Skip to content

Resensi: “The Interpretation of Murder”

Sabtu, 12 Mei 2007
tags: ,
by

gambar diambil dari www.inibuku.comSeseorang baru saja turun dari kapal yang sampai di seberang lautan Atlantik yang lain. Ia bukan penumpang biasa: Ia adalah Sigmund Freud, begawan psikoanalisis yang paling berpengaruh di Eropa di awal abad ke-20. Ia ditemani oleh dua orang pengikutnya: Carl Gustav Jung dan Sandor Ferenczi, dua orang yang pengaruhnya juga cukup kuat di lingkaran para psikoanalis. Freud datang untuk pertama kalinya ke daratan Amerika atas undangan G. Stanley Hall dari Universitas Clark untuk sebuah gelar kehormatan sekaligus memberikan ceramah pada publik Amerika yang masih curiga terhadap psikoanalisis.

Pada masa itu, tidak banyak yang diberitakan mengenai kunjungan ini. Namun sekembalinya ke Wina, Freud terus mengeluhkan mengenai orang-orang Amerika yang ’biadab’ (savage). Ia juga menolak tawaran-tawaran untuk kembali berkunjung ke Amerika. Banyak pertanyaan mengenai apa yang dialami Freud selama satu minggu itu di Amerika yang memunculkan sikap anehnya, namun tidak ada jawaban yang memuaskan hingga ia wafat. Jed Rubenfeld mencoba untuk menjawab misteri itu dengan karya fiksi pertamanya, The Interpretation of Murder: sebuah kasus pembunuhan yang harus dipecahkan oleh Freud dan rekan-rekannya, dengan latar belakang konspirasi yang berusaha untuk menjatuhkan reputasinya.

  • Judul : The Interpretation of Murder
  • Jenis : Fiksi Sejarah
  • Pengarang : Jed Rubenfeld
  • Penerbit : Ufuk Press
  • Tahun Terbit : Maret 2007
  • Halaman : 610
  • Harga : Rp. 55.000,-

Interpretation of Murder (selanjutnya disebut dengan Interpretation) termasuk dalam jenis fiksi sejarah (historical fiction) yang kembali ngetrend pasca kontroversi yang diciptakan Da Vinci Code. The Dante Club (Matthew Pearl), The Historian (Elizabeth Kostova), dan Nefertiti – The Book of Dead (Nick Drake), adalah beberapa contoh lain fiksi sejarah yang juga hadir belakangan ini. Fiksi sejarah pada umumnya memiliki kelebihan dalam menampilkan data dan atmosfer sejarah yang kuat sebagai basis tulisannya. Cerita-cerita yang dapat dikategorikan sebagai fiksi sejarah biasanya menggunakan tokoh-tokoh sejarah yang nyata sebagai pelaku sebuah peristiwa fiksi, meskipun tak jarang pula hanya sekedar menggunakan alur waktu sejarah tertentu sebagai latar belakang.

Interpretation mencoba menggapai keseimbangan antara yang fakta dan yang fiksi: tokoh utama dalam novel ini adalah Stratham Younger, seorang psikoanalis fiktif dari Amerika yang merupakan pengagum berat Freud dan menjadi ‘tuan rumah’ rombongan Freud selama seminggu kunjungan mereka ke New York. Pada awal kunjungan mereka itulah sebuah pembunuhan, dan sebuah percobaan pembunuhan, terjadi. Modus operandinya serupa: seorang wanita ditemukan tewas dengan tubuh dicambuki, disayati, leher yang dijerat, dan nyaris tanpa pakaian. Pada percobaan yang kedua, sang pelaku terpaksa kabur sebelum sempat mencabut nyawa korbannya. Korban kedua ini, seorang gadis muda, tiba-tiba kehilangan suara dan tidak mampu mengingat apapun dari kejadian itu. Maka Younger pun harus mengerahkan segenap kemampuan psikoanalisisnya untuk mengangkat peristiwa itu dari alam bawah sadar si gadis, kunci utama untuk dapat menangkap si pelaku pembunuhan berantai itu sebelum ia beraksi lagi.

Meskipun peristiwa dan tokoh utamanya fiktif, ini bukan berarti tokoh-tokoh sejarah kita sekedar menjadi tempelan dan pemanis cerita. Freud ikut aktif terlibat membimbing Younger yang kurang percaya diri dalam melakukan terapinya pada Nora Acton, sang korban. Selain itu, Freud dan teman-temannya juga mendapat porsi besar dalam cerita-cerita paralel yang tak kalah menarik. Plot lain yang juga ada dalam Interpretation berkisar pada sebuah kelompok misterius yang tidak menyukai ajaran baru yang dibawa Freud. Segala cara, termasuk sabotase, teror, dan fitnah, digunakan untuk menggagalkan terbitnya buku terjemahan Freud dalam bahasa Inggris, juga ceramahnya di Universitas Clark. Dalam plot ini juga terungkap konflik yang dialami Freud dengan ’putra mahkota’nya sendiri, Jung, yang berujung pada perpisahan mereka sebagai sahabat dan kolega. Plot-plot sekunder ini bertaut sangat baik dengan plot utama Interpretation dari awal hingga akhirnya tanpa berat sebelah atau terasa terlalu panjang.

Jika ada hal lain yang bisa dikatakan mengenai pengembangan cerita dalam Interpretation, maka itu adalah ritmenya yang cepat, hampir-hampir seperti film (saya tidak heran jika dalam beberapa bulan ke depan hak adaptasi film dari novel ini dibeli oleh Hollywood). Peralihan dari satu adegan ke adegan lain yang tidak lama; berpindah-pindahnya lokasi cerita dari satu tempat eksotis ke tempat lain yang tak kalah uniknya; pengembangan cerita yang banyak dibangun dari dialog dan aksi tokoh-tokohnya; kesemua itu membantu pembaca untuk memvisualisasikan Interpretation dalam kepala mereka. Belum lagi banyaknya plot twist dan cliffhanger membuat pembaca akan terus terdorong untuk beralih ke halaman selanjutnya untuk mengetahui nasib tokoh cerita. Hanya saja, ada yang menjadi korban dari ritme yang cepat ini. Salah satunya adalah Detektif Littlemore, polisi New York yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi. Tidak jelas apakah pengarang mencoba menempatkannya sebagai pendamping tokoh utama atau hanya tokoh sekunder. Ia banyak melakukan aksi-aksi yang menggerakkan jalan cerita Interpretation, namun karakterisasinya terkesan kurang digarap dengan matang dan dan plot-plot minor mengenai dirinya terlalu cepat diakhiri.

Satu hal lagi yang layak diperhatikan dari usaha pertama pengarang dalam menulis fiksi sejarah ini adalah kepatutan dan pertanggungjawabannya. Ia tidak berusaha menciptakan sesuatu yang ”memukau nalar dan mengguncang iman.” Biarpun fiktif, segala sesuatu yang seharusnya ’nyata’ dalam buku ini mengalir dengan cukup wajar. Dinamika terapi yang dilakukan Younger, misalnya, memang merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam sesi-sesi psikoanalisis (kasus Nora Acton sendiri diadaptasi dari kasus Ida Bauer yang nyata dihadapi Freud). Dialog-dialog Freud, Jung, dan Ferenczi, juga banyak diambil dari karya-karya maupun biografi mereka sendiri. Tak lupa di akhir novelnya, pengarang memberikan keterangan yang sangat informatif mengenai bagian mana dari Interpretation yang sungguh-sungguh nyata, diadaptasi atau didramatisasi, dan sepenuhnya fiksi. Di tengah maraknya penulis ala Dan Brown yang mengumbar klaim kebenaran palsu, pertanggungjawaban Jed Rubenfeld harus dipuji.

Akhir kata, Interpretation pantas disimak oleh dua segmen pembaca: Orang-orang yang berkecimpung di bidang psikologi, atau setidaknya yang mempunyai minat besar pada ilmu psikologi, kemungkinan besar akan tertarik membaca lebih jauh untuk mengetahui bagaimana sebuah karya fiksi menampilkan tokoh-tokoh yang sudah terlebih dahulu anda kenal lewat karya-karya nonfiksi. Namun untuk anda yang tidak mengenal mereka ataupun buta sama sekali mengenai psikologi, jangan kuatir; Interpretation tetap sama mengasyikkannya dibaca sebagai sebuah thriller, dan anda sekaligus juga dapat sedikit mengetahui sejarah, prinsip, dan metode yang digunakan dalam psikoanalisis.

11 Komentar leave one →
  1. Rabu, 16 Mei 2007 1:01 am

    Seems like a good book.
    Nggak terlalu mahal juga.

    Btw good review, menyeluruh dan mendalam.

  2. Kappa permalink
    Kamis, 17 Mei 2007 7:15 am

    Alow Cattie🙂

    Good review, jadi pengen beli😀 Kalo boleh tau, ini terjemahan bahasa Indo-nya bagus ga? Gw baca ‘The Dante Club’ terjemahannya bikin bobo😛

  3. Kamis, 17 Mei 2007 9:19 am

    @dnial:
    thanks🙂

    @kapkap:
    Alow kap ^^ Ah ya, gw lupa membahas soal terjemahannya ^^; Terjemahannya di atas Dante Club sih IMHO…but only marginally. Ada beberapa typo yang mengganggu, dan terjemahan istilah yang gak pas (itu mungkin krn gw dah tau istilah psikologi yg bener-nya). Pace-nya juga lebih cepet dari Dante Club, jadi rasanya nggak bakal sampe ketiduran ^^;. Gw rekomendasikan beli buku aslinya kalo ada duit. Paling beberapa bulan lagi keluar versi paperbacknya yang cuma sekitar 100 ribuan.

  4. Jumat, 18 Mei 2007 7:35 pm

    ada beberapa terjemahan yang sering tumpang tindih misalnya transference (tr) dan counter-transference (c-tr) sering dianggap sama.

    bahasa indonesianya transference = transfer pemindahan, tapi apa yang dirasakan Younger thd Acton juga dikatakan transfer pemindahan, padahal harusnya c-tr🙂

    Terus, konflik Freud-Jung digambarkan kurang intens. Padahal dalam surat-surat Freud-Jung yang pernah kubaca, isinya benar-benar adu “teori” dan adu “urat”🙂 Jung memang tidak menolak seksualitas infantil, tapi Jung juga menekankan masa kini dan juga parapsikologi. Tapi perpisahan mereka memang membuat psikoanalisis lebih berwarna. Sayang Fernczi tidak terlalu menonjol teorinya, juga dgn anaknya Freud, Anna yg hanya mengulang teori Freud.

    Tapi buku ini memang bagus, tapi agak sedikit “ruwet” kalau dibaca orang yg nggak terlalu ngerti istilah-istilah psikoanalisis yang segudang itu. Temanku kuminta membacanya dan langsung pusing dengan istilah-istilah aneh spt kompleks oedipal, seksualitas infantil, tahap perkembangan seksual, hysteria, neurosis, dlllll🙂

    *yg lagi libur*🙂

  5. Minggu, 20 Mei 2007 2:26 am

    @fertob:
    Wah, makasih Mas Fertob buat mini-reviewnya. Saya pikir konflik Freud-Jung yang digambarkan di situ sudah didramatisasi, ternyata yang aslinya malah lebih ‘seru’ lagi ya. Wah, saya mesti baca2 suratnya tuh. Dan soal istilah yang segudang itu, iya ya, saya sampe gak sadar kalo orang lain bisa kesulitan, soalnya kita2 udah terhabituasi ya Mas🙂 Terimakasih banyak buat tambahannya ^^

  6. Jumat, 25 Mei 2007 4:23 pm

    saya ini penggemar baru untuk buku-buku non fiksi, apalagi yang menyangkut sejarah. Karena, ya.mungki karena non fiksi, jadi “lebih enak dibaca dan mendebarkan”……..walaupun kadang muntah juga bila berlebihan. maksudnya berlebihan, jika alur cerita, atau muatan-muatanya, terlalu dibumbuhi yang “tidak sesuai dengan zamanya”. Buku yang sedang kubaca kini berjudul the romanov propecy, tetapi sayang…pusing menghapal naman-nama tokohnya. Mungkin juga buku intrpretaton sama ya…pusing, tidak hanya nama-nama tokohnya…ttapi juga istilah-istilahnya……. bagaimana ya cara menghapalkan nama-nama dan istilah yang demikian, seperti yang saya tanyakan disini?

  7. meL permalink
    Minggu, 27 Mei 2007 8:27 pm

    hikz…hikz…hikz….
    tadi’ny novel nie bwt skripsi w.. tadinya dah disetujuin ma dosen tapi’na pas diajuin kedua kale’na ditolak… hikz…hikz…hikz.. padahal w dah baca nie novel.. w pilih novel ini cuz seru banget critana.. palagi klw mu dibahas.. gampang bgt cuz nie novel psikologi bgt… pokona keren bgt deh…

  8. Minggu, 27 Mei 2007 11:40 pm

    mau tu, beli bukunya….
    tapi kemana?????

  9. Senin, 28 Mei 2007 11:32 am

    @mel:
    Mungkin karena novelnya fiksi kali ya. Mungkin bisa dicoba lagi dengan karya2 nonfiksi, seperti Sybil. Rasa2nya belakangan ini makin banyak kan biografi/otobiografi yang nyeritain masalah psikologis (seperti Tori Hayden atau semacamnya). Semoga sukses skripsinya🙂

    @rio:
    Di toko buku kayak Gramedia atau Gunung Agung biasanya ada kok.

  10. raksa permalink
    Selasa, 28 April 2009 11:16 am

    bagusssss

Trackbacks

  1. Am I Back ? « f e r t o b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: