Skip to content

Muslimkah Yang Paling Tidak Dipercaya di AS?

Minggu, 29 Juni 2008

(Catatan: Artikel ini aslinya berasal dari penelitian sosiologi, tapi saya rasa menarik pula untuk dicermati sisi psikologinya, khususnya mengenai stereotipe dan prasangka/prejudice)

Setelah peristiwa 11 September 2001, tak perlu banyak analisis untuk melihat bagaimana orang Islam tampaknya menjadi kelompok religius yang paling dibenci oleh masyarakat Barat, khususnya Amerika Serikat. Atau benarkah memang begitu?

Sebuah penelitian yang dilakukan Asosiasi Sosiologi Amerika pada tahun 2006 lalu rupanya menunjukkan hasil yang mengejutkan. Kaum ateis ternyata dipandang lebih tidak ‘berjiwa Amerika’ dibandingkan dengan kaum Muslim, imigran, gay dan lesbian, serta kelompok minoritas lainnya.

Menurut Penny Edgell, sosiolog yang meneliti hal ini, meskipun bangsa AS sangat beragam secara budaya, mereka secara historis juga sangat beragama. Religiusitas dianggap sebagai salah satu nilai inti yang membuat sebuah kelompok dianggap pantas sebagai bagian dari masyarakat AS atau tidak. Oleh karena itu, kaum ateis yang tidak menganut nilai ini dicap sebagai kelompok yang paling tidak dipercayai oleh warga AS lainnya yang disurvei.

Selain itu, masih luas pula stereotipe dan prasangka negatif mengenai ateisme dan orang ateis. Ateis masih dianggap sebagai orang yang tidak bermoral, materialistik, serta egois dan tidak peduli dengan orang lain atau masyarakat. Kuatnya persepsi ini diduga berkaitan dengan tingkat pendidikan, orientasi politik, dan pengalaman akan keragaman.

clipped from www.asanet.org

From a telephone sampling of more than 2,000 households, university researchers found that Americans rate atheists below Muslims, recent immigrants, gays and lesbians and other minority groups in “sharing their vision of American society.” Atheists are also the minority group most Americans are least willing to allow their children to marry.

Edgell believes a fear of moral decline and resulting social disorder is behind the findings. “Americans believe they share more than rules and procedures with their fellow citizens—they share an understanding of right and wrong,” she said. “Our findings seem to rest on a view of atheists as self-interested individuals who are not concerned with the common good.”
researchers also found acceptance or rejection of atheists is related not only to personal religiosity, but also to one’s exposure to diversity, education and political orientation—with more educated, East and West Coast Americans more accepting of atheists than their Midwestern counterparts
blog it
9 Komentar leave one →
  1. Senin, 30 Juni 2008 7:08 am

    Mungkin gara-gara orang Atheis ndak bisa diambil sumpahnya di pengadilan jadi nggak dipercaya?😀

  2. Senin, 30 Juni 2008 12:20 pm

    Menarik juga. Jadi orang yang lebih terpelajar lebih menerima atheist dibandingkan yang tidak terpelajar, mungkin karena orang yang lebih terpelajar pola pikirnya lebih mandiri dibandingkan orang yang menerima doktrin agama mentah-mentah (salah satunya: yang beda Tuhan dengan saya = orang sesat).

  3. Senin, 30 Juni 2008 7:51 pm

    hmm…
    mungkin karena orang atheis itu terlalu independen, sehingga sulit diminta setia kepada negaranya. (Tuhan saja tidak mereka anggap penting apalagi soal negara dan nasionalitas).

  4. rosssi permalink
    Kamis, 3 Juli 2008 9:15 pm

    Banyak kemungkinan seseorang menjadi atheisme, kita tidak bisa mencap mereka dengan sembarangan… maybe, jika anda kecewa dengan Tuhan dalam taraf Klimaks, bisa juga anda menjadi seorang yang atheis. Namun jika atheisme muncul di daerah yang bermasalah dengan konflik agama, berarti secara kasar saya mengatakan kalau “GENG” atheisme hanya mencari aman saja. itu sah-sah saja, karena itu merupakan betuk pembelaan setiap diri manusia supaya mereka dapat bertahan hidup. tapi bisa saja mereka bersikap atheis, tetapi hati mereka ada pengharapan yang bsar untuk Tuhan.Gbu

  5. Jumat, 4 Juli 2008 11:53 am

    @dnial:
    Setau saya, orang ateis diambil sumpahnya berdasarkan UUD atawa konstitusi negaranya.

    @zhanze:
    Orang ateis yang tidak berpendidikanpun seringkali juga berpikiran picik😛 (yang percaya Tuhan = orang goblok)

    @norie:
    Saya rasa gak terlalu berhubungan juga. Justru kadang-kadang mereka malah menggantikan religiusitas mereka dengan nasionalisme. Jadi ‘tuhan’ mereka ya negaranya itu…

    @rosssi:
    Yep, saya setuju. Ateis juga manusia…

  6. Senin, 22 September 2008 10:50 pm

    Hahaha, saya sudah pernah baca sebagai pemikir bebas yang baik dan taat. ini menarik kalau dikaitkan dengan stereotipe AS (dan dunia pertama pada umumnya) di mata masyarakat Indonesia: ateis, scantily-clad, dan anti-Islam.🙂

    Ternyata bisa crashingly wrong juga.

  7. rioza permalink
    Minggu, 23 November 2008 4:30 am

    atheis .. ehmmm … gue banget gitu loch !! apakah anda pernah membaca atau mendengar kata-kata dari seorang filsuf yang maha dahsyat “friedrich willhelm nietszhe” …
    renungkan kembali semua yang telah kalian percayai ?.. apakah itu memang benar atau sekadar pengalihan dari sebuah ketidakmampuan…
    aku ada karena aku berpikir

  8. fafa permalink
    Minggu, 7 Juni 2009 1:19 am

    Kayaknya gara2 orang ateis itu ga percaya surga dan neraka jadi meski mereka memiliki buku2 pemikiran filsafat sebagai kitabnya dan moral sebagai aqidahnya tetep aja ga dipercaya. Coz orang ateis memang hidup untuk dunia aja… they not thinking what happen after they died. they think ga da apa2 setelah mati. makanya orang beragama kurang bisa menerima ateis (maybe.
    Selain itu orang2 beragama takut jika anak-anaknya bisa ga masuk surga klo nikah ma ateis… Sebenernya menikah dengan kepercayaan apapun, pasti keluarga kurang setuju kalo nikahnya ama beda agama. Yah it’s all about trust kan, siapa yang bisa ganggu gugat keimanan seseorang. Itu hak asasi manusia bukan.
    Ga da yang salah bagi yang tidak mempercayai ateis atau agama lain, asal tetap menjaga toleransi, betulkan ^^.

  9. Hireka permalink
    Rabu, 29 Juli 2009 3:42 pm

    Amerika jauh lebih “religius” daripada masyarakat Eropa Barat. Terima kasih atas artikelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: