Skip to content

Tepat waktu : Cerita Lama di Indonesia, Mitos di Peru

Senin, 17 September 2007
by

TEMPO Interaktif
Rapat paripurna DPR RI ke-8 yang semula dijadwalkan pukul 09.00 WIB hingga saat pukul 10.30 WIB belum juga dimulai. Baru sekitar 220 anggota yang mengisi absen, dari total anggota dewan 547. Sekitar 70 anggota dewan masih duduk santai bersenda gurau diluar ruangan sidang. Pimpinan DPR sampai saat ini belum ada yang datang.


Ngaret Terus!

Ironis sekali bukan? Anggota DPR Kita yang seharusnya menjadi panutan masyarakat, justru bertingkah laku tidak selayaknya seperti seseorang yang patut dicontoh. Di saat semestinya sedang rapat membahas enam agenda penting, banyak diantara mereka yang ternyata belum hadir. Padahal, sudah satu jam rapat tersebut meleset dari jadwalnya.

Jika kenyataan tersebut lantas membuat Anda berpikir Indonesia adalah satu-satunya negara dengan reputasi tukang ngaret. Tahan dulu. Ternyata ada satu negara di Amerika selatan yang memiliki masalah serupa. Ialah Peru, yang masyarakatnya seringkali tidak tepat waktu. Dan ketika Saya bilang masyarakatnya, presiden pun masuk hitungan!

Oleh karena kebiasaan ngaret di Peru yang kian menjadi-jadi, pemerintah setempat lalu mencanangkan suatu kampanye bertitel La Hora sin Demora atau waktu tanpa penundaan.

Lain di Indonesia, Lain di Peru
Jika yang ngaret di Indonesia adalah anggota DPR, di Peru justru presidennya yang berkelakuan seperti itu! Tak terbayangkan, bukan? Tapi percayalah, hal itu benar terjadi. Alejandro Toledo, kini mantan presiden, acapkali datang terlambat. Tak tanggung-tanggung, kadang Ia telat hingga 2 jam setelah acara dimulai. Salah satu contoh adalah ketika Ia melantik penerusnya, Alan García, Juli lalu. Saat itu, Toledo membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk berjalan sejauh 4 blok, mengarungi kerumunan pendukungnya, dan akibatnya membuat pembesar negara asing menunggu.

“Setiap kali mantan presiden Toledo datang terlambat ke suatu pertemuan, hal tersebut menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap orang lain,” kata Jorge Bruce, psikoanalis dan komentator bidang sosial.

Toledo, yang kini tinggal di California, menolak diwawancara tentang hal ini.

La hora Peruana!
Jikalau presidennya saja seperti itu, lantas bagaimana rakyatnya?
Benar, tentu tak berbeda dengan presidennya; masyarakat Peru pun suka terlambat. Keterlambatan tersebut pun memiliki julukan : La Hora Peruana atau Peruvian Time, yang bisa disamaartikan sebagai terlambat satu jam. Jika keterlambatan selama setahun tersebut dijumlahkan, setiap warga Peru telah memiliki 107 jam waktu terbuang!

Eleanor Griffis de Zúñiga, penerbit Peruvian Times, menganggap bahwa kebiasaan terlambat ini adalah imbas dari penjajahan Spanyol serta pengabaian aturan-aturan sosial di kalangan bangsawan.
La Hora Peruana adalah bentuk dari kesombongan masyarakat kelas atas, yang telah menyebar ke masyarakat”, katanya.

Namun ada juga yang menganggap permasalahan keterlambatan ini bersumber dari pemahaman akan ruang dan waktu yang tidak keruan di dataran tinggi Andes. Pemahaman yang tidak keruan ini ditemukan oleh banyak pengembara; dimana un minutito atau satu menit saja, biasa diartikan sebagai satu jam.

Namun, dari manapun asalnya, La Hora Peruana ini tetap berdampak negatif terhadap Peru. Keterlambatan masyarakat mencerminkan sikap negatif terhadap kerja, dan akan berujung pada menurunnya produktifitas nasional. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kelambatan masyarakat di Peru telah menimbulkan kerugian materi dalam jumlah fantastis: $5 milyar!

Walaupun menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, tetap saja masyarakat Peru tidak berubah. Masih banyak pesta pernikahan, pemakaman, makan siang dan rapat yang terlambat dimulai. Sebanyak 15% dari warga Peru bahkan menganggapnya sebagai kebudayaan setempat yang tidak perlu diperbaiki. Sebaliknya, ketepatan waktu justru dianggap sebagai sesuatu yang kurang sopan.

La Hora sin Demora

Kamis siang, 1 Maret 2007, sirene dan lonceng gereja dibunyikan mengiringi lautan kertas berwarna warni yang menghambur di jalanan kota Lima. Hari itu, Presiden Alan Garcia mencanangkan perang terhadap ketidaktepatwaktuan.

“Itu (keterlambatan) adalah budaya yang mengerikan, menakutkan dan membahayakan” tutur Presiden Garcia, ketika dijumpai saat upacara peresmian kampanye La Hora sin Demora atau Waktu Tanpa Penundaan. Pada hari itu juga, 27 juta warga Peru diminta untuk mencocokkan jam mereka.

Walau seperti apapun, tetap saja ada tanggapan keraguan terhadap kampanye ini. Max Hernández, psikolog yang menjadi koordinator kampanye, terkejut ketika seorang rekannya bertanya, “Anda percaya bisa mengubah kebiasaan yang telah mengakar kuat tanpa adanya perubahan mental yang kuat juga?”

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil poling oleh Apoyo, lembaga poling terkemuka di Peru. Mereka menemukan bahwa keterlambatan di Peru merupakan lingkaran setan. “Jika Anda sepakat bertemu jam 15.00, maka terlambat 15 menit tidak akan menjadi masalah.” “Permasalahannya adalah ketika Anda berpikir bahwa orang lain akan terlambat, maka Anda tak akan datang tepat waktu.”

Lain lagi, Robert Levine, profesor psikologi California State University berargumen bahwa beragam budaya memiliki “tempo” masing-masing. Suatu kejadian kadang ditentukan oleh waktu / jam atau dibiarkan mengalir alami.“ Kampanye yang digalakkan pemerintah Peru ini ibarat mengubah masyarakat yang terbiasa dengan “waktu kejadian” (yang mengalir alami) dengan “waktu jam”.

Namun, walau banyak yang ragu, tetap saja Presiden Alan Garcia berpikir sebaliknya, sebab ia siap menjadi contoh dalam hal tepat waktu.

La hora Indonesiana?
Jika melihat perilaku ngaret anggota DPR Kita, adakah kemungkinan masyarakat Indonesia akan mengikuti jejak Peru? Akankah muncul sebuah istilah La Hora Indonesiana, sehingga pemerintah perlu mengadakan kampanye serupa untuk menanganinya?
Bukan tidak mungkin Kita sedang menuju ke sana, jika tetap “memegang teguh” budaya ngaret ini.


Sumber Bacaan
Tempo Interaktif
Psychology Today
Boston News
Deseretnews
Journalperu


6 Komentar leave one →
  1. Selasa, 18 September 2007 8:11 am

    Sebenernya anggota DPR kita nggak ngaret boss, memang rapat dimulai pukul 11.00, tapi jam kedatangan dimajukan, mengingat tingkat kemacetan yang sulit diduga di Jakarta. Kemudian, setelah rapat sejam, langsung rehat makan siang…

  2. Selasa, 18 September 2007 10:30 am

    Benar tuh?
    Setelah makan siang yang ada justru akan mengantuk semuanya😀

  3. Jumat, 21 September 2007 2:11 am

    Huehhhh

    Tiap kali saya telat dateng, excuse saya ke temen: “Sorry, its an Indonesia custom, lor. Should keep it”
    :p

  4. KorbanJamKaret permalink
    Jumat, 19 Oktober 2007 10:04 pm

    mungkin kalimat ;”lebih baik mencegah daripada
    mengobati” harus segera digalakan di Indonesia.
    “APA KATA DUNIA”, kalau Indonesia mendapat tambahan titel negara ter-ngaret di dunia yang sebelumnya sudah mendapat titel negara ter-korup.waduh2.selama belum kiamat, masih ada waktu untuk berobat…eh,bertobat.negara lain aja bisa on-time, so kenapa kita nggak?!

  5. Jumat, 1 Februari 2008 1:09 pm

    Hi, my sites:2e06af3094a43629006ede98d8d1e52a

Trackbacks

  1. Tepat waktu : Cerita Lama di Indonesia, Mitos di Peru at rumah keluarga2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: