Skip to content

Sulit Tidur? Mungkin Perkawinan Anda Penyebabnya

Rabu, 11 Juni 2008

Diambil dari WikipediaKualitas tidur ternyata bisa terkait dengan kualitas perkawinan anda. Hal ini ditemukan oleh Wendy M. Troxel, seorang psikolog dari University of Pittsburgh, pada 2000 perempuan dari berbagai ras yang menjadi sampel penelitiannya.

Perempuan yang bahagia dengan perkawinannya ditemukan lebih mudah tidur, lebih nyenyak tidurnya, dan lebih jarang memiliki gangguan tidur. Mereka juga lebih jarang terbangun lebih awal atau tiba-tiba di tengah malam daripada perempuan yang perkawinannya tidak membahagiakan.

Menurut Troxel, ada dua arah kemungkinan penjelasan hubungan ini. Yang pertama, sulit tidur menyebabkan seseorang lebih mudah marah dan memiliki tingkat frustrasi dan toleransi yang lebih rendah – yang pada gilirannya dapat memicu pertengkaran dengan pasangannya. Kemungkinan kedua yang diduga Troxel, perkawinan yang tidak bahagia membuat perempuan stres, dan stres inilah yang menurunkan kualitas tidur mereka.

Sumber:
For Women, a Happy Marriage Means Sweet Dreams – Yahoo! News

clipped from news.yahoo.com
Troxel and her colleagues reviewed data on about 2,000 married women
who participated in the Study of Women’s Health Across the Nation (SWAN).
The women were an average age of 46 years. Just over half were white, 20
percent were black, 9 percent were Hispanic, 9 percent were Chinese, and
11 percent were Japanese.
All of the women reported their sleep quality, the state of their
marriage, how often they had difficulty falling asleep, if they stayed
asleep, and how early they woke up.
Happily married women had less trouble getting to sleep, had fewer
sleep complaints, had more restful sleep and were less likely to wake up
early or awaken in the middle of the night than women whose marriages were
less than ideal.
findings appeared to hold up
across racial lines. The only groups that the findings weren’t
statistically significant for were Chinese and Japanese women, but Troxel
suspects this may be because there weren’t as many Chinese or Japanese
women in the study as white and black women.
blog it
5 Komentar leave one →
  1. Kamis, 12 Juni 2008 4:12 pm

    ah… yang bener nih ??

  2. Kamis, 12 Juni 2008 4:15 pm

    ah… yang bener… iki potone sopo bos…

  3. Selasa, 24 Juni 2008 10:13 am

    masa iya? trus piye? apa mau di eliminasi aja perkawinannnya?

  4. anisar permalink
    Rabu, 25 Juni 2008 10:43 am

    tp menurut saya susah tidur juga dapat disebab kan oleh timbul nya rasa kangen m seseorang atau ada masalah dengan pekerjaan,jadi bukan masalh perkawin saja yang tidak dapat menyebabkan seseorang susah tidur

  5. ummu nuha permalink
    Minggu, 21 September 2008 2:02 am

    ya, belumtentu susah tidur karena perkawinan tapi lebih tepatnya salah satu yang buat gak bisa tidur kali ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: