Skip to content

Mendidik Anak dengan Ci, luk… BAAA!

Kamis, 27 September 2007
by

Diambil dari web.sau.eduTentu kita semua tahu kejadian berikut: Seorang dewasa menutup mukanya (atau matanya) dengan tangan di depan seorang bayi yang menatap dengan acuh tak acuh. Orang dewasa itu kemudian berkata, “Ci, luk…”, lalu membuka tangannya, memperlihatkan ekspresi wajah yang dilebih-lebihkan sambil bersuara agak keras, “BAAA!” Yang terjadi selanjutnya adalah respon terkejut bercampur tawa sang bayi yang membuat semua orang dewasa yang menyaksikannyapun ikut merasa senang.

“Cilukba”, atau “peekaboo” di dunia barat, bisa dikatakan adalah sebuah aktivitas yang universal. Sebuah penelitian menemukan bahwa permainan sejenis juga bisa ditemukan di Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Yunani, India, Iran, Brazil, dan Korea. Apa yang membuat “cilukba” menjadi kegiatan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia?

Bagi para bayi itu sendiri, kesenangan bermain “cilukba” merupakan respon yang alamiah terhadap stimulasi indrawi; ketertarikan mereka terhadap suara-suara telah dimulai sejak mereka masih berada dalam kandungan, dan bayi juga diketahui memiliki minat khusus terhadap wajah manusia, terutama wajah orang-orang yang dikenalnya.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui hal ini, namun “cilukba” bukan sekedar permainan. Ia juga memiliki manfaatnya bagi anak dan orangtua atau pengasuh mereka:

  • Membantu anak menguasai dan mengatasi kecemasannya ketika ibu (atau pengasuh) mereka tiba-tiba tidak ada.
  • Sarana anak untuk mempelajari object permanence, yaitu kemampuan kognitif untuk menyadari bahwa sesuatu atau seseorang tetap ada dan tidak ‘menghilang’ atau ‘lenyap’ ketika benda atau orang itu tidak ada dalam pandangan langsung mata.
  • Melatih anak mengembangkan atensi dan konsentrasi mereka; hal yang penting untuk belajar apapun.
  • ‘Alat tes’ orangtua untuk mengukur perkembangan anak mereka. Pada umur 3-8 bulan, bayi sudah bisa memperhatikan dan tersenyum ketika orang dewasa menutup wajahnya; ini menunjukkan bahwa bayi sedang mengembangkan ekspektasi dan antisipasi akan apa yang terjadi kemudian. Sekitar umur 1 tahun, bayi sudah bisa memulai permainan “cilukba”-nya sendiri, kali ini dengan orang dewasa sebagai peresponnya.

Sumber:

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human Development: Tenth Edition. New York: McGraw-Hill.

5 Komentar leave one →
  1. Jumat, 28 September 2007 7:30 am

    wow…ini penjelasan yg bagus. akan gw ingat sampe ntar jadi bapak ntar. Gw cilukba-in tiap hari deh hehe

  2. vivi permalink
    Kamis, 4 Oktober 2007 4:06 pm

    iya nih, dosenq pernah bilang seperti ini.. memang bagus banget,..

  3. chau permalink
    Selasa, 30 Oktober 2007 3:58 pm

    hweikssss,,baru aja kuliah psikologi bermain dan bahas cilukbaa juga,,
    emang,,,banyak permainan yang bisa untuk belajar. penjelasan yang baik, popsy! ^_^

  4. eka permalink
    Senin, 24 Desember 2007 2:16 pm

    wow,,, mnarik jga,…
    bner kaa gerry,,,bkal gw inget jg wktu gw dah bsa jadi seorang ma2…

    anak2 emang adlah yg paling indah..

    semua orang pasti punya orangtua, tapi semua orang belum tentu bisa jadi orangtua..

  5. noe permalink
    Rabu, 11 Februari 2009 4:07 pm

    hoho
    lucu sekaLi..
    menarik banget..
    baru taU..

    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: