Skip to content

Para Ayah Kini Semakin Keibuan

Minggu, 21 Oktober 2007
by

Diambil dari WikipediaAyah membaca koran dan Ibu menanak nasi di dapur.” Kata-kata klasik dari zaman SD itu seolah menggambarkan pandangan peran gender yang pernah begitu tradisional dalam melihat sebuah keluarga: Ayah sebagai pemimpin dan pencari nafkah, sementara ibu mengurusi rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak. Meskipun banyak ahli menganggap pandangan ini adalah konstruksi sosial (alias bikinan manusia), sebenarnya pembagian tugas ini sudah ada sejak zaman prasejarah: Satu-satunya pekerjaan yang ada saat itu, yaitu berburu, membutuhkan kekuatan fisik sehingga wajar-wajar saja jika kemudian para pejantan yang melakukannya. Alamiah pula ketika konsekuensinya kaum betina harus tinggal di sarang dan menjaga anak-anak mereka.

Ketika jutaan tahun kemudian pekerjaan semakin beragam dan tidak melulu membutuhkan kekuatan fisik, muncullah emansipasi perempuan yang digadang-gadang kaum feminis. Wanita ternyata juga mampu keluar dari masalah domestik dan ikut bekerja, entah untuk ikut mengebulkan dapur atau untuk mengaktualisasikan dirinya. Di sisi lain, kaum ‘maskulis’ tidak pernah secara luas dan sistematis mendorong para pria untuk ikut mengurusi sarang, apalagi sampai menjadi ‘bapak rumah tangga’. Tapi banyak ibu telah membuktikan bahwa pekerjaan dan keluarga dapat diurus bersamaan dengan baik. Lalu mengapa para ayah juga tidak bisa? Simak laporan majalah TIME berikut mengenai generasi para pria di AS yang pelan-pelan menafsirkan ulang makna menjadi seorang lelaki, suami, dan ayah yang baik di zaman modern ini.

Data statistik menunjukkan bahwa kesadaran para suami dan ayah mengenai pentingnya keluarga semakin meningkat. Di tahun 1970an, waktu rata-rata yang diluangkan para ayah dengan anak-anak mereka hanya sepertiga dari waktu yang diluangkan para ibu. Angka itu naik di tahun 2000, ketika waktu yang diluangkan para ayah mencapai tiga perempat dari waktu yang diluangkan pasangan mereka. Lebih dari sepertiga ayah muda bahkan meluangkan waktu lebih banyak untuk anak mereka daripada untuk pekerjaan mereka. Di sisi yang paling ekstrim terdapat kelompok bapak rumah tangga, yang jumlahnya menurut sensus di AS kurang dari 200.000 orang. Menurut beberapa ahli, jumlah yang sebenarnya bisa mencapai 10 kali lipat dari angka itu.

Tampaknya para pria itu menyadari: menjadi lelaki bukan berarti menggapai segala sesuatu yang selama ini diidentikkan dengan kejantanan seorang pria. Dan memang, para ayah yang memandang ukuran kejantanan secara tradisional tidak terlalu penting, rupanya lebih sukses dalam hal lain yang lebih berharga. Beberapa studi menunjukkan bahwa mereka lebih bahagia dengan diri mereka, pernikahan mereka, anak-anak mereka, serta kesehatan fisik dan mentalnya. Secara obyektif, terbukti mereka memang memiliki anak-anak yang lebih adaptif, hubungan suami-istri yang lebih berkualitas, dan kehidupan kerja yang lebih baik. Aaron Rochlen, profesor psikologi University of Texas yang mempelajari fatherhood dan kejantanan meringkaskannya dengan jitu:

Masculinity has traditionally been associated with work and work-related success, with competition, power, prestige, dominance over women, restrictive emotionality–that’s a big one…but a good parent needs to be expressive, patient, emotional, not money oriented. Basically, masculinity is bad for you.

Meskipun terdapat berbagai insentif positif, para ayah yang keibuan masih menguatirkan mengenai pandangan negatif masyarakat mengenai pilihan hidup mereka. Masih ingat Mrs. Doubtfire yang diperankan Robin Williams? Film-film Hollywood semacam itu mencerminkan ‘selera’ masyarakat yang masih merasa aneh dan lucu melihat para ayah yang aktif mengurus rumah tangga. Dalam skala kecil, halangan sering ada pada istri sendiri. Para ibu mungkin akan merasa iri dan tertekan jika anak-anak lebih dekat dengan ayahnya daripada dengan mereka, apalagi karena masyarakat sudah memberi ‘beban’ bahwa ibu-lah orangtua yang seharusnya paling dekat dengan anak.

Jika ada satu elemen masyarakat yang telah menerima fenomena ini, itu adalah dunia industri. Berbagai perusahaan ternama di 65 negara di dunia sudah menawarkan ‘cuti melahirkan’ bagi para ayah baru agar mereka dapat mendampingi istri mereka dan anaknya yang baru lahir secara intensif. Delapan puluh persen pekerja yang berhak untuk cuti ini juga memanfaatkannya, meski masih banyak pula pekerja yang tidak mengambil cuti, takut bahwa hal itu dapat berakibat buruk pada karir mereka.

Secara keseluruhan, para ahli menganggap pergeseran peran para suami dan ayah ke ranah yang lebih domestik ini sebagai sesuatu yang baik. Ini adalah kesempatan yang bagus bagi para ayah untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sisi pengasuhan mereka yang selama ini mungkin diabaikan karena sudah ada istri yang melakukannya. Kalau memang bermanfaat bagi anda dan keluarga, mengapa harus malu?

Baca Artikel Selengkapnya:

Fatherhood 2.0 – TIME

7 Komentar leave one →
  1. Rabu, 24 Oktober 2007 8:13 am

    Negara modern sekelas US, mulai timbul kesadaran para suami mejadi keibuan. Sebuah Makna yang makin meyakinkan akan peran seorang “Mother”. Ini sangat tepat sekali jika dikaitkan oleh ajaran Nabi saw: Ibu adalah tiang negara… sekarang “Ibu” pisik dan non pisik telah dipahami oleh US. Di negara kita bagaiman yaa???

  2. Oming permalink
    Kamis, 25 Oktober 2007 9:45 am

    ada yg bilang pria berbeda dengan wanita….
    ada yg bilang pria dan wanita sama saja…
    yang bener yg mana??????????

    tergantung konteks nya…
    pria dan wanita secara biologis memang berbeda terutama dalam sistem reproduksinya. tapi bila dilihat dari faktor kognitif & psikologis nya, pria dan wanita memiliki kemampuan yg sama. cuman, terkadang kesamaan itu menjadi beda karena sebuah budaya…
    budayalah yg menjadikan wanita benar-benar berbeda dengan pria…
    so…we have to choose…
    mengikuti budaya or merubah budaya???????

  3. Sabtu, 27 Oktober 2007 1:07 am

    @Kurt:
    Di negara kita…kayaknya para Ibu yang justru dipaksa menjadi “Ayah”😦

    @Oming:
    Pria dan wanita… tentu ada persamaan dan perbedaannya. Langsung mencap “Men are from Mars, Women are from Venus” atau “Laki/Perempuan sama saja” (eh, yang ini mah KB ya?) menurut saya terlalu menyederhanakan kompleksnya manusia. Hal-hal biologis pun bisa mempengaruhi yang psikologis, begitu juga sebaliknya. Apalagi bicara soal budaya, tambah mumet dah. Saya sih memilih mengikuti budaya yang baik dan mengubah budaya yang buruk😉

  4. Rabu, 31 Oktober 2007 8:04 am

    Hmmm,, kalo buat laki laki di Indonesia gimana ya?

  5. aini permalink
    Jumat, 16 Mei 2008 10:55 am

    adanya anak kan dari hasil kerjasama ayah dan ibu… So, membesarkannya juga harus kerjasama dong …

  6. queen permalink
    Jumat, 16 Mei 2008 10:59 am

    jaman gini perempuan pada bekerja.. waktu untuk anak semaik sdkt.. jadi kayaknya manfaat banget kalo suami menambah perannya untuk mendidik anak-anak

  7. animusparagnos permalink
    Jumat, 20 Februari 2009 11:04 pm

    Bukan konsep keibuan, sebab pandangan tradisional-lah yang mengganggap perkara domestik itu milik perempuan dan anak adalah tanggung jawab bersama bukan satu pihak saja. Fleksibilitas dalam rumah tangga sangat bermanfaat untuk ketahanan dan keharmonisan perkawinan serta keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: