Skip to content

Reportase TV dan Efek Traumatisnya

Sabtu, 28 April 2007

gambar diambil dari www.rotten.com

Bad news is good news.

Pameo di atas menunjukkan bahwa berita buruk adalah amunisi yang ampuh untuk menarik perhatian pemirsa, pasti dianut oleh hampir semua media massa. Ketika pada tahun 2004 terjadi tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan beberapa negara lainnya, media massa berlomba-lomba menayangkan apapun yang terkait dengan musibah itu; bahkan kalau perlu, mengulang-ulang tayangan yang sama (misalnya seperti cuplikan video amatir yang terkenal itu) selama berminggu-minggu.

Begitu juga yang terjadi di negeri Paman Sam tiga tahun sebelumnya. Tragedi 11 September 2001, ketika simbol kesejahteraan dan rasa aman dihantam secara sistematis oleh teroris, merupakan kejadian yang paling banyak diliput di seluruh dunia pada tahun itu. Rupanya hal ini juga menjadi sebuah mimpi buruk bagi bangsa Amerika…literally. Edisi April Psychological Science, seperti dikutip oleh Yahoo! News, memuat temuan Ruth Propper dan timnya dari Merrimack College, mengenai efek dari pemberitaan media massa mengenai tragedi 9/11 terhadap isi mimpi dan tingkat stres seseorang.

Belajar dari Tragedi 9/11

Tim Propper mengambil sampel 16 orang mahasiswa yang diminta untuk mencatat isi mimpinya setiap hari dari akhir Agustus 2001 hingga awal Desember pada tahun yang sama. Dari analisis terhadap jurnal mimpi keenambelas subjek, ditemukan adanya perubahan isi mimpi antara sebelum dan sesudah terjadinya tragedi 9/11. Setelah tragedi 9/11, isi mimpi para subjek dua kali lebih banyak terkait secara spesifik dengan 9/11, bersifat mengancam, atau mengandung tema-tema yang terkait dengan 9/11. Perubahan isi mimpi ini ditafsirkan sebagai meningkatnya stres pada si subjek.

Tidak semua subjek mempunyai peningkatan yang sama. Propper juga menemukan bahwa subjek yang sering menonton tayangan televisi yang membahas tragedi 9/11 mempunyai perubahan isi mimpi yang lebih mencolok dan eksplisit dibandingkan dengan subjek yang lebih jarang menonton tayangan serupa. Ini tentunya juga mempengaruhi tingkat stres yang dialami. Untuk setiap jam yang dihabiskan untuk menonton tayangan seperti itu, Propper menambahkan, tingkat stres yang dialami naik hingga 6 persen.

Jika menonton tayangan televisi dapat meningkatkan stres, lalu mengapa orang tetap menonton tayangan itu? Menurut Alan Hilfer, psikolog kepala di Maimonides Medical Center, New York, jawabannya sederhana: rasa ingin tahu. ”Kita semua mencari saluran mengenai informasi baru untuk menambah informasi yang sudah kita punya,” katanya, ”Meskipun (peristiwa) itu traumatik bagi kita.” Terkait dengan pembantaian di kampus Virginia Tech baru-baru ini, ia juga mengingatkan orangtua yang memiliki anak untuk berhati-hati dengan tayangan yang bisa berakibat traumatis.

Should we be allowing children to watch TV in the aftermath of this rampage in Virginia? Clearly, one of the lessons that we learned from September 11 is ‘no’ — that parents should screen their kids, as well as themselves if they know themselves to be especially vulnerable — from watching this.

Bagaimana Mengurangi Efek Stres?

Ada kabar baik dari penelitian yang dilakukan Propper: stres tersebut bisa dikurangi. Penelitian Propper menunjukkan bahwa gambaran 9/11 yang spesifik, seperti menara yang terbakar atau pesawat yang menabrak menara, perlahan-lahan digantikan oleh gambaran yang lebih tidak spesifik dan tidak menimbulkan stres. Hal ini terjadi dengan semakin banyaknya waktu yang dihabiskan subjek untuk membicarakan kejadian itu dengan keluarga atau teman.

Hilfer juga setuju dengan temuan ini. Menurutnya, psikolog selalu terkait dengan orang yang dapat membagikan stres-nya – datang ke seorang terapis, membicarakan peristiwa yang menimbulkan stres dalam hidupnya, dan pulang sambil berkata, ‘wah, saya merasa lebih baik’. ”Mungkin penelitian Propper belum secara konkret membuktikan ini,” tambahnya, ”tapi berbagi cerita dan kepedulian – dan mempunyai seseorang sebagai pendengar – sering mampu mengurangi stres.”

Sumber:

9/11 Dreams Study Suggests TV Coverage Boosted Stress – Yahoo! News

Bacaan Lebih Lanjut:

American Psychological Association on Anxiety

5 Komentar leave one →
  1. evelyn pratiwi yusuf permalink
    Kamis, 10 Mei 2007 9:02 am

    Well dilihat dari segi psikologi posting anda amat sangat dalam.
    Baik saya coba kasih comment dari sudut pandang Ilmu Komunikasi.
    Adanya Stress dan Deperesi saat melihat tayangan reportase secara terus menerus itu adalah fakta nyata dari Teori Kultivasi dimana media berhasil membuat seseorang memandang isi media sebagai realita yang karena mereka melihat terlalu sering.
    Dari segi kenapa bad news is a good news karena itulah media.
    Kalau tidak begitu media tidak akan hidup dan tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai si tukang kontrol dalam Trias Politika di Dunia.

    ~evelyn
    http://evelynpy.wordpress.com/

  2. Jumat, 11 Mei 2007 11:10 pm

    @evelyn:
    Wah, makasih buat pandangannya dari disiplin ilmu lain. Mungkin bisa tambah menarik lagi kalau dibahas lebih mendalam di blognya Mbak Evelyn?😉 Saya tidak bermaksud bilang ‘memberitakan bad news itu salah’; koreksi itu perlu, dan sering kasus2 yg belum selesai perlu diingatkan kembali biar orang gak lupa. Hanya saja memang beberapa orang lebih rentan psikologinya terpengaruh oleh overexposure ini.

    Oh ya, buat temen2 lain yang mau tau ‘teori kultivasi’ itu apa (saya juga baru tau), silakan dibaca entri wikipedia ini.

  3. Rabu, 16 Mei 2007 1:13 am

    Gimana dengan tayangan kekerasan di TV Lokal kita?
    Ada riset yang menyelidikinya nggak?

    Menurut Jarwo Kecik, Menteri Kebudayaan kita(atau pariwisata dan kebudayaan? Mboh ah), Peran media itu juga sebagai pembangun mental bangsa. Apa jadinya bangsa kalau di media dicekoki kekerasan?

    @evelyn
    Bukannya itu berarti bad news is good news, good news is more audiences, more audiences is more money?

  4. Kamis, 17 Mei 2007 9:03 am

    @dnial:
    Klo nggak salah memang ada penelitian yang melihat ada korelasi antara lama menonton sinetron dan tingkat agresivitas, tapi saya lupa apa dan siapa yg neliti; nanti saya cari lagi. Surprisingly, penelitian tentang ini masih cukup jarang lho di Indo.

    Dan Menteri Pariwisata & Kebudayaan kita namanya Jero Wacik; mungkin anda ingatnya Jarwo Kwat di Republik Mimpi kli ya😉

  5. Kamis, 17 Mei 2007 4:22 pm

    @catshade
    Yup
    Salah inget.. Hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: