Skip to content

Apa Kesamaan antara Seks dengan Beramal?

Minggu, 24 Juni 2007
by

Diambil dari Unicef.hkWhat is the nature of man? Apa sifat dasar manusia? Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari jiwa (psyche) manusia tentunya tidak bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan filosofis semacam itu; bahkan asumsi mengenai hakikat manusia seringkali dijadikan landasan oleh para teoritikus untuk menjelaskan teori aliran dan eksperimennya. Sigmund Freud, seorang mantan biolog penggemar Darwin, melihat manusia sebagai libido dan destrudo –hasrat seks dan agresi– yang terus-menerus ditekan ke bawah sadar oleh tuntutan moral dan norma lingkungan. Sebaliknya, Abraham Maslow ikut mendirikan aliran psikologi humanistik dengan asumsi positif bahwa manusia selalu berusaha memenuhi potensi-potensinya untuk mencapai aktualisasi diri.

Apakah asumsi-asumsi ini memiliki landasan yang benar-benar ilmiah, ataukah hanya dugaan abstrak yang tidak dapat dibuktikan benar-salahnya? Belakangan ini, psikologi faali (neuropsychology) semakin banyak menelurkan temuan-temuan yang memberikan landasan biologis bagi asumsi-asumsi yang sebelumnya terdengar ‘mengawang-awang’. Pemrosesan kognitif bawah sadar, misalnya, sudah diketahui keberadaannya melalui pemetaan aktivitas otak. Bagaimana dengan asumsi Maslow yang positif mengenai hakikat manusia? Simak laporan Yahoo! News berikut ini mengenai aktivitas beramal.

Beramal = Kenikmatan Dasar

Ulrich Mayr, seorang profesor psikologi dari University of Oregon, bersama dengan dua ekonom lainnya memberikan masing-masing 100 US$ kepada 19 orang sukarelawati (ya, jumlahnya sedikit dan mereka semua perempuan) dan kemudian mencatat aktivitas otaknya dengan pemindai fMRI. Lalu para sukarelawati tersebut ditunjukkan bahwa uang yang baru saja diberikan secara otomatis sedang ditransfer dari rekening mereka ke rekening sebuah ‘bank makanan’ lokal (di AS, food bank membagikan makanan secara teratur kepada para pengemis dan gelandangan). Ketika proses transfer selesai dan uang tersebut telah sampai ke rekening tujuan, ternyata muncul reaksi dari beberapa bagian otak mereka, yaitu caudate nucleus dan nucleus accumbens.

“Yang menarik adalah bahwa bagian-bagian ini biasanya menimbulkan perasaan kenikmatan dari kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya sangat dasariah, seperti makanan, seks, tempat berlindung, dan hubungan sosial,” kata Ulrich. Keduanya adalah bagian yang memberitahukan apakah sesuatu itu baik untuk kita. Dan tampaknya, “keduanya juga memberitahukan apa yang baik untuk orang lain,” tambah Ulrich. Meskipun reaksi tertinggi didapat dari amalan yang dilakukan dengan sukarela, ia juga menemukan bahwa otak para sukarelawati juga bereaksi terhadap amalan yang dilakukan lewat ‘sumbangan’ yang sifatnya wajib, seperti pada simulasi pembayaran pajak.

Tentu ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dari eksperimen Ulrich dkk ini. Selain masalah sukarelawan yang sedikit dan tidak representatif, juga desain penelitian eksperimen yang sulit digeneralisasi dalam kehidupan nyata, hasilnya yang masih sangat awalpun harus ditafsirkan dengan hati-hati. Seperti yang diakui Ulrich, ia akan meneliti lebih jauh untuk melihat apakah kepuasan yang dirasakan itu betul-betul disebabkan oleh tindakan memberi itu sendiri, bukannya oleh kebanggaan egois atau sosial karena telah menjadi dermawan. Tapi yang jelas, dari penelitian ini ia telah membuka kemungkinan bahwa kemampuan berbuat baik pada manusia bukanlah karena desakan norma lingkungan, melainkan karena ‘memang sudah dari sananya’.

Sumber:

Brain gets a thrill from charity: study – Yahoo! News

5 Komentar leave one →
  1. Fabian permalink
    Senin, 9 Juli 2007 9:24 am

    kalau psikologi faali kayaknya merupakan terjemahan dari psychophysiology, beda dari neuropsychology yang lebih menekankan pada peran sistem saraf manusia, terutama otak. (hehe ini pengertian gw aja loh)

  2. Senin, 9 Juli 2007 1:12 pm

    @Fabian:
    Tadi iseng ngecek2 di wikipedia, ternyata “pschophysiology” dengan “physiological psychology” juga ada bedanya, entah “psikologi faali” lebih condong ke yang mana. Tapi memang itu agak beda tipis dengan neuropsychology. Gw pake psikologi faali karena gw rasa itu terjemahan yang paling ‘indonesia’ (“neuropsikologi” terdengar terlalu harafiah buat gw) ^^;

    “Psychophysiology is different from physiological psychology in that psychophysiology looks at the way psychological activities produce physiological responses, while physiological psychology looks at the physiological mechanisms which lead to psychological activity.”

  3. wedulgembez permalink
    Selasa, 24 Juli 2007 4:29 pm

    yah kalo suka ama suka berarti beramal. karena bisa membahagiakan…tapi dosa…kekekek,.

  4. kodo permalink
    Minggu, 25 Mei 2008 6:21 pm

    Seks memiliki energi yang didasarkan nafsu.Begitupun dengan beramal.Manusia dewasa yang berada pada tahap perkembangan iman ketiga sudah pasti bisa menempatkannya.

  5. Selasa, 20 Januari 2009 3:57 pm

    Segalanya berbalik kepada psikologi Islam untuk menjelaskannya…Ref: Nuansa-nuansa psikologi abdul Mujib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: