Skip to content

Ketika Anak Lebih Suka Reality Show Daripada Dunia Nyata

Senin, 10 September 2007

Diambil dari Science News for KidsGenerasi muda pada zaman ini adalah anak-anak yang dibesarkan oleh televisi. Mereka hadir ke dunia di mana TV telah dicoret dari daftar barang mewah dan dianggap sebagai kebutuhan primer. Mereka tumbuh ketika stasiun-stasiun TV swasta yang berorientasi komersial mulai bermunculan. Kini mereka bisa memilih lebih dari tujuh saluran TV lokal dan puluhan saluran TV internasional; kebanyakan di antaranya menyediakan tayangan selama 24 jam penuh tanpa hari libur. Jenis acara yang ditampilkan pun tak kalah banyaknya, mulai dari yang informatif hingga yang manipulatif. Semuanya dapat diakses dalam sekejap hanya dengan satu sentuhan pada tombol remote control.

Dengan segala daya tarik yang ditawarkan dari kotak kecil tersebut, tentu muncul kekuatiran dari para orang tua mengenai efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh paparan terhadap media baru ini. Sebagian dari kekuatiran tersebut hanyalah sebentuk paranoia dari generasi yang merasa terasingkan, tapi sebagian lagi benar-benar nyata. Simak temuan berikut mengenai dampak dari menonton TV pada usia sangat muda.

Seperti yang dilaporkan oleh Yahoo! News, sebuah penelitian mengenai masalah ini baru dipublikasikan oleh jurnal internasional Pediatrics. Survei yang dilakukan oleh Carl Landhuis dari University of Otago di Dunedin ini bersifat jangka panjang, melibatkan lebih dari 1000 anak di Selandia Baru yang lahir antara April 1972 hingga Maret 1973. Landhuis mendapati bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang menonton TV lebih dari dua jam sehari akan memiliki gejala-gejala konsentrasi bermasalah 40 persen lebih banyak ketika mereka berusia remaja. Tidak terkaitnya jumlah waktu yang dihabiskan para remaja ini di depan TV juga menunjukkan kemungkinan bahwa efek negatif dari menonton TV pada anak sifatnya permanen.

Ada beberapa kemungkinan yang dikemukakan Landhuis yang bisa menjelaskan hubungan ini. Yang pertama, pergerakan adegan yang cepat pada kebanyakan program TV terlalu intens menstimulasi otak anak yang masih dalam masa perkembangan. Akibatnya, anak menjadi lebih cepat bosan pada aktivitas kehidupan nyata yang rutin atau ritmenya lebih lambat, misalnya mengerjakan tugas sekolah. Kemungkinan yang kedua adalah kurangnya unsur keterlibatan aktif dalam menonton TV yang mengkondisikan anak untuk memiliki pola pikir yang serupa pada kegiatan lain yang membutuhkan keterlibatan mental, seperti membaca dan olahraga.

Memang penelitian ini belum benar-benar bisa menentukan arah hubungan sebab-akibat yang pasti antara waktu menonton TV dengan masalah konsentrasi. Menurut Landhuis, selain kemungkinan bahwa durasi menonton TV menyebabkan masalah konsentrasi, bisa saja yang terjadi sebaliknya: anak yang sejak semula sudah rentan memiliki masalah konsentrasi memang lebih suka menonton TV daripada melakukan hal lain. Tapi bagaimanapun juga, hubungan antara keduanya tetap benar-benar nyata dan harus diwaspadai oleh kita semua yang peduli pada perkembangan anak.

Sumber:

Study links attention problems to early TV viewing – Yahoo! News

Baca Juga:

Alleged Dangers of TV – Wikipedia

6 Komentar leave one →
  1. Selasa, 11 September 2007 2:05 pm

    Menarik. Menarik kajiannya.
    Tapi, susah loh membatasi pengaruh reality show itu di zaman dimana televisi tersedia di kamar anak-anak.
    Ternyata lebih parah dari kartun di zaman saya masih anak-anak, ya?😦

  2. Selasa, 11 September 2007 3:28 pm

    Memang menjadi orangtua zaman sekarang lebih sulit, karena setiap hari anak-anak dicekoki tontonan 24 jam dari berbagai media TV, dan berita-berita lainnya. Sebagai orangtua memang harus pandai mengatur waktu dan menjaga, agar si anak tak terpecah konsentrasinya.

    Sekedar sharing: saat anak-anak kecil, pagi hari sekolah, sorenya dia ikut madrasah, dan hari lain ikut latihan silat dan piano. Sebelumnya mereka diajak diskusi, kegiatan apa yang diinginkan. dengan menyibukkan mereka, saat orangtua pulang kantor (kebetulan kedua ortu bekerja diluar rumah), sudah bisa menemani mereka nonton TV. Kebetulan pula, kami tinggal dalam kompleks, jadi anak kamipun dengan rela membuat jadual seperti anak tetangga (padahal ibunya kompakan), kapan belajar, kapan main, dan film apa yang ingin ditontonnya. Risikonya, kami meminta si Mbak (pembantu) untuk merekam film yang tak sempat ditonton karena anak harus ikut kegiatan/kursus, seperti film: Mahabharata (saat itu ditayangkan TV setiap hari), Hi Man dll.

    Malam hari, sebelum tidur masih ada kegiatan mendongeng, disinilah sebetulnya waktu kita bisa menggali apa yang dilakukan anak-anak sehari itu.

  3. Jumat, 14 September 2007 6:14 am

    Betul. Relity Show harus diwaspadai oleh kita semua yang peduli pada perkembangan anak.

  4. Minggu, 16 September 2007 6:15 pm

    @alex:
    Yeah, menaruh TV (apalagi TV kabel!) di kamar anak-anak tanpa kontrol dari orangtua itu, menurut saya, adalah cara pengasuhan yang buruk.

    @edratna:
    Wow, saya salut sama Ibu yang bisa mengatur waktu yang berkualitas bagi anak meski bekerja. Saya pikir persekongkolan dengan ibu2 tetangga itu langkah yang kreatif juga😀

    @m shodiq mustika:
    Sebenernya nggak cuma sebatas reality show aja sih, pak. Tayangan2 fiksi pun bisa berdampak buruk bagi anak-anak (yang belum bisa membedakan jelas antara fakta dengan fiksi) kalo gak dibimbing ortu.

  5. Selasa, 25 September 2007 1:02 pm

    aas, tolong saya carikan jurnal tentang psikologi belajar

  6. eka permalink
    Senin, 24 Desember 2007 2:24 pm

    waduw,,kalo tu penelitian dilanjutin,,,n bner2 udah terbukti bgt,,
    gmna ma anak2 yg lahir d tahun selanjutx ya??

    kmngkinan kn lebih parah lagi…

    susah jga si ngjak anak2 bwat g nntn acra TV,,palg lgu anak2, film discovery gtu dah jarang bwt anak2,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: