Skip to content

Homoseks Psikopat dan Heteroseks tak Berotak: Kasus Ryan dan Kekeliruan Berpikir Kita

Selasa, 29 Juli 2008

Jika saya diminta untuk menyebutkan satu hal positif yang bisa ditarik dari terungkapnya kasus Ryan, superstar media kita bulan ini, maka itu adalah terangkatnya ke permukaan mengenai homofobia yang begitu mewabah pada orang Indonesia. (Maaf, maksud saya sebenarnya adalah pengguna internet Indonesia, tapi karena mereka sering dianggap lebih cerdas dari mereka yang bukan netter, saya mengambil risiko generalisasi ini).

Kalau anda rajin mengupdate ‘wawasan’ anda lewat koran-kuning-cum-situs-portal detik.com, anda bisa melihat bukti dari tuduhan saya pada kolom komentar berita-berita yang terkait dengan kasus Ryan ini. Mengutuk perilaku gay? Pffft, dasar antek liberal. Harusnya kita kumpulkan mereka dan tembak satu-satu kepalanya. Atau kirim saja mereka ke saya, nanti saya gebuki dan akan saya sembuhkan dari ke-homo-annya.

Kenapa, anda bertanya. Kenapa ada yang bersikap seagresif itu pada para gay? Karena mereka orang-orang yang berbahaya, yang cemburuan, posesif, dan pendendam! Karena merekalah negara ini hancur! Karena merekalah Allah meng-azab kita dengan Lumpur Sidoarjo! (Selamat, Oom Bakrie, anda sekarang bisa melangsungkan pesta perkawinan Adinda dengan tenang…juga meriah). Dan saya tidak melebih-lebihkan, saya melihat ada komentar-komentar seperti itu yang saya rasa serius dan bukan untuk bercanda.

Ya, menyukai sesama jenis lagi-lagi menjadi biang kerok dalam kasus kriminal. Siapa sangka para lelaki yang kemayu dan perempuan yang macho itu ternyata berbakat memutilasi orang? Masih banyak rupanya orang –untuk lebih spesifiknya, kaum heteroseks– yang memiliki sangkaan itu. Prasangka? Itu fakta! Lha, Ryan buktinya!

Ini, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, adalah contoh dari confirmation bias, salah satu kelemahan dari proses berpikir kita. Apa itu confirmation bias? Asalnya dari satu kodrat yang tak terbantahkan: manusia ingin menemukan kebenaran bagi dirinya, bukan kesalahan. Seperti yang tampak dalam setiap perdebatan, ia selalu mencari fakta-fakta yang mendukung posisinya. Tak ada orang waras yang berusaha keras agar dia terbukti keliru (karena itulah, saya duga, banyak orang yang sulit mencerna metode falsifikasi).

Ketika asumsi yang kita miliki sudah begitu berurat berakar dalam kepercayaan kita (seperti yang dilakukan oleh indoktrinasi agama), maka persepsi kita cenderung menjadi selektif. Kita lebih memperhatikan fakta-fakta yang mendukung keyakinan kita, dan mengabaikan atau memberi bobot yang lebih kecil pada fakta yang bertentangan. Seringkali ini dilakukan tanpa sadar, dan tak ada kaitannya dengan pendidikan atau IQ.

Ambil contoh eksperimen Lord, Ross, dan Lepper pada tahun 1979 mengenai hukuman mati. Kelompok pro dan kontra masing-masing diberi paper penelitian mengenai efektivitas hukuman mati dan diminta menganalisisnya. Seperti yang sudah diduga, kelompok pro menganggap paper yang membenarkan efektivitas hukuman mati lebih bagus secara ilmiah dibanding paper yang tidak. Hal yang sebaliknya terjadi pada kelompok kontra. Yang tidak mereka tahu adalah bahwa semua paper yang diberikan pada tiap kelompok adalah sama, hanya kesimpulan akhirnya yang ditukar.

Daaan… apa confirmation bias yang terjadi dalam reaksi homofobik terhadap kasus Ryan ini? Mereka yang sejak awal hakul yakin bahwa homoseksualitas itu penyakit dan pengidapnya adalah makhluk non-manusia yang berbahaya dan pantas dijagal akan merasa bahwa kasus ini adalah pembenaran, bukti QED, dan fakta yang tak terbantahkan dari keyakinannya itu. Dan saya rasa media secara tak sadar juga (pernah) berada dalam posisi ini kalau kita melihat betapa ditekankannya angle gay dan homoseksualitas pada awal-awal pemberitaan.

Dengan confirmation bias ini, mereka tak memperhatikan bahwa para pembunuh berantai sebelumnya bukan gay, atau bahwa banyak gay yang baik-baik bahkan berprestasi, atau bahwa mayoritas koruptor berasal dari kaum heteroseks. Kenapa? Karena fakta-fakta itu tidak cocok dengan keyakinan mereka. Dan…balik lagi ke postulat awal kita: tak ada orang yang mau terbukti salah.

Bahkan, ekstrimnya, manusia bisa secara aktif menyingkirkan fakta yang bertentangan itu agar yang tinggal hanya yang sesuai. Apa, homo ternyata tidak seagresif yang kita kira? Kalau begitu, mari kita provokasi mereka sampai lepas kendali, dan akhirnya kita punya alasan untuk membasmi mereka seperti tikus di musim panen. Cara yang sama digunakan Hitler dan Soeharto untuk membuat orang percaya pada pembantaian Yahudi/PKI sebagai solusi ‘masalah bangsa’.

Lalu…kalau bias itu ternyata berakibat buruk, bagaimana cara menyembuhkannya? Sejauh ini, tidak ada. Itu adalah bagian dari cara berpikir kita sebagai manusia, dan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menyadari subyektivitas kita; Mengakui bahwa proses berpikir kita tidak sempurna, dan bahkan keyakinan terdalam yang telah kita pegang teguh kebenarannya pun bisa keliru. Sulitkah itu? Mungkin, soalnya masih banyak orang yang ‘panasan’ atawa gampang naik darah di negara ini.

(Catatan: Seperti yang anda lihat pada kategorinya, tulisan ini adalah sebuah “editorial”. Artinya, ia sebagian besar berisi nuansa subyektivitas pribadi si blogger seperti halnya kolom tajuk rencana atau opini di media massa. Bersikaplah lebih kritis, dan jangan mencerna tulisan editorial ini seperti anda memahami artikel POPsy yang lain. Dengan ini, anda sudah diperingatkan.)

37 Komentar leave one →
  1. Selasa, 29 Juli 2008 12:16 pm

    Prasangka itu manusiawi, bukan? Butuh waktu untuk mengikis prasangka dan terbebas dari berbagai bias, menurutku. Sebagai Muslim, saya pada awalnya merasa sangat risih membaca Alkitab. Sebagai pendatang, saya selalu curiga pada penduduk kampung, yang sebenarnya bukan kampung tapi lingua franca mereka saya yang menurutku ‘kampung’. Sampai saat ini saya akui masih risih dengan kaum homoseksual. Kecuali beberapa orang yang saya kenal di kantor. Itu mungkin karena sudah kenal lama. Tapi kalo baru kenal, sulit untuk menghindari bias itu. Saya pernah bertemu kelompok Arus Pelangi. Mereka, tentu, ramah dan cerdas. Meski saya tahu bahwa mereka adalah advokat LGBT yang sadar-reputasi dll., saya tidak bisa menghapus pikiran buruk saya tentang komunitas mereka.

  2. Selasa, 29 Juli 2008 12:21 pm

    Yep, itu manusiawi banget… makanya bisa dibilang gak ada cara menyembuhkannya. Yang ada cuma cara menyadarinya. Kalau dari sisi spiritual, saya nunut apa kata agama saya saja: Hate the sin, not the sinners.

  3. Selasa, 29 Juli 2008 1:17 pm

    Betul, hate the sins, not the sinners. Tapi kan homoseks itu dosa juga? Gimana dunk?😛

  4. Indah permalink
    Selasa, 29 Juli 2008 1:46 pm

    wah, ya nggak bisa digeneralisasi gitu dong, yang membunuh dan melakukan mutilasi tapi bukan gay juga banyak!
    yang gay kan terangkat hanya karena fenomena gay masih belum acceptable dengan masyarakat kita.

  5. Selasa, 29 Juli 2008 2:12 pm

    blognya bagus sekali dan artikel2 yang ada juga enak untuk dibaca…

    dan jangan lupa untuk mengunjungi blogku

    entar kita bisa sharing bareng ok………..

    jangan lupa..

  6. anye permalink
    Selasa, 29 Juli 2008 2:41 pm

    WELL,keren….kita g bisa menuduh kaum gay itu sebagai pendosa…karena kita manusia jg bnyak dosa…tapi bagaimana cara kaum gay sociate sma org lain aj.cuma Tuhan yg tau Gay itu pendosa atau bukan.untuk kasus Ryan..semua org blg GILA’ buat Ryan.

  7. macrh permalink
    Selasa, 29 Juli 2008 3:21 pm

    bukan kekeliruan berpikir kita, tapi apa yang kita lihat dan kita dengar itu tidak sesuai dengan akal budi dan hati nurani kita yang sadar bahwa TYME benci terhadap dosa, siapapun itu yg melakukannya..
    “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
    manusia tetap manusia, gak akan pernah jadi Tuhan, tapi TYME menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-NYA.
    tetaplah berpikir&bertindak positif..
    _stop global warming_

  8. Selasa, 29 Juli 2008 10:40 pm

    Menurut saya sih, gay juga manusia. Manusia yang bisa jadi psikopat. Sama seperti yang bukan gay. Juga manusia. Manusia yang bisa jadi psikopat. So?

  9. Selasa, 29 Juli 2008 11:11 pm

    dunia infotainment kita juga yang punya andil mendongkrak pamor para banci, homo, gay dll. Mreka enggan menerima kodratnya yang telah ditentukan Tuhan.. Tapi saya ga mau vonis orang.. Salam kenal mas postingannya bagus skali🙂🙂

  10. Rabu, 30 Juli 2008 8:57 am

    nice blog, tulisannya cerdas

  11. Rabu, 30 Juli 2008 12:21 pm

    🙂 , Tulisan ternetral dan tercerdas dari sejumlah tulisan dengan tema yang sama , terimakasih atas pencerahannya.

  12. Rabu, 30 Juli 2008 7:28 pm

    lantas apa maksudnya dengan “heteroseks tak berotak”???

  13. Rabu, 30 Juli 2008 7:59 pm

    Apa ini salah satu bentuk fallacy?😛

    Kalau ada sesuatu yang dianggap ‘menyimpang’ oleh masyarakat, ketika dia terbukti melakukan ‘penyimpangan’ lain, kayaknya kasusnya akan lebih terekspos ya?😕 Seperti Ryan ini atau anggota DPR yang terlibat skandal s*ks.

  14. Kamis, 31 Juli 2008 11:49 am

    kaum gay emang gitu.. cemburuannya tinggi dan membabi buta… mungkin mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh dunia ini.. tapi baru kayaknya.. Lepas dari Ryan itu gay atau bukan yang jelas harus dihukum mati atas perbuatannya.. pissss🙂🙂

  15. vhae_cute permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 12:38 pm

    Jangan terlalu berprasangka buruk terhadap kaum heteroseksual dan homoseksual. Mungkin kasus ryan tersebut merupakan sebagian dari kaum mereka. hal yang penting adalah bagaimana kita menyikapi hal tersebut secara
    tidak emosi dan berpikiran jernih.
    Kasus ini memang sangat fenomenal, namun kita jangan memvonis semua komunitas mereka..
    tidak semua komunitas homoseksual dan heteroseksual seperti itu. Malahan dapat dikatakan bahwa dengan kita masyarakat memperlakukan mereka seperti itu, dapat membuat mereka menjadi tertekan dan melakukan hal-hal yang begitu fenomenal seperti Ryan ini.
    jadi intinya adalah pengendali diri kita dan bagaimana kita menyikapi hal tersebut dengan pikiran yang jernih.

  16. Kamis, 31 Juli 2008 12:46 pm

    sepertinya saya melihat semangatnya dari postingan ini. seperti seorang yg sedang berorasi
    di depan podium.

    salam kenal

  17. ghuraba permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 3:21 pm

    saya setuju dengan berbagai bias yang dimiliki manusia yang anda tulis. tetapi jangan lupa liberalisme itu juga sudah diterima sebagai doktrin oleh para pengikutnya. Sebagaimana materialisme yang sudah tidak boleh diganggu-gugat di eropa, terbukti dengan ditangkapnya ilmuan yang meragukan penciptaan. jadi semua itu bias,???? tidaklah begitu. homoseksual adalah bentuk kriminal yang harus dihilangkan berpedoman kepada agama yang mutlak benar…begitu

  18. Kamis, 31 Juli 2008 5:54 pm

    Jadi teringat sebuah buku lama Prof Sarlito(?) ttg “Psikologi Prasangka Orang Indonesia”..

    Btw, tulisan yang bagus. Couldnt be agree more.

    Semua orang berpotensi menjadi jahat; terlepas dari orientasi seksual nya. Atau apakah ybs memelihara jenggot atau berdoa di balik Tembok Ratapan. Dalam kasus Ryan, jangan sampai fakta bhw ybs adalah seorang gay lantas menjadi justifikasi bahwa semua gay itu psikopat. Dan ya, itulah kecenderungan yang sekarang terbaca pada beragam pemberitaan mengenai kasus ini.

    Di samping itu, soal2 Ryan ini rasa2nya sudah menyita terlalu banyak waktu dari porsi pemberitaan kita, seolah negeri ini hanya terdiri dari seorang Ryan; zonder koruptor, orang2 Senayan, atau pembunuh yang menggunakan peluru yang dibeli dengan uang rakyat.

  19. Mausoleum permalink
    Kamis, 31 Juli 2008 6:58 pm

    Hmm..cara menulis yang terus terang sangat saya sukai..mengena, tajam, dan penuh dengan sindiran..

    Menurut saya pribadi, Gay bukanlah sesuatu yang dosa..Itu hanyalah bagian dari perbedaan..toh, pada dasarnya gay atau tidak, cinta yang dimiliki tetap sama kan? Kalaupun adanya perbedaan dalam beberapa perilaku, sebaiknya jangan langsung menghakimi, melainkan cobalah berkaca terlebih dahulu, apakah perbedaan yang dimunculkan gay itu bukan karena perlakuan yang mereka terima?

    Gay sendiri tidaklah berbahaya, jika mereka diterima sebagai bagian dari masyarakat, diterima sebagai personal yang memiliki eksistensi..Jika itu saja sulit dilakukan, tidak heran kaum gay tertekan dan kemudian tekanan itu menghasilkan sebuah “kegilaan baru”.

    Pelaku pembunuhan dengan mutilasi memang memiliki kecenderungan homoseksual (setidaknya begitulah pandangan psikoanalisa). Namun, sebaiknya dalam menyikapi kasus Ryan, kita tidak melakukan pemikiran yang irasional, dengan menghubungkan pembunuhan sadis yang dilakukan Ryan hanya karena dia gay.

    Bagaimana dengan dukun AS? Istri banyak, yang dibunuh dan disetubuhi juga wanita, namun apakah dia gay? (Well, saya tidak yakin).

  20. Jumat, 1 Agustus 2008 2:17 am

    keknya tuhan dan dosa itu bener2 jadi sesuatu yg ditakuti ya? bukan ga percaya kitab2 suci sih, tapi koq rasanya aneh aja kalo sampe mahamin semua yg tersurat secara tekstual. lha kan punya otak, hati, nurani. bisa processing semuanya secara bener. wong di dunia binatang dan tumbuhan pun fenomena homosexual itu ada. jadi sebenernya ya bukan hal aneh toh kalo primata yang berjalan tegak juga ngalamin itu?

    dan buatku tuhan itu mewujud ketika manusia bisa bijak gimana menyikapi ‘prilaku penyebab azab’ tanpa merasa diri paling bener sejagatraya.

  21. Setiyo Purwanto permalink
    Jumat, 1 Agustus 2008 8:07 am

    saya mengulas secara khusus tentang kasus ryan silahkan klik nama saya maka akan terhubung dengan link saya. terim kasih. makasih

  22. Jumat, 1 Agustus 2008 7:36 pm

    prejudice bisa membunuh dan menyakitkan..

  23. Jumat, 1 Agustus 2008 9:44 pm

    Gay dan Psikopat adalah perfect combination (sama – sama berpotensi mengerikan)

    Opini ini adalah berdasarkan pengalaman saya…. bukan karena terpengaruh opini media massa

    begitu om

  24. asep permalink
    Jumat, 1 Agustus 2008 10:34 pm

    Kalau banyak orang cenderung menyalahkan si personnya, saya justru melihat dari peran/partisipasi kita. Gimana perlakuan kita terhadap sesama kita siapapun itu.
    Coba kita belajar dari hal sepele ini.
    Ambilah sebuah kertas putih polos yang bersih. Perhatikanlah kertas itu. Kertas itu nampak putih bersih. Begitulah manusia, tercipta putih polos adanya. Ambilah pensil goreslah kertas beberapa kali. Seperti itulah hati sesama kita bila mengalami “kekerasan”. Hatinya tidak putih polos lagi, mulai nampak belangnya. Hapuslah coretan pensil itu dengan penghapus, seperti itulah hati sesama kita jika kita minta maaf pada mereka. Tidak bisa kembali putih polos seperti semula. Kita bisa menghapus goresan pensil di atas kertas, tapi kita tidak bisa menghilangkan bekas goresan itu. Kita juga tidak bisa menghapus luka yang ada di hati sesama kita. Jika anda berpikir, “Salah sendiri situ tidak belajar menghapus sakit hati”, saya curiga, jangan-jangan anda ikut berpartisipasi dalam menciptakan seorang Ryan, atau Ryan kedua.

    Mengapa demikian? Karena setiap orang berbeda cara pandangnya, cara menghadapi masalah, cara menyelesaikan masalah dan yang pasti mereka bukan anda, dan anda bukan mereka.

    Gimana kalo ada seorang laki terlahir homo, apakah itu dosa? Anda berpikir mustahil ? Saya pernah menemukan perempuan tulen berkelamin ganda, dan baru-baru ini di media massa ada seorang laki-laki melahirkan. Yah, gimanapun juga hidup ini penuh dinamika.

    Jika kita berpikir untuk menyembuhkan mereka, mungkin sebaiknya kita mulai berpikir untuk peduli dengan siapapun, tidak terbatas gay, banci, atau apapun juga. Minimal, perlakukan orang lain sebagai manusia, dalam bahasa jawa “nguwongke liyan”, ya, karena mereka adalah orang, manusia, yang mau tidak mau, sadar atau tidak sadar butuh perhatian dan pengakuan dari orang lain akan keberadaan mereka.

  25. Sabtu, 2 Agustus 2008 11:21 am

    kalo dari berita2 itu sih bukannya sisi homo nya yang bikin dia kayak gitu,tapi emang udah bawaan aja dia sadis kayak gitu..

  26. rafi rafiandi permalink
    Minggu, 3 Agustus 2008 5:47 pm

    gak semua dari mereka yg sprti itu.kalau kita prhtikan yg menjadi motif dari saksi sadis ryan adalah ekonomi.bukan karena orientasinya yg salah.gays itu juga adalah manusia ciptaan tuhan.tak seharus selalu dipojok dengan stigma negatif.mereka sama dengan mereka yang hetero,punya perasaan,kasih sayang dan ingin dhrgai,hidup menjadi gays bknlah pilihan,tp itu tlah tertanam dari kndngan…

  27. Selasa, 5 Agustus 2008 8:17 am

    Sebagai penggemar “Nah Ini Dia”-nya Poskota, saya tertawa melihat tuduhan motif ‘gay’. Karena pasangan heteroseksual pun juga bisa posesif dan menyeramkan. Seorang tukang becak di Jawa Tengah, bisa dengan tega membantai istri keduanya hanya gara-gara kesal dimintai ‘jatah’ saat ia sedang lelah.

    Selain itu,
    aku dan ibuku (edratna) juga pesimis bahwa ‘cemburu’ adalah motifnya. Kami punya keyakinan yang sama dengan polisi, motifnya adalah ekonomi mengingat gaya hidup Ryan yang cukup tinggi.

  28. Selasa, 5 Agustus 2008 3:46 pm

    homoseksual itu hanya sebuah orientasi seksual.

    being hetero is not a normal.it just a common.

    nice writing🙂

  29. oww permalink
    Kamis, 7 Agustus 2008 10:32 am

    saya aga kecewa dengan pospi karena menampilkan artikel seperti ini….. justifikasi dengan teori apapun mengenai HAM, is not acceptable!!! saya memang gayman,tapi saya pkir itu kehidupan saya, untuk kasus rian, tak usah dimbil pusinglah…analoginya.

    ANDA YANG NORMAL ADA YANG BAIK, TAPI ADA JUGA KAN PELAKU MUTILASI… DAN PEMERKOSA ANAKNYA SENDIRI

    SO STANDING AS A STRAIGHT AND SAYING U ARE THE RIGHT ON IS ACTUALLY not wise

    padahal saya selalu pake popsy untuk skrip siaran radio, dan selalu mencantumkan popsy.

    hufh

    next time… untuk popsi jangan menampilkan artikel yang srupa yang memojongan salah satu pihak donk..
    kalo sekarang gay, nanti bisa saja kristen, bisa negro, bisa apapun yang memojokan…padahal kalao setipa org menganggep dirinya benar… gmana dunia akan damai!!! simple kan

    mau artikel sepitar apapun, tidak akan terlihat pintar bila memojokan salah satu pihak dan mocking pihak tersebut.

  30. Jumat, 8 Agustus 2008 11:19 am

    hmm..sepertinya orang diatas saya ga paham sama esensi tulisannya…

    saya setuju sama mas popsy…sebenarnya orientasi seksual ga perlu dibesar2kan…toh, sudah banyak pelaku pembunuhan sadis lain sebelumnya yang heteroseksual…

    secara pribadi saya memang menganggap homoseksual itu adalah suatu kesalahan, tapi pada kasus ini kaum homoseksual jadi korban, saya jadi simpati.

    Bukannya hal ini sama aja dengan men-generalisasi orang berjenggot sebagai teroris, orang yahudi sebagai penjahat, dll…? Generalisasi itu jahat ya…

  31. Jumat, 15 Agustus 2008 5:41 pm

    Gay atau Bukan Kalau perbuatanya samapai memutilasi, itu sudah sepantasnya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatanya….Hukum mati, tidak ada basa-basi. Kasus Rian mesti tuntas. Jangan sampai kasus Rian dijadikan berita heboh seantero negeri, dan jangan sampai kasus Rian di jadikan trend kejahatan kaula muda terutama kaum minoritas (gay)Karena yang saya lihat Rian sangat memperlihatkan orientasi sexnya sangat tebuka terhadap Publik,seakan-akan Ryan banggan dengan setatusnya sebagai gay.

  32. Rabu, 20 Agustus 2008 8:55 pm

    duh, mas ini orang intelek tapi cara ngomongnya kok kasar ya.. ajari qt untuk bs menghargai orang lain,karna orang g d yang sempurna. anda pasti tau kenapa orang bisa menjadi seperti Rian, bgm masa laluny..
    Anda seperti orang yang penuh amarah yang terpendam, anda bukan orang yang bersahaja..
    jangan tularkan pada orang lain, ok..

  33. Kamis, 21 Agustus 2008 1:16 pm

    @yenni, ow, dan beberapa komentator lainnya:
    Sepertinya salah menangkap maksud tulisan saya. Silakan dibaca lagi dengan lebih tenang dan hati-hati, atau perhatikan komentarnya irvan😉

  34. Senin, 15 September 2008 6:11 am

    @all
    sepertinya beberapa org missunderstood pd paragraf 2, emang kesannya “rude” atau kasar tp mohon baca ulang detailnya dan baca jg “note” atau catatan pada akhir paragrap mungkin anda akan mengerti point dr artikel ini.

    hmm… repot jg yah coz sifat dasarnya manusia selalu merasa benar, dalam sehari-hari masyarakat indonesia (yg selama ini saya temui, baik yg ber-intelek maupun tidak) msh cenderung mendahulukan emosi dr akal cerdas mereka. Entah hal ini karena faktor lingkungan atau saya lebih suka faktor tayangan visual (televisi nasional) yg sering kali lebih bnyak kurang mendidik.
    Kalau anda ingin men-judge sesuatu, pelajari dulu teori2/dasar2 hal yg berkaitan dengan sesuatu tsb. Tp sekedar saran “kita (manusia) bukanlah Tuhan Yang Maha Benar”.
    CMIIW

  35. toyib permalink
    Jumat, 7 November 2008 5:36 pm

    Bahkan di Amerika saja kaum gay masih mendapatkan diskriminasi dari masyarakat. itu menunjukkan bahwa banyak orang berpendapat (secara universal) yang mengatakan hal itu sebagai suatu penyakit yang bisa menular. Naudzubillah.

  36. ggg permalink
    Sabtu, 14 Februari 2009 1:45 pm

    anjing loe

  37. Anti-positivistik permalink
    Kamis, 22 Maret 2012 8:25 pm

    Mengamati berita beberapa tahun lalu.
    Tidak sengaja melihat artikel ini.
    Sampai sekarang pun kaum homoseksual dikucilkan.
    Menurut saya orang yang terlanjur men’judge’ kaum homoseksual itu sebuah penyimpangan ataupun dosa pastilah bukan orang sosial. kalaupun orang sosial pasti kalian penganut Comte.
    Paham ‘Tuhan hanya menciptakan lelaki dan perempuan’ itu tidak benar, Tuhan menciptakan manusia untuk saling menyayangi, jadi tidaklah salah jika kaum homoseksual saling menyayangi.
    Positivistik harus dihapuskan dari dunia sosial.
    Sudah bukan jamannya mayoritas harus menang.
    kita bukan dari jaman di mana kaum ilmuwan tua yang memarahi ilmuwan muda karena berkata jumlah gigi kuda tidak ada di buku.
    minoritas juga harus didengar dan seharusnya kita bantu. Karena intinya mereka juga manusia.
    Manusia semua di hadapan Tuhan sama, duduk sama rendah berdiri sama tinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: