Skip to content

Negara Anak Tunggal

Senin, 19 November 2007

Diambil dari WikipediaApa jadinya jika sebuah negara hanya diisi oleh anak tunggal? Pada awalnya hal ini mungkin terdengar seperti dongeng, tapi kemungkinannya menjadi kenyataan sangat besar ketika satu nama disebut: RRC (maaf jika penyebutan ini kurang politically-correct). Pada akhir dekade 1970an, Pemerintah RRC menetapkan kebijakan satu anak per-keluarga (one-child policy) untuk membendung populasinya yang saat itu hampir mencapai 1 milyar. Terlepas dari segala kontroversi dalam pelaksanaannya, program tersebut dianggap cukup sukses menahan laju pertumbuhan penduduk sehingga 30 tahunan kemudian penduduk RRC ‘hanya’ bertambah sekitar 300 juta jiwa.

Meski program tersebut kini mulai diperlonggar, perubahan sosial besar-besaran dalam masyarakat telah terjadi, sesuatu yang tak terpikirkan oleh Politbiro Partai ketika mereka mencetuskan kebijakan itu: Munculnya generasi anak-anak yang tak memiliki kakak maupun adik. Ada apa dengan mereka? Apa dampaknya terhadap masyarakat luas?

Pada awalnya, anak-anak tunggal ini diduga memiliki kepribadian yang egosentris, kurang gigih dalam berusaha, kurang dapat bekerjasama, dan kurang begitu disukai anak-anak lain jika dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki saudara. Namun penelitian lanjutan yang melibatkan 4000 anak kelas empat dan enam dari daerah perkotaan dan pedesaan menunjukkan bahwa orangtua, guru, teman-teman sebaya, dan diri sendiri menilai tidak ada perbedaan kepribadian yang berarti. Pada sebagian kecil kasus, anak-anak tunggal tampaknya memiliki masalah perilaku, tapi hal ini sebenarnya disebabkan oleh pola asuh orangtua yang terlalu membebaskan atau terlalu mengekang.

Dalam beberapa penelitian, anak-anak tunggal bahkan bisa dibilang lebih unggul dari anak-anak yang memiliki saudara kandung. Melalui kuesioner yang disebarkan ke 731 anak dan remaja di daerah perkotaan, diketahui bahwa mereka yang memiliki saudara kandung lebih penakut, pencemas, dan lebih rentan terhadap depresi dibandingkan anak-anak tunggal. Sebuah studi acak pada sekolah-sekolah di Beijing juga menunjukkan bahwa anak tunggal memiliki daya ingat serta kemampuan bahasa dan matematika yang lebih baik dibanding anak yang memiliki saudara kandung.

Tentunya faktor lingkungan yang unik berperan besar dalam kemunculan perbedaan ini. Dalam masyarakat yang menghargai dan mendorong dominasi anak tunggal, anak-anak yang memiliki saudara kandung bisa lebih kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. Selain itu, keunggulan anak tunggal juga mencerminkan besarnya perhatian, stimulasi, impian, dan harapan dari orangtua terhadap anak mereka yang pertama dan terakhir. Buktinya, anak tunggal yang lahir sebelum adanya kebijakan satu anak per-keluarga tidak menunjukkan keunggulan kognitif yang berarti.

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2007), kebijakan satu anak per-keluarga juga memiliki potensi yang ‘mengerikan’ di masa depan. Bayangkan jika anak-anak tunggal ini beranjak dewasa dan berkeluarga: Anak-anak mereka nantinya akan tumbuh tanpa figur paman, bibi, sepupu, keponakan, kemenakan, dan saudara kandung. Sulit memperkirakan dampak ‘revolusi budaya kedua’ ini terhadap tatanan sosial masyarakat.

Yang juga menjadi masalah, terutama di daerah pedesaan, adalah seleksi gender. Anak laki-laki masih dianggap lebih ‘berharga’ dibandingkan anak perempuan, sehingga muncul kasus-kasus bayi perempuan yang diaborsi, dibuang, atau ditelantarkan sampai mati oleh orangtuanya agar anak satu-satunya mereka adalah anak laki-laki. Hal ini dapat menyebabkan timpangnya rasio laki-laki:perempuan di masa mendatang yang menyulitkan para pria di RRC untuk mencari pasangan.

Sumber:

Halaman Wikipedia mengenai Demografi RRC dan One-child Policy

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human Development: Tenth Edition. New York: McGraw-Hill.

9 Komentar leave one →
  1. rindha permalink
    Selasa, 20 November 2007 8:31 am

    saya lebih suka punya lebih dari satu, program indonesia juh lebih humanis dan efeknya juga lebih kecil yaitu ‘dua anak cukup”

  2. Rabu, 21 November 2007 11:15 am

    seandainya Indonesia bikin program yang lebih ‘gress’ seperti anak dua cukup dengan kemampuan orang tua yang memadai untuk anak. niscaya semua anak indonesia akan maju..

  3. Rabu, 28 November 2007 1:46 pm

    Nice blog…
    Salam kenal …🙂

  4. Selasa, 25 Desember 2007 7:13 pm

    2 anak memang ideal. 1 laki-laki dan 1 perempuan. ^^

  5. Minggu, 30 Desember 2007 6:06 pm

    I like this web:-))

  6. Senin, 18 Februari 2008 8:46 pm

    etnis cina di seluruh dunia kan banyak pasti gak kekurangan jodoh deh, tapi bisa juga ngimpor bule pasti anak2nya cantik dan cakep,hehehe.
    nice post!!

  7. Senin, 18 Februari 2008 10:28 pm

    Gw tadi baru nonton acara ‘Brat Academy’ di Discovery Channel. Itu semacem sekolah untuk anak2 yg berperangai jelek di Cina dimana selama setahun mereka dididik dgn disiplin keras.😀 Orangtua yg dah bingung ngirim anaknya kelewat nakal ke akadmi itu. Jadi inget artikel ini. ^^;

  8. Rabu, 2 April 2008 4:07 pm

    Isinya lumayan dapat menambah wawasan Bung.

  9. yonas permalink
    Minggu, 30 November 2008 10:12 pm

    Yg jelas saya pun agak setuju dengan kebijakan negara RRC itu.
    Namun,akan lebih baik lagi jika memiliki anak tunggal menurut kesadaran sendiri dari orangtua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: