Skip to content

Apakah Rumah Tangga Anda Dikuasai oleh Wanita?

Kamis, 28 Agustus 2008

Anda mungkin bukan tipe seorang “suami takut istri” atau “istri penjajah suami”, tapi coba pikirkan lagi: Siapakah yang selama ini sebenarnya mendominasi pembicaraan dan keputusan di rumah tangga anda?

Kalau menurut sebuah penelitian yang dilakukan para psikolog di Iowa State University, yang lebih sering menjadi ‘bos’ dalam rumah tangga adalah perempuan. Dalam penelitian itu, selain diberikan kuesioner mengenai tingkat kepuasan pernikahan dan kemampuan pengambilan keputusan, 72 pasangan yang telah menikah selama sekitar 7 tahun diamati proses diskusinya ketika diminta membicarakan rupa-rupa masalah rumah tangga mereka.

Dari observasi itu, terlihat bahwa para istrilah yang kerap memimpin dan mengarahkan interaksi suami-istri ke tujuan yang mereka inginkan, bahkan ketika bukan mereka yang memulai diskusi. Dan dari situ pula, terlihat bahwa para suami mereka juga lebih banyak yang akhirnya ikut setuju dengan pendapat mereka.

Bagaimana dengan anda (atau keluarga anda, jika anda belum menikah)?

clipped from www.livescience.com

“The study at least suggests that the marriage is a place where women can exert some power,” said lead author David Vogel, a psychologist at Iowa State University (ISU). “Whether or not it’s because of changing societal roles, we don’t know.”

Wives were more demanding—asking for changes in the relationship or in their partner—and were more likely to get their way than the husbands. This held regardless of who had chosen the issue.

Wife power could signal a harmonious couple. “There’s been research that suggests that’s a marker of a healthy marriage—that men accept influence from their wives,” Murphy said.

The results counter past research.

“Most of the research literature in psychology has suggested that women have less power,” Vogel told LiveScience. “They have largely based that on the fact that traditionally men earn more money and so therefore would have the ability to make big decisions in the relationship.” That wasn’t the case in this study.
blog it
17 Komentar leave one →
  1. wasil permalink
    Jumat, 29 Agustus 2008 5:10 pm

    hahaha…
    mmmhhh…
    gimana yaaa ????

  2. Minggu, 31 Agustus 2008 11:05 am

    untungnya kluarga saya sangat demokratis. mana yang baik dan mana yang benar ya itu keputusan terbaik. dengan pacar pun saya mencoba buat fair. mungkin dengan gitu bisa teratasi masalahnya…

    nuwun
    http://indradhani.wordpress.com

  3. Minggu, 31 Agustus 2008 1:49 pm

    nampaknya seperti itu, hehehe….🙂

  4. Minggu, 31 Agustus 2008 5:17 pm

    Kalau menurut saya, minimal lingkungan tempat saya, kebanyakan memang para suami sengaja menyerahkan keputusan di rumah tangga kepada para istrinya. Namun bagi saya nggak masalah, toh istri saya (dan juga istri teman2 saya lainnya) kalau ada yang masalah sulit untuk diputuskan, ia juga akan meminta konsultasi terhadap saya (dan suami2 teman2 saya). Kalau pembicaraan sih, hmmm… terus terang… kalau mau saya bisa mendominasi…. tapi saya biarkan percakapan jadi berimbang. Yang paling penting nggak masalah deh siapa yang mengambil keputusan, yang penting disetujui dulu oleh kedua belah fihak dan berlangsung secara demokratis. Hehehe…..

  5. syaorannatsume permalink
    Senin, 1 September 2008 9:25 am

    gimana, ya? saya juga tidak mengerti…
    kalo urusan rumah, ya emang wanita (mama) yang mengatur. suaminya (papa saya) juga ga protes.
    emang itu urusan seorang ibu.
    tapi kalau urusan yang lain sepertinya sang ayah lebih dominan.. seperti menentukan dimana sekolah anak, keuangan, dan lain-lain. IMO, c…
    kurang merhatiin juga,,

  6. Senin, 1 September 2008 3:58 pm

    Kalo di keluarga saya sih, kayaknya bokap masih berkuasa penuh.

    Tapiii…kalo saya? Gelagatnya sih, gimana yah…

  7. Rabu, 3 September 2008 6:25 pm

    Pria seharusnya menjadi pemimpin yang maskulin agar dapat membiarkan wanita mengambil peranan perawat yang feminin.

  8. oming permalink
    Rabu, 3 September 2008 7:36 pm

    hmmmm…..setubuh…
    emang bener kok, yg namanya wanita tuh sukanya ngatur2..ap2 diatur..yg semestinya ga diatur jg diatur
    tp gw bersyukur bgt dilahirkan menjadi seorang wanita coz bs ngatur2 pria…hehehehe…

  9. Sabtu, 6 September 2008 4:48 pm

    SEMOGA PUASANYA LANCAR

  10. Senin, 15 September 2008 11:28 am

    Idealnya memang begitu. Sama seperti jika kita sudah mendelegasikan beberapa tugas kepada seorang manager, maka selanjutnya biarkan dia melakukan tugasnya.

    Begitu juga ketika kita sudah mendelegasikan urusan rumah tangga kepada istri kita. Maka jangan dicampuri lagi terus menerus. Ini namanya micro-management, dan ini adalah praktek manajemen yang tidak sehat🙂

    Palingan kita membantu mengarahkan dan memberikan masukan.
    Hanya kekeliruan pada kasus-kasus yang critical saja kemudian kita (harus) mem veto – karena pada akhirnya tanggung jawab adalah di tangan suami. The buck stop at us.

    Celakanya jika fungsi-fungsi manajemen ini berjalan dengan tidak baik. Seperti istri yang dominan dan suami yang tidak mengontrol. Atau kebalikannya, suami yang mencampuri semua urusan rumah tangga, sudah begitu tidak mau mendengar masukan dari anggota keluarga yang lainnya pula. Alamak.
    Serba ekstrim jadinya🙂

  11. Selasa, 16 September 2008 4:29 pm

    waaaahhhhh… klo istri yang jadi penguasa dalam rtgmn yah…??
    dalam ilmu psikolog suasana yang seperti itu bagus ga ya??

  12. hari permalink
    Kamis, 18 September 2008 1:51 pm

    untuk dikeluarga saya, saya sangat berperan & menjadi otak dari segalanya..
    bagaimana caranya agar pasangan saya juga berpartisipasi dalam keluarga ikut berkreasi & mind idea..
    untuk catatan saya juga seorang pemimpin pada pekerjaan saya..
    thanks

  13. Jumat, 19 September 2008 1:01 pm

    dan kelihatannya, itu yang ingin ditunjukkan oleh sinetron komedi “suami-suami takut isteri”
    yang penting, bisa membangun komitment bersamalah

    http://rapmengkel.com

  14. MUIS andhika permalink
    Jumat, 3 Oktober 2008 6:05 pm

    pengembangan kasus;
    anggaplah jika ada pasangan yang mjalani sbb;
    jka wanita memilki gaji yg
    lebih besar,lebih tua umurnya drpd suami.
    hal ini jg tampil
    sebagai salah st sebab perceraian.
    wanita cenderung mendambakan laki2 yg dewasa
    sebagai pengganti sosok ayah;dlm situasi yg
    spt ini jika dlm bbrp aspek diatas laki2 di
    bwh istri maka org lain/awam pun akan menilai
    bhw suami demikian adl suami yg gagal.alasannya;
    1.suami dianggap krg dewasa maka setiap arahan
    ,kritikan dan peringatan dianggap pembicraan
    dr laki2 kecil yg tdk menguasai aspek2 rmh tgg
    perniagaan dan sosial
    2.suami merespon dgn : minder/malu bersuara/
    malu jika nanti dipermalukan istri, sikap
    apatis akibat dendam karakter yg dijatuhkan,
    sikap tertutup dan adanya pola saing
    terselubung.
    3.istri sulit menerima kekurangan meski tlh
    diingatkan berungkali.ini jg mjd beban pkrn bg
    istri.akibat scr lnsg;istri akan buta hati
    tdk mau mengakui kesalahan dan terus saling
    menggerus kesalhn suaminya dari yg lampau hgg
    saat ini dan akan membuka htnya bhw pernkhn
    adl sebuah kegglan.
    4.ketertutupan masalh pendapatan,tdk adnya
    kerjasama finasial.
    5.peran orang tua ikt menilai suami dmkian tlh
    gagal.
    =bukannya menyalahkan para istri tapi para suami
    dimanapun minta untuk dianggap sebagai pemimpin
    dukunglah para pemimpin,berilah nasehat yg indah,
    untuk masg(suami/istri)terima keadaan pasangan
    dlm hal apaun,salg menghargai,jgn merasa perfect
    jgn berpikir apa yg tlah diberikan pasangan
    kepada saya tp apa yag tlh sy berikan kepd pasgn
    dan rmh tgg..mgkn wanita menganggap dirinya
    (sbgian bsr )lbh pintar dari suami, tapi tlg
    diingat suami adalh sosok mulia yg punya
    rs tgg jawab,kepedulian,menerima kekurangan,
    sabar dan kesetiaan yg mgk
    ada di atas para wanita saat ini.

  15. kribo permalink
    Jumat, 31 Oktober 2008 12:41 am

    Ketika kita menemukan seorang suami yang memimpin sepenuhnya dalam rumah tangga, kita selalu bilang itu wajar. Dan kenapa kita tidak merasa wajar apabila istri yang memimpin sepenuhnya?? Bahkan ketika sang istri memiliki penghasilan lebih, pintar lebih, kepemimpinan lebih dan terutama kuasa lebih dari suaminya.
    Pendapat Muis mencerminkan kuatnya akar patriarkhis, yang senantiasa mengidentifikasikan kelebihan yang dimiliki perempuan sebagai hal-hal negatif atau berpotensi negatif bagi laki-laki. Seorang suami walaupun bodohnya ngauzubillah tidak boleh direndahkan oleh istrinya, atau dianggap kurang dari istrinya (dan yang sering terjadi adalah sang istri diminta untuk mengimbangi dan menghormati kebodohan suami). Nha jika istri buoodoh, lemah, penyakitan dicerai atau dihajar (apalagi jika dianggap nyeleweng) oleh suami itu sah… tampak ketidakadilan yang luar biasa.
    Terkait penelitian dari Iowa State University, itu jelas jauh untuk dapat digeneralisasikan dalam konteks budaya dan masyarakat yang berbeda, bahkan untuk generalisasi di US pun. Irama kebebasan dan kemerdekaan bagi para perempuan di Indonesia belum seperti di US.
    Dan jelas, para istri akan sulit menjadi pemimpin, karena budaya, nilai dan para suami itu sendiri (secara laten) tidak memperbolehkan seorang wanita untuk menjadi pemimpin, dengan alasan moral, nilai dan mitos-mitos budaya maupun agama.
    Sy beranggapan dengan semakin banyakya perempuan yang telah berhasil mengembangkan diri (bahkan dibanding laki-laki pasangannya) maka jelas diperlukan adanya pengakuan bagi perempuan untuk memimpin.

  16. wildan permalink
    Sabtu, 17 Januari 2009 10:46 am

    di dalam sebuah perkawinan kesetaraan itu perlu. misalnya setara dalam pemikiran, dan sikap. Apabila suami membiarkan kita para istri untuk turut andil dalam pengambilan keputusan rasanya hal tersebut dikarenakan suami menghargai pemikiran kita. saling memberi dan menerima adalah bagian dari saling menyayangi, bukan…

  17. animusparagnos permalink
    Sabtu, 21 Februari 2009 9:16 pm

    Wow…..Apakah ada ke-legawa-an dari masyarakat bila perempuan tiba2 ikut unjuk gigi? (^_^)
    Saya pikir disini yang dipermasalahkan seharusnya bukan bgaimanakah bila kaum perempuan menguasai rumah tangga atau perdebatan siapa yang seharusnya berkuasa atas rumah tangga. Perlu diluruskan mengenai persepsi dominansi seharusnya dipegang oleh laki-laki, kemudian perempuan harus duduk sebagai wakilnya. Dan bukan mengenai dominansi atau perebutan kekuasaan yang seharusnya ada dalam perkawinan atau keluarga, tapi disini lebih condong pada inisiatif. Ketika perempuan berada dalam posisi yang dianggap sebagai “bos”, itu bisa jadi sebuah bentuk inisiatif dari istri, dan ini normal sekali. Image perempuan sebagai follower merupakan pandangan konservatif serta tidak ada alasan untuk mempertahankan pandangan tersebut. Kedua belah pihak dapat saling mengisi kekurangan, dan secara fleksibel masing-masing berhak menunjukkan inisiatifnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: