Skip to content

Pentingnya Bercerita bagi Anak

Minggu, 6 Mei 2007
by

gambar diambil dari www.english.ccsu.eduUntuk para pembaca yang sudah memiliki anak, izinkan saya bertanya terlebih dahulu: kapan terakhir kali anda bercerita pada anak anda? Ada yang belum pernah sama sekali? Anda yang belum memiliki anakpun juga bisa mencoba mengingat-ingat kembali: kapan (atau pada umur berapa) terakhir kali anda didongengi oleh orangtua anda? Kalau anda mempunyai pengalaman mendongengi anak atau didongengi orangtua, maka selamat buat anda. Kalaupun anda tidak mempunyai pengalaman, anda juga tidak sendirian. Masih banyak orangtua yang belum menyadari pentingnya bercerita bagi anak mereka, dan hal ini patut disayangkan.

Zaman yang semakin sibuk dan ramai bisa dibilang turut memperparah gejala ini. Orangtua, dan tak jarang keduanya (ayah dan ibu), bekerja lebih keras dan lebih lama di luar rumah, sehingga mereka sudah kehabisan tenaga (kecuali untuk memencet remote control TV) untuk menghabiskan waktu bersama anaknya. Banyaknya pilihan media juga cenderung membuat orangtua membiarkan anaknya ’didongengi’ oleh film, acara TV, musik, buku, komik, internet, dan game yang belum tentu sesuai perkembangan usia mereka dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orangtua kepada anaknya. Padahal bercerita mempunyai dampak yang lebih buat anak dibandingkan dengan media-media yang lebih modern.

Yang pertama-tama harus diingat adalah bahwa bercerita (storytelling) tidak sama dengan membacakan cerita (reading). Bagus Takwin dalam bukunya, Psikologi Naratif: Membaca Manusia sebagai Kisah (2007), memaparkan pendapat para tokoh-tokoh antropolog dan folklore mengenai keunikan aktivitas bercerita. Pada intinya, bercerita lebih dari sekedar membacakan cerita; dalam bercerita, kita juga menghidupkan kembali kisah (entah itu tulisan atau lisan) dengan menggunakan beragam keterampilan dan alat bantu. Dasar-dasar ilmu peran, seperti pengubahan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, menjadi sangat penting dalam proses bercerita. Pencerita juga melibatkan sebanyak mungkin Meskipun tidak menjadi kewajiban, penggunaan media bantu, seperti gambar sederhana, musik pengiring, atau model (misalnya boneka atau rumah-rumahan) dapat membantu menghidupkan kisah yang kita sampaikan dalam benak pendengarnya.

Namun yang paling membedakan bercerita dari membacakan cerita adalah dimungkinkannya interaksi antara pencerita dan pendengar dari awal hingga akhir aktivitas bercerita. Dalam hubungan orangtua-anak misalnya, anak bisa mengusulkan atau memilih cerita tertentu yang ingin ia dengarkan pada saat itu. Ketika aktivitas bercerita tengah berlangsung, anak juga dapat memberi masukan kepada pencerita, bisa dari dari segi teknis (cara bercerita) atau dari isi cerita itu sendiri. Setelah cerita selesai, interaksi tetap bisa dipertahankan, misalnya dengan memandu anak untuk mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Jika keterampilan, alat bantu, dan interaksi yang telah disebut di atas digunakan dengan baik, banyak manfaat yang bisa diperoleh anak (dan juga orangtua sebagai pencerita) dari aktivitas bercerita. Berikut adalah manfaat-manfaat yang bisa diperoleh tersebut (Takwin, 2007):

  • Berbagi dan menciptakan pengalaman bersama dengan bantuan cerita dapat mengembangkan kemampuan anak menafsirkan peristiwa yang ada di luar pengalaman langsungnya. Melalui cerita-cerita yang disampaikan, pemahaman anak tentang dunia dapat diperluas dalam atmosfer yang penuh cinta dengan cara yang aman. Anak tidak perlu mengalami sendiri kejadian-kejadian berbahaya untuk memahami adanya bahaya. Anak tidak perlu mengalami penderitaan untuk memahami adanya penderitaan. Anak dapat memahami apa itu kebahagiaan dan bagaimana mencapainya, lalu memproyeksikan pemahamannya itu ke masa depan dan bergerak mencapainya di kemudian hari.
  • Penceritaan memperkenalkan pola bahasa lisan kepada anak. Anak butuh pengalaman yang luas mengenai bahasa agar bisa belajar membaca dan menjadi pembaca yang unggul.
  • Penceritaan mengembangkan kemampuan menyimak dan mendengar aktif pada diri anak.
  • Penceritaan mengembangkan sikap positif anak terhadap buku dan membaca. Bercerita merupakan alat yang prima untuk memperkenalkan anak dengan dunia bacaan yang menakjubkan. Untuk tujuan ini, pencerita memegang dan membaca buku ketika bercerita agar anak memiliki asosiasi positif antara buku dengan kesenangan yang ia dapat dari mendengarkan cerita. Pencerita pun menjelaskan buku apa yang dibacanya sebagai sumber cerita yang disampaikannya.
  • Penceritaan menyumbang kepada perkembangan sosial dan kognitif melalui pengalaman yang dibagikan lewat cerita serta ikut serta menghayati kebahagiaan atau kesedihan, keberuntungan, atau kemalangan orang lain. Melalui penceritaan, anak-anak dapat belajar empati, dalam arti menempatkan diri pada posisi orang lain, mengembangkan kepedulian, serta memahami keterkaitannya dengan orang lain dalam dunia bersama.
  • Penceritaan menyumbang kepada kesehatan mental anak serta menolong anak belajar mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Dengan bercerita, pencerita dapat membantu anak mengembangkan kemampuan pengelolaan dirinya melalui pemberian struktur bagi khayalan dan fantasinya.
  • Penceritaan membantu anak untuk mengembangkan sebuah sistem nilai etis.
  • Kegiatan bercerita memperkenalkan anak dengan kisah-kisah klasik yang teruji kualitasnya dan umum dikenal orang karena hal-hal baik yang dikandungnya.
  • Penceritaan membantu anak menambah perbendaharaan kata.
  • Cerita menghibur dan menyenangkan anak.
  • Penceritaan memperkaya anak di pelbagai ranah kurikulum, seperti bahasa, sejarah, budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial. Bahkan dewasa ini bercerita sering dijadikan media untuk belajar matematika.
  • Cerita membantu anak untuk dapat menghargai kekayaan budayanya serta kekayaan budaya bangsa lain.
  • Penceritaan memfasilitasi anak untuk mendapatkan hikmah dari cerita yang dapat ia perbandingkan dengan pengalamannya sehari-hari.
  • Penceritaan melenturkan pikiran anak dan membantu anak belajar memahami hal-hal dari beragam sudut pandang; meningkatkan kompleksitas pikiran anak.
  • Cerita memfasilitasi imajinasi dan fantasi dalam rangka pengembangan kreativitas.

Sumber:

Takwin, Bagus. (2007). Psikologi Naratif: Membaca Manusia sebagai Kisah. Yogyakarta: Jalasutra.

Entri Wikipedia mengenai Storytelling

Bacaan Lebih Lanjut:

Mendongeng itu Mudah – Pikiran Rakyat, 24 Juli 2005 (via arsip milis Keluarga-Sejahtera)

Mendongeng, Kado Cinta untuk si Kecil – Tabloid Nova

Mendongeng agar Anak Gemar Membaca – Kompas Cyber Media

18 Komentar leave one →
  1. Selasa, 8 Mei 2007 2:31 pm

    sewaktu kecil aku sering dengar cerita….
    ketika aku mau tidur…, ibuku selalu mendongengi aku…
    asyik juga….
    sayang semua itu sekarang cuma tinggal kenangan…. meski aku sudah jadi orang,…ingin rasanya ada orang yang mau di ajak cerita..
    bukan cerita sikancil,,…
    bukan cerita si malin kundang…
    tapi cerita kehidupan yang terlalu indah ini…..

  2. Rabu, 9 Mei 2007 8:12 pm

    @zainuri:
    Ngeblog itu juga termasuk bercerita kok Mas, malah kita bisa menjangkau (jauh lebih) banyak orang. Keep blogging makanya😉

  3. Rabu, 9 Mei 2007 11:51 pm

    Dongeng – sepertinya gak pernah deh – orang tua sibuk denganurusan masing2, Pergi pagi pulang PETANG. Gimana bisa bercerita – bertatap muka dan bercengkrama saja susah (paling Via Telpon). Pagi2 orang tua berangkat kerja – anak masih ngorok tidur. Orang Tua Pulang Malam, Anak sudah Ngorok dan Tidur. Jadi tidak pernah bertemu. Anak jadi besar sama pembantu. Kasih sayang terbuang. Pendidikan di rumah di dapat dari pembantu dan Media Televisi.
    Saya kecil dulu masih sempat dengerin cerita dan dongeng dari Eyang (kecil sama eyang).
    Kalau orang tua dulu hidup ini tidak NGOYO, jadi kehidupan bisa tenang langgeng dan Damai sampai tua (walau dengan kehidupan) yang sederhana.
    Tapi kini, bisakan kita bercermin dari orang tua (kakek-nenek) kita ?

  4. Rusdy permalink
    Kamis, 10 Mei 2007 2:01 pm

    Topik yang sangat menarik, dan memang sangat perlu untuk memberi tanggung jawab pendidikan kembali ke orang tua (salah satunya, dengan bentuk cerita)

    Saya yakin, seperti yang ‘wargabanten’ sudah katakan, pada kenyataan-nya, secara mayoritas, orang tua begitu percaya kepada orang lain dalam hal mendidik buah hatinya sendiri, dari sekolah, televisi, video games, bahkan pembantunya.

    Saya penasaran, kalau mau diadakan survey, seberapa banyak waktu yang dihabiskan orang tua dalam hal menghabiskan waktu yang berkualitas (berbicara hal-hal yang serius, bercerita, bermain bersama, dan lain-lain) dengan anaknya sendiri? Apakah orang tua begitu sibuknya (prioritas dimana?), sehingga harus memberikan tanggung jawab pendidikan (terutama moral) kepada orang lain (Sponge Bob, Thomas and Friends, orang yang tak dikenal, dan lain-lainnya)??

  5. Jumat, 11 Mei 2007 7:50 am

    @wargabanten, rusdy:
    Yep, I agree with you all. Kayaknya banyak orang sekarang nggak berpikir panjang ketika mereka memutuskan untuk punya anak (yah, banyak juga yang nggak kepikiran sama sekali alias ‘kecelakaan’ ^^; ). Saya sendiri secara pribadi nggak mau dulu punya anak (halah, kawin aja belum!) sebelum saya yakin saya (atau istri, tapi bagus sekali kalau bisa dua2nya) bisa menyisihkan cukup waktu dari pekerjaan saya buat ngurus anak. Kualitas waktu memang yang utama, tapi kuantitas juga penting.

  6. Jumat, 11 Mei 2007 11:08 am

    Pedidikan moral melalui “dongeng sebelum tidur”, budaya ini telah tergeser oleh maraknya sinetron TV (yang tentunya sangat tipis nilai moral bahkan nilai budaya bangsa).
    Namun jaman telah berubah, saat ini kita terpaksa atau dipaksa menerima keadaan. Semua telah berpihak pada kepentingan untuk meraih keuntungan, yang penting dapat menghasilkan. Seperti penyelenggara TV Swasta yang mempunyai misi untuk meraih penghasilan setinggi-tingginya malaui iklan tanpa mau memikirkan pantas tidaknya untuk disuguhkan. Seperti lawakan yang marak dan digemari, acara Talkshow “Empat Mata” oleh mas Tukul tentu banyak yang terpaku di depan TV karena dianggap dapat memberi hiburan paling segar selain acara Extravagansa. Tidak ketinggalan dari anak sampai orang tua, karena melalui TV inilah hiburan yang paling mudah dan murah untuk kita peroleh.
    Sebagai ortu, coba analisa dari nilai-nilai moral maupun keagamaan. Apakah acara tersebut mengarah pada pembentukan kecerdasan spiritual, ataukah tidak. Yang jelas acara tsb sangat menyita waktu, dimana saat-saat belajar atau istirahat harus dikalahkan.
    Namun bagaimana orang tua yang mempunyai tanggung jawab langsung terhadap pertumbuhan moral anak dapat meng-filter dari pengaruh negatifnya, tentu sulit karena tidak mungkin televisi sebagai sumber hiburan satu-satunya harus disingkirkan. Dan kenapa tidak ada kebijakan dan pemikiran bagi yang berwenang, agar penyusunan acara hiburan dikaitkan dengan kepentingan pendidikan bangsa. Baik itu waktu/jam tayang maupun muatan yang disuguhkan ada kontrol dan tanggung jawabnya. Mudah-mudahan kita mau sadar terhadap kondisi bangsa, yang mana semakin hari semakin menurun nilai budayanya.
    “Eksistensi suatu bangsa diukur dari adanya nilai moral dari bangsa itu”. Ini sekedar urun rembug.

  7. Rabu, 16 Mei 2007 10:47 am

    Sebagai ortu kita wajib mendongeng untuk anak (saya ingat, saat SMA masih suka dengeri ibu mendongeng untuk adik2…padahal ceritanya berkisar Cinderella mulu). Makin besar…anak tetap butuh perhatian, mendongengnya tentu dengan topik yang berbeda…bahkan saya sadar anak dewasa, ataupun suami tetap butuh diiperhatikan dengan dongengan…entah apa yang dibahas di koran (biasanya terus jadi ajang perdebatan seru), di TV dan saling gantian cerita.

    Dan rasanya tak lelah kok, kalau hal ini telah menjadi kebiasaan, ngobrol sambil makan pagi/malam…atau kadang cerita sambil melakukan kegiatan bersama….sambil piknik, berkebun…atau bahkan diperjalanan.

    Ehh..mendongeng dengan peraga seru juga lho…akibatnya boneka ga ada yang beres karena jadi ajang permainan sambil mendongeng (saat anak2 masih TK/SD)

  8. Rabu, 16 Mei 2007 2:22 pm

    klo jaman kecil dulu emg dongengnya bagus2…
    klo sekarang anak kecil disuruh ntn film yang indonesia punya…
    plis de.. gw aja ga suka, malah jarang ntn film..
    sebel.. ada nya cuman fitnah, egois, jahat, licik, penindasan.
    Film kaya gitu kok dipelihara (pendapat gw si)
    Maklum ga suka film kek gituan..
    mendingan nonton Friends berulang kali de😀

  9. Kamis, 17 Mei 2007 9:14 am

    @edratna:
    Setuju, bercerita/mendongeng nggak harus meluangkan waktu khusus kok (ini buat para ortu yg ngerasa gak punya waktu buat mendongengi anaknya). Bisa sambil melakukan kegiatan lain, dan dongengnya pun nggak harus dari antah-berantah. Salut buat bu Ratna dan tradisi bercerita di keluarganya😉

    @cien:
    Jaman sekarang juga dongengnya masih bagus2 kok, hanya saja hampir nggak ada di TV. Mending disuruh baca buku aja daripada nonton TV.

  10. Jumat, 25 Mei 2007 9:58 am

    mendongeng susah2gampang

  11. BETTY YOICE-PALANGKA RAYA permalink
    Kamis, 31 Mei 2007 9:08 am

    CERITA DARI ORANGTUA DI MASA KECIL DULU, SANGAT BERKESAN DAN SELALU SAYA INGAT. DONGENG YANG DICERITAKAN DULU, MASIH SAYA INGAT SAMPAI SEKARANG. KARENA ITU SEJAK KECILPUN SAYA JADI SUKA BERCERITA DAN DISENANGI OLEH ADIK-ADIK YANG LEBIH KECIL DARI SAYA. IBU DAN SUAMI BILANG KALO SAYA CERITA, CERITA YANG BIASA-BIASA JADI HEBOH. NAMUN YANG PERLU DIPERHATIKAN SEKARANG ADALAH MEMBUAT DAN MENYAMPAIKAN CERITA DALAM BENTUK APAPUN BAIK DONGENG DSB ITU ADA PESAN MORAL YANG INGIN KITA SAMPAIKAN PADA ANAK. JADI NGGA HANYA SEKEDAR BIKIN ANAK-ANAK SENANG ATAU TERBESONA. GITU LHO…

  12. vivi permalink
    Kamis, 4 Oktober 2007 4:18 pm

    iya nich, klo di ingat2 dah 10 tahun aq g dengerin cerita.. dulu cerita yang paling aq sukai adalah mata 1, mata 2, mata 3, ato sekarang tuh lebih populer ma namanya … apa yupz.. mungkin bawang merah-bawang putih.. mirip sih… akan aq ingat untuk anakq kelak…key.

  13. Boelanyoenk permalink
    Selasa, 4 Desember 2007 11:24 am

    Saya tidak pandai berdongeng tapi berkomunikasi dengan anak2 kecil sering saya lakukan.

    Dalam berkomunkasi dengan mereka (ringan,serius,berdanda) saya menempatkan mereka seperti orang yang layak diajak bicara normal. Mereka boleh berpendapat, memprotes, membantah dan sesekali saya membiarkan mereka memotong pembicaraan (kasian ntar mereka lupa apa yang mereka ingin bicarakan).
    Saat ini saya sering berkomunikasi dengan anak dari keponakan saya (saya dipanggil Opa hihihihi…). Lidahnya lebih oendek dari lidah kita yg normal sehingga dia menjadi cadel tapi bila sedang berkomunikasi dengan dia saya tidak pernah mencadel2kan. Mungkin itu akan merangsang dia untuk berusaha bicara benar (secara alami tubuh akan merecovery, adapasi) itu menurut saya yg belum di dukung oleh science. Dan memang dia menjadi lebih berani bicara sekalipun menurut pendapat banyak orang “CEREWET” buat saya tidak. Itu menuju HANDAL.

    Ada beberapa cucu yang saya anggap mereka handal dalam usia mereka karena cara saya dan orang2 rumah saya memperlakukan mereka.

    Saya punya 14 cucu dari ponakan semua.

    Sementara cucu2 saya yang lain, ngomong sedikit dicela, berpendapat lebih berlogika dari ortunya dicela (gengsi ORTU) … akhirnya yang ada mereka cuma takut bukan hormat sama ORTU.

    APA KATA DUNIA ?

  14. eka permalink
    Senin, 24 Desember 2007 2:47 pm

    ortuq dulu bsa d blang jarang bgt ngdongengn aq..
    mngkin bsa d itung….
    dongeng2x lebih ke crta daerah n nasehat,,,g pernah dngeng cinderella atw sjenisx…
    tpi aq jg mkir,,,tu bwat aq jdi g manja..
    dng mrka jrang crta.
    soal imajinasi,,aq bsa ngembangin imjnasiq sndri.., g patokan jg ma ortu…
    tu yg aq rsain si..

    yg pling mnyenangkan sbnernya adlah ortu qt ada..
    mskipun ia g bsa ngdongeng, tpi yg slalu qt rinduin adalh sosok mreka…

  15. liya permalink
    Kamis, 28 Februari 2008 3:01 pm

    saya senang dengan tulisan ini, saya punya rencana untuk membuat TA tentang cerita moral ke anak. klo bleh saya di kirimkan beberapa bahan. Thx

  16. Selasa, 13 April 2010 9:35 pm

    Wah…menarik sekali ini….
    hmm…Saya sepakat dengan pendapat yang mengatakan pendidikan moral melalui story telling…..
    saya lagi cari referensi juga tentang pembahsan pada wordpress ini..ada yang punya nggak ya??
    kalau ada..tolong dikirim ke email saya ya..
    haris.alhakim@yahoo.com

  17. Minggu, 17 Mei 2015 11:34 pm

    sumber bacaan anak menurutku http://www.penuliscilik.com krn semua ceritanya bersumber dari anak-anak….🙂

Trackbacks

  1. 5 Alasan Mengapa Kita Sebaiknya Bekerja di Rumah « Taman Berteduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: