Skip to content

Lagi Stres? Menulis Aja!

Minggu, 13 Juli 2008

[Artikel ini ditulis untuk mading PSYCHE edisi September 2005]

Yang namanya stres sudah pasti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Berbagai macam kegiatan, seperti mengerjakan tugas, menghadiri kuliah atau rapat organisasi, bahkan yang sangat sederhana seperti berangkat dari rumah atau kos ke tempat kuliah, menuntut fisik dan psyche kita untuk selalu menyesuaikan diri. Respon fisik dan psyche kita terhadap tuntutan lingkungan itulah yang oleh Hans Seyle (dalam Munandar, 2001) dinamakan stres, atau bahasa ilmiahnya, General Adaptation Syndrome (GAS). Stres bisa berdampak positif bagi seseorang (disebut sebagai eustress); yang patut diwaspadai di sini adalah stres yang berdampak negatif, atau disebut juga sebagai distress. Menurut Seyle, distress disebabkan oleh respon terhadap tuntutan lingkungan yang kurang, berlebih, atau salah, sehingga menimbulkan penyakit, baik fisik (radang lambung, tekanan darah tinggi, penyakit jantung) maupun psikologis. Tentu tidak ada mahasiswa yang ingin aktivitasnya terhambat oleh penyakit, sehingga berbagai macam cara pun dilakukan untuk menanggulangi stres yang timbul, salah satunya adalah dengan menulis.

Mengapa Menulis?

Mungkin ada yang ragu dan bertanya: mengapa menulis? Bukankah menulis justru membuat kita makin banyak menguras pikiran? Tentu bukan sembarang aktivitas menulis yang dapat mengatasi stres. Melalui penelitiannya, psikolog James W. Pennebaker (dalam Hernowo, 2005) memberikan insight mengenai aktivitas menulis yang seperti apa yang bermanfaat bagi kesehatan fisik dan psikologis. Selama 15 menit setiap harinya selama 4 hari berturut-turut, Ia meminta tiga kelompok mahasiswa untuk menulis mengenai trauma yang pernah mereka alami dengan 3 derajat intensitas yang berbeda: hanya menuliskan fakta yang terkait dengan trauma, hanya melepaskan emosi yang terkait dengan trauma, dan menuliskan fakta serta emosi yang terkait dengan trauma tersebut. Sebagai kelompok pembanding, dengan durasi yang sama ia juga meminta sekelompok mahasiswa untuk menulis mengenai topik netral yang tidak relevan. Hasilnya? Dari kuesioner yang dibagikan setelah eksperimen berakhir, terungkap bahwa mahasiswa yang menuliskan fakta serta emosi yang terkait dengan peristiwa traumatis yang pernah mereka alami memiliki suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik. Temuan ini dikonfirmasi dengan pengecekan silang ke unit kesehatan mahasiswa setempat yang melaporkan bahwa rata-rata kunjungan mahasiswa yang termasuk dalam kategori ini turun 50% dibandingkan dengan bulan-bulan sebelum mereka mengikuti eksperimen. Ketika Pennebaker melakukan penelitian yang serupa beberapa bulan kemudian, ia juga menemukan bahwa mahasiswa yang menulis peristiwa traumatis mereka serta emosi yang terlibat di dalamnya meningkat fungsi kekebalan tubuhnya dibandingkan dengan mahasiswa yang menulis topik yang netral.

Efek yang sangat positif dari aktivitas menulis ini kemudian dijelaskan oleh psikolog Louise Sundararajan dari Pusat Psikiatri Rochester, New York (ABCNews, 28 September 2005). Berdasarkan analisis hasil tulisan pada penelitian lainnya terhadap mahasiswa yang orangtuanya sedang menjalani proses perceraian, Sundararajan menemukan bahwa aktivitas menulis ekspresif –menulis dengan menuangkan segala pikiran dan perasaan tanpa terpaku pada tata bahasa atau ejaan, ‘memaksa’ otak untuk memproses kembali kekuatiran dan ketakutan yang sebelumnya terendap begitu saja di alam bawah sadar dan berpotensi menimbulkan stres. “Menulis adalah sebuah proses,” ujarnya, “Salah satu prosesnya adalah ketika anda menulis, anda mengeluarkan semuanya. Anda mengatakan seberapa anda membencinya atau menyukainya, dan anda menggunakan semua kata yang dapat menggambarkan perasaan anda. Namun ada proses lain. Anda juga menyusun ulang semua masalah-masalah anda. Anda mundur selangkah, melihat, dan merefleksikan semua itu. Itu penting, dan anda harus melakukan keduanya.” Dari analisis yang dilakukan, ia melihat bahwa mahasiswa yang menulis dengan ekspresif lebih mampu menghadapi proses perceraian orangtuanya, dan mampu melihat masalah dalam perspektif yang sesuai serta menghadapinya dengan terbuka. Dengan begitu, Sundararajan menyimpulkan, mereka akan lebih cepat pulih secara psikologis.

Nah, setelah mengetahui manfaat menulis yang begitu besar dalam mengatasi stres, tidak ada salahnya bukan jika kita juga mencoba menulis ekspresif mulai sekarang?

13 Komentar leave one →
  1. proletarman permalink
    Minggu, 13 Juli 2008 1:33 pm

    tapi bukan sembarangan tulisan kan..
    sejenis curhatan dunk..
    berarti tulisanku ga bisa mengobati stres dunk??
    soalnya jarang curhat sih..
    salam

  2. Minggu, 13 Juli 2008 8:59 pm

    menulis memang bisa menjadi alat mengeluarkan/mengekspresikan perasaan/ruwetnya pikiran.

  3. Senin, 14 Juli 2008 7:07 am

    Stress dan senang, saya menulis …🙂

  4. Senin, 14 Juli 2008 8:10 am

    kdg, dunia mmg terasa seperti panggung derita.
    untunglah disediakan dua jalan untuk menaklukkannya,
    dengan menulis dan tertawa.

  5. Senin, 14 Juli 2008 9:06 am

    menulis itu bermain logika, hasrat dan tentu saja angan-angan…
    stress emang dapat terkurangi…karena kita fokus pada perihal lainnya.

  6. Rabu, 16 Juli 2008 2:51 pm

    sehari ga menulis rasanya ada yang kurang hehehe
    menulis menulis indah

  7. hadi permalink
    Kamis, 17 Juli 2008 1:37 pm

    Yups setuju….pada dasarnya mo stress or tidak kita yang memilih dan memutuskannya…….chayooo

  8. Senin, 4 Agustus 2008 7:22 pm

    Yup, menulis itu terapi buat saya.

    dengan menulis, saya juga jadi banyak menggali informasi mengenai apa yg akan saya tulis, dan itu sangat membantu saya untuk melatih otak saya mengingat2…

    mesin kalo gak pernah dipanasin khan lama2 “akinya” gak “ngisi”… rasanya otak kita pun demikian…

    Artikel yg menarik sekali. Saya harus mengatakan ini disini (soalnay daritadi nyari halaman about ama buku tamu gak ada😀 ). blog anda ini sangat sangat menarik, kaya informasi dan dibawakan dengan bahasa yg “merakyat” tidak terlalu ilmiah, jadi mudah dimerngerti oleh kaum awam.

    Keren loh… *segera RSS Feed*

    btw, salam kenal yach, once I had time to manage my blogroll, I’ll link this site to my blog.

    Best Regards
    Silly

  9. gbaiquni permalink
    Selasa, 12 Agustus 2008 3:42 pm

    hmmm gitu ya…? apa nulis komen juga bisa mengurangi stress…, soalnya punya blog…, tapi kalo nulisnya kebanyakan, malah jadi stress…, hehehehe…

  10. khuriyeh permalink
    Rabu, 20 Agustus 2008 1:48 pm

    menuliskan uneg-uneg di diary emang menyenangkan dan membuat hati plong,ketika kita tidak punya tempat pelarian dari masalah,diary lah satu-satunya tempat untuk menampung segala uneg2.

  11. Yipie permalink
    Sabtu, 11 Oktober 2008 10:47 pm

    mohon bantuan untuk sumber buku yang relevan dengan tulisan Anda… terima kasih atas inspirasinya….

  12. Maria permalink
    Senin, 19 Oktober 2009 11:04 am

    Wah boleh tuh,klo boleh tau ada gak jurnal yg bahas masalah itu?klo ada,minta ya!

  13. aty arankoja permalink
    Sabtu, 29 Mei 2010 7:10 am

    boleh juga mnliz……..kalo lg stres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: