Skip to content

Kita Semua Membutuhkan Makan…Makna, Maksud Saya

Jumat, 8 Juni 2007
tags: ,
by

“He who has a why to live for can bear with almost any how.”
(Friedrich Nietzsche)

Keinginan Akan Makna
Tentu sebagian besar dari Anda sepakat bahwa memikirkan makna hidup adalah tugas filsuf. Merekalah yang biasanya bergelut dengan hal-hal seperti itu ; bahasan yang ‘mengawang-awang tak memijak bumi’, mengutip istilah seorang rekan saya. Namun Viktor Frankl, seorang psikiater kelahiran Swiss, topik makna hidup bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari oleh filsuf. Bahkan makna sendiri bukan hanya suatu bahan pemikiran. Bagi Frankl, makna adalah keinginan terbesar manusia, sehingga setiap orang mau tidak mau akan berurusan dengan masalah yang berhubungan dengan makna. Setiap manusia akan selalu berusaha mencari makna dalam hidupnya.

Kehampaan Eksistensial
Usaha pencarian makna bisa menjadi sebuah kegiatan yang melelahkan, yang nantinya bisa berdampak negatif, yang disebut dengan kehampaan eksistensial. Frankl melihat, masyarakat modern sedang didera masalah ini, yang ditandai dengan kebosanan, perasaan hampa, tak bermakna, tanpa tujuan, tanpa sasaran dsb. Seseorang dalam kehampaan eksistensial akan selalu berusaha untuk ‘mengisi’ kekosongannya dengan berbagai hal yang menghasilkan kepuasan, dan berharap akan memperoleh kepuasan yang utama pula. Mereka mengisinya dengan makan berlebihan, melakukan seks bebas, bergaya hidup mewah, menyibukkan diri, komformitas*, minum minuman keras, berjudi, bahkan dengan kemarahan serta kebencian lalu mencoba menghancurkan apapun yang menyakitinya. Ada juga yang kemudian mengisi dengan kebiasaan-kebiasaan yang berulang, seperti menjadi gila kebersihan dengan mencuci tangan berkali-kali.

Pencarian Makna
Lalu, bagaimana kita bisa menghindari kehampaan eksistensial tersebut?
Bagaimana kita bisa terbebas dari rasa bosan?

Menurut Frankl, makna harus ditemukan dan tidak begitu saja didapatkan. Menurutnya, makna itu ibarat tertawa. Kita tak bisa memaksa orang untuk tertawa. Agar orang tersebut tertawa, kita harus menceritakan sebuah lelucon. Ia lalu memberikan tiga jalan yang bisa dipilih untuk menemukan makna, (1) dengan mengalami sesuatu, (2) terlibat dalam aktivitas kreatif, dan (3) melalui sikap sehari-hari.

Jalan pertama melalui pengalaman, seperti pengalaman melihat keindahan atau keajaiban alam. Namun, Pengalaman terpenting untuk menemukan makna adalah cinta terhadap orang lain. Cinta sendiri merupakan suatu bentuk pengakuan akan keunikan individu. Dengan mencintai, kita membantu yang kita cintai untuk menemukan makna, dan kita pun juga akan menemukan makna sendiri. Kadang, masyarakat dewasa ini seringkali menyamaartikan cinta dengan seks, padahal tidak. Sesungguhnya, menurut Frankl, seks hanya akan bisa dinikmati penuh jika merupakan ekpresi fisik dari cinta.

Jalan kedua adalah keterlibatan dalam aktifitas kreatif, seperti bidang seni, bermusik, menulis, menciptakan sesuatu dan mengikuti intuisi dalam proses kreatif tersebut.

Jalan ketiga adalah melalui sikap kita sehari-hari, seperti perhatian terhadap orang lain, keberanian, humor dan yang paling terkenal adalah lewat penderitaan. Lewat penderitaan, kita menjadi matang dan tumbuh serta lebih kaya dan kuat.

Makna Bagi Anda
Sekarang, sudahkah Anda mulai sedikit memikirkan tentang makna hidup Anda? Apa tujuan hidup Anda? Atau justru mulai merasa kebingungan karenanya?
Anda mulai bisa mencoba berbagai jalan untuk menemukan makna tersebut. Namun, karena manusia pada dasarnya adalah individu yang unik, pilihlah jalan yang paling sesuai dengan diri Anda; pilihlah jalan yang paling bermakna bagi Anda.

Selamat menikmati makna tersebut!

*kon.for.mi.tas, berasal dari kata Bahasa Inggris conformity, yang berarti mengubah sikap, kepercayaan, pemikiran atau tingkah laku agar sesuai dengan orang lain. [dalam http://allpsych.com/dictionary/c.html]

FA Triatmoko HS © 2007

Sumber Bacaan
Koeswara, Engkus. 1987. Psikologi Eksistensial: Suatu Pengantar. Bandung : PT. Eresco.

Dr. C. George Boeree, Personality Theories : Viktor Frankl. Original E-Text-Site: [http://www.ship.edu/%7Ecgboeree/perscontents.html] © Copyright 1998, 2002, 2006.

6 Komentar leave one →
  1. Sabtu, 9 Juni 2007 1:04 am

    Bukunya Pak Hana nggak dikutip mas ?😉

    Saya sih punya bukunya Frankl, kalo nggak salah judulnya Man’s Search for Meaning dan The Will To Meaning. Hasil titipan teman yang ke luar negeri. Memang agak sedikit rumit mengaplikasikan teori ini, apalagi bagi saya yang terbiasa dgn alam pemikiran mainstream (cognitive psychology).

    *thanks atas infonya*

  2. Sabtu, 9 Juni 2007 9:36 pm

    @ fertobhades
    hari ini, saya ke pesta buku jakarta, dan baru ingat bahwa ada bukunya Kang Hana berjudul Logoterapi, setelah datang ke stand penerbitnya!
    intinya saya belum sempat baca, sehingga tak ada kutipan dari buku tersebut..
    terima kasih banyak atas sarannya🙂 jika ada kesempatan, saya akan membeli dan membacanya..
    teori-teori psikologi eksistensial memang kadang sulit diaplikasikan, karena terlalu filosofis dan kurang operasional (jika dilihat oleh penganut behavioris). mungkin kita bisa saling bertukar ilmu? 😉 karena saya menyukai tema-tema dari ranah eksistensial.

  3. Manara permalink
    Sabtu, 16 Juni 2007 9:50 am

    logterapi nampaknya cocok untuk masyarakat modern saat ini yang kehidupannya semakin hampa dan mengalami apa yang disebut diatas sebagai kevakuman eksistensialis. perlu pengembangan dan sering ada pelatihan berkenaan dengan logoterapi saya kira.

  4. Sabtu, 16 Juni 2007 5:14 pm

    @manara
    saya rasa, logoterapi memang cocok digunakan pada masa ini. namun, saya melihat ada beberapa kendala, pertama jika masyarakat luas mengalami permasalahan yang sama, akan butuh berapa lama serta berapa ahli logoterapi untuk menjalankan logoterapi?
    kedua, saat ini psikologi yang mainstream, menurut saya adalah psikologi aliran kognitif (cognitive behavior therapy). sehingga mungkin logoterapi akan kurang ‘laku’ jika diajarkan melalui pelatihan.
    namun saya sendiri juga setuju dengan pendapat anda, bahwa logoterapi memang diperlukan saat ini.

  5. Jeremia permalink
    Selasa, 24 Maret 2009 4:28 pm

    teman-teman, saya berniat menyusun skripsi yang akan banyak membahas Frankl (dalam kaitannya dengan teologi). Bila ada saran atau dukungan buku-buku, izinkanlah saya merepotkan teman-teman sekalian. trims.

    das_anjere@rocketmail.com

  6. animusparagnos permalink
    Jumat, 24 April 2009 11:18 pm

    Dilematis. Saya pernah berpikir lebih baik manusia hidup tanpa makna, karena manusia akan terus selalu mencari makna sampai terpenuhi ruang yang kosong itu. Tapi konsekuensinya manusia akan menjadi seperti robot, tidak tahu apa hasrat hidupnya.
    ….. dan kini aku berada dalam neurosis noogenik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: