Skip to content

Yang Tersisa dari SARS

Rabu, 27 Juni 2007
tags: ,
by

Diambil dari WikipediaKita semua tentunya masih ingat ketika wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) merebak di seluruh dunia pada akhir 2002 hingga pertengahan 2003. Meskipun korban meninggalnya ‘hanya’ 774 jiwa, tidak dapat disangkal bahwa sebagian penduduk dunia yang berjumlah 6 milyar lebih telah menjadi korban ketakutan dari sebuah teror yang tak kasat mata. Di tempat-tempat umum orang ramai-ramai menggunakan masker untuk melindungi diri sendiri. Dalam infrastruktur transportasi massal (stasiun kereta, bandar udara) para petugas juga harus berperang melawan ‘teroris mikro’ tersebut dengan senjata pemindai panas tubuh.

Kini, 4 tahun kemudian, kata ‘SARS’ hampir tidak terdengar lagi. Mungkin kitapun hampir-hampir melupakan pernah adanya wabah itu jika tidak diingatkan lagi. Namun bagi orang-orang yang pernah berada di ambang pintu maut karena virus terebut, tidak mudah untuk begitu saja melupakan kengerian yang mereka pernah rasakan.

Yahoo! News melaporkan temuan dari sebuah penelitian di Kanada mengenai 117 orang yang selamat dari ancaman kematian oleh SARS. Penelitian tersebut mengevaluasi kondisi kesehatan fisik dan mental para mantan pasien setelah tiga, enam, dan duabelas bulan keluar dari rumah sakit. Evaluasi yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, tes berjalan selama enam menit, tes fungsi paru-paru, pemindaian sinar-X pada dada, pengukuran kualitas hidup, serta frekuensi kunjungan ke dokter.

Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa fungsi-fungsi fisik dan paru-paru para mantan pasien penderita SARS berangsur-angsur normal kembali antara tiga bulan hingga satu tahun. Yang menariknya, persepsi kesehatan secara umum, vitalitas, fungsi-fungsi sosial, dan kesehatan mental mereka tetap berada di bawah batas normal setelah setahun berlalu. Pada tahun itu, mereka diketahui cukup sering menggunakan layanan kesehatan, khususnya layanan psikologi dan psikiatri. Sekitar 17 persen mantan pasien juga belum kembali bekerja, sementara 9 persen lagi belum dapat bekerja secara optimal seperti sebelum mereka terjangkit SARS. Tidak hanya mereka saja, keluarga dan teman-teman yang ikut merawat merekapun mengalami penurunan kesehatan mental.

Salah satu tujuan penelitian tersebut adalah untuk menggarisbawahi adanya kebutuhan psikologis pasien dan keluarganya selama dan setelah wabah terjadi, juga pentingnya menyusun rencana untuk meminimalisasi dampak psikologis ketika kejadian serupa terjadi lagi di masa depan. Penulis rasa tujuan ini sudah sepatutnya juga mulai dipikirkan lebih matang oleh para perumus kebijakan di Indonesia; tidak hanya untuk wabah, tapi juga musibah-musibah lainnya seperti bencana alam dan buatan yang akhir-akhir ini kerap melanda negeri ini.

Sumber:

Entri Wikipedia Mengenai SARS

SARS May Have Left Mental Scars – Yahoo! News

Powered by ScribeFire.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: