Skip to content

Seksualisasi Anak Perempuan: Temuan di AS

Rabu, 11 April 2007
tags: ,
by

gambar diambil dari www.starstore.comUngkapan ‘polos seperti anak-anak’ nampaknya sudah tidak begitu berlaku lagi di zaman sekarang. Mungkin inilah yang kira-kira dirisaukan oleh para orangtua dan aktivis hak-hak anak di Amerika Serikat, sehingga Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychological Association/APA) merasa perlu membuat kelompok kerja untuk menyelidiki fenomena yang disebut dengan seksualisasi anak perempuan (sexualization of girls) ini. Setelah dua tahun bekerja, bulan Februari 2007 yang lalu pokja tersebut menuntaskan pekerjaannya dan mengungkapkan temuan mereka kepada publik.

Apakah fenomena ’seksualisasi’ itu sebenarnya? Apa tanda-tandanya? Apa dampaknya terhadap anak-anak kita, dan apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua (atau orang yang lebih tua) untuk mencegahnya?

Ciri Seksualisasi

Sebelumnya, untuk membedakan ’seksualisasi’ yang merusak dengan ’perkembangan seksual’ yang memang wajar terjadi pada masa pra-remaja, pokja ini terlebih dahulu menentukan ciri-ciri seksualisasi. Menurut mereka, seksualisasi terjadi bila (1) orang dinilai hanya dari daya tarik seksual atau perilaku seksualnya, (2) standar daya tarik fisik (yaitu, yang ’seksi’) didefinisikan secara sempit, (3) orang dijadikan objek atau alat pemenuh kebutuhan seksual, dan (4) nilai-nilai seksual dengan tidak sepantasnya dipaksakan ke dalam diri seseorang. Keempat ciri ini tidak harus tampil bersama-sama; keberadaan satu ciri saja sudah dapat menjadi bukti adanya seksualisasi.

Fenomena yang Terjadi

APA mendapati hampir semua bentuk media melakukan ciri yang keempat tersebut. Anak perempuan, khususnya, sangat rentan dipaksakan dengan seksualitas orang dewasa. Dalam media, seksualitas perempuan biasanya dilakukan dengan penggambaran secara seksual (misal: memakai baju yang minim/terbuka, dengan postur tubuh atau mimik muka yang menandakan kesiapan melakukan aktivitas seksual), objektivikasi seksual (misal: hanya ditampilkan bagian-bagian tubuh yang merangsang secara seksual seperti payudara atau pantat), dan penekanan yang kuat pada standar kecantikan fisik yang sempit dan tidak realistis.

Memang dari hasil studi terhadap 40 tahun iklan media massa di AS, hanya 1.5% yang menampilkan seksualisasi anak-anak. Namun dari 1.5% tersebut, 85%-nya menampilkan seksualisasi pada anak perempuan. Dan angka tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Beberapa contoh turut disebutkan dalam laporan itu: sepatu (iklan sepatu Sketchers dengan slogan ’Naughty and Nice’, yang dibintangi oleh Christina Aguilera yang berpakaian seperti anak sekolah, dengan baju yang tidak terkancing, dan sedang menjilat permen loli), boneka (produk Bratz, yang baju-bajunya cukup seksi, seperti rok mini dan stoking jala-jala), pakaian (thong untuk anak 7 dan 10 tahun, beberapa dengan tulisan yang sugestif), dan program televisi (fashion show di mana model dewasa dalam pakaian dalam diperagakan sebagai anak kecil). Media yang sama juga mengkondisikan anak perempuan untuk lebih mengidolakan wanita yang mengutamakan penampilan fisik (misal: Paris Hilton) ketimbang wanita yang benar-benar sukses karena kemampuannya (misal: Serena Williams).

Namun bukan hanya media saja yang melakukan hal ini. Orang-orang yang paling dekat dengan anak, yaitu keluarga, sekolah, dan teman-temannya, disadari atau tidak, juga turut berperan dalam maraknya fenomena seksualisasi. Ketika orangtua menekankan pada anak perempuannya bahwa penampilan fisik adalah hal yang terpenting dalam hidup, maka mereka telah melakukan seksualisasi. Beberapa bahkan mungkin sampai mendorong anaknya melakukan operasi plastik. Setali tiga uang dengan guru-guru yang masih menganggap murid perempuan lebih inferior dibandingkan dengan murid laki-laki dalam hal pencapaian akademis, khususnya ilmu pasti. Teman-temannya pun dapat melakukan seksualisasi ketika tubuh yang kurus dan seksi dijadikan standar untuk diterima di lingkungan pergaulan (untuk teman sesama perempuan), atau mengganggu teman-teman perempuan dan memperlakukan mereka sebagai objek seksual (untuk teman-temannya yang laki-laki).

Ketika anak perempuan sudah diindoktrinasi oleh lingkungannya, maka selanjutnya ia yang akan melakukan seksualisasi dirinya sendiri. Gejala ini tampak dalam perilakunya membeli (atau meminta orangtua membelikan) produk atau pakaian yang membuatnya tampak lebih menarik secara fisik atau lebih seksi. Di tahap ini anak perempuan akan melakukan objektivikasi diri (self-objectification), di mana mereka memandang diri/tubuh mereka sendiri sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain secara fisik dan seksual.

Dampak bagi Anak Perempuan

Pokja APA menemukan bahwa seksualisasi dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak perempuan secara negatif. Dampaknya meluas di berbagai bidang, mulai dari fungsi kognitif dan emosi, sikap dan nilai yang dianut, seksualitas, hingga kepada kesehatan mental dan fisik. Berbagai penelitian yang ada memang baru dilakukan pada remaja perempuan pada tahap akhir (SMA-kuliah), namun diperkirakan dampaknya justru akan lebih parah pada anak perempuan pra-remaja yang identitas dirinya masih belum matang sepenuhnya.

Fungsi kognitif dan emosi: Sebuah eksperimen membuktikan bahwa objektivikasi diri berdampak negatif pada kemampuan berkonsentrasi, sehingga memperburuk kinerja yang melibatkan aktivitas mental seperti perhitungan matematis atau penalaran logis. Dalam eksperimen tersebut, dua kelompok perempuan diminta secara individual untuk mencoba dan menilai dua jenis pakaian, yaitu pakaian renang atau sweater. Sementara mereka menunggu giliran untuk mengenakan pakaian itu, mereka diminta untuk mengerjakan soal-soal matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perempuan yang mencoba pakaian renang secara signifikan lebih buruk kinerjanya dalam pengerjaan soal daripada kelompok perempuan yang mencoba sweater. Apa yang menyebabkan perbedaan ini? Rupanya, kelompok perempuan yang mencoba pakaian renang berkurang kapasitas mentalnya karena mereka memikirkan bentuk tubuh mereka dan membandingkannya dengan bentuk ideal di masyarakat yang telah terkena seksualisasi. Selain terhambatnya fungsi kognitif, seksualisasi juga memperburuk kondisi emosi, dengan mengurangi rasa percaya diri, rasa nyaman dengan diri sendiri, serta memunculkan emosi-emosi negatif seperti malu, cemas, bahkan jijik dengan diri sendiri.

Kesehatan mental dan fisik: Dari berbagai penelitian yang ada, terdapat hubungan yang kuat antara seksualisasi dengan tiga gangguan mental yang sering terjadi pada perempuan, yaitu kelainan makan (anoreksia nervosa, anoreksia bulimia), harga diri yang rendah, dan depresi. Gangguan yang berupa kelainan makan seperti anoreksia tentunya juga akan berdampak pada kesehatan fisik anak.

Identitas, sikap, dan nilai seksual: Seksualisasi pada anak pra-remaja yang belum matang identitas seksualnya dapat berpengaruh buruk pada sikap dan nilai yang dianutnya kemudian. Beberapa penelitian mencatat bahwa objektivikasi diri memiliki korelasi negatif dengan kesadaran akan kesehatan seksual (contohnya ditandai dengan menurunnya kesadaran pemakaian kondom). Paparan terhadap definisi ’cantik’ yang dangkal dapat menimbulkan harapan yang salah atau tidak realistis mengenai kehidupan seksual. Mereka juga menempatkan penampilan dan daya tarik fisik sebagai nilai utama seorang wanita, dan lebih tidak keberatan dengan stereotip yang menggambarkan perempuan sebagai objek seksual. Efek-efek negatif ini di masa dewasa bisa terwujud dalam bentuk gangguan/masalah seksual.

Dampak terhadap kelompok lain: seksualisasi pada anak perempuan ternyata dapat pula berdampak pada kelompok sosial lain di masyarakat, seperti kelompok laki-laki, dan masyarakat secara keseluruhan. Temuan menunjukkan bahwa paparan terhadap standar daya tarik fisik perempuan yang dangkal membuat pria lebih sulit menemukan pasangan yang ”bisa diterima”, dan lebih sulit mendapat kepuasan dari hubungan dengan pasangannya. Di dalam masyarakat secara umum, seksualisasi dapat meningkatkan angka diskriminasi, pelecehan, dan kejahatan seksual, serta permintaan akan pornografi anak.

Saran untuk Pencegahan

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk bisa mencegah, atau paling tidak meminimalisasi, efek dari seksualisasi ini? Untuk para orangtua, Kantor Program Perempuan (Woman’s Programs Office) APA memberikan beberapa tips berikut untuk anda.

Masuki. Tontonlah TV bersama anak-anak anda. Bacalah majalah mereka. Kunjungilah situs-situs yang sering mereka kunjungi. Tanyakanlah kepada mereka, ”Kenapa ada begitu banyak tekanan bagi perempuan untuk berpenampilan tertentu?” ”Apa yang paling kamu sukai dari teman-teman akrabmu?” ”Apakah hal-hal itu lebih penting daripada bagaimana penampilan mereka?” Dengarkanlah jawaban mereka.

Pertanyakan. Perempuan yang terlalu memperhatikan penampilannya sering sulit berkonsentrasi di bidang lain. Pakaian bisa menjadi salah satu sebabnya. Jika anak perempuan anda ingin mengenakan pakaian yang anda anggap terlalu terbuka/seksi, tanyakanlah apa yang ia sukai dari pakaian itu. Tanyakanlah apakah ada yang tidak ia sukai. Jelaskan kepadanya bahwa pakaian yang harus sering dirapikan dan dibetulkan dapat membuat ia sulit berkonsentrasi pada pelajaran, teman-teman, dan aktivitas-aktivitas lain.

Berbicaralah. Jika anda tidak menyukai acara TV tertentu, musik, film, pakaian, atau boneka, jelaskanlah alasannya. Pembicaraan dengan anak akan menjadi lebih efektif daripada hanya sekedar, ”Tidak, kamu tidak boleh membeli atau menontonnya.” Dukunglah kampanye, perusahaan, atau produk yang mempromosikan gambaran yang positif mengenai anak perempuan. Jangan segan-segan untuk protes atau komplain kepada perusahaan, pengiklan, produser TV dan film, atau toko yang produknya melakukan seksualisasi anak perempuan.

Memahami. Orang-orang muda sering merasakan tekanan untuk menonton acara TV populer, mendengarkan musik yang sedang digandrungi, dan tunduk pada gaya berpakaian tertentu. Bantulah anak anda untuk memilih secara bijak dari sekian banyak alternatif pilihan. Sering ingatkan dia bahwa kepribadiannya dan apa yang dia bisa capai jauh lebih berharga daripada penampilannya.

Mendorong. Olahraga dan aktivitas ekstrakurikuler lainnya lebih menekankan bakat dan kemampuan daripada penampilan fisik. Doronglah anak anda untuk mengenali minatnya dan terlibat dalam olahraga atau aktivitas lain.

Mendidik. Anda mungkin merasa tidak nyaman membicarakan seksualitas dengan anak anda, namun hal ini penting. Bicarakanlah mengenai kapan seks merupakan hal yang baik sebagai bagian dari hubungan yang sehat, intim, dan dewasa. Tanyakanlah mengapa anak perempuan sering berusaha keras untuk tampil dan berperilaku ’seksi’. Pendidikan seks yang efektif harus mendiskusikan pengaruh media, teman sebaya, dan budaya terhadap perilaku dan keputusan seksual, bagaimana membuat keputusan yang aman, dan apa yang membuat sebuah hubungan dapat dikatakan sehat. Kalau perlu, cari tahu apa yang diajarkan oleh gurunya mengenai hal ini.

Bertindak nyata. Bantulah anak anda memfokuskan diri pada apa yang penting: apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan hargai. Bantulah mereka membangun kekuatan yang memungkinkan mereka mencapai cita-citanya dan berkembang menjadi dewasa yang sehat. Ingatkan anak anda bahwa semua orang itu unik dan adalah salah untuk menilai seseorang dari penampilannya.

Jadilah contoh. Pemasaran dan media juga dapat mempengaruhi orang dewasa. Ketika anda memutuskan barang apa yang anda beli atau film apa yang anda tonton, anda mengajari anak anda untuk melakukan hal yang sama.

Nah, barusan adalah temuan pokja APA di Amerika Serikat. Bagaimana menurut anda, apakah fenomena ini sudah mulai nampak di Indonesia? Apakah kemunculannya di Indonesia (jika ada) perlu dikuatirkan selayaknya di AS? Apakah kira-kira ada perbedaan sosial-budaya yang bisa mempengaruhi (tidak) munculnya fenomena yang serupa di Indonesia?

Sumber:

Monitor on Psychology April 2007

Summary of the APA Task Force on the Sexualization of Girls

Woman’s Programs Office – What Parents Can Do

Bacaan Lebih Lanjut:

Empowering Girls: Media Literacy Resources

Report of the APA Task Force on the Sexualization of Girls (pdf)

28 Komentar leave one →
  1. Sabtu, 21 April 2007 12:52 am

    Salam Kenal…blognya bagus neh?!

  2. Sabtu, 21 April 2007 7:33 pm

    @islam feminis:
    salam kenal juga mbak. trims buat kunjungannya🙂

  3. abzay permalink
    Minggu, 6 Mei 2007 3:35 pm

    salam kenal…
    mak Nyuss……

  4. Minggu, 6 Mei 2007 9:01 pm

    @abzay:
    salam kenal juga🙂

  5. Senin, 7 Mei 2007 8:00 am

    Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
    Silakan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/

  6. Rabu, 9 Mei 2007 7:52 pm

    ada gak yang bahasa: seksualisasi anak laki-laki….

  7. Rabu, 9 Mei 2007 8:14 pm

    @Alief:
    Mungkin nanti, kalau dunia sudah gantian dikendalikan kaum perempuan…:D

  8. N.Fatimah M. permalink
    Rabu, 16 Mei 2007 8:27 pm

    salam kenal..
    bahasannya bagus nih, bisa jadi ide pembuatan jurnal-ku di kampus ^_^

  9. Kamis, 17 Mei 2007 8:38 am

    @Fatimah:
    Salam kenal juga🙂 Ditunggu lho jurnal versi onlinenya ^^

  10. ega permalink
    Selasa, 29 Mei 2007 2:36 pm

    jurnalnya lebih byk lagi dong tentang psikologi eksperimen, karna sangat membantu sekali.
    terima kasih.

  11. Rabu, 30 Mei 2007 10:52 am

    yuHUUUUU…………

    kEyEN tU

    sMAngatt yaH

  12. Rabu, 30 Mei 2007 10:55 am

    haLLLOOO

    wheRE aRE yOU

  13. Rabu, 30 Mei 2007 11:14 pm

    @ega:
    Sip, nanti kalo ada yang menarik pasti saya tulis🙂

    @amma:
    Halo, saya di sini. Trims buat penyemangatnya😉

  14. Rabu, 13 Juni 2007 7:48 pm

    apakah ini berlaku juga di Indonesia?
    bagaimana dengan kondisi klo perawan itu sudah di anggap sesuatu yg ga begitu penting?

    posting yg bagus bangat, hal ini harus ketahui oleh orang banyak. biar para ortu dan remaja2 perempuan bisa menjaga diri dan introspeksi diri.

    bisa pesan tulisan tentang cinta di lihat dari segi psikologi?

  15. Kamis, 14 Juni 2007 10:31 pm

    Yang pasti sih nggak 100% berlaku di Indonesia, Mas Mbojo…tapi kita juga tidak tahu sudah berapa persen mendekati karena setahu saya belum ada penelitian yang benar2 mendalam mengenai masalah ini di Indonesia. Soal ‘nilai2 keperawanan yg tidak dianggap penting’, saya rasa ini bukanlah suatu faktor yang membuat perempuan2 di AS diobjektivikasi. Justru, nilai2 keperawanan yang superfisial dan bias gender di Indonesia seperti ‘nggak ada selaput dara = nggak berharga’ menurut saya adalah objektivikasi perempuan.

    Tulisan tentang cinta? Sip, nanti saya bikinkan. Tapi ngantri dulu sama tulisan yang lain nggak apa2 ya? ^^; *begitu banyak bahan untuk ditulis, begitu sedikit waktu untuk menuliskannya*

  16. lery permalink
    Sabtu, 30 Juni 2007 11:02 am

    makasih banget telah bantu tugas eksperimen lery

  17. Selasa, 3 Juli 2007 5:13 pm

    @lery:
    senang bisa membantu ^^ Kalo boleh tau, tugas eksperimennya apa? Kalo menarik, mungkin bisa jadi bahan artikel di POPsy! juga lho😉

  18. indah permalink
    Senin, 16 Juli 2007 12:22 pm

    ass.
    isi blognya bgus bngttttttt………

    slm kenalll???

  19. indah permalink
    Senin, 16 Juli 2007 12:27 pm

    mbak…….
    blhkan copy artkl mbak ,
    utk ngrjain tugas.

    af1

  20. wedulgembez permalink
    Selasa, 24 Juli 2007 4:35 pm

    wanita barat kan suka dieksploitasi. biarin aja dieksploitasi, emang wanita bodoh, suka mainin seksnya….

    http://suakahati.wordpress.com/2007/07/12/penjual-kelamin/

  21. andina permalink
    Selasa, 16 Oktober 2007 11:15 pm

    masya Allah..terbukti memang..siapa2 yang piki
    rannya cupet ya sumpek!
    susah sndiri mereka itu,liat aja pilem2 barat dimana
    ortu ngelarang anaknya buat ngelakuin seks klo masih
    katakan belum 17 thn, nah mereka dulu juga ngelakuin.
    perhatian buat para calon ortu, jaga pandangan,akhlak
    mulai dari skrg.dampaknya bisa dirasa nanti.
    brgsiapa memulainya dgn baik maka baik pula hasilnya.
    klo maw seenaknya skrg, siapkan diri tuk masa depan suram.
    ayo didik diri sndiri dlu sblm didik anak2 kita nanti..
    smangat,ayo lbh baik!

  22. Jumat, 1 Februari 2008 11:02 am

    Great boysab84554ee540bc3cb1f14469140c9ef1

  23. Senin, 21 April 2008 3:01 pm

    JURNALNYA MENARIK BGT

  24. Senin, 21 April 2008 3:02 pm

    topik jurnalnya bagus bgt salam kenal… rekna

  25. Fuch.. permalink
    Senin, 8 September 2008 9:01 am

    waah, cool banget tuch.. kayaknya sich di Indonesia gak separah itu dech.. ya.. maklum lah itu khan tradisi barat

  26. Ros permalink
    Senin, 22 September 2008 6:06 am

    Salam kenal…
    Sangat menarik. Kira2 memungkinkan nggak ya..untuk dijadikan bahan skripsi? Mengingat istilah seksualisasi di Indonesia adalah informasi yg cukup baru. Saya takut ada kendala di teks booknya jika dijadikan bahan untuk skripsi. Pls advise. Terima kasih.

  27. arbi permalink
    Selasa, 1 November 2011 10:59 pm

    kini telah terjadi di berbagai belahan bumi indonesia.dan lebih parah lagi mereka masih menggunakan seragam smp

Trackbacks

  1. Melek seks yg melulu urusan fisik, Jelek ? « besar pasak, DARIPADA KENTANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: