Skip to content

8 Pelajaran Kepemimpinan dari Nelson Mandela

Kamis, 17 Juli 2008

Politikus. Mendengar kata itu, sontak kita mendadak mual. Yang terbayang adalah monster-monster yang merampok duit negara. Mereka yang memperjuangkan kerakusan diri dan kelompok alih-alih keperluan rakyat yang memilihnya.

Maka tak heran Nelson Mandela terlihat bagai seorang santo di dunia politik yang kotor. Kita semua tahu bagaimana ia membawa Afrika Selatan yang apartheid menuju ranah demokrasi, relatif tanpa adanya konflik antar-etnis berkelanjutan.

Kini di usianya yang kepala 9, orang-orang sedunia mendirikan monumen dan menggelar konser musik untuk merayakan ulang tahun pejuang yang inspiratif ini. Apa rahasia kepemimpinannya? Wawancaranya yang terbaru dengan majalah TIME mengungkapkan 8 prinsipnya yang patut ditiru oleh setiap pemimpin di dunia ini.

1. Courage is not the absence of fear — it’s inspiring others to move beyond it. Mandela kerap kali merasa gentar, dan menurutnya itu wajar dialami oleh seorang pemimpin. Tapi, ia tidak ingin menunjukkan rasa takut itu di hadapan orang lain. Keberanian yang ditampilkan Mandela, meskipun itu kadang hanya berpura-pura, dapat menenangkan kekuatiran dan menyemangati orang di saat-saat sulit.

2. Lead from the front — but don’t leave your base behind. Ketika Mandela memutuskan untuk memulai dialog dengan pemerintah apartheid, teman-temannya mengira ia sudah ’menjual diri’. Ketimbang meninggalkan mereka dan maju sendiri dengan keyakinannya, Mandela mendatangi mereka satu per satu, menjelaskan rencananya, dan dengan sabar membujuk mereka pelan-pelan.

3. Lead from the back — and let others believe they are in front. Tugas seorang pemimpin, kata Mandela, bukanlah untuk menyuruh-nyuruh orang lain, melainkan untuk menciptakan sebuah kesepakatan. Dalam rapat-rapat, Mandela biasanya mendengarkan pendapat teman-temannya terlebih dahulu. Ketika tiba gilirannya, ia akan merangkum semua pendapat itu, baru mengutarakan pendapatnya sendiri dan pelan-pelan mengarahkan hasil diskusi tanpa nada memaksa atau memerintah.

“It is wise,” he said, “to persuade people to do things and make them think it was their own idea.”

4. Know your enemy — and learn about his favorite sport. Di awal perjuangannya, Mandela bersikeras untuk belajar bahasa Afrikaan, bahasa orang kulit putih Afrika Selatan, beserta sejarah kolonialisasi mereka. Ia bahkan berusaha mendalami rugby yang menjadi olahraga favorit kulit putih Afsel. Hasilnya, ia mendapat respek dari pihak lawan, mula dari sipir penjara hingga P. W. Botha (Presiden kulit putih Afsel pada masa apartheid), dan memperlancar proses dialog dengan mereka.

5. Keep your friends close — and your rivals even closer. Orang-orang dekat Mandela tidak selalu orang yang ia sukai. Seringkali mereka adalah rivalnya, orang-orang yang digosipkan berusaha menggulingkan kepemimpinannya. Tapi Mandela percaya bahwa dekat dengan rival adalah satu cara untuk mengendalikan mereka. Tapi bukankah mereka belum tentu akan loyal padanya? Mandela mengakui bahwa loyalitas memang penting, tapi ia juga tak terlalu menggantungkan diri pada hal itu.

After all, he used to say, “people act in their own interest.” It was simply a fact of human nature, not a flaw or a defect.

6. Appearances matter — and remember to smile. Mandela percaya apa yang tampak di luar sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam. Karena itu, ia benar-benar menggunakan penampilan fisik untuk membantu perjuangannya. Ia tampan, seorang petinju amatir, anak seorang kepala suku, suka berpakaian rapi dengan jas, dan ia memanfaatkan semua itu untuk membangun citranya. Tapi ikon yang paling menonjol dari Mandela adalah senyumnya yang penuh kedamaian, sehingga ketika berkampanye untuk pilpres, ANC (partainya) tak membutuhkan slogan lain.

7. Nothing is black or white. Meski Mandela jelas-jelas menentang apartheid, ia juga sadar bahwa apartheid memiliki penyebab historis, sosiologis, dan psikologis yang kompleks. Karena itu ia tak pernah terpaku pada satu jalan untuk memecahkan masalah. Mandela adalah politikus yang pragmatis; Ia tak akan segan-segan mengubah ideologi atau taktik (misalnya dengan menghentikan perjuangan bersenjata) jika memang itu adalah cara paling praktis untuk mencapai tujuan akhirnya.

8. Quitting is leading too. Berhenti menjabat atau memerintah bukan berarti berhenti memimpin. Jasa-jasa Mandela cukup signifikan untuk membuatnya menjadi presiden seumur hidup, tapi ia menjadi salah satu dari sedikit pemimpin Afrika yang dengan sukarela tidak ingin dipilih lagi ketika pemilu berikutnya menjelang. Bagi Mandela, yang diikuti dari seorang pemimpin bukan hanya apa yang ia lakukan, tapi juga apa yang tidak ia lakukan.

Baca Artikel Lengkapnya:

Mandela: His 8 Lessons of Leadership – TIME

9 Komentar leave one →
  1. Kamis, 17 Juli 2008 1:36 pm

    Semoga pemimpin dan penguasa negeri tercinta menirunya.

  2. Jumat, 18 Juli 2008 5:49 pm

    wow sy suka psting ini…bisa meningkatkan kemampuan manajerial :0

  3. Minggu, 20 Juli 2008 9:35 pm

    Memang berkat kepemimpinan Mandela yang karismatik ini, Afrika Selatan telah banyak berubah. Namun masih banyak PR yang masih harus dikerjakan oleh Afrika Selatan, seperti misalnya pemerataan ekonomi, di mana saat ini orang kulit putih masih sangat dominan dalam perekonomian Afrika Selatan, juga prestasi2 lain dari warga kulit hitam yang masih harus mengejar prestasi2 warga kulit putihnya. Maklum kemajuan Afrika Selatan saat ini sangat erat dihubungkan dengan keberadaan warga kulit putihnya di negara ini. Mudah2an kedepannya bisa berubah……

  4. proletarman permalink
    Selasa, 22 Juli 2008 4:46 pm

    Mandela memang seorang pemimpin sejati..
    saya terharu karena orang yang dikultuskan seperti dia ternyata rela melakukan regenerasi kepemimpinan. Dia memang orang hebat..
    semoga di dunia lahir Mandela2 lainnya..
    salam

  5. vhae_cute permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 12:46 pm

    Kalau saja para pemimpin-pemimpin di negara kita mempunyai sikap seperti itu, saya yakin dan percaya bahwa negara kita dapat lebih maju…🙂

  6. vhae_cute permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 12:47 pm

    MandeLa memang patut diacungi dua jempoL. dapat menjadi Icon untuk para pemimpin kita di indonesia.
    Kalau saja para pemimpin-pemimpin di negara kita mempunyai sikap seperti itu, saya yakin dan percaya bahwa negara kita dapat lebih maju…🙂

  7. vhae_cute permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 12:48 pm

    MandeLa memang patut diacungi dua jempoL. dapat menjadi Icon untuk para pemimpin kita di indonesia.
    Kalau saja para pemimpin-pemimpin di negara kita mempunyai sikap seperti itu, saya yakin dan percaya bahwa negara kita dapat lebih maju…

  8. Dorus Wakum permalink
    Sabtu, 23 April 2011 2:46 pm

    Sebagai seorang Putra Papua Asli bahwa Kepemimpinan Nelson Mandela merupakan Life Style yang digunakan oleh Para pemimpin Bangsa Papua barat untuk merebut kembali hak-hak kami saat ini, saya Pikir Para Pejuang Papua Barat Merdeka sesungguhnya mencontohi Mandela Nelson,……………………Bravo Nelson…………..Bravo WestPA

  9. Jumat, 6 Desember 2013 9:32 pm

    ijin KUTIP pak..? Sangat mengenang sekali artikel ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: