<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>POPsy! - Jurnal Psikologi Populer</title>
	<atom:link href="http://popsy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://popsy.wordpress.com</link>
	<description>Semua tentang pikiran dan perilaku manusia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 09:06:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='popsy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/fa49264611f8a3f1721a78207cc607b9?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>POPsy! - Jurnal Psikologi Populer</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://popsy.wordpress.com/osd.xml" title="POPsy! - Jurnal Psikologi Populer" />
	<atom:link rel='hub' href='http://popsy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Persiapan Menuju Perkawinan Bahagia</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2011/10/16/persiapan-menuju-perkawinan-bahagia/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2011/10/16/persiapan-menuju-perkawinan-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 12:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[adriana ginanjar]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Judul                     : Sebelum Janji Terucap Penulis                 : Adriana S. Ginanjar Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama Harga                    : Rp. 38.250 Format                 : softcover Halaman              : 191 Tahun Terbit      : 2011 Bahasa                  : Indonesia Kurangnya pengetahuan dan persiapan pasangan menjelang pernikahan, diyakini menjadi penyebab banyaknya masalah dalam perkawinan. Kira-kira itulah keprihatinan yang dirasakan Adriana S. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=478&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Sebelum Janji Terucap" src="http://www.gramediashop.com/images/preview/9789792275360.jpg" alt="" width="228" height="228" />Judul                     : <a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792275360/Sebelum-Janji-Terucap" target="_blank">Sebelum Janji Terucap</a></p>
<p>Penulis                 : Adriana S. Ginanjar</p>
<p>Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama</p>
<p>Harga                    : Rp. 38.250</p>
<p>Format                 : softcover</p>
<p>Halaman              : 191</p>
<p>Tahun Terbit      : 2011</p>
<p>Bahasa                  : Indonesia</p>
<p>Kurangnya pengetahuan dan persiapan pasangan menjelang pernikahan, diyakini menjadi penyebab banyaknya masalah dalam perkawinan. Kira-kira itulah keprihatinan yang dirasakan Adriana S. Ginanjar, konselor perkawinan dari Psikologi Universitas Indonesia, yang kemudian mendorongnya untuk menulis sebuah buku.<br />
<span id="more-478"></span></p>
<p>Buku terbitan Agustus 2011 ini berjudul “Sebelum Janji Terucap.” Singkatnya, buku ini berisi persiapan yang bisa dilakukan pasangan menuju pernikahan bahagia serta tips dan strategi mengelola bermacam konflik dalam rumah tangga.</p>
<p>Dalam buku ini terdapat 4 buah bab besar, yang berisi beberapa sub-bab. Bab pertama dibuka dengan pertanyaan, “Menikah, Siapkah?” Di bab ini, Mbak Adriana, begitu Saya memanggilnya di kampus, menguraikan tentang harapan-harapan dalam pernikahan, cinta, peran-peran dalam pernikahan dan juga mitos-mitos seputar perkawinan.</p>
<p>Bab berikutnya bertema pengenalan diri Anda dan juga pasangan. Disini kita diajak mengenali diri sendiri, keluarga besar pasangan serta perbedaan pria dan wanita.</p>
<p>Selanjutnya, konselor sekaligus pimpinan sekolah khusus anak autistik Mandiga ini, membeberkan keterampilan-keterampilan apa saja yang perlu dimiliki pasangan. Keterampilan pertama yaitu komunikasi. Kedua, selain bicara, pasangan juga perlu bisa mendengarkan. Selanjutnya, bagaimana mengelola konflik yang muncul. Hubungan seks juga merupakan keterampilan yang dibahas dalam buku ini. Dan keterampilan terakhir adalah pengelolaan keuangan.</p>
<p>Terakhir, buku ini ditutup dengan ciri-ciri pernikahan yang bahagia. Penulis menjelaskan 15 ciri yang bisa dijadikan pegangan dalam mencapai pernikahan bahagia, mulai dari menjaga komitmen pernikahan hingga membangun ikatan kuat dengan keluarga besar.</p>
<p>Menurut Saya, <em>endorsement</em> sampul belakang buku ini memang sangat menjelaskan kekuatan buku ini. Pertama, buku ini ditulis oleh seorang konselor perkawinan yang menyenangi dan menguasai bidangnya. Kedua, buku ini juga didasarkan pada kisah nyata serta tinjauan teoritis, sehingga isinya tetap ilmiah sekaligus membumi. Berikutnya, buku ini berisi banyak tips serta kuis-kuis yang bisa diisi bersama pasangan. Bisa jadi kegiatan menyenangkan bersama pasangan Anda, tentunya.</p>
<p>Namun disamping kekuatan-kekuatan itu, ada beberapa poin yang bisa diperbaiki dari buku ini. Bagi saya, jarak antara tulisan dengan batas kertas (<em>margin</em>) terlalu sempit, sehingga terkesan setiap halaman terlalu padat. Kedua, sampul buku ini “terlalu wanita”; warna ungu, huruf yang “berkelok-kelok romantis”, gambar pasangan pengantin dan bunga-bunga. Mungkin jika dibuat lebih “netral”, akan mampu menarik pria-pria yang juga membutuhkan pengetahuan dalam mempersiapkan dirinya untuk menikah.</p>
<p>Akhir kata, menurut saya buku ini adalah buku wajib bagi siapapun yang hendak menikah. Selain ditulis oleh pakarnya, buku ini juga berisi tips-tips yang didasarkan pada pengalaman penulis sebagai konselor serta tinjauan teoritis.  Jadi jika Anda ingin mempersiapkan pernikahan, lebih dari sekedar mempersiapkan resepsi pernikahan, bacalah buku ini!</p>
<p>*gambar diambil dari <a title="Sebelum Janji Terucap" href="http://www.gramediashop.com/images/preview/9789792275360.jpg" target="_blank">Gramedia Shop</a>.</p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/cinta/'>cinta</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kebahagiaan/'>kebahagiaan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/keluarga/'>keluarga</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/ulasan-buku/'>Ulasan Buku</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/adriana-ginanjar/'>adriana ginanjar</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/buku/'>buku</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/perkawinan/'>perkawinan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/persiapan/'>persiapan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/ulasan/'>ulasan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=478&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2011/10/16/persiapan-menuju-perkawinan-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gramediashop.com/images/preview/9789792275360.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sebelum Janji Terucap</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musisi Mengatasi Demam Panggung &#8211; bagian dua</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2011/10/14/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-dua/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2011/10/14/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 04:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[demam panggung]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[Setelah memahami apa itu demam panggung, gejala dan si musisi sendiri sebagai sumbernya, sekarang akan dijelaskan beberapa sumber lanjutan serta metode mengatasinya. Situasi Sebagai Sumber Kecemasan Sumber kedua dari demam panggung adalah situasi saat seorang musisi sedang tampil. Apapun yang bisa meningkatkan perasaan terancam dalam diri musisi, akan juga meningkatkan kecemasan yang dialami. Namun yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=463&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="bagian satu" href="http://popsy.wordpress.com/2011/10/12/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-satu/" target="_blank">Setelah memahami apa itu demam panggung, gejala dan si musisi sendiri sebagai sumbernya</a>, sekarang akan dijelaskan beberapa sumber lanjutan serta metode mengatasinya.</p>
<p><span id="more-463"></span></p>
<p><strong>Situasi Sebagai Sumber Kecemasan</strong></p>
<p>Sumber kedua dari demam panggung adalah situasi saat seorang musisi sedang tampil. Apapun yang bisa meningkatkan perasaan terancam dalam diri musisi, akan juga meningkatkan kecemasan yang dialami. Namun yang paling signifikan pengaruhnya adalah keberadaan penonton.</p>
<p>Kecemasan akan cenderung meningkat pada saat musisi berada “<em>on the spot</em>” atau jadi pusat perhatian, serta saat berhadapan dengan penonton dalam jumlah besar. Selain itu, kecemasan akan naik jika salah seorang penonton adalah orang yang penting, seperti teman, keluarga atau musisi handal. Dan terakhir, yang tak kalah membuat cemas, adalah saat musisi berhadapan dengan juri di suatu kompetisi atau audisi.</p>
<p>Ketika dihadapkan dengan kecemasan situasional, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapinya. Pertama, jika musisi punya kendali terhadap ruangan dimana dia akan tampil, dia bisa membuat pengaturan terhadap tata panggung dan tempat duduk penonton. Selain itu, ia bisa mencoba tampil duet, daripada tampil sendirian. Kedua adalah dengan latihan mental. Dalam latihan ini, musisi diminta untuk membayangkan sejelas mungkin, apa yang akan dialaminya saat tampil. Latihan ini bertujuan menyiapkan badan dan pikiran agar otomatis bertingkah laku sesuai yang diharapkan ketika latihan.</p>
<p>Cara ketiga adalah dengan mengadakan gladi bersih; memainkan seluruh musik lengkap dengan kehadiran penonton. Jika memungkinkan, bawalah penonton-penonton yang suportif, seperti keluarga atau teman-teman. Strategi keempat adalah dengan latihan secara bertahap, dari yang mudah ke yang sulit. Contohnya misalnya, bermain sebuah komposisi mudah di hadapan seorang teman, di ruang latihan. Setelah merasa nyaman, coba mainkan komposisi lain di hadapan beberapa orang, di ruangan yang lebih besar. Dan seterusnya, hingga situasi yang lebih “sulit”.</p>
<p><strong>Tugas Musikal Sebagai Sumber Kecemasan</strong></p>
<p>Sumber kecemasan terakhir adalah tugas musikal yang harus dilakukan seorang musisi. Bentuknya adalah saat seorang musisi sering mempertanyakan dirinya, “apakah saya punya kemampuan untuk memainkan suatu komposisi musik?”</p>
<p>Memang, banyak dari kita percaya bahwa jika kita ingin berkembang, harus mendorong diri melebihi batas. Bagi sebagian musisi, hal tersebut bisa terwujud. Namun bagi sebagian lagi, kepercayaan itu justru akan berubah menjadi mimpi buruk. Mereka akan menghabiskan waktu latihan demi penguasaan teknis musik, dan tak punya waktu untuk menginterpretasi musik tersebut, sehingga tidak akan bisa berekspresi maksimal.</p>
<p>Kunci bagi musisi untuk menghadapi tekanan dari tugas musikal ini adalah dengan mencari keseimbangan antara tugas musikal dengan kemampuan yang dimiliki. Musisi harus realistis saat memilih musik yang akan dibawakan, baik itu dalam hal waktu dan usaha ketika mempersiapkannya. Jangan memilih musik dengan komposisi sulit jika harus tampil keesokan harinya. Selain itu, untuk menambah motivasi, musisi bisa memilih musik/lagu/komposisi yang mereka suka atau nikmati.</p>
<p><strong>Hadapi Tantangan</strong></p>
<p>Demam panggung sangatlah tak terhindarkan bagi seorang musisi, namun bukan tanpa solusi. Itu adalah tantangan bagi setiap penampil. Mengubah pola pikir, mengendalikan situasi sebelum tampil dan juga realistis dalam pemilihan komposisi yang akan dibawakan, menjadi beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menhadapinya. Harapannya, dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, seseorang akan bisa menampilkan musik dengan benar, sekaligus mampu mengekspresikan diri di hadapan penonton.</p>
<p>Selamat mencoba!</p>
<p><strong>Rujukan</strong></p>
<p>Lehman, Andreas C., Sloboda, John A., Woody, Robert H. <em>Psychology for Musicians</em>. 2007. New York: Oxford University Press.</p>
<p>Wikipedia <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Rubinstein" target="_blank">Artur Rubinstein</a> &#8211; diakses pada 17 September 2011</p>
<p>Wikipedia <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Horowitz" target="_blank">Vladimir Horowitz</a> &#8211; diakses pada 17 September 2011</p>
<p>Wikipedia <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Barbra_Streisand" target="_blank">Barbra Streisand</a> &#8211; diakses pada 17 September 2011</p>
<p>Wikipedia <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_lennon" target="_blank">John Lennon</a> &#8211; diakses pada 17 September 2011</p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kecemasan/'>kecemasan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/musik/'>musik</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/demam-panggung/'>demam panggung</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/kecemasan/'>kecemasan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/musisi/'>musisi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/463/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=463&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2011/10/14/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Musisi Mengatasi Demam Panggung &#8211; bagian satu</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2011/10/12/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-satu/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2011/10/12/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 04:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[demam panggung]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal menyenangkan bagi seorang musisi adalah bermain musik dan menampilkankannya di depan penonton. Bisa mengekspresikan diri lewat musik, membagikan musiknya dan menerima energi kembali dari penonton itu seperti menjadi ‘candu’ bagi mereka. Namun tak selamanya yang terjadi bisa seideal itu, akibat munculnya performance anxiety atau kecemasan penampilan atau biasa dikenal dengan demam panggung. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=461&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu hal menyenangkan bagi seorang musisi adalah bermain musik dan menampilkankannya di depan penonton. Bisa mengekspresikan diri lewat musik, membagikan musiknya dan menerima energi kembali dari penonton itu seperti menjadi ‘candu’ bagi mereka. Namun tak selamanya yang terjadi bisa seideal itu, akibat munculnya <em>performance anxiety</em> atau kecemasan penampilan atau biasa dikenal dengan demam panggung. Alih-alih merasakan kesenangan bermusik, seorang musisi justru merasakan stres hingga kemudian merusak penampilan mereka.</p>
<p>Lalu, bagaimana seorang musisi bisa mengatasi demam panggung itu?</p>
<p><span id="more-461"></span></p>
<p><strong>Apa Itu Demam Panggung?</strong></p>
<p>Demam panggung bisa dialami siapa saja, mulai dari anak yang baru belajar musik, remaja, dewasa dan bahkan musisi-musisi besar. Beberapa musisi besar yang diketahui mengalami demam panggung ini adalah pianis <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Rubinstein" target="_blank">Artur Rubinstein</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vladimir_Horowitz" target="_blank">Vladimir Horowitz</a> serta penyanyi populer <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Barbra_Streisand" target="_blank">Barbra Streisand</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_lennon" target="_blank">John Lennon</a>. Psikolog biasa mendefinisikan demam panggung ini dari sumber serta kondisi yang dihasilkannya. G.D. Wilson dan D. Roland berhasil mengidentifikasi 3 sumbernya, yaitu <strong>orang yang bersangkutan</strong>, <strong>situasi</strong> dan <strong>tugas musikalnya</strong>. Bagian setelah ini adalah penjelasan terkait ketiga sumber tersebut.</p>
<p><strong>Gejala Demam Panggung</strong></p>
<p>Jika seseorang mengalami demam panggung, gejala fisik yang dialami mirip dengan gejala ketika seseorang sedang terancam atau takut. Contohnya seperti: jantung berdetak kencang, keringat berlebih, kurang nafas, mulut kering, mual, sakit perut, otot tegang, tangan bergetar hingga pandangan yang mengabur.</p>
<p>Gejala-gejala ini kemudian yang akan menurunkan kualitas penampilan seorang musisi. Misalnya, gangguan penglihatan yang disebabkan membesar dan mengecilnya pupil, bisa saja membuat seorang musisi tidak bisa membaca partitur di hadapannya. Atau, ketegangan otot dan tangan gemetar bisa membuat pemain gitar tidak bisa menekan senar di nada yang tepat.</p>
<p>Untuk mengatasi gejala ini, solusinya adalah dengan melakukan relaksasi. Relaksasi bisa dilakukan dengan tarik nafas dalam-dalam sebelum tampil atau dengan mengencangkan lalu mengendurkan otot berulang-ulang dalam beberapa saat. Selain relaksasi, bisa juga dengan mengkonsumsi obat. Namun, perlu diwaspadai bahwa obat-obatan ini bisa menimbulkan efek samping, seperti menurunnya sensitivitas mengekspresikan diri, khususnya jika dikonsumsi dalam jumlah besar.</p>
<p><strong>Orang Sebagai Sumber Kecemasan</strong></p>
<p>Mengatasi gejala fisik seringkali tak sepenuhnya menghilangkan demam panggung. Bagaimana seorang musisi berpikir; sikap, kepercayaan, penilaian dan tujuan, juga berpengaruh dalam penciptaan kecemasan. Sumber pertama adalah kecenderungan untuk menjadi cemas, yang merupakan dampak dari <em>self-handicapping </em>(penghambatan diri) dan perfeksionisme. Penghambatan diri adalah ketika seorang musisi terlalu memikirkan bagaimana opini/penilaian orang lain terhadap dirinya. Sedangkan perfeksionisme adalah ketika seorang musisi memiliki harapan tidak realistis terhadap dirinya sendiri.</p>
<p>Untuk bisa mengatasinya, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yaitu: (1) belajar menerima kecemasan dalam kadar tertentu dan juga kesalahan-kesalahan kecil selama tampil; (2) menghargai proses saat tampil daripada sibuk dengan pendapat penonton; dan (3) musisi belajar untuk mengenali pemikiran-pemikiran yang tidak realistis atau tidak produktif, dan menggantinya dengan pemikiran-pemikiran yang realistis dan fokus pada tugas yang harus dilakukan. Bentuknya adalah dengan <em>self</em>-<em>talk</em>, atau bicara pada diri sendiri. Contohnya, musisi diminta mengganti pikiran-pikiran kritis seperti &#8220;Nanti bagaimana jika ada bagian yang lupa?&#8221; atau &#8220;Saya harus tampil sempurna,&#8221; dengan pernyataan konstruktif seperti “Saya sudah mempelajari lagu ini secara utuh dan sudah sangat siap membawakannya” atau “Saya perlu konsentrasi dalam menjaga tempo.”</p>
<p style="text-align:right;"><a title="bagian dua" href="http://popsy.wordpress.com/2011/10/14/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-dua/" target="_blank"><em>bersambung&#8230;</em></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kecemasan/'>kecemasan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/musik/'>musik</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/demam-panggung/'>demam panggung</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/kecemasan/'>kecemasan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/musisi/'>musisi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/461/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=461&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2011/10/12/musisi-mengatasi-demam-panggung-bagian-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Perubahan</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/menghadapi-perubahan/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/menghadapi-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 15:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danika</dc:creator>
				<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi positif]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa muda]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu sore di bulan Juli, saya dan beberapa teman yang baru saja selesai sidang tugas akhir berkumpul dan mengobrol santai. Topik pembicaraan yang  kami angkat tidak spesifik, namun secara natural topik ‘apa yang akan saya lakukan setelah ini?’ muncul ke permukaan. Salah satu teman mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan diri untuk menjadi ibu rumah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=443&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="kupu-kupu, hewan perlambang perubahan" src="http://www.clearwaterscounselling.com/photos/uncategorized/2008/04/06/butterfly_emerging2_5.jpg" alt="" width="413" height="286" /></p>
<p>Di suatu sore di bulan Juli, saya dan beberapa teman yang baru saja selesai sidang tugas akhir berkumpul dan mengobrol santai. Topik pembicaraan yang  kami angkat tidak spesifik, namun secara natural topik ‘apa yang akan saya lakukan setelah ini?’ muncul ke permukaan.</p>
<p>Salah satu teman mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya mengurus anak dan suami, teman lain mengatakan bahwa ia akan segera mencari pekerjaan sebelum ia sibuk dengan persiapan pernikahannya, satu teman lagi (yang single) bercerita cara-cara menjawab pertanyaan keluarganya seperti ‘kapan bekerja?’ ‘kapan menikah’ dan kapan, kapan lainnya.</p>
<p><span id="more-443"></span>Walau semuanya memiliki rencana sendiri-sendiri, yang pasti kami semua menghadapi satu hal, perubahan. Kami bukan mahasiswa lagi. Kamu sudah tidak bisa bersembunyi di balik kata ‘masih sekolah’ ‘ sibuk mengerjakan tugas’ ‘harus belajar’. Bab itu sudah selesai, di tutup, sekarang ada bab lain yang musti ditulis. Saya termasuk segelintir orang yang masih merasa limbung dengan perubahan ini. Di dalam pikiran saya berkecamuk berbagai hal seperti ada peran baru yang perlu diadopsi, ada tugas baru yang menanti, ada kewajiban baru yang musti dipenuhi. Karena perubahan merupakan sesuatu yang HARUS terjadi, dan saya HARUS bisa secepatnya menyesuaikan diri</p>
<p>Cerita diatas hanya contoh dari pengalaman pribadi. Manusia pada umumnya, terutama para dewasa muda akan mengalami masa-masa kritis yang dapat mengubah kehidupan. Beberapa masa kritis tersebut di teliti oleh Holland (2009)  adalah; masalah keluarga (diusir dari rumah, orangtua di PHK, perceraian), penyakit atau kehilangan karena penyakit (diagnosis terkena penyakit kronis, orangtua meninggal, keguguran), pindah (rumah, kota, negara), masalah pendidikan (tes, tugas akhir, <em>bullying</em> dsb), masalah kriminal. Ada juga perubahan yang menandakan kedewasaan seperti, menemukan agama dan menemukan orientasi seksual.</p>
<p>Perubahan-perubahan diatas terkadang tidak bisa dihindari dan harus bisa dihadapi. Bila tidak, maka stres akan menumpuk dan kehidupan akan menjadi stagnan. Jadi, ketika perubahan merupakan suatu keharusan, apa yang bisa kita lakukan?</p>
<p>Abigail Brenner, seorang psikiater dan penulis  menuliskan lima tips untuk merespon perubahan secara efektif.</p>
<p><strong>Pertahankan perspektif </strong></p>
<p>Seperti ketika kita sedang menikmati lukisan,<strong> </strong>ambil satu langkah ke mundur dan lihat gambaran keseluruhannya.   Seperti sebuah lukisan, perubahan adalah detail-detail yang dialami dalam membentuk gambaran kehidupan. Dengan mempertahankan perspektif, kita dapat menghindari respon emosional yang berlebihan.</p>
<p><strong>Latihlah 5 P (Patience, Persistent, Practical, Positive, Purpose) </strong></p>
<p><em>Patience</em> : perubahan adalah proses, hasilnya tidak langsung terlihat. Jangan impulsif dan ingin secepat-cepatnya mencapai hasil yang diinginkan. Berikan waktu yang masuk akal untuk melihat prosesnya, cobalah untuk bersabar.</p>
<p><em>Persistent</em> : Sangat mudah untuk menyerah bila perubahan terasa berat, masa depan terlihat gelap  dan stress mulai membebani. Bertahan dan jangan menyerah, siapa tahu hasil yang diinginkan hanya tinggal selangkah lagi.</p>
<p><em>Practical</em> : Tidak usah terlalu terokupasi dengan perubahan yang terjadi dan dampaknya ke masa depan. Pertahankan perspektif dan hiduplah di masa kini. Dengan demikian kita dapat  mempertahankan keseimbangan dan tidak merasa limbung.</p>
<p><em>Positive</em> : Coba memandang perubahan secara optimis.  Sadari bahwa ada dinamika yang akan dihadapi, ada yang naik dan ada yang turun. Berpikir secara realistis. Dengan menyadari naik turunnya keadaan dapat membantu untuk tetap fokus dan mempertahankan komitmen. Berpikirlah secara terbuka terhadap kemungkinan yang terjadi, belajar menjadi fleksibel, tetap termotivasi, dan pertahankan selera humur yang akan membantu dalam menghadapi gempuran yang menantang kebertahanan.</p>
<p><em>Purpose</em> : Sadari dasar dan tujuan hidup. Dengan mengetahui tujuan besar yang ingin dicapai, maka akan membantu ketika manghadapi transisi.  Gunakan tujuan ini sebagai kompas agar tidak terseret oleh arus perubahan.</p>
<p><strong>Fokuslah pada identitas dirimu dan apa yang kamu dibutuhkan</strong></p>
<p>Tips ketiga ini<strong> </strong>lebih mudah dikatakan daripada dipraktekkan. Sungguh sulit untuk mempertahankan fokus mengenai diri sendiri karena kita biasanya mengidentifikasi melalui hal yang eksternal. Contohnya seperti ‘saya adalah seorang akuntan’, ‘saya adalah pacar X’, ‘saya manajer di perusahaan Y’, ‘saya seorang dengan status ekonomi yang mapan’.  Hal ini terutama terasa sulit bila perubahan yang dialami berkaitan dengan hal eksternal yang sangat melekat sebagai identitas diri, seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga terdekat, atau putusnya hubungan romantis.</p>
<p>Menemukan ‘diri’  dan ‘keinginan diri’ yang ajeg dapat membantu dalam menghadapi perubahan dunia eksternal. Temukan ‘diri’ selain sebagai pacarnya X, atau karyawan perusahaan Y. Ketika ‘diri’ dapat mandiri dari segala faktor yang eksternal, kita dapat berubah dan berkembang tanpa kehilangan jadi diri yang inti.</p>
<p><strong>Perhatikan keyakinanmu terhadap perubahan. </strong></p>
<p>Disadari atau tidak, cara kita dalam menghadapi masalah berkaitan dengan didikan keluarga dan pandangan budaya yang melekat sejak kecil. Perubahan dapat dipandang secara positif maupun negatif tergantung pada kepercayaan kita yang sudah terbentuk di awal kehidupan. Terkadang perubahan menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan perasaan bersalah. Tanyakan pada diri sendiri, apakah perubahan ini membuat saya tidak nyaman? apakah perubahan ini merupakan suatu kerepotan yang tidak perlu? Apakah pertanyaan itu berasal dari diri sendiri atau didikan dari kecil? Bila keyakinan terhadap perubahan sudah dipahami, kita akan mengerti mengapa kita memiliki cara tertentu dalam menhadapi perubahan.</p>
<p><strong>Gunakan sebanyak mungkin waktu yang kamu butuhkan sebelum memberi respon. </strong></p>
<p>Biasanya manusia dengan cepat bereaksi terhadap sesuatu hal tanpa dapat mempertanggung jawabkan perilakunya. Seperti seseorang yang terburu-buru mencari pengganti setelah diputuskan oleh pacarnya. Daripada berpikir cara bereaksi paling cepat terhadap situasi, pahami perilaku apa yang perlu dilakukan  dan ambil keputusan secara bertanggung jawab. Jangan sampai keputusan yang terburu-buru menimbulkan penyesalan di kemudian hari.</p>
<p>Lima tips diatas merupakan cara ideal yang dapat dipraktekkan dalam menghadapi perubahan. Penggunaannya dapat berbeda-beda tiap orang tergantung pada kepribadian dan konteks. Pada akhirnya semua kembali kepada diri sendiri. Sering kali, perubahan terasa menyakitkan karena kita terancam kehilangan sesuatu yang telah sekian lama membuat kita nyaman. Tapi bila sudah saatnya berubah, maka suka atau tidak, kita harus menghadapinya dan bagaimana kita bereaksi dalam menghadapi perubahan dapat kita putuskan sendiri.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sumber</span></strong> :</p>
<p><em>Tips</em> : Brenner, Abigail. 5 tips to help you respond effectively  to change. (July  5, 2011) <a href="http://www.psychologytoday.com/blog/in-flux/201107/5-tips-help-you-respond-effectively-change">http://www.psychologytoday.com/blog/in-flux/201107/5-tips-help-you-respond-effectively-change</a></p>
<p><em>Penelitian</em> : Holland, Janet. Change and continuity in young people’s lives: Biography in Context. Dalam Mancini &amp; Roberto.(2009). Pathways of Human Development.  Plymouth : Lexington Books.</p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/perkembangan/'>perkembangan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/psikologi/'>psikologi</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/psikologi-positif/'>psikologi positif</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/tips/'>tips</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/dewasa-muda/'>dewasa muda</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/perkembangan/'>perkembangan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/perubahan/'>perubahan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/tips/'>tips</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=443&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/menghadapi-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6e653ec3d93b677c1f21181e6bdcfb91?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">sensinglife</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.clearwaterscounselling.com/photos/uncategorized/2008/04/06/butterfly_emerging2_5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kupu-kupu, hewan perlambang perubahan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Psikolog Jadi Pembuat Kue</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/dari-psikolog-jadi-pembuat-kue/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/dari-psikolog-jadi-pembuat-kue/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 13:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[baker]]></category>
		<category><![CDATA[cupcakes]]></category>
		<category><![CDATA[psikolog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[“Lalu (gelar) S2-nya mau diapain?” Begitulah komentar yang diterima Andita Saviera (28) saat memutuskan meninggalkan aktivitas sebagai psikolog dan menjadi seorang pembuat kue. Namun ia tetap melaju menjalani hasrat hatinya itu dan menemukan kegembiraan dalam profesi barunya. Ibu dari Naura Khalila (2,5) ini pada mulanya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selepas lulus tahun 2005, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=423&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Lalu (gelar) S2-nya mau <em>diapain</em>?”</p>
<p>Begitulah komentar yang diterima Andita Saviera (28) saat memutuskan meninggalkan aktivitas sebagai psikolog dan menjadi seorang pembuat kue. Namun ia tetap melaju menjalani hasrat hatinya itu dan menemukan kegembiraan dalam profesi barunya.</p>
<p><span id="more-423"></span></p>
<p>Ibu dari Naura Khalila (2,5) ini pada mulanya adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selepas lulus tahun 2005, ia langsung lanjutkan ke jenjang profesi dan mendapatkan gelar psikolog di tahun 2007. Setahun sebelumnya, ia telah menikah dengan salah satu teman kampusnya.</p>
<p>Begitu menjadi psikolog, ia lalu bekerja di sebuah klinik psikologi di kawasan Ragunan. Di situ ia mulai menangani klien. Ia mengaku memang berambisi menjadi psikolog.</p>
<p>“Sejak dulu <em>tuh</em> mikirnya <em>pengen</em> jadi psikolog mau membantu orang pasti <em>seneng</em> gitu,” begitu alasannya. Ia pun tak mengalami masalah “hanya” dibayar seratus ribu rupiah per sesi (Rp. 80.000 ia terima, sisanya untuk bayar uang sewa tempat).</p>
<p>Namun keinginannya membantu orang lain tak bisa semulus yang dibayangkan.</p>
<p>Tak lama; satu dua bulan setelah praktik, ia pun mengandung. Kehamilan ini ternyata berdampak besar bagi Andita. Sedari kecil ia mengidap <a href="http://www.homeocan.ca/main.cfm?p=02_310&amp;l=en&amp;lexiqueID=42" target="_blank">spasmofilia</a>; sebuah kondisi akibat kekurangan magnesium dan kalsium. Kondisi ini menyebabkannya sering mengalami lemas, nyeri otot, nyeri tulang, sesak napas, sakit kepala dan bahkan diare dan kejang. Kondisi ini pula yang akhirnya membuat Andita harus berhenti beraktivitas sama sekali, termasuk praktik.</p>
<p>Selepas dari klinik, ia mulai mempelajari pembuatan aksesoris manik-manik. Ia merasa gembira ketika mengerjakannya. Akunya, sang mertua lah yang membuatnya tertarik dengan seni membuat aksesoris ini. Saat itu ia baru teringat bahwa sejak kecil ia memang senang dengan warna dan kombinasinya serta menciptakan sesuatu. Namun sayang belum pernah tersalurkan. Jadilah ia mulai menggeluti pembuatan aksesoris manik-manik. Akibatnya, minat menjadi psikolog pun menurun.</p>
<p>Lagi-lagi, kehamilan jadi halangan. Karena tak kuat untuk duduk lama, kegiatan membuat aksesoris juga terhenti. Ia juga sering keluar masuk rumah sakit karena penyakitnya.</p>
<p>Ketika akhirnya Nana (panggilan dari Naura) lahir, Andita pun memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak. Alasannya, karena ia merasa berat untuk meninggalkan Nana. Jadilah ia sering di rumah dan mencoba memasak. Di tahun 2010 lalu ia juga mencoba untuk membuat kue.</p>
<p>Ternyata ada berkah terselubung dari spasmofilia yang diidapnya. Ia merasakan kesenangan ketika memasak; saat ada komentar positif tentang masakannya. Tapi ia merasakan kesenangan yang lebih ketika membuat kue. Komentar orang lain terhadap kue bikinannya lebih positif daripada terhadap masakannya.</p>
<p>“<em>Beneran appreciation</em>-nya tuh dan itu membuat gue rasa terpenuhi <em>lah</em>, ada perasaan&#8230;puas gitu, menyenangkan, seneng,” begitu ia menggambarkan yang dirasakannya.</p>
<p>Ia kemudian mencari di internet dan menemukan ada komunitas ibu-ibu pecinta memasak. Setelah bergabung, ia menemukan ada kursus menghias kue. Dengan berbekal uang jajan dari ibu serta menahan keinginan membeli baju, ia pun bisa ikut kursus tersebut.</p>
<p>“<em>Oh my god</em>, gue suka banget!”</p>
<div id="attachment_426" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a href="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/1.jpg"><img class="size-full wp-image-426 " title="1" src="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/1.jpg?w=600" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Kue pertama</p></div>
<p>Kemudian ia mulai melakukan promosi. Teman-teman adiknya menjadi pelanggan pertama. Sebuah pesta mini diadakan untuk memperkenalkan cupcakes buatannya. Ia juga mulai melatih dirinya dalam membuat cupcakes. Hingga akhirnya Juli 2010 Andita meluncurkan nama <a href="http://mamamadecakes.blogspot.com/" target="_blank">Mamamadecakes </a>dalam bentuk blog. Di sinilah ia mulai menemukan <em>passion</em> dalam membuat kue.</p>
<div id="attachment_427" class="wp-caption aligncenter" style="width: 494px"><a href="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dsc_6844.jpg"><img class="size-full wp-image-427 " title="DSC_6844" src="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dsc_6844.jpg?w=600" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Cupcakes berornamen pertama</p></div>
<p>Pada awalnya, ayah ibu hanya bisa <em>nyengir</em> saja. Mereka berpikir kesenangan anaknya itu hanya sesaat saja. Mereka juga masih berharap Andita akan tetap menjadi psikolog. Orang-orang sekitar lainnya juga banyak yang bertanya, “jadi (gelar) S2-nya gak <em>dipake</em>?” Namun Andita tetap bulat pada keputusannya.</p>
<p>Setahun kemudian, bisnis kue pun berkembang, bahkan lebih dari yang dibayangkan Andita. Pesanan makin banyak. Yang tadinya pelanggan hanya pesan dalam hitungan satuan, kini Andita sudah pernah mengerjakan hingga 100 pesanan <em>cupcakes</em>. Mamamadecakes pun merambah ke pembuatan kue, bukan hanya <em>cupcakes</em>. Otomatis, pendapatan pun meningkat. Bahkan bisa dibilang lebih besar ketimbang pendapatannya saat menjadi psikolog. Orang tua pun mulai memberikan dukungan. Katanya, mereka akan membantu pengembangan dapur.</p>
<div id="attachment_428" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dibocupcakes.jpg"><img class="size-full wp-image-428" title="dibocupcakes" src="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dibocupcakes.jpg?w=600" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Cupcakes saat ini</p></div>
<p>Perkembangan bisnis ini ternyata juga membawa hambatan baru. Karena keseluruhan proses pembuatan kue, mulai dari membuat adonan, memasak, menghias hingga mengantar masih dilakukan sendiri, alhasil banyak waktunya tersita untuk bekerja. Ia mulai merasa bersalah karena tidak bisa bermain dengan anaknya. Bahkan ia pernah bekerja hampir seharian (20-an jam) untuk menyelesaikan pesanan dan hanya sempat beberapa kali mencium atau memeluk Nana.</p>
<p>Kesibukan luar biasa ini yang akhirnya membuat Andita mempekerjakan 2 orang asisten rumah tangga: 1 untuk mengurus rumah dan 1 untuk menjaga anak. Ia juga terpaksa harus menolak beberapa pesanan.</p>
<p>“Ini gila <em>nih</em>, gue jangan terlalu gila terima <em>pesenan</em> sampe gue lupa tujuan sebenernya gue di rumah itu kenapa,” begitu alasannya.</p>
<p>Namun ia belum berhasil menemukan rekan <em>baker</em> yang bisa membantunya.</p>
<p>“<em>Baking</em> itu adalah bagian yang sangat penting, dan itu <em>baking</em> termasuk  salah satu <em>skill</em> yang menurut gue susah, harus teliti.”</p>
<p>Meski masih menemui hambatan, Andita mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari pengalamannya. Kepuasan membuat <em>cupcakes</em> ternyata tak ditemuinya dimana-mana; ketika menjadi psikolog pun tidak. Ketika mendapatkan komentar bahagia dari pelanggan, rasanya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sedangkan ketika menghadapi klien, ia masih harus melewati berbagai macam proses (pencarian masalah, analisa dan penyembuhan). Belum tentu juga klien itu akan menerima hasilnya. Hal itu melelahkan, katanya.</p>
<p>“<em>Sometimes</em>, kita harus melewati sesuatu tertentu untuk menyatakan kita gak suka sama itu (menjadi psikolog).”</p>
<p>Ia juga punya masukan bagi siapapun untuk urusan pekerjaan. Baginya <em>passion</em> atau panggilan hati itu penting. Jika seseorang <em>passionate</em> dengan apa yang dikerjakannya, semua halangan pasti akan bisa dilewati. Justru kita akan makin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.</p>
<p>Kepekaaan terhadap kondisi pasar juga penting. Kita perlu tahu apa saja yang sedang diminati pasar. Dan menggunakan media yang diakses oleh pasar (media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan blog), pasti akan membantu jika ingin bisa bekerja dari rumah.</p>
<p>Selain itu, jangan minder dan merasa tidak bisa. Karena siapapun masih punya waktu untuk belajar. Apalagi jika orang itu senang dengan apa yang dikerjakannya.</p>
<p>Dan yang terakhir, tidak pernah ada kata terlambat jika seseorang ingin berubah atau bangkit. Lihat saja, pengalaman Andita telah berbicara dengan sendirinya.</p>
<p><strong>Rujukan</strong></p>
<p><a href="http://mamamadecakes.blogspot.com/" target="_blank">Mamamadecakes</a> &#8211; diakses pada 30 Agustus 2011.</p>
<p><a href="http://www.homeocan.ca/main.cfm?p=02_310&amp;l=en&amp;lexiqueID=42" target="_blank">Spasmophilia</a> &#8211; diakses pada 30 Agustus 2011.</p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/karir/'>karir</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kebahagiaan/'>kebahagiaan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kesehatan-mental/'>kesehatan mental</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/baker/'>baker</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/cupcakes/'>cupcakes</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/karir/'>karir</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/kebahagiaan/'>kebahagiaan</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/psikolog/'>psikolog</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=423&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2011/08/30/dari-psikolog-jadi-pembuat-kue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dsc_6844.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_6844</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://popsy.files.wordpress.com/2011/08/dibocupcakes.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dibocupcakes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senangnya Kita, Derita Mereka</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2010/11/28/senangnya-kita-derita-mereka/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2010/11/28/senangnya-kita-derita-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 01:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[dukungan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[merokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Diambilnya puntung rokok yang masih membara itu. Bapak tak sengaja meninggalkan rokok itu di dekatnya. Kala itu, Tika masih kelas 5 SD. Karena ingin mencoba seperti apa enaknya merokok, ia pun menghisapnya. Setelah asap rokok memasuki mulutnya, Tika terkejut. Katanya, merokok itu nikmat, tapi Tika justru merasakan sebaliknya. Ia terbatuk-batuk hingga mata dan hidungnya berair. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=411&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diambilnya puntung rokok yang masih membara itu. Bapak tak sengaja meninggalkan rokok itu di dekatnya. Kala itu, Tika masih kelas 5 SD. Karena ingin mencoba seperti apa enaknya merokok, ia pun menghisapnya. Setelah asap rokok memasuki mulutnya, Tika terkejut. Katanya, merokok itu nikmat, tapi Tika justru merasakan sebaliknya. Ia terbatuk-batuk hingga mata dan hidungnya berair. Sejak saat itu, Tika tidak ingin lagi merokok. Namun beda soal dengan bapaknya. Sepuluh tahun kemudian pun, bapak masih saja merokok.</p>
<p><span id="more-411"></span>Menurut Tika, yang saat ini duduk di bangku kuliah, bapak mulai merokok sejak usia 18 atau 19 tahun. Bapak mulai merokok lantaran kecewa tidak berhasil masuk Angkatan Udara Republik Indonesia, sebab ia hanya lulusan sekolah teknik menengah. Sehari, pria berusia 49 tahun itu bisa menghabiskan sebungkus rokok. Sebelum berangkat kerja, merokok. Sepulang kerja, merokok. Sebelum makan, merokok. Setelah makan, merokok lagi. Hampir setiap melakukan sesuatu, selalu diselingi dengan merokok. “Kalau tidak merokok, mulut terasa asam,” begitu kata bapak.</p>
<p>Awalnya, Tika merasa terganggu. Ia terpaksa mencium bau tak sedap di dalam rumah dan harus membersihkan abu rokok yang bertebaran dimana-mana. Apalagi ketika Tika sedang membonceng bapak yang sedang merokok. Ia pasti menghirup asap yang terhambur ke wajahnya. “Ih, Bapak jahat, kan asapnya kena mukaku” kata Tika sambil mengusir asap di wajahnya. Tika tahu akan risiko kanker atau ancaman gangguan pernapasan akibat asap rokok yang dihirupnya. Namun lama-lama, Tika menjadi biasa, atau lebih tepatnya: tak peduli dengan itu. Meskipun, dalam hati ia tetap saja terganggu.</p>
<p>Tetapi Tika bukan satu-satunya yang terganggu dengan kebiasaan bapak merokok. Ibunya pun demikian. Bahkan menurut Tika, ibu jauh lebih terganggu daripada dirinya. Ibu selalu ngomel-ngomel jika bapak merokok di dalam rumah, dan kemudian “mengusirnya” agar merokok di luar rumah. Ia sangat tidak suka dengan bau rokok. Selain itu, membeli rokok juga dianggap menghamburkan uang. Menurut ibu, lebih baik membeli baju daripada membeli rokok. Kalau kata Tika, “Jika uang untuk beli rokok selama ini dijumlah, bisa buat beli universitas. Hahahaha! ”</p>
<p>Meskipun anak dan istrinya terganggu, bapak tetap bergeming. Ia masih saja merokok, meski badannya berbau rokok, amandelnya sudah hancur, plus selalu dikomentari secara negatif oleh anak istri. Sepertinya sudah tak ada yang bisa menghentikan kebiasaannya itu. Namun kebiasaan itu akan segera berubah pada suatu malam.</p>
<p>Malam itu ada di suatu hari, sekitar tahun 2008. Saat itu bapak sedang tidur di sofa. Tanpa tahu penyebabnya, ia merasakan demam dan badannya mulai menggigil. Ketika bernafas, ia merasakan sakit. Dadanya pun terasa sakit. Karena panas yang dirasakan, ia bahkan sampai berganti baju 5 kali, karena keringat yang terus mengucuri badannya. Katanya, pada malam itu ia bermimpi sedang naik kereta. Ketika di dalam kereta, ia bertemu dengan seorang kakek berbaju putih. “Sedang apa kamu disini? Kamu belum boleh disini. Belum saatnya,” kata sang kakek. Dan bapak pun terbangun. Ibu dan Tika ada di dekatnya, namun tak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pikir bapak hanya demam biasa. Hingga akhirnya mereka tahu, setelah ada tetangga yang mengalami hal serupa.</p>
<p>Tetangga tersebut juga merasakan demam dan menggigil, seperti bapak. Ketika diperiksa dokter, tetangga itu disimpulkan mengalami serangan jantung. Bapak terkejut. “Sakitnya kemarin, ternyata tidak main-main,” pikirnya. Sejak saat itu, bapak memutuskan untuk berhenti merokok. Sebelumnya, ia memang pernah berhenti merokok, namun hanya bertahan selama sebulan. Alasannya, karena ia dipanggil “gendut” oleh keluarganya; mengingat berat badannya yang bertambah. Namun niat kali ini beda. Ia berniat ingin berhenti selamanya.</p>
<p>Tentu saja, keputusannya ini mengundang reaksi positif dari Tika, dan ibu khususnya. Bapak jadi diberikan perlakuan istimewa; dibelikan pasta gigi khusus perokok, permen karet sebagai pengganti rokok, sering dibelikan buah atau dibuatkan jus, sering diantarkan berolahraga, dan tak lagi disebut dengan panggilan “gendut”. “Bapak dan ibu jadi seperti orang pacaran lagi. Jalan-jalan bareng. Olahraga bareng. Cubit-cubitan,” begitulah Tika mengutarakan perubahan perilaku mereka setelah bapak berhenti merokok.</p>
<p>Selain karena dukungan keluarga, keinginan berhenti merokok makin kuat karena bapak mulai merasakan manfaat jika tidak merokok. Kata bapak, giginya lebih putih dan badannya pun tidak bau rokok lagi. Ia juga tidak ngos-ngosan ketika sedang berenang atau bermain bola. Dan anehnya, saat ini bapak merasa terganggu jika ada orang merokok di sekitarnya. Ia kadang mengusir orang yang sedang merokok di dekatnya dan bahkan merasa mual ketika mencium asap rokok. “Oh, begini toh, rasanya ada di sekitar perokok,” lanjutnya. Tika hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pernyataan bapaknya itu.</p>
<p>Sekarang, bapak sudah benar-benar berhenti merokok. Teman-teman bapak, seperti biasa, meragukan ketahanannya, “ah, paling cuma tahan sebulan,” begitu kata mereka. Bapak hanya tersenyum simpul dan membalasnya, “hati-hati saja kalian, jangan sampai keretanya kebablasan dan tidak berhenti,” sedikit menceritakan perihal mimpinya dulu. Ia juga membuktikan keseriusannya dengan lebih banyak berolah raga dan juga mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.</p>
<p>Tika dan keluarga termasuk salah satu keluarga yang beruntung, karena meskipun sudah hampir 30 tahun “berteman” dengan kebiasaan merokok bapak, tak ada korban jiwa melayang karenanya. Apalagi, sekarang bapak sudah berhenti merokok secara total. Namun masih banyak keluarga yang tak seberuntung mereka. Menurut WHO tahun 2008, sebanyak 1/3 orang dewasa di dunia secara rutin terekspos dengan asap rokok. Dalam asap tersebut, telah teridentifikasi 250 zat berbahaya, yang 50 diantaranya bisa menyebabkan kanker. Selain kanker, asap itu juga menimbulkan bermacam gangguan pada manusia, seperti gangguan pernapasan akut, kematian pada bayi, penyakit jantung koroner, gangguan paru-paru, asma, dan juga gangguan alat reproduksi. Di Indonesia sendiri, dari total 1,7 juta kematian di tahun 2005, sebanyak 400.000 (23,7%) orang meninggal karena rokok.</p>
<p>Oleh sebab itu, apakah kita masih ingin membuat orang-orang terdekat kita menderita karena rokok? Masihkah kita lebih memilih memuaskan keinginan untuk merokok dibanding membahagiakan mereka? Atau jangan-jangan, kita tidak tahu bahwa mereka terganggu?</p>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/kesehatan/'>kesehatan</a> Tagged: <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/dukungan-sosial/'>dukungan sosial</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/jantung/'>jantung</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/keluarga/'>keluarga</a>, <a href='http://popsy.wordpress.com/tag/merokok/'>merokok</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/411/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=411&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2010/11/28/senangnya-kita-derita-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Menit Menjadi Gelandang Jempolan</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2010/07/01/sepuluh-menit-menjadi-gelandang-jempolan/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2010/07/01/sepuluh-menit-menjadi-gelandang-jempolan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 11:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Siapa tak kenal Steven Gerrard, ikon klub sepakbola kota Liverpool? Atau Kaka, playmaker kebanggaan Brasil? Atau pemain terbaik dunia saat ini, Lionel Messi? Mereka semua adalah pemain sepabola kelas wahid. Memiliki teknik bermain sejago mereka, barangkali adalah idaman setiap pesepakbola. Namun, kadang kita juga harus realistis dengan kemampuan kita. Kita bisa jadi tidak mungkin akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=405&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa tak kenal  Steven Gerrard, ikon klub sepakbola kota Liverpool? Atau Kaka, playmaker  kebanggaan Brasil? Atau pemain terbaik dunia saat ini, Lionel Messi?  Mereka semua adalah pemain sepabola kelas wahid. Memiliki teknik bermain  sejago mereka, barangkali adalah idaman setiap pesepakbola. Namun,  kadang kita juga harus realistis dengan kemampuan kita. Kita bisa jadi  tidak mungkin akan mampu menjadi gelandang sehandal mereka. Tapi  walaupun begitu, kita tak perlu berkecil hati. Sekelompok peneliti telah  menemukan sebuah program intervensi psikologis yang bisa membantu kita  menampilkan performa apik ketika bermain bola. Dan berita baiknya lagi,  kita bisa menerapkannya sendiri dengan mudah!</p>
<p><span id="more-405"></span>Richard C. Thelwell dan koleganya melakukan  studi terhadap efek intervensi psikologis pada pemain sepakbola yang  berposisi sebagai gelandang. Dalam penelitian ini, mereka mengamati  performa 3 pesepakbola dalam 3 komponen (mengumpan, sentuhan pertama/<em>first  touch</em>, dan jegalan/<em>tackle</em>), pada 8 pertandingan kompetitif.  Ketiga partisipan yang berusia antara 20-23 tahun dan biasa beroperasi  sebagai gelandang di klubnya ini, diukur tingkat keberhasilannya dalam  mengumpan, mengontrol bola pada sentuhan pertama, dan menjegal.</p>
<p>Sebelum 3 komponen itu diukur, mereka terlebih  dulu diberikan 3 materi pelatihan psikologis, yaitu relaksasi, <em>imagery </em>dan <em>self-talk</em>. Pada materi pertama, partisipan dilatih  melakukan relaksasi. Tujuannya adalah untuk membantu mereka meningkatkan  kontrol diri, fokus, dan juga dalam membuat keputusan di lapangan.  Setelahnya, partisipan dilatih untuk membayangkan diri berhasil  melakukan umpan, mengontrol bola, menjegal dan juga mengambil keputusan.  Latihan membayangkan ini dilakukan agar mereka termotivasi serta merasa  kompeten dalam bermain. Materi ketiga yaitu <em>self-talk</em>.  Partisipan dilatih untuk melakukan obrolan dengan diri sendiri dengan  kata-kata positif dan menghindari kata-kata negatif. Tujuannya adalah  untuk meningkatkan motivasi dan juga fokus pada pertandingan.</p>
<p>Ketika menjalani pertandingan, para gelandang  itu mengaku mempraktikkan pengetahuan barunya. Hasilnya, ketiga  pelatihan tersebut efektif dalam meningkatkan performa ketiga pemain  selama babak kedua pertandingan, setidaknya dalam 2 komponen. Mereka  mengalami peningkatan performa; mengumpan lebih tepat, mengontrol bola  lebih baik, dan juga menjegal dengan berhasil. Selain itu, partisipan  sendiri juga merasa mengalami peningkatan performa serta puas dengan  pelatihan yang didapatnya itu.</p>
<p>Lalu,  apa gunanya buat kita? Tentu saja jika kita ingin mencoba meningkatkan  performa, kita bisa mencoba melakukan relaksasi, <em>imagery</em>, dan <em>self-talk  s</em>ebelum pertandingan. Coba luangkan waktu, 5-10 menit saja untuk  diam, menegangkan otot, lalu lemaskan kembali dan nikmati kelegaan itu.  Ulangi prosedur itu pada bermacam otot (mulai dari otot wajah, lengan,  hingga ujung kaki). Juga, coba untuk membayangkan diri, dalam keadaan  rileks, berhasil melakukan tugas sebagai gelandang (mengumpan,  mengontrol bola dan menjegal). Dan terakhir, coba katakan pada diri  sendiri bahwa kita bisa melakukan tugas-tugas tersebut. Gunakan  kata-kata positif seperti “saya akan mengumpan dengan tepat sasaran”  atau “saya akan mengontrol bola dengan baik”, bukan “saya tidak ingin  gagal mengumpan” . Nah, mudah bukan? Hanya butuh waktu sebentar dan  tentunya mudah dilakukan.</p>
<div>Selanjutnya,  saatnya kita keluar menuju lapangan dan mulai menendang <img src="http://www.dailypsychology.net/webmin/lib/fckeditor/editor/images/smiley/msn/regular_smile.gif" alt="" /></div>
<div></div>
<div>~ bisa dibaca juga di <a href="http://www.dailypsychology.net/articles/view/2010/6/36/Sepuluh%20Menit%20Menjadi%20Gelandang%20Jempolan" target="_blank">dailypsychology.net</a></div>
<br />Filed under: <a href='http://popsy.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=405&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2010/07/01/sepuluh-menit-menjadi-gelandang-jempolan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.dailypsychology.net/webmin/lib/fckeditor/editor/images/smiley/msn/regular_smile.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saat Wajah Tak Lagi Menarik</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 00:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.&#8221; Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=390&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Adik gue pintar cari pasangan; dia cari yang bisa diajak ngobrol. Salahnya gue disitu; gue melihat istri gue dari fisiknya, dan setelah sekarang ketemu orang laen yang enak diajak ngomong, gue kepincut.&#8221;</p>
<p>Aku terkaget mendengar potongan kalimat itu. Pria paruh baya yang sedang duduk di depanku ini, tiba-tiba mencetuskan pernyataan itu. Memang, biasanya dia seringkali bercerita tentang ini dan itu, namun kali ini Aku tak menduga ia akan bercerita tentang hal personal itu. Selain kaget, Aku juga khawatir ketika temanku itu menceritakan permasalahannya. Aku Khawatir tak cukup berpengalaman dan bisa membantunya menyelesaikan permasalahannya.<br />
<span id="more-390"></span><br />
Kata-kata pria itu, kemudian membuatku berpikir dan menyimpulkan sesuatu. Manusia itu berkembang. Yang tadinya cuma sebuah sel telur dan sperma yang menyatu, kemudian, menjadi janin, lahir, jadi bayi, lahir, bisa jalan, hingga kemudian makin tua dan mati.</p>
<p>Pada suatu titik dalam perkembangan manusia, yang terjadi adalah kemunduran fisik; kekuatan otot, kecepatan reaksi, dll. Yang tadinya istrinya cantik atau suaminya ganteng, lama-lama pasti akan keriput, tak montok lagi, perutnya tak six pack lagi atau rambutnya sudah tak tak bisa diberi gel (karena sudah tak memiliki satupun). Di saat inilah, sepertinya hal-hal berbau tampilan luar dan fisik akan mulai berkurang perannya dalam kehidupan berpasangan, dan kemampuan komunikasi akan mengambil alih. Temanku pun mengiyakan asumsi tersebut.</p>
<p>&#8220;Lo akan ngiri kalo liat mereka. Mereka bisa berjam-jam ngobrol. Kadang obrolannya pun ngalor ngidul; apa aja yang bisa mereka obrolin. Padahal, mereka udah sepuluh tahun menikah,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Wajahnya tampak lesu. Senyum yang biasanya lebar terlihat, kini seakan terpaksa diangkat. Suaranya pun tak terlalu keras; lirih, seperti mengandung penyesalan.</p>
<p>Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat; makin bingung bagaimana harus menanggapinya. Kubayangkan, bagaimana rasanya jika komunikasi dengan pasangan, tak berjalan sebagaimana mestinya. Sepertinya hampa sekali hidup ini; karena setiap hari, jam, menit dan detik, kita akan bersamanya. Jika tanpa komunikasi, ibarat selalu mendengarkan tik tok tik tok; bunyi jam dinding berdetik di ruangan kosong.</p>
<p>Aku masih tak tahu bagaimana bantuan yang bisa kuberikan; mungkin hanya telinga dan hati untuk mendengarkannya saja. Namun, untuk masalah komunikasi? Hmmm, nanti dulu; Aku tak terlalu kompeten. Ujung-ujungnya paling hanya memberi penguatan, kalau komunikasi itu bisa dipelajari, jadi kawanku ini tak perlu putus asa.</p>
<p>Dari situ, Aku berkesimpulan bahwa kriteria &#8220;komunikasi baik dengan calon pasangan&#8221; sepertinya bisa menjadi salah satu syarat penting dalam penentuan pasangan. Apakah pasangan bisa saling mendengarkan dan saling berbagi perasaan dan pemikiran, bisa menjadi beberapa kriterianya. Sehingga, jika wajah pasangan tak lagi menarik; sudah tak ganteng/cantik dan peyot, masih ada yang bisa menjadi pupuk bagi kelangsungan hidup berpasangan. Yup! Dialah komunikasi!</p>
<p>&#8211;</p>
<p>Ah, tapi ini baru pemikiran dan kesimpulanku sendiri.</p>
<br />Posted in cinta, komunikasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=390&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/08/10/saat-wajah-tak-lagi-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Minat Baca pada Anak</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 16:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[minat baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[“Ma.. Pa.. Baca buku itu lagi ya..” Tak terbayangkan betapa senangnya hati ketika mendengar permintaan buah hati kita. Membangun kecintaan anak terhadap buku bukanlah hal yang mudah. Namun jelas akan memberikan banyak sekali manfaat dalam kelangsungan hidupnya dikemudian hari, terutama bagi kesuksesan pendidikannya. Sebab, kecintaan terhadap aktivitas membaca adalah modal utama dalam proses belajar dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=385&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Ma.. Pa.. Baca buku itu lagi ya..”</em></p>
<p>Tak terbayangkan betapa senangnya hati ketika mendengar permintaan buah hati kita.</p>
<p>Membangun kecintaan anak terhadap buku bukanlah hal yang mudah. Namun jelas akan memberikan banyak sekali manfaat dalam kelangsungan hidupnya dikemudian hari, terutama bagi kesuksesan pendidikannya. Sebab, kecintaan terhadap aktivitas membaca adalah modal utama dalam proses belajar dan mengajar yang dilaluinya. Selain itu, melalui membaca anak dapat mengembangkan imajinasinya, mengenali karakter-karakter kepribadian dan mengembangkan kemampuan serta minat anak.</p>
<p>Singkat kata, membaca bisa disebut  sebagai “salah satu sarana utama untuk mencapai kehidupan yang sejahtera”.</p>
<p><span id="more-385"></span></p>
<p><strong>Bagaimana menumbuhkan kecintaan membaca pada anak?</strong></p>
<p>Sebagai orangtua atau pendidik, kita sering kali bertanya adakah cara yang paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap membaca?</p>
<p>Jawabnya adalah tidak ada.</p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian tentang minat membaca anak diketahui bahwa ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada membaca dan seluruhnya adalah satu kesatuan yang utuh.</p>
<p>Berikut adalah cara-cara yang dapat kita contoh:</p>
<ul>
<li><strong>Memberikan contoh </strong></li>
</ul>
<p>Di setiap masa perkembanganya cara belajar anak yang paling utama adalah dengan cara mencontoh. Sehingga, bila kita hendak menumbuhkan kecintaan membaca pada anak kita, sebaiknya kita pun memiliki dan menampilkan kecintaan terhadap membaca. Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memilih membaca Koran di ruang keluarga setiap pagi dan bukan menonton berita di televisi. Anak-anak akan melihat dan walaupun mereka tidak tahu dengan pasti apa yang kita baca, tetapi mereka dapat dengan nyata melihat bahwa kita membaca.</p>
<ul>
<li><strong>Membangun kebiasaan membaca dalam diri kita </strong></li>
</ul>
<p>Kita tentu ingat pada pepatah seperti “kita bisa karena biasa” atau “<em>practice makes perfect”</em>, keduanya seakan memberitahukan bahwa proses pengulangan aktivitas akan menimbulkan jejak memori pada otak, termasuk untuk proses ingatan dan emosi. Semakin sering anak melihat kita membaca maka akan semakin tertarik dia untuk mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Ketertarikan ini kemudian hendaknya kita tanggapi dengan melibatkan anak dalam kegiatan membaca kita, sehingga ia akan semakin tertarik dengan aktivitas membaca.</p>
<ul>
<li><strong>Menciptakan suasana kondusif saat membaca</strong></li>
</ul>
<p>Menciptakan suasana yang bahagia dan penuh kasih sayang saat membaca sangat diperlukan untuk membangun jejak memori terutama yang melibatkan emosi.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Karena berdasarkan penelitian terdahulu, sekitar 60% dari proses pembelajaran melibatkan amigdala (merupakan pusat emosi yang dimiliki manusia) dalam otak. Contoh sederhana mengenai hal ini adalah jawaban anak ketika ditanya apa yang dilakukanya saat liburan. Anak kemungkinan akan menjawab dengan cerita kebahagiannya ketika diajak berwisata ke taman safari oleh kita.</p>
<p>Bagaimana caranya menciptakan suasana kondusif saat membaca?</p>
<p>Hmm.. sederhana sekali. Kita hanya perlu santai, menjadi diri kita sendiri, dan tersenyum. Sebagai contoh, saat sedang dalam perjalanan di mobil. Kita bisa memangkunya atau duduk disebelahnya kemudian mengeluarkan beberapa buku cerita, memintanya memilih mana yang disukai lalu perlahan bersama-sama membaca halaman demi halaman dari buku tersebut.</p>
<ul>
<li><strong>Penghargaan atas minat anak</strong></li>
</ul>
<p>Bila anak sudah mulai menunjukkan ketertarikkannya terhadap membaca, apa itu berarti tujuan kita sudah tercapai dan tugas kita selesai??</p>
<p>Upst! Ternyata tidak.</p>
<p>Ketika ia sudah mulai menujukkan ketertarikan terhadap membaca maka sebaiknya kita memberikan pengahargaan kepadanya supaya ketertarikan tersebut bertahan dan berubah menjadi kebiasaan positif, yaitu kebiasaan membaca.</p>
<p>Bagaimana cara? Bermacam cara dapat dilakukan. Dari yang paling sederhana dengan cara selalu menemaninya membaca atau menjadi teman diskusi bacaannya bila anak sudah dapat diajak berdiskusi. Hingga cara yang paling kompleks yaitu membantunya mengkordinir <em>book club </em>sederhana yang beranggotakan teman-teman anak kita yang juga punya hobi membaca.</p>
<p><strong>Sejak kapan usaha kita sebaiknya dimulai?</strong></p>
<p>Waw! Ternyata sederhana sekali cara untuk menumbuhkan kecintaan anak pada membaca. Hmmm, kira-kira kapan sebaiknya kita mulai ya?</p>
<p>Jawabnya adalah SEKARANG.</p>
<p>Ya, sekarang adalah saatnya.</p>
<p>Bahkan kita dapat menumbuhkan kecintaan anak pada membaca sejak bayi dalam <strong>kandungan</strong>. Kita perkenalkan suara dan perubahan intonasi kita saat membaca buku cerita. Ketika ia sudah mulai berusia <strong>3 bulan</strong>, kita bisa mulai menunjukkan buku dan membaca di sebelahnya. Ketika ia berusia <strong>6-9 bulan</strong>, kita bisa memangkunya atau duduk di sebelahnya dan nampilkan buku sederhana untuk “dibaca” bersama-sama. Ketika ia berusia <strong>1-2 tahun</strong>, kita bisa membaca bersama dan memintanya untuk pura-pura memegang buku yang kita baca. Ketika berusia <strong>2-5 tahun</strong>, kita bisa bersama-sama membaca bersama buah hati kita, kita bisa meminta bantuannya untuk membuka halaman per halaman dan kita bahkan sudah bisa mengajaknya memilih buku yang ia suka di toko buku.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Adakah referensi jenis buku?</strong></p>
<p>Apakah ada referensi judul buku yang baik dibaca anak? Tidak ada. Semua buku dan bacaan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing untuk setiap anak. hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menyesuaikan tahap perkembangan anak dengan jenis buku yang ada.</p>
<ul>
<li><strong>Catalogue book (0-6 bulan)</strong></li>
</ul>
<p>Catalogue book adalah buku tanpa cerita. Biasanya di tiap halaman berisi gambar benda dengan namanya dibawahnya atau gambar aktivitas dan nama aktivitas dibawahnya. Biasanya buku ini berbentuk board book.</p>
<ul>
<li><strong>Picture book (7 bulan-3 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Picture book adalah buku cerita yang teksnya masih sedikit. Tiap halaman biasanya berisikan 1-2 kalimat. Dalam buku ini biasanya ada hubungan langsung antara teks dengan gambar. Buku jenis ini dapat terus digunakan sampai anak bisa membaca sendiri.</p>
<ul>
<li><strong>Longer picture book (3 Tahun- 6 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Longer picture book adalah buku cerita yang teksnya sudah lebih banyak per halaman dan ceritanya lebih panjang, biasanya terdapat 2-5 kalimat.</p>
<ul>
<li><strong>Illustrated chapter book (6/7 tahun – 12 tahun)</strong></li>
</ul>
<p>Illustrated chapter book adalah buku cerita yang teksnya sudah banyak, ceritanya mulai panjang (sudah dibagi dalam bab) tetapi masih ada ilustrasinya. Buku jenis ini cocok untuk anak usia 6 tahun keatas, terutama saat ia sudah mulai belajar membaca namun masih mudah bosan untuk membaca dalam durasi yang panjang.</p>
<ul>
<li><strong>Short novel, novel dan story collection.</strong></li>
</ul>
<p>Ketiga jenis buku ini dapat diperuntukkan kepada anak diatas usia 12 tahun yang diasumsikan sudah mahir membaca. Ketiga jenis buku ini memiliki kesamaan, yaitu tidak lagi menggunakan ilustrasi gambar. Namun mereka memiliki perbedaan dalam panjang cerita dan jumlah cerita dalam satu buku. Short novel memiliki satu cerita pendek didalamnya, novel memiliki satu cerita dalam durasi yang panjang sedangkan story collection memiliki beberapa cerita yang masing-masingnya berbeda durasi dalam satu buku yang sama.</p>
<p>Nah, ternyata menumbuhkan kecintaan terhadap membaca adalah kegiatan yang sederhana kan?</p>
<p>Kalau begitu. Tunggu apa lagi? Ayo membaca..:)</p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<p>Berk, Laura E. (2003). <em>Child Development 6<sup>th</sup> ed.</em> New York: Allyn and Bacon</p>
<p>Trelease, Jim. (2006). <em>Read-Aloud Handbook.</em> London: Peguin Books</p>
<p>*Evi Junita, S.Psi</p>
<br />Posted in parenting Tagged: anak, membaca, minat baca <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=385&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/07/29/menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Read Aloud: Menumbuhkan Kecintaan Anak Pada Buku</title>
		<link>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/</link>
		<comments>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 14:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toso</dc:creator>
				<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[read aloud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://popsy.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya” Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..Buku merupakan salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=377&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di atas sebuah pentas duduklah seorang anak dan gurunya. Ibu guru memegang sebuah buku cerita bergambarkan kereta jeruk berwarna kuning sambil bernyanyi “naik kereta api”. Anak tadi ikut bernyanyi dan membolak-balik buku cerita yang gurunya pegang. Tiba-tiba anak berkata “Bu Ima, ayo mulai baca bukunya”</p>
<p>Oh senangnya mendengar anak mengutarakan ketertarikkannya pada buku..<span id="more-377"></span>Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku sangat beragam mulai dari yang sifatnya mendidik sampai yang sifatnya menghibur. Selain itu, buku tak lekang oleh masa. Kita akan bertemu dan memerlukan buku sepajang hidup kita. Lalu apa yang akan terjadi bila anak-anak kita tidak mencintai buku? Hmm, yang paling sederhana dan mendesak dimasa-masa awal kehidupannya adalah kemungkinan mereka menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Betapa tidak, walaupun teknologi telah berkembang dengan pesat, buku tetap merupakan media utama dalam proses belajar.<br />
<strong>Jika demikian apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku ya?</strong><br />
Banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara memumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).</p>
<p><strong>Apakah read aloud berbeda dengan mendongeng?</strong><br />
Ya. Berdasarkan tujuannya kedua aktivitas tersebut adalah berbeda. Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.<br />
Dikarenakan read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini, sedangkan pada aktivitas mendongeng buku tidak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.</p>
<p><strong>Bagaimana cara melakukan read aloud?</strong><br />
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memulai bercerita dengan teknik read aloud, yaitu:</p>
<ul>
<li>Cari buku yang baik untuk anak dan diri kita. Dalam memilih buku ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu:</li>
</ul>
<ol>
<blockquote>
<li>Sesuaikan panjang cerita dengan usia dan rentang perhatian anak. Dapat dimulai dengan cerita yang pendek, secara bertahap ke yang lebih panjang. Cobalah dengan 2 atau 3 buku cerita yang pendek terlebih dahulu.</li>
<li>Pilih buku cerita yang bisa membuat kita senang, baik cerita atau ilustrasinya.</li>
<li>Pilih cerita yang menarik, banyak dialog, menggambarkan beberapa keadaan, adventure, dan memiliki muatan emosional yang sesuai dengan usia anak dan latar belakang anak.</li>
<li>Bacakan sebanyak mungkin buku cerita anak. Jika menemukan pengarang atau illustrator yang baik, cari beberapa judul dari mereka. Anak akan mempunyai pengarang favorit. Biarkan dia membaca berulang-ulang. Sementara tetap perkenalkan dengan yang buku dan pengarang lainnya.</li>
<li>Cari buku yang mengambarkan keadaan sehari-hari.</li>
<li>Perlu diperhatikan bahwa buku disebut baru, jika anak belum pernah mendengar.</li>
</blockquote>
</ol>
<ul>
<li>Baca terlebih dahulu buku yang hendak kita bacakan ke anak kita</li>
<li>Pilih buku cerita sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak</li>
<li>Bila usia anak sudah memungkinkan, sertakan anak dalam pemilihan buku</li>
<li>Pilih buku diatas kemampuan baca anak tetapi dengan panjang cerita yang sesuai dengan ketahanannya mendengarkan cerita.</li>
</ul>
<p>Bila tahap persiapan sudah dilalui dengan baik, maka selanjutnya adalah tahap pelaksanaan read aloud. Dalam tahapan ini ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang</li>
<li>Baca perlahan, ekspresif dan semenarik mungkin.</li>
<li>Usahakan menggunaan suara/intonasi berbeda sesuai karakter</li>
<li>Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraug,meringkik dll sesuai karakter (dalam cerita)</li>
<li>Tambahkan ‘body language’</li>
<li>Ketika hendak membacakan cerita:</li>
</ul>
<ol>
<blockquote>
<li>Tunjukkan halaman depan</li>
<li>Sebutkan judulnya, nama pengarang dan ilustratornya</li>
<li>Sebutkan tema utama buku yang akan dibaca seperti “buku cerita ini mengenai&#8230;”</li>
<li>Mulai dengan membicarakan gambar yang ada dibuku atau dengan membolak-balikkan gambar. Bayi perlu dibantu membolak-balikkan buku sedangkan anak usia 3 tahun keatas sudah bisa melakukannya sendiri</li>
</blockquote>
</ol>
<ul>
<li>Tunjukkan kata-kata dengan jari kita</li>
<li>Mulai dengan beberapa menit membaca, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan anak maka waktu membaca akan bertambah.</li>
<li>Bila perkembangan anak sudah memungkinkan maka ajukan pertanyaan seputar cerita</li>
<li>Pancing dengan beberapa pertanyaan, apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?</li>
<li>Biarkan anak bertanya mengenai cerita</li>
<li>Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap</li>
<li>Biarkan anak menceritakan ceritanya, diusia 3 tahun seorang anak sudah bisa menghafal cerita dan biasanya senang diberi kesempatan untuk bercerita.</li>
</ul>
<p><strong>Kapan sebaiknya mulai melakukan read aloud?</strong><br />
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Mengapa demikian? Ini terkait dengan tujuan read aloud yaitu menumbuhkan kecintaan pada buku. Sehingga semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal.</p>
<p><strong>Kapan dan dimana sebaiknya kita melakukan read aloud?</strong><br />
Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukan read aloud. Kita bisa melakukannya dirumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, saat menunggu pesawat atau kereta api atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.</p>
<p><strong>Apa ada referensi judul buku untuk read aloud?</strong><br />
Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. Namun bila diperlukan anda dapat merujuk kepada beberapa referensi berikut:<br />
ü Judul : Camille pergi ke dokter<br />
Penulis : Aline de Petigny &amp; Nancy Delvaux<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.<br />
ü Judul : Pierre nonton TV<br />
Penulis : Gustavo Masali<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2006.<br />
ü Judul : Untuk Bunda dan dunia<br />
Penulis : Abdurahman Faiz<br />
Penerbit : Dari Mizan.<br />
ü Judul : 366 Hal-hal yang perlu anak anda ketahui<br />
Penulis : Andree Bertino dan Fredo Valla<br />
Penerbit : Happy Books<br />
ü Judul : Kisah-kisah teladan untuk keluarga<br />
Penulis : Dr. Mulyanto<br />
Penerbit : GIP, 2008</p>
<p>Hmmm setelah menambah informasi tentang read aloud, diharapkan kita lebih memahami bahwa hal sesederhana membacakan buku singkat yang mungkin hanya memerlukan kurang lebih 20 menit setiap harinya, dapat membantu membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak.</p>
<p>Bila anda tertarik untuk memahami read aloud lebih menyeluruh ada dapat mengakses <strong>http://www.readingbugs.org</strong> dengan contact person ibu Roosie. Beliau juga dapat membantu anda dan guru-guru anak-anak anda bila tertarik mempelajari read aloud melalui workshop yang beliau dan reading bugs prakarsai.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><br />
Trelease, Jim. (2006). Read-Aloud Handbook. London: Peguin Books.<br />
Roosie (2009). Bagaimana “read aloud” yang baik bagi orangtua dan pendidik usia balita. Dalam makalah seminar read aloud. Depok: Reading Bugs.</p>
<p>*Evi Junita, S.Psi<br />
Terapis anak, mahasiswi pascasarjana psikologi klinis anak  Universitas Indonesia</p>
<br />Posted in parenting Tagged: anak, buku, membaca, read aloud <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/popsy.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/popsy.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=popsy.wordpress.com&amp;blog=937261&amp;post=377&amp;subd=popsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://popsy.wordpress.com/2009/05/31/read-aloud-menumbuhkan-kecintaan-anak-pada-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86589742553feb327b998a30cb133c3d?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">toso</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
