Skip to content

Humor, Cara Anak-Anak Baghdad Menghadapi Trauma

Minggu, 10 Juni 2007

Diambil dari gbgm-umc.orgApa yang ada dalam kenangan anda mengenai masa-masa sekolah dasar dahulu? Mortir yang jatuh di pekarangan rumah ketika anda sedang sarapan? Mayat-mayat yang bergelimpangan di tepi jalan yang biasa anda gunakan untuk berangkat ke sekolah? Mungkin sebagian besar dari kita di Indonesia tidak pernah merasakan hal itu, namun banyak anak-anak usia sekolah di Baghdad yang kini mengalaminya hampir setiap hari sejak tentara AS dan koalisinya memasuki Irak dan pertempuran melawan milisi bersenjata mulai berkobar di seluruh penjuru negara.

Tentunya lingkungan semacam itu tidak mendukung perkembangan mental anak yang sehat. Dalam situasi peperangan, banyak peristiwa brutal yang dapat disaksikan –dan seringkali juga harus dialami– oleh anak. Yahoo! News memuat gambaran yang mencekam mengenai seorang anak yang absen dari sekolahnya pada suatu hari. “Ketika saya menanyakan alasannya, ia bilang: karena ayah saya baru saja diculik,” kata seorang kepala sekolah. Sekolah yang sama juga menyediakan konseling untuk seorang anak lain yang ayahnya dibunuh di depan matanya sendiri.

Lebih dari dua juta orang telah mengungsi meninggalkan Irak, namun masih lebih banyak lagi yang bertahan tinggal dengan anak-anak mereka meskipun lebih dari puluhan ribu orang telah terbunuh dalam pertikaian berkepanjangan. Hampir tidak mungkin untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya normal di tengah negari yang kini karut-marut itu, sehingga para orangtua dan pendidik mulai memikirkan cara lain untuk meminimalisasi dampak buruk yang mungkin timbul pada anak-anaknya. Salah satunya adalah dengan mencoba menertawakan kemalangan mereka sendiri.

Komedi yang Kelam

Humor semacam inilah yang kemudian dicobakan pada anak-anak di sebuah sekolah di Irak. Tengok saja jawaban Saad (10 tahun) di atas panggung ketika ia ditanya mengenai apa sumber kekayaan Irak: “Irak kaya akan minyak, tapi kemarin saya mencari sebotol untuk mengisi lampu minyak saya dan tidak menemukannya di manapun.” Para penontonpun kontan tertawa terbahak-bahak. Jawaban Saad tersebut, walau sudah dipersiapkan sebelumnya, sangat menyentil kondisi Irak yang kerap dilanda pemadaman listrik dan kelangkaan bahan bakar. Atau lihat pula tanggapannya ketika ditanya berapa jumlah penduduk Irak: “Sebelumnya kita tahu bahwa penduduk Irak berjumlah 27 juta, namun sekarang kita tidak dapat memberikan angka pastinya.”

Saad adalah salah satu partisipan dalam pertunjukan sekolah yang dirancang untuk merefleksikan secara satir kehidupan mereka –para murid, orangtua, dan guru– yang terjebak dalam perang selama empat tahun. Para guru yang menggagas acara tersebut merasa bahwa mempersiapkan anak didiknya menghadapi kejadian sehari-hari yang berpotensi menimbulkan trauma jauh lebih baik daripada berusaha mengisolasi mereka dari kenyataan hidup di Irak yang sebenarnya. “Kita tidak dapat menampilkan pertunjukan yang mencerminkan kehidupan normal ketika fakta berkata sebaliknya,” kata seorang guru musik bernama Firas. Ia menambahkan, “Saya menghadirkan komedi gelap untuk menunjukkan kenyataan yang menyakitkan. Anak-anak ini adalah bagian dari kenyataan itu dan mereka tahu betul apa yang sedang terjadi.”

Meskipun para guru menganggap bahwa acara tersebut dapat membantu anak-anak didik mereka mengatasi stresnya, tidak semua pihak menanggapi secara positif. Salah satunya adalah Haider Abdul-Muhsin, seorang psikiater di RS Ibn Rushd yang menangani anak-anak yang mengalami trauma akibat kekerasan. Menurutnya, acara semacam itu lebih banyak dampak buruknya daripada dampak baiknya. Dalam menangani anak-anak itu, ia justru memiliki pendapat yang bertentangan dengan para guru tersebut. “Kita harus mencoba mengisolasi mereka seketat mungkin dari kenyataan, karena kenyataan ini salah; kita harus memberitahukan mereka bahwa (keadaan) ini hanyalah sementara dan ini akan berakhir.” Bisa dikatakan, Haider kuatir anak-anak itu akhirnya akan menganggap situasi peperangan dengan segala kekejamannya sebagai suatu hal yang biasa, seperti yang terjadi di penghujung acara sekolah itu: Abdul Aziz (9 tahun), yang diminta melengkapi sebuah trapesium menjadi gambar bebas yang lebih utuh, kemudian menggambar AK-47. “Karena di sepanjang jalan menuju sekolah, saya melihat orang-orang membawa senjata,” ujarnya ketika ditanya.

Meskipun terdapat berbagai perbedaan pandangan mengenai metode penanganan trauma pada anak-anak, rasanya semua orang akan setuju bahwa dalam konflik apapun, anak-anak adalah pihak yang paling menderita dan dirugikan. Terlepas dari teknik terapi yang digunakan, kepedulian pihak-pihak yang ingin menolong anak-anak tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang signifikan dalam memutus mata rantai kekerasan dalam jangka panjang. Jika kita semua tidak peduli, jangan salahkan mereka jika di masa depan anak-anak itu menjadi generasi penerus yang melanggengkan pertikaian.

Sumber:

School uses black humor to help children cope – Yahoo! News

6 Komentar leave one →
  1. Kamis, 14 Juni 2007 12:35 pm

    Black humor ini maksudnya yang agak-agak satir begitu, ‘kan?😕

  2. Kamis, 14 Juni 2007 10:19 pm

    Yah, agak beda2 tipis sama satir, Mas Geddoe. Setau saya, kalo satir tuh nuansa kritik sosialnya lebih ‘keliatan’; humor gelap sifatnya lebih reflektif ke diri sendiri daripada menyerang pihak lain. Humor gelap juga gak terbatas pada masalah-masalah sosial; masalah eksistensial juga digarap, misalnya kematian.

  3. Kamis, 14 Juni 2007 11:42 pm

    Menertawakan nasib sendiri, begitu, ya😛

  4. saRa yang mau tidur~ permalink
    Senin, 18 Juni 2007 12:25 am

    ya ampun,,
    ntah apa makna di dalam black humor itu (yang jelas, korban2 itu sendiri yang paling tau), moga aja, ngga berkepanjangan,.😥
    bayangin, eh, bisa dibayangin klo suatu hari black humor itu yang bakal jadi obrolan sehari-hari anak di seluruh dunia??
    that’s B.A.D

  5. eka permalink
    Senin, 24 Desember 2007 2:33 pm

    wahhh,,, ni artikel bagooes bgt,,,
    anak2 emang masa yg peka.
    mngkin g smw bisa qt inget wktu masi kecil..,,tpi yg jelas itu masa yg lebih n paling bhagia d antara masa2 selanjutx yg penuh masalah..
    (secara umum lho..)

    jawaban anak2 jman sekarng emang pnter2,,,logis,,n polos..
    kasian anak2 d daerah nun jauh d sana..
    mskipun d sni jg hampir mrip…
    semakin bnyak penduduk, semakin banyak masalah…
    untung gw g msuk k pmerintahan yg pastix bikin tambah mumet…

  6. Minggu, 3 Mei 2009 10:29 am

    Anak Aceh yang telah mengalami masa dom selama lebih dari lebih dari 15 tahun, juga tidak kurang trauma dari anak Irak atau Palestina, anak Aceh yang orangtuanya diperkosa di depannya juga sampai sekarang masih belum percaya akan bagaimana kedepan lagi, apakah akan kembali lagi peristiwa yang menyedihkan dan menyakitkan tersebut ? wallahualam!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: