidup kita?  
Memang belum ada penelitiannya, tapi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=319&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anda sudah membuat resolusi tahun baru? Bagaimana pencapaian resolusi tahun baru anda kemarin? Atau anda seperti saya: tidak pernah membuat resolusi tahun baru karena sudah pesimis duluan akan kemampuan diri sendiri dalam mencapainya tidak percaya kalau metode memotivasi diri semacam itu akan berhasil memberi dampak pada hidup kita? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Memang belum ada penelitiannya, tapi saya yakin kalau 80 hingga 90 persen orang yang membuat resolusi tahun baru gagal mencapainya, sementara 60 hingga 70 persen orang yang membuat resolusi tahun baru bahkan tidak pernah mencoba mencapainya sama sekali (sudahkah saya peringatkan anda kalau saya orangnya pesimis? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Apakah itu berarti membuat resolusi tahun baru adalah hal yang percuma dan sia-sia belaka, atau sebenarnya selama ini cara kita membuat resolusilah yang salah? Mungkin saja yang terakhirlah yang terjadi, kalau melihat tips-tips berikut dan membandingkannya dengan bagaimana kebanyakan orang biasanya membuat resolusi.</p>
<p><span id="more-319"></span></p>
<p><strong>Bukti Tertulis</strong>. Buat resolusi anda dalam bentuk daftar poin-per-poin, cetak, lalu tempel di tempat-tempat yang sering anda lirik (saya, misalnya, akan menempelnya di sebelah monitor laptop yang saya <em>pantengi</em> berjam-jam setiap harinya). Kalau cuma diingat-ingat dalam hati, yakinlah dalam dua minggu berikutnya anda sudah melupakan resolusi itu selama sisa 350 hari berikutnya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Jangan bikin resolusi banyak-banyak</strong>, maksimal cukup 3 atau 4 saja. Kalau di daftar anda ada lebih dari itu, pilihlah yang paling <span style="text-decoration:underline;">penting dan mendesak</span> atau yang paling <span style="text-decoration:underline;">bernilai dan berharga</span> bagi hidup anda. Dengan hanya sedikit resolusi, pencapaian anda bisa lebih fokus dan terarah, kemungkinan berhasilnya pun juga lebih besar.</p>
<p><strong>Buat resolusi yang spesifik</strong>. Kalau target resolusi anda abstrak atau rancu, pastilah pencapaiannya juga tidak maksimal karena sulit menentukan titik keberhasilannya., Jangan hanya berikhtiar untuk &#8216;bisa fotografi&#8217;; wujudkan keinginan itu secara spesifik, misalnya &#8216;mengikuti les fotografi tingkat pemula dan dalam 1 tahun sudah mencapai tingkat mahir&#8217;.</p>
<p><strong>Perjelas resolusi dengan langkah-langkah perilaku konkrit</strong>. Kita ambil contoh lain: Keinginan &#8216;hidup lebih sehat&#8217; harus dibarengi dengan proses dan strategi menuju ke sana. Buatlah daftar beberapa tindakan nyata yang bisa mendukung resolusi utama anda, misalnya &#8216;menyertakan sayur dan buah setiap makan&#8217; atau &#8216;<em>jogging</em> keliling kompleks rumah tiap jam 5 pagi.&#8217;</p>
<p><strong>Target perantara setiap beberapa bulan</strong>. Ini fungsinya adalah untuk mengontrol agar kemajuan resolusi anda stabil dan tidak dikebut menjelang akhir tahun (yang pada akhirnya hanya akan membuat anda semakin malas untuk mulai melakukannya). Untuk resolusi &#8216;berat badan berkurang 5 kilogram dalam setahun&#8217;, target perantaranya bisa berbentuk &#8216;pergi ke dokter gizi bulan ini&#8217; atau &#8216;berat badan berkurang setengah kilogram tiap dua bulan.&#8217;</p>
<p><strong>Resolusi dan perilaku yang realistis untuk dilakukan</strong>. Meski mungkin anda yakin bisa <em>jogging</em> keliling kompleks rumah tiap jam 5 pagi, coba pikir lagi: realistiskah itu? Semakin sering anda gagal melakukannya, akan semakin malas anda mencapai resolusi yang sudah anda tetapkan. Mungkin ada bisa menurunkan frekuensinya menjadi <em>jogging</em> tiap Sabtu-Minggu saja, sementara di hari biasa anda berolahraga di pekarangan atau dalam rumah.</p>
<p><strong>Catat keberhasilan</strong>. Setiap kali anda berhasil melakukan satu perilaku tertentu, catat prestasi itu secara mencolok, misalnya dengan tanda centang hijau besar di sebuah buku khusus atau memasukkan duit seribu di celengan khusus. Ketika nantinya anda sedang merasa malas atau tak termotivasi, anda bisa melihat kembali catatan itu dan teringatkan kalau anda pernah (dan bahkan sering!) berhasil melakukannya.</p>
<p><strong>Beri hadiah bagi diri sendiri</strong>, entah ketika memenuhi target perantara atau resolusi utama. Tentukan hadiah seperti apa yang anda inginkan sejak awal merancang resolusi, sehingga hadiah ini bisa menjadi salah satu motivasi tetap sepanjang tahun untuk terus berusaha mencapai resolusi anda.</p>
<p><strong>Ciptakan lingkungan yang mendukung pencapaian resolusi anda</strong>. Kalau anda berniat untuk berolahraga pagi-pagi sekali, pasang alarm siapkan sepatu dan baju olahraga di samping ranjang sebelum anda tidur. Sebaliknya, hindari pula lingkungan atau situasi yang bisa menghambat pencapaian resolusi anda, misalnya pergi ke mal-mal tingkat atas ketika anda sedang ingin berhemat.</p>
<p><strong>Anda akan gagal minimal sekali, tapi jangan menyerah</strong>. Banyak orang yang tidak pernah berhasil menyelesaikan resolusinya karena mereka langsung menyerah setelah dua-tiga kali khilaf, sesuatu yang disebut sebagai &#8216;<em>what-the-hell effect</em>&#8216;. Kalau sejak awal anda realistis dengan kesilapan yang mungkin terjadi kemudian, anda akan lebih cepat kembali fokus ke pencapaian target ketimbang berlama-lama menyesali diri. Dan patut disadari pula: kebiasaan buruk yang ingin anda hilangkan lewat resolusi <a href="http://www.psychologytoday.com/articles/pto-20000701-000023.html">tidak akan pernah 100 persen musnah</a>.</p>
<p><strong>Cari pengawas resolusi anda.</strong> Bisa teman, pacar, suami/istri, anak, saudara, orangtua, atau rekan sekerja; pokoknya orang-orang yang sehari-hari sering bersama dengan anda. Beritahu mereka mengenai resolusi anda, dan minta bantuan mereka untuk mengingatkan anda kalau sedang khilaf atau memuji anda jika telah mencapai target tertentu. Lebih baik lagi kalau kalian punya resolusi yang serupa sehingga bisa melakukan resolusi itu secara bersama-sama. Tapi jangan sampai mereka malah jadi &#8217;setan&#8217; yang menggoda anda lho ya? ^^;</p>
<p>Alternatifnya, <strong>buat resolusi anda menjadi sesuatu yang publik</strong>. Misalnya mempublikasikan resolusi anda di Friendster/Facebook, blog, atau situs pribadi. Ketika semua orang tahu resolusi anda, &#8216;tekanan sosial&#8217; yang tak nampak itu tentunya akan membuat anda gengsi jika gagal mencapainya akhir tahun nanti.</p>
<p>Terakhir, <strong>hati-hatilah akan efek samping dari resolusi</strong>. Menurut John O&#8217;Neill, kepala sebuah klinik kecanduan di Houston, AS, banyak kebiasaan buruk yang ingin kita hilangkan dalam resolusi adalah sebuah cara mengatasi stres, misalnya merokok, minum-minum, atau makan banyak. Kalau anda ingin menghilangkan kebiasaan buruk itu, sebaiknya pikirkan juga cara lain untuk menanggulangi stres anda ketika ia datang.</p>
<p>Semoga tips-tips di atas berguna bagi pencapaian resolusi tahun baru anda atau penentuan target anda yang lain. Anda punya pengalaman mengenai pencapaian resolusi yang berhasil atau gagal? Mohon membagikannya dengan pembaca POPsy lain di kotak komentar di bawah ini. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Sumber</span>:</p>
<p><a href="http://www.livescience.com/health/081231-new-years-resolution.html">LiveScience &#8211; 5 Tips: How to Keep Your New Year&#8217;s Resolution</a></p>
<p><a href="http://www.psychologytoday.com/articles/pto-20030204-000005.html">PsychologyToday &#8211; Your New Year&#8217;s Resolutions</a></p>
<p><a href="http://www.psychologytoday.com/articles/pto-20000701-000023.html">PsychologyToday &#8211; Why Resolutions Fail</a></p>
<p><a href="http://www.psychologytoday.com/articles/pto-20030107-000002.html">PsychologyToday &#8211; Resolution Folly</a></p>
<p><a href="http://www.psychologytoday.com/articles/pto-20060127-000001.html">PsychologyToday &#8211; Making Your List, Checking It Twice</a></p>
Posted in behaviorisme Tagged: goal setting, motivasi, resolusi, sasaran, tahun baru <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=319&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/01/02/13-tips-membuat-dan-melaksanakan-resolusi-tahun-baru-yang-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Redaksi: Tahun Baru, Blog Baru</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/31/dari-redaksi-tahun-baru-blog-baru/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/31/dari-redaksi-tahun-baru-blog-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 06:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[1430]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[masehi]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[POPsy! mengucapkan: Selamat Tahun Baru Islam 1430 Hijriyah dan Selamat Tahun Baru 2009 Masehi  
Mungkin penambahan satu angka di kolom tahun itu tidak berarti banyak bagi pemaknaan kehidupan kita sehari-hari (dibanding hari raya agama atau nasional), tapi manusia tetap butuh suatu pal atau penanda (misalnya seperti hari ulang tahun) untuk mengetahui sejauh mana mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=316&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>POPsy! mengucapkan: Selamat Tahun Baru Islam 1430 Hijriyah dan Selamat Tahun Baru 2009 Masehi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </strong></p>
<p>Mungkin penambahan satu angka di kolom tahun itu tidak berarti banyak bagi pemaknaan kehidupan kita sehari-hari (dibanding hari raya agama atau nasional), tapi manusia tetap butuh suatu pal atau penanda (misalnya seperti hari ulang tahun) untuk mengetahui sejauh mana mereka telah menjalani hidup. Bagaimana pencapaian resolusi, cita-cita, dan impian anda di tahun ini? Semoga tahun depan yang belum kesampaian bisa tercapai, dan yang sudah tercapai bisa lebih dilampaui lagi. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lalu apa maksudnya frase &#8216;Blog Baru&#8217; di judul?</p>
<p>Ya, belakangan ini saya sedang gila bikin blog baru, hingga kini blog saya yang di wordpress.com saja sudah mencapai <span style="text-decoration:line-through;">8</span> 7 buah (daftar lengkapnya bisa dilihat di profil saya di halaman <a href="http://popsy.wordpress.com/redaksi/">Redaksi</a>). Di sini saya hanya akan mempromosikan (boleh dong? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ) dua buah blog baru yang topik bahasannya masih terkait dengan POPsy, yakni psikologi.</p>
<p><a href="http://persepsi.wordpress.com/">PersePsi: Warta Psikologi Populer</a> &#8211; Blog baru ini sedikit banyak juga akan mengubah wajah POPsy. Apa bedanya PersePsi dengan POPsy? PersePsi saya canangkan untuk menjadi blog penunjang yang mengabarkan temuan psikologi terbaru yang dikutip dari berita media massa; yah, <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/28/musik-yang-tepat-untuk-berolahraga/">seperti</a> <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/26/pria-pemboros-pria-playboy/">beberapa</a> <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/22/membaca-pikiran-dengan-menggunakan-komputer/">postingan</a> <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/19/6-cara-membuat-anak-suka-makan-sayur/">POPsy</a> <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/17/anjing-yang-punya-rasa-keadilan/">terakhir</a> <a href="http://popsy.wordpress.com/2008/12/14/menggunakan-sindiran-untuk-mendeteksi-dementia/">ini</a>. Sementara itu, POPsy sendiri akan saya usahakan untuk dikembalikan ke &#8216;khittah&#8217;-nya; artikel-artikel yang sifatnya lebih orisinal, bersifat <em>feature</em> (jadi bukan berita), mungkin sedikit lebih panjang, edukatif bagi awam, dan lebih menyinggung hal-hal yang mendasar di ilmu psikologi.</p>
<p><a href="http://interaktif.wordpress.com/">Jurnal Interaktif: Psychosocial Studies of Electronic Gaming Culture</a> &#8211; Salah satu hobi saya yang lain adalah bermain video game (saat ini lebih sebagai &#8216;pengamat&#8217; ketimbang &#8216;pemain&#8217; sih). Blog Jurnal Interaktif ini bukan seperti blog game lainnya yang banyak membahas soal konsol atau game-game terbaru; saya lebih ingin membahas efek psikologis, sosial, dan budaya dari bermain video-game itu sendiri bagi manusia dan masyarakatnya. Beberapa contoh postingannya seperti:</p>
<ul>
<li><a href="http://interaktif.wordpress.com/2008/12/24/bermain-game-di-kantor-dapat-meningkatkan-produktivitas/">Bermain Game di Kantor Dapat Meningkatkan Produktivitas </a></li>
<li><a href="http://interaktif.wordpress.com/2008/12/23/manfaat-bermain-video-game-strategi-bagi-manula/">Manfaat Bermain Video Game Strategi bagi Manula </a></li>
<li><a href="http://interaktif.wordpress.com/2008/12/19/gamer-kompulsif-dan-masalah-kecanduan/">Gamer ‘Kompulsif’ dan Masalah Kecanduan </a></li>
<li><a href="http://interaktif.wordpress.com/2008/12/17/videogame-mengajarkan-prinsip-prinsip-ilmiah-pada-generasi-muda/">Videogame Mengajarkan Prinsip-Prinsip Ilmiah pada Generasi Muda </a></li>
</ul>
<p>Dengan pencabangan itu, mungkin untuk beberapa waktu ke depan postingan di blog ini akan sedikit melambat selagi saya menyesuaikan diri, tapi saya harap semoga adanya kedua baru itu bisa memberikan semakin banyak pilihan bagi para pembaca POPsy. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>UPDATE:</strong></span> Buat yang penasaran dengan isi ketujuh blog saya dan ingin mengikutinya dengan cara yang mudah, silakan lihat blog kedelapan saya di <a href="http://catshade.wordpress.com">catshade.wordpress.com</a> yang berfungsi sebagai &#8216;agregator jadi-jadian&#8217; ketujuh kakaknya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in redaksi Tagged: 1430, 2009, hari raya, hijriyah, islam, masehi, muharram, tahun baru <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=316&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/31/dari-redaksi-tahun-baru-blog-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musik yang Tepat untuk Berolahraga</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/28/musik-yang-tepat-untuk-berolahraga/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/28/musik-yang-tepat-untuk-berolahraga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2008 18:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[aerobik]]></category>
		<category><![CDATA[birama]]></category>
		<category><![CDATA[body building]]></category>
		<category><![CDATA[dance]]></category>
		<category><![CDATA[jazz]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[metal]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[punk]]></category>
		<category><![CDATA[ritme]]></category>
		<category><![CDATA[rock]]></category>
		<category><![CDATA[tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/28/musik-yang-tepat-untuk-berolahraga/</guid>
		<description><![CDATA[Anda malas berolahraga? Cobalah lain kali berolahraga dengan diiringi musik; menurut artikel New York Times yang saya kutip di bawah ini, musik bisa memotivasi anda untuk berolahraga lebih lama dan lebih intens, juga mengalihkan perhatian dari rasa lelah. Tapi musik apa yang cocok untuk berolahraga?
Kalau menurut Dr. Costas Karageorghis, seorang profesor psikologi olahraga di Brunel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=312&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anda malas berolahraga? Cobalah lain kali berolahraga dengan diiringi musik; menurut artikel New York Times yang saya kutip di bawah ini, musik bisa memotivasi anda untuk berolahraga lebih lama dan lebih intens, juga mengalihkan perhatian dari rasa lelah. Tapi musik apa yang cocok untuk berolahraga?</p>
<p>Kalau menurut Dr. Costas Karageorghis, seorang profesor psikologi olahraga di Brunel University, Inggris, musik yang tepat adalah yang memiliki tempo 120 hingga 140 ketukan per menit (Beat per Minute/BPM), seperti kebanyakan musik-musik dance atau rock. Ada ahli lain yang juga menekankan pentingnya ritme dan birama yang relatif konsisten, sehingga musik-musik seperti free jazz, hard-core punk, atau indie rock dianggap tidak cocok untuk berolahraga yang membutuhkan banyak gerakan tubuh.</p>
<p>Bagaimana dengan musik-musik metal? Dikatakan kalau metal cocok untuk jenis olahraga yang bersifat body-building (membentuk otot), misalnya angkat beban.</p>
<p>Jadi, musik seperti apa yang anda rasa cocok untuk mengiringi olahraga anda? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="go to this clipmark" href="http://clipmarks.com/clipmark/926CAFF9-E0BA-48FF-84FB-61275E5B75E3/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/4e9a98fe-cbc1-400f-a64f-7980789af0ce/926CAFF9-E0BA-48FF-84FB-61275E5B75E3/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1" href="http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1">www.nytimes.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1 -->Studies have shown that listening to music during <a title="In-depth reference and news articles about Physical activity." href="http://health.nytimes.com/health/guides/specialtopic/physical-activity/overview.html?inline=nyt-classifier">exercise</a> can improve results, both in terms of being a motivator (people exercise longer and more vigorously to music) and as a distraction from negatives like fatigue. But are certain songs more effective than others?</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1 -->the best workout songs have both a high B.P.M. count and a rhythm to which you can coordinate your movements. This would seem to eliminate any music with abrupt changes in time signature, like free-form jazz or hard-core punk, as well as music that varies widely in intensity, like much of indie rock.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1 -->“The vast majority of bodybuilders are fans of heavy metal, if not in their personal life at least in the gym,” said Shawn Perine, a senior writer at Flex magazine. Loud, aggressive music, he said, “keeps you elevated, especially in between sets.”</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/01/10/fashion/10fitness.html?_r=1 -->But is there a perfect workout track, a song that transcends exercise forms and personal preferences? One comes up repeatedly: “Gonna Fly Now,” the theme from “Rocky.”</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/926CAFF9-E0BA-48FF-84FB-61275E5B75E3/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content9.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in kesehatan, media, olahraga Tagged: aerobik, birama, body building, dance, jazz, lelah, metal, motivasi, musik, punk, ritme, rock, tempo <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=312&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/28/musik-yang-tepat-untuk-berolahraga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/4e9a98fe-cbc1-400f-a64f-7980789af0ce/926CAFF9-E0BA-48FF-84FB-61275E5B75E3/" medium="image" />

		<media:content url="http://content9.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pria Pemboros = Pria Playboy?</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/26/pria-pemboros-pria-playboy/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/26/pria-pemboros-pria-playboy/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 18:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[seksual]]></category>
		<category><![CDATA[boros]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[hemat]]></category>
		<category><![CDATA[konservatif]]></category>
		<category><![CDATA[konsumsi]]></category>
		<category><![CDATA[konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[playboy]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/26/pria-pemboros-pria-playboy/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah survey terhadap 400 orang yang dilakukan Daniel Kruger dari University of Michigan&#8217;s School of Public Health, ditemukan bahwa para responden pria yang lebih boros (jarang menabung atau malah sering berhutang) juga lebih sering berganti-ganti pasangan (dan lebih ingin mengencani lebih banyak wanita) dibanding para responden pria yang pengaturan keuangannya lebih konservatif.
Sementara itu, pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=309&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam sebuah survey terhadap 400 orang yang dilakukan Daniel Kruger dari University of Michigan&#8217;s School of Public Health, ditemukan bahwa para responden pria yang lebih boros (jarang menabung atau malah sering berhutang) juga lebih sering berganti-ganti pasangan (dan lebih ingin mengencani lebih banyak wanita) dibanding para responden pria yang pengaturan keuangannya lebih konservatif.</p>
<p>Sementara itu, pada responden wanita tidak ditemukan korelasi antara perilaku konsumtifnya dengan kecenderungan berganti-ganti pasangan.</p>
<p>Bagaimana menurut anda? Punya pengalaman pribadi (atau hasil pengamatan orang lain) yang mendukung atau menyanggah temuan di atas?</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="go to this clipmark" href="http://clipmarks.com/clipmark/63D168FB-DA04-4779-ADF4-7D446B2E4F24/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/52d54587-3303-4f99-8531-44c54b61a229/63D168FB-DA04-4779-ADF4-7D446B2E4F24/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html" href="http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html">www.livescience.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html -->Participants rated how much they agreed with three statements about their financial habits, such as &#8220;I always live within my income range,&#8221; and &#8220;Each income period, I set aside at least ten percent for savings.&#8221;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html --><br />
They also indicated marital status and sexual partners (their count for the past five years and number desired in the future).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html --><br />
Men who spent more (saved less) and who were more likely to shell out more than they earned reported having <a href="http://www.livescience.com/strangenews/060217_partners.html">more sexual partners</a> in the past five years and desired more future partners than other guys in the study.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html --><br />
Specifically, the 25 percent of men who were most conservative about spending had an average of three partners in the past five years and desired about one partner in the next five years. The 2 percent of men with the riskiest financial strategies had double those numbers.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.livescience.com/culture/081210-men-overspend.html --><br />
For women, financial consumption wasn&#8217;t significantly related to past or future mates.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/63D168FB-DA04-4779-ADF4-7D446B2E4F24/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in gender, seksual Tagged: boros, ekonomi, finansial, hemat, konservatif, konsumsi, konsumtif, laki-laki, perempuan, playboy, pria, wanita <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/309/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/309/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/309/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=309&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/26/pria-pemboros-pria-playboy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/52d54587-3303-4f99-8531-44c54b61a229/63D168FB-DA04-4779-ADF4-7D446B2E4F24/" medium="image" />

		<media:content url="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Redaksi: Selamat Hari Natal!</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/24/dari-redaksi-selamat-hari-natal/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/24/dari-redaksi-selamat-hari-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 11:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[libur]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Dan untuk anda-anda yang tidak merayakannya, selamat liburan dan tahun baru.  

more animals
Posted in redaksi Tagged: hari raya, libur, natal, tahun baru      <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=305&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dan untuk anda-anda yang tidak merayakannya, selamat liburan dan tahun baru. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://icanhascheezburger.com/2008/12/09/funny-pictures-chrissmes-sperit-i-haz-et/"><img class="mine_2643184" title="funny-pictures-little-kitten-has-christmas-spirit" src="http://icanhascheezburger.files.wordpress.com/2008/11/funny-pictures-little-kitten-has-christmas-spirit.jpg" alt="funny pictures of cats with captions" /></a><br />
more <a href="http://icanhascheezburger.com">animals</a></p>
Posted in redaksi Tagged: hari raya, libur, natal, tahun baru <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=305&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/24/dari-redaksi-selamat-hari-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://icanhascheezburger.files.wordpress.com/2008/11/funny-pictures-little-kitten-has-christmas-spirit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">funny-pictures-little-kitten-has-christmas-spirit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Pikiran dengan Menggunakan Komputer</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/22/membaca-pikiran-dengan-menggunakan-komputer/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/22/membaca-pikiran-dengan-menggunakan-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 09:52:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[biologi]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[neuroscience]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/22/membaca-pikiran-dengan-menggunakan-komputer/</guid>
		<description><![CDATA[Para ilmuwan dari ATR Computational Neuroscience Laboratories, Jepang, telah menemukan cara untuk &#8216;membaca&#8217; pikiran orang dengan menggunakan fMRI (pemindai gelombang elektromagnetis otak) dan menampilkan &#8216;gambaran pikiran&#8217; orang tersebut di layar monitor (cara selengkapnya bisa dilihat di klip di bawah).
Pertanda bahwa kini isi otak anda tidak privat lagi? Tidak juga kalau kita melihat bahwa cara kerja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=303&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Para ilmuwan dari ATR Computational Neuroscience Laboratories, Jepang, telah menemukan cara untuk &#8216;membaca&#8217; pikiran orang dengan menggunakan fMRI (pemindai gelombang elektromagnetis otak) dan menampilkan &#8216;gambaran pikiran&#8217; orang tersebut di layar monitor (cara selengkapnya bisa dilihat di klip di bawah).</p>
<p>Pertanda bahwa kini isi otak anda tidak privat lagi? Tidak juga kalau kita melihat bahwa cara kerja metode ini masih sangat terbatas. Pertama, otak orang tersebut sebelumnya harus dibandingkan dengan database gambar yang sudah dikenal komputer sebagai pembanding awal; jadi, kita tidak bisa langsung memindai pikiran orang, apalagi tanpa ketahuan. Tambahan lagi, metode itu sampai sekarang baru bisa menafsirkan &#8216;pikiran&#8217; yang hitam-putih dan berasal dari citra sederhana (seperti simbol atau huruf).</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="clipmarks' clip-to-blog" href="http://clipmarks.com/clip-to-blog/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/e5c2a220-5459-4c9d-be09-ad7ebf7c5a93/0D52E760-C8F7-41BC-AB02-CB3E6974056B/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/" href="http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/">www.pinktentacle.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/ --></p>
<div><img src="http://content6.clipmarks.com/blog_cache/www.pinktentacle.com/img/F816A917-E621-4028-8537-0E3126611465" alt="ATR mind reader -- " /></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/ -->The scientists were able to reconstruct various images viewed by a person by analyzing changes in their cerebral blood flow. Using a functional magnetic resonance imaging (fMRI) machine, the researchers first mapped the blood flow changes that occurred in the cerebral visual cortex as subjects viewed various images held in front of their eyes. Subjects were shown 400 random 10 x 10 pixel black-and-white images for a period of 12 seconds each. While the fMRI machine monitored the changes in brain activity, a computer crunched the data and learned to associate the various changes in brain activity with the different image designs.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/ -->Then, when the test subjects were shown a completely new set of images, such as the letters N-E-U-R-O-N, the system was able to reconstruct and display what the test subjects were viewing based solely on their brain activity.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.pinktentacle.com/2008/12/scientists-extract-images-directly-from-brain/ -->For now, the system is only able to reproduce simple black-and-white images.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/0D52E760-C8F7-41BC-AB02-CB3E6974056B/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in biologi, persepsi Tagged: neuroscience, otak <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/303/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=303&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/22/membaca-pikiran-dengan-menggunakan-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/e5c2a220-5459-4c9d-be09-ad7ebf7c5a93/0D52E760-C8F7-41BC-AB02-CB3E6974056B/" medium="image" />

		<media:content url="http://content6.clipmarks.com/blog_cache/www.pinktentacle.com/img/F816A917-E621-4028-8537-0E3126611465" medium="image">
			<media:title type="html">ATR mind reader -- </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>6 Cara Membuat Anak Suka Makan Sayur</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/19/6-cara-membuat-anak-suka-makan-sayur/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/19/6-cara-membuat-anak-suka-makan-sayur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 09:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[gizi]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[nutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[sayur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/19/6-cara-membuat-anak-suka-makan-sayur/</guid>
		<description><![CDATA[Buat anda yang punya anak atau baru beberapa belas tahun yang lalu masih anak-anak, anda pasti tahu betapa susahnya mereka (atau kita) mencoba mengunyah makanan hijau pahit yang tidak mengenakkan itu. Harian The New York Times memberikan 6 tips sederhana ini untuk anda:

Ajak anak anda ikut terlibat dalam proses memasaknya, atau setidaknya melihat bagaimana anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=298&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Buat anda yang punya anak atau baru beberapa belas tahun yang lalu masih anak-anak, anda pasti tahu betapa susahnya mereka (atau kita) mencoba mengunyah makanan hijau pahit yang tidak mengenakkan itu. Harian The New York Times memberikan 6 tips sederhana ini untuk anda:</p>
<ol>
<li>Ajak anak anda ikut terlibat dalam proses memasaknya, atau setidaknya melihat bagaimana anda mempersiapkan makanannya.</li>
<li>Jangan memaksa mereka untuk memakannya atau mengiming-imingi hadiah. Silakan tawarkan sayuran, tapi usahakan tetap bersikap netral entah dia menerima atau menolaknya.</li>
<li>Kalau tidak ingin anak anda makan sesuatu yang tidak sehat, jangan coba disembunyikan di tempat yang (menurut anda) tak terjangkau anak; Sterilkan rumah anda dari makanan itu.</li>
<li>Pola makan orangtua bisa mempengaruhi anak mereka untuk menirunya, jadi berilah contoh yang baik dan hati-hatilah kalau anda sedang berdiet.</li>
<li>Jangan sajikan sayuran yang itu-itu saja; berkreasilah dengan cara masak yang berbeda tanpa harus terpaku pada sisi kesehatannya.</li>
<li>Jangan menyerah! Menurut seorang ahli gizi, dibutuhkan rata-rata 15 kali atau waktu berbulan-bulan untuk bisa membuat anak menerima suatu makanan.</li>
</ol>
<p>Bagaimana dengan anda? Pernah punya pengalaman pribadi (entah anda ke anak atau orangtua ke anda) dan tips-tips lain dalam mengusahakan anak mau makan sayur-sayuran?</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="go to this clipmark" href="http://clipmarks.com/clipmark/9CE96C71-B526-44E2-AA4C-EEFE3D9CA776/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/1eda873c-38e3-4e6e-bbe9-a7fa1200af52/9CE96C71-B526-44E2-AA4C-EEFE3D9CA776/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all" href="http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all">www.nytimes.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold">Sending children out of the kitchen</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->studies suggest that involving children in meal preparation is an important first step in getting them to try new foods.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold"> Pressuring them to take a bite</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->The better approach is to put the food on the table and encourage a child to try it. But don’t complain if she refuses, and don’t offer praise if she tastes it.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold">Keeping ‘good stuff’ out of reach</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->The lesson for parents? Don’t bring foods that you feel the need to restrict into the house.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold">Dieting in front of your children</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->parents who are trying to lose weight should be aware of how their dieting habits can influence a child’s perceptions about food and healthful eating</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold">Serving boring vegetables</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->Nutritionists say parents shouldn’t be afraid to dress up the vegetables. Adding a little butter, ranch dressing, cheese sauce or brown sugar to a vegetable dish can significantly improve its kid appeal.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all --><span class="bold">Giving up too soon </span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.nytimes.com/2008/09/15/health/healthspecial2/15eat.html?_r=2&amp;oref=slogin&amp;partner=rssnyt&amp;emc=rss&amp;adxnnlx=1221849236-rnfeYOd/xv/5gIYy3nnCfA&amp;pagewanted=all -->In young children, it may take 10 or more attempts over several months to introduce a food.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/9CE96C71-B526-44E2-AA4C-EEFE3D9CA776/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content6.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in kesehatan, parenting Tagged: anak, gizi, makan, nutrisi, sayur <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=298&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/19/6-cara-membuat-anak-suka-makan-sayur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/1eda873c-38e3-4e6e-bbe9-a7fa1200af52/9CE96C71-B526-44E2-AA4C-EEFE3D9CA776/" medium="image" />

		<media:content url="http://content6.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anjing yang Punya Rasa Keadilan</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/17/anjing-yang-punya-rasa-keadilan/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/17/anjing-yang-punya-rasa-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 07:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[behaviorisme]]></category>
		<category><![CDATA[hewan]]></category>
		<category><![CDATA[anjing]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/17/anjing-yang-punya-rasa-keadilan/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika diperlakukan tidak adil, hewan pun bisa protes. Dalam eksperimen yang dilakukan seorang peneliti dari University of Viena, Austria, anjing yang sudah dilatih untuk melakukan sebuah atraksi (misalnya, mengambil ranting yang dilempar) akan &#8216;ngambek&#8217; ketika ia tidak diberi hadiah, padahal ia melihat anjing lain yang melakukan atraksi sama diberi hadiah.
Menariknya, hadiahnya sendiri tidak perlu sama-sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=296&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika diperlakukan tidak adil, hewan pun bisa protes. Dalam eksperimen yang dilakukan seorang peneliti dari University of Viena, Austria, anjing yang sudah dilatih untuk melakukan sebuah atraksi (misalnya, mengambil ranting yang dilempar) akan &#8216;ngambek&#8217; ketika ia tidak diberi hadiah, padahal ia melihat anjing lain yang melakukan atraksi sama diberi hadiah.</p>
<p>Menariknya, hadiahnya sendiri tidak perlu sama-sama adil. Si anjing tidak ngambek ketika temannya diberi daging sementara ia mendapat roti; asalkan diberi sesuatu, ia sudah cukup senang dan merasa diperlakukan adil.</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="go to this clipmark" href="http://clipmarks.com/clipmark/DE48D88D-38C8-45FE-AD47-8003DF4EEDFC/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/03c3d697-40b8-4de2-805d-c3aba28a1b3b/DE48D88D-38C8-45FE-AD47-8003DF4EEDFC/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://www.newsweek.com/id/172877/output/print" href="http://www.newsweek.com/id/172877/output/print">www.newsweek.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.newsweek.com/id/172877/output/print -->No fair! What parent hasn&#8217;t heard that from a child who thinks another youngster got more of something? Well, it turns out dogs can react the same way. Ask them to do a trick and they&#8217;ll give it a try. For a reward, sausage say, they&#8217;ll happily keep at it. But if one dog gets no reward, and then sees another get sausage for doing the same trick, just try to get the first one to do it again. Indeed, he may even turn away and refuse to look at you.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.newsweek.com/id/172877/output/print -->&#8220;Animals react to inequity,&#8221; said Friederike Range of the University of Vienna, Austria, who led a team of researchers testing animals at the school&#8217;s Clever Dog Lab. &#8220;To avoid stress, we should try to avoid treating them differently.&#8221;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.newsweek.com/id/172877/output/print -->Similar responses have been seen in monkeys.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.newsweek.com/id/172877/output/print -->One thing that did surprise the researchers was that — unlike primates — the dogs didn&#8217;t seem to care whether the reward was sausage or bread.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://www.newsweek.com/id/172877/output/print -->And the dogs never rejected the food, something that primates had done when they thought the reward was unfair.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/DE48D88D-38C8-45FE-AD47-8003DF4EEDFC/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in behaviorisme, hewan Tagged: anjing, belajar, binatang <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=296&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/17/anjing-yang-punya-rasa-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/03c3d697-40b8-4de2-805d-c3aba28a1b3b/DE48D88D-38C8-45FE-AD47-8003DF4EEDFC/" medium="image" />

		<media:content url="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggunakan Sindiran untuk Mendeteksi Dementia</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/14/menggunakan-sindiran-untuk-mendeteksi-dementia/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/14/menggunakan-sindiran-untuk-mendeteksi-dementia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 10:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[abnormal]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[klinis]]></category>
		<category><![CDATA[kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[manula]]></category>
		<category><![CDATA[nonverbal]]></category>
		<category><![CDATA[penuaan]]></category>
		<category><![CDATA[penuaan dini]]></category>
		<category><![CDATA[sarkas]]></category>
		<category><![CDATA[satir]]></category>
		<category><![CDATA[sindir]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/14/menggunakan-sindiran-untuk-mendeteksi-dementia/</guid>
		<description><![CDATA[Latar belakang sedikit: Salah satu tanda umum penuaan adalah berkurangnya fungsi kognitif: Sering lupa, ngomong mulai nggak lancar, perhatian susah fokus, atau kesulitan mengerjakan hal-hal yang membutuhkan kerja keras otak. Kalau tanda-tanda itu sudah muncul sebelum jadi manula (biasanya digolongkan sebagai yang 65 tahun ke atas), sebutannya adalah dementia.
Nah, beberapa peneliti dari Australia (UNSW) menemukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=287&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Latar belakang sedikit: Salah satu tanda umum penuaan adalah berkurangnya fungsi kognitif: Sering lupa, ngomong mulai nggak lancar, perhatian susah fokus, atau kesulitan mengerjakan hal-hal yang membutuhkan kerja keras otak. Kalau tanda-tanda itu sudah muncul sebelum jadi manula (biasanya digolongkan sebagai yang 65 tahun ke atas), sebutannya adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dementia">dementia</a>.</p>
<p>Nah, beberapa peneliti dari Australia (UNSW) menemukan metode unik untuk mendeteksi salah satu gejala penuaan dini ini: sarkasme. Dari studi mereka, dementia membuat penderitanya jadi tidak sensitif terhadap bahasa non-verbal dan makna ganda atau tersembunyi dalam pembicaraan; akibatnya, merekapun sering dianggap menjengkelkan atau tidak punya empati oleh orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Sayangnya, para peneliti itu hanya melakukan eksperimen dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga belum diketahui apakah dementia juga mempengaruhi sensitivitas mereka terhadap sarkasme tertulis, misalnya seperti <a href="http://id.wordpress.com/tag/satir/">beberapa blog satir yang ada di ranah WordPress Indonesia ini</a>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="go to this clipmark" href="http://clipmarks.com/clipmark/37ECF9CF-2007-4DF5-B229-49BAAA7FE89F/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/4932bb51-e09c-4aa7-b666-5aeaf651db21/37ECF9CF-2007-4DF5-B229-49BAAA7FE89F/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia" href="http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia">news.yahoo.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia --><br />
Researchers at the <span class="yshortcuts">University of New South Wales</span> found that patients under the age of 65 suffering from frontotemporal dementia (FTD), the second most common form of dementia, cannot detect when someone is being sarcastic.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia -->&#8220;This is significant because if care-givers are angry, sad or depressed, the patient won&#8217;t pick this up. It is often very upsetting for family members,&#8221; said <span class="yshortcuts">John Hodges</span>, the senior author</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia -->&#8220;(FTD) patients present changes in personality and behaviour. They find it difficult to interact with people, they don&#8217;t pick up on social cues, they lack empathy, they make bad judgements,&#8221;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia -->&#8220;People with FTD become very gullible and they often part with large amounts of money,&#8221;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia -->&#8220;One of the things about FTD patients is that they don&#8217;t detect humour &#8212; they are very bad at double meaning and a lot of humour (other than sarcasm) is based on double meaning,&#8221;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://news.yahoo.com/s/afp/20081212/hl_afp/healthaustraliadementia --><br />
The sarcasm test could replace some more expensive and less widely available tests for dementia, he said.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/37ECF9CF-2007-4DF5-B229-49BAAA7FE89F/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content8.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in abnormal, kesehatan mental, klinis, kognitif, komunikasi, perkembangan, sosial Tagged: bahasa, humor, linguistik, manula, nonverbal, penuaan, penuaan dini, sarkas, satir, sindir, tua <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/287/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=287&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/14/menggunakan-sindiran-untuk-mendeteksi-dementia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/4932bb51-e09c-4aa7-b666-5aeaf651db21/37ECF9CF-2007-4DF5-B229-49BAAA7FE89F/" medium="image" />

		<media:content url="http://content8.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibadah Haji Membuat Umat Islam Lebih Toleran dan Pro-Perempuan</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/11/ibadah-haji-membuat-umat-islam-lebih-toleran-dan-pro-perempuan/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/11/ibadah-haji-membuat-umat-islam-lebih-toleran-dan-pro-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 11:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[lintas budaya]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[mekkah]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/11/ibadah-haji-membuat-umat-islam-lebih-toleran-dan-pro-perempuan/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah studi yang melibatkan 1600 orang Pakistan, Asim Ijaz Khwaja dari Harvard University menemukan bahwa mereka  yang pernah melakukan ibadah haji menjadi lebih toleran dan berpandangan positif, tidak hanya terhadap umat muslim dari negara lain, tapi juga terhadap umat non-muslim. Tak hanya itu, mereka juga lebih mendukung pemberdayaan perempuan, seperti perlunya pendidikan bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=285&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam sebuah studi yang melibatkan 1600 orang Pakistan, Asim Ijaz Khwaja dari Harvard University menemukan bahwa mereka  yang pernah melakukan ibadah haji menjadi lebih toleran dan berpandangan positif, tidak hanya terhadap umat muslim dari negara lain, tapi juga terhadap umat non-muslim. Tak hanya itu, mereka juga lebih mendukung pemberdayaan perempuan, seperti perlunya pendidikan bagi anak perempuan dan hak wanita untuk bekerja.</p>
<p>Apakah hasil ini juga berlaku pada para haji dan hajjah asal Indonesia? Menurut Khwaja, bisa jadi para jemaah haji Pakistan itulah yang terpengaruh oleh populasi jemaah haji asal Asia Tenggara yang relatif lebih liberal dan jumlahnya jauh lebih banyak. Sementara itu, menurut saya pribadi, harus dicari tahu pula pengaruh tingkat kemampuan ekonomi (tentu kita tahu besarnya biaya naik haji) mempengaruhi perubahan itu, juga adakah perbedaannya antara pergi berhaji ke Arab Saudi dengan liburan jalan-jalan ke negeri yang lain.</p>
<p>Bagaimana dengan pengalaman anda atau orang-orang terdekat anda? Apakah pergi berhaji mengubah anda atau mereka menjadi seseorang yang lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk?</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="clipmarks' clip-to-blog" href="http://clipmarks.com/clip-to-blog/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/74f8f5ee-cccc-4f96-b829-08bd1dbdb4cf/C51EEBCC-1F2B-46C5-A930-43768B8DFC84/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/" href="http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/">edition.cnn.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->Muslims who undertake the hajj &#8220;return with more positive views towards people from other countries,&#8221; are more likely to say &#8220;that people of different religions are equal,&#8221; and are twice as likely as other religious Muslims to condemn Osama bin Laden, the study found.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->&#8220;People become more orthodox yet more tolerant,&#8221; one of the study&#8217;s authors, Asim Ijaz Khwaja of Harvard University</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->Hajjis are also more likely to back education for girls and work for women, the study found.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->Going on the hajj, which all Muslims must do at least once if they are able, can also embolden women to challenge religious authority when they return home.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->Khwaja chuckled at the Mark Twain quote: &#8220;Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.&#8221; But Khwaja said it was not simply travel that changed pilgrims &#8212; it was seeing unfamiliar practices in the holiest of settings.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://edition.cnn.com/2008/LIVING/12/08/hajj.tolerance/ -->And indeed, Khwaja said, going on the hajj makes pilgrims less likely to observe strictly local customs, such as the use of amulets.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/C51EEBCC-1F2B-46C5-A930-43768B8DFC84/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in agama, gender, lintas budaya Tagged: haji, islam, mekkah, muslim, pakistan, perempuan, toleransi, wanita <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=285&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/11/ibadah-haji-membuat-umat-islam-lebih-toleran-dan-pro-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/74f8f5ee-cccc-4f96-b829-08bd1dbdb4cf/C51EEBCC-1F2B-46C5-A930-43768B8DFC84/" medium="image" />

		<media:content url="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persahabatan dan Kebahagiaan yang Menular</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/12/06/persahabatan-dan-kebahagiaan-yang-menular/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/12/06/persahabatan-dan-kebahagiaan-yang-menular/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 02:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi positif]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tetangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/12/06/persahabatan-dan-kebahagiaan-yang-menular/</guid>
		<description><![CDATA[Persahabatan ternyata tidak hanya mengubah ulat menjadi kupu-kupu, tapi juga bisa membuat anda lebih bahagia. Ya, mungkin anda yang sering ditraktir ulang tahun atau datang ke resepsi pernikahan menganggap ini pengetahuan basi, tapi penelitian ilmiah mengenai kebahagiaan dengan skala sebesar ini (lebih dari 4700 orang dalam jangka waktu 20 tahun!) jarang sekali dilakukan sehingga rasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=278&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Persahabatan ternyata tidak hanya mengubah ulat menjadi kupu-kupu, tapi juga bisa membuat anda lebih bahagia. Ya, mungkin anda yang sering ditraktir ulang tahun atau datang ke resepsi pernikahan menganggap ini pengetahuan basi, tapi penelitian ilmiah mengenai kebahagiaan dengan skala sebesar ini (lebih dari 4700 orang dalam jangka waktu 20 tahun!) jarang sekali dilakukan sehingga rasanya patut dibahas sedikit.</p>
<p>James Fowler dan Nicholas Christakis, dua orang peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa perasaan bahagia kita banyak dipengaruhi oleh perasaan bahagia orang lain yang kita kenal lewat pelbagai bentuk hubungan sosial. Penyebaran ini utamanya terjadi melalui hubungan pertetanggaan dan pertemanan.</p>
<p>Ya, menurut penelitian ini, tetangga dan sahabat yang tinggal dalam jarak 1 mil lebih bisa membuat kita ikut bahagia (34% dan 25%) dibanding pasangan (8%), saudara (14%), apalagi rekan kerja biasa (0%) yang tinggal dalam jarak yang sama (jika mengabaikan jarak, efek rata-ratanya menjadi 9%) . Ditambah lagi, kekuatan peningkatan kebahagiaan akibat efek penyebaran ini dapat menyebar hingga tiga level berikutnya (sampai ke temannya temannya teman anda) dan bertahan hingga setahun.</p>
<p>Faktor-faktor apa lagi yang berperan dalam penyebaran kebahagiaan ini? Ada faktor jenis kelamin yang sama, konteks sosial yang mendukung, serta kedekatan fisik dan frekuensi kontak sosial. Satu hal yang patut dicatat dan menjadi perhatian adalah bahwa penelitian ini selesai tahun 2003, di mana ponsel dan internet belum digunakan sebanyak dan seintensif sekarang. Karena itu, mungkin saja teknologi kini dapat mengeliminasi kendala jarak yang dulu menjadi hambatan.</p>
<p>Bagaimana dengan anda? Apa anda merasa kebahagiaan anda selama ini banyak &#8216;tertular&#8217; oleh kebahagiaan orang-orang terdekat anda?</p>
<p>Lihat penelitian selengkapnya: <a href="http://www.bmj.com/cgi/content/full/337/dec04_2/a2338">Dynamic spread of happiness in a large social network: longitudinal analysis over 20 years in the Framingham Heart Study</a></p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="clipmarks' clip-to-blog" href="http://clipmarks.com/clip-to-blog/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/fe000c7a-dc08-4a87-a496-70edc6032230/668C079E-2D4D-4B71-8657-876B4F401D15/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56" href="http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56">hosted.ap.org</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56 --></p>
<p class="ap-story-p">A paper being published Friday in a British medical journal concludes that happiness is contagious &#8211; and that people pass on their good cheer even to total strangers.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56 --></p>
<p class="ap-story-p">American researchers who tracked more than 4,700 people in Framingham, Mass., as part of a 20-year heart study also found the transferred happiness is good for up to a year.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56 --></p>
<p class="ap-story-p">For this study, published in the British journal BMJ, they examined questionnaires that asked people to measure their happiness. They found distinct happy and unhappy clusters significantly bigger than would be expected by chance.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56 --></p>
<p class="ap-story-p">Happy people tended to be at the center of social networks and had many friends who were also happy. Having friends or siblings nearby increased people&#8217;s chances of being upbeat. Happiness spread outward by three degrees, to the friends of friends of friends.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/E/EU_MED_CONTAGIOUS_HAPPINESS?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT&amp;CTIME=2008-12-04-21-02-56 -->Happy spouses helped, too, but not as much as happy friends of the same gender. Experts think people, particularly woman, take emotional cues from people who look like them</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/668C079E-2D4D-4B71-8657-876B4F401D15/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content6.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in emosi, kesehatan mental, psikologi positif, sosial Tagged: bahagia, jejaring sosial, komunitas, sahabat, teman, tetangga <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=278&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/12/06/persahabatan-dan-kebahagiaan-yang-menular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/fe000c7a-dc08-4a87-a496-70edc6032230/668C079E-2D4D-4B71-8657-876B4F401D15/" medium="image" />

		<media:content url="http://content6.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Hidup Anda Terasa Seperti Reality Show?</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2008/11/26/apakah-hidup-anda-terasa-seperti-reality-show/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2008/11/26/apakah-hidup-anda-terasa-seperti-reality-show/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 14:52:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catshade</dc:creator>
				<category><![CDATA[abnormal]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[klinis]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[paranoid]]></category>
		<category><![CDATA[reality show]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[truman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/2008/11/26/apakah-hidup-anda-terasa-seperti-reality-show/</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan jiwa tidak hanya disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur kimiawi otak atau pengaruh lingkungan yang bersifat mikro seperti pola asuh orangtua atau tekanan teman-teman sebaya. Teknologi dan kemajuan zamanpun juga dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.
Kecanduan berinternet atau bermain video game, misalnya, sudah begitu meluas di kalangan anak muda sekarang sehingga muncul desakan dari berbagai praktisi agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=271&subd=popsy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gangguan jiwa tidak hanya disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur kimiawi otak atau pengaruh lingkungan yang bersifat mikro seperti pola asuh orangtua atau tekanan teman-teman sebaya. Teknologi dan kemajuan zamanpun juga dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang.</p>
<p>Kecanduan berinternet atau bermain video game, misalnya, sudah begitu meluas di kalangan anak muda sekarang sehingga muncul desakan dari berbagai praktisi agar fenomena itu dikategorikan secara resmi sebagai gangguan jiwa.</p>
<p>Televisi, yang jangkauannya lebih luas dari internet atau video game, juga dapat mempengaruhi keseimbangan mental orang-orang yang sebelumnya sudah rentan dan berisiko tinggi. Berkaitan dengan ini, satu gejala psikologis yang kini mendapat perhatian dari para ahli adalah &#8220;Truman syndrome.&#8221;</p>
<p>Anda pernah menonton film &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Truman_Show" target="_blank">The Truman Show</a>&#8220;? Dalam film itu, Truman Burbank (diperankan oleh Jim Carrey) tanpa sadar sejak lahir hidup dalam sebuah acara TV yang terus-menerus menyiarkan (dan men-skenario-kan!) segala aspek hidupnya. Sudah diduga, Truman mulai curiga ada yang tidak beres dengan hidupnya.</p>
<p>Hal yang kurang lebih serupa terjadi pada orang-orang yang menderita &#8220;Truman syndrome&#8221; ini. Mereka merasa hidup dalam sebuah film atau reality show, dan karena itu merasa diawasi dan dibuntuti kamera di mana-mana. Merekapun merasa seluruh kejadian hidup mereka sudah diskenariokan, sehingga mereka juga cenderung jadi paranoid terhadap semua orang (yang mereka anggap adalah aktor bayaran).</p>
<p>Beberapa pakar mengatakan bahwa &#8220;Truman syndrome&#8221; ini bukan sesuatu yang baru, melainkan cuma variasi gejala paranoia atau delusi biasa. Hanya saja, akibat penggunaan internet dan televisi yang semakin meluas, orang-orang yang sejak awal sudah berisiko terkena gangguan ini kemudian membumbuinya dengan ketakutan terhadap kedua media itu (yang dapat &#8216;menembus&#8217; hal-hal pribadi tanpa sepengetahuan orangnya).</p>
<table style="border:4px solid #e5e5e5;background:#ffffff none repeat scroll 0 0;font-family:arial;color:#333333;width:100%;clear:left;margin:12px 0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table class="CM_CTB_Content_Wrap" style="background-color:#ffffff;margin:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table style="border-bottom:1px solid #dcdcdc;white-space:nowrap;margin-bottom:8px;background-color:#eeeeee;background-image:url('http://clipmarks.com/images/source-bg.gif');background-repeat:repeat-x;height:24px;line-height:24px;vertical-align:middle;padding-bottom:4px;color:#666666;font-size:10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a title="clipmarks' clip-to-blog" href="http://clipmarks.com/clip-to-blog/"><img style="vertical-align:middle;display:inline;border:none;float:none;margin:0 4px;" src="http://content.clipmarks.com/blog_icon/06447f89-8daf-4677-9cd3-ed952ffc3a4a/3E6F37C8-3557-46B3-9394-F960D46D8D4A/" border="0" alt="" width="19" height="19" /></a>clipped from <a title="http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT" href="http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT">hosted.ap.org</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT --></p>
<div><img src="http://content8.clipmarks.com/blog_cache/hosted.ap.org/img/A62C1B6B-E2C1-4A8D-B17D-0A4F20E4CBCB" alt="AP Photo" /></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT --></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT -->Researchers have begun documenting what they dub the &#8220;Truman syndrome,&#8221; a delusion afflicting people who are convinced that their lives are secretly playing out on a reality TV show.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT -->Delusions tend to be classified by broad categories, such as the belief that one is being persecuted, but research has shown culture and technology can also affect them.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT -->Reality television may help such patients convince themselves their experiences are plausible</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT --></p>
<p class="ap-story-p">Ian Gold, a philosophy and psychology professor at McGill University in Montreal who has researched the matter with his brother, suggests reality TV and the Web, with their ability to make strangers into intimates, may compound psychological pressure on people who have underlying problems dealing with others.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="text-align:left;background:transparent;border:none;margin:4px 0 8px;padding:0 8px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><!-- CLIPPED FROM: http://hosted.ap.org/dynamic/stories/T/TRUMAN_SYNDROME?SITE=KYB66&amp;SECTION=HOME&amp;TEMPLATE=DEFAULT --></p>
<p class="ap-story-p">That&#8217;s not to say reality shows make healthy people delusional, &#8220;but, at the very least, it seems possible to me that people who would become ill are becoming ill quicker or in a different way,&#8221; Ian Gold said.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div style="margin:0 6px 6px 4px;">
<table style="font-size:11px;border-spacing:0;padding:0;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:transparent;border-width:0;padding:0;"></td>
<td style="background:transparent none repeat scroll 0 0;width:107px;border-width:0;padding:0;" width="107" align="right"><a title="blog or email this clip" href="http://clipmarks.com/share/3E6F37C8-3557-46B3-9394-F960D46D8D4A/blog/"><img style="border-width:0;margin:0;padding:0;" src="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" border="0" alt="blog it" width="107" height="17" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in abnormal, kesehatan mental, klinis, media Tagged: delusi, internet, paranoid, reality show, teknologi, televisi, truman <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&blog=937261&post=271&subd=popsy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2008/11/26/apakah-hidup-anda-terasa-seperti-reality-show/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49c6e79004623050d4ae22533ef030ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">Catshade</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content.clipmarks.com/blog_icon/06447f89-8daf-4677-9cd3-ed952ffc3a4a/3E6F37C8-3557-46B3-9394-F960D46D8D4A/" medium="image" />

		<media:content url="http://content8.clipmarks.com/blog_cache/hosted.ap.org/img/A62C1B6B-E2C1-4A8D-B17D-0A4F20E4CBCB" medium="image">
			<media:title type="html">AP Photo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://content7.clipmarks.com/images/c2b-foot.png" medium="image">
			<media:title type="html">blog it</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>