Skip to content

Lingkungan yang Miskin dan Perkembangan Anak-Anak Kita

Sabtu, 18 Oktober 2008

Kemiskinan bukanlah sepenuhnya sebuah nasib; sampai taraf tertentu kita bisa berusaha untuk mengubah kondisi ekonomi kita atau mereka ulang persepsi kita akan apa sesungguhnya ‘kaya’ itu. Di sisi lain, lahir dalam kemiskinan adalah takdir; kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari orangtua yang milyuner atau melarat.

Beberapa dari mereka yang kurang seberuntung kita (yang cukup ‘makmur’ untuk bisa mengakses blog) harus tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan jiwa mereka. Apa saja sebenarnya kekurangan psikologis dari lingkungan yang miskin itu, dan apa dampak negatifnya secara spesifik bagi anak-anak kita?

Berbagai penelitian psikologi telah mengkonfirmasi bahwa kondisi lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan anak pada ranah akademik dan perilaku. Dalam studi meta-analisis yang dilakukan Leventhal dan Brooks-Gunn (semua referensi dalam artikel ini bersumber dari Hart, Atkins, & Matsuba, 2008, kecuali disebutkan kemudian), indikator ekonomi merupakan prediktor lingkungan yang paling akurat untuk memperkirakan keberhasilan perkembangan anak.

Jika sebuah lingkungan kemudian dikatakan miskin secara ekonomi, apa saja aspek-aspek dari lingkungan tersebut yang dapat mempengaruhi perkembangan anak? Beberapa penelitian menyebutkan antara lain tingginya tingkat kriminalitas, kebisingan, dan kondisi perumahan yang kumuh. Selain itu, lingkungan semacam ini juga pada umumnya memiliki kontrol sosial yang lemah dan konsensus yang lebih longgar terhadap norma-norma yang berlaku.

Sekarang coba bayangkan anda tinggal di lingkungan yang semacam itu. Satu hal yang sudah jelas akan anda alami, dan ini juga sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian, adalah tingkat stres yang lebih tinggi pada semua orang. Pada orangtua, stres yang didapat dari lingkungan, ditambah dengan tekanan pekerjaan atau urusan sehari-hari lainnya, akan membuahkan depresi yang mengurangi kualitas dukungan emosional dan intelektual yang dapat mereka berikan kepada anak-anak mereka di rumah.

Bagi anak-anak sendiri, stres dan kecemasan yang mereka dapatkan dari lingkungan dapat lebih merusak dan bertahan lama dibanding orang dewasa, bahkan setelah mereka tidak hidup dalam kemiskinan lagi. Diperkuat oleh pengasuhan yang kurang dari orangtua dan kontrol yang lemah dari lingkungan, stres ini dapat menggiring mereka pada berbagai masalah perilaku seperti kenakalan (delinquent) dan perilaku antisosial (beda dengan asosial lho ya…perilaku antisosial sudah nyrempet-nyrempet kriminal).

Tak hanya perilaku mereka yang terpengaruh. Menurut beberapa penelitian, dibandingkan dengan mereka yang tumbuh di lingkungan menengah ke atas, anak-anak di lingkungan miskin lebih sulit menahan diri (delayed gratification), resiliensi (kemampuan menghadapi stres dan tantangan hidup) yang lebih rendah, lebih aktif secara seksual, dan juga lebih tidak mengindahkan metode-metode pengaman yang dapat mencegah kehamilan atau penyakit menular seksual.

Melihat berbagai dampak yang dapat ditimbulkan dari lingkungan miskin, saya rasa sudah tepat kalau beberapa program sosial bagi kaum marginal lebih memfokuskan pada anak-anaknya, yaitu dengan memberikan mereka sedikit lingkungan yang dapat mendukung perkembangan intelektual dan emosional mereka, misalnya dalam bentuk sekolah alternatif atau rumah singgah. Mungkin hal itu tidak dapat serta-merta membuat mereka tidak miskin lagi secara ekonomi, tapi setidaknya memberikan mereka keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk secara mandiri keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Sumber:

Hart, D., Atkins, R., & Matsuba, M. K. (2008). The Association of Neighborhood Poverty with Personality Change in Childhood. Journal of Personality and Social Psychology, 94(6), 1048-1061.

Relieving Poverty for Mental Health – Psychology Today

NB: Artikel ini seharusnya ditulis untuk Blog Action Day 2008 tanggal 15 Oktober yang lalu. Karena satu dan lain hal yang tidak dapat disebutkan di sini, artikel ini baru bisa diterbitkan sekarang.

11 Komentar leave one →
  1. Selasa, 21 Oktober 2008 10:54 am

    IMO masalah pertama tuk kemiskinan ( terutama di negara ini) adalah banyaknya jumlah anak yang dimiliki oleh sebuah keluarga menengah ke bawah. Buat makan berdua saja susah, produksi banyak anak.😐
    Nanti kalo beli susu mahal; pemerintah yang salah.
    Biaya sekolah tinggi; pemerintah yang salah.
    Anak gizi buruk; pemerintah yang salah.
    Padahal kalo ditanya; “anaknya brapa bu?”, “lima!” Menjawab sambil hamil tua yang keenam. Bah! Satu saja knapa sih?👿

    *teringat suksesnya BKKBN jaman Pak Harto…*

  2. Selasa, 21 Oktober 2008 12:01 pm

    @jensen:

    Kan banyak anak banyak rejeki… dalam artian makin banyak pemasukan karena makin banyak anak yang bisa dikaryakan di lampu merah perempatan jalan…😦

  3. Sabtu, 25 Oktober 2008 11:31 am

    Jadi kemiskinan yg terstruktur😐

  4. sapto permalink
    Jumat, 31 Oktober 2008 12:06 am

    Pertanyaannya mampukah dengan perspektif “merawat” kita bisa menyelesaikan akar permaslahan? mau berapa ribu rumah singgah dibangun dan berapa juta konsultan mau dipekerjaken?
    Membicaraken kemiskinan juga usaha untuk “menolong” orang miskin secara individual apakah bisa?
    Nha kalau kita menggunakan perspektif psikologi yang tidak memihak kaum miskin, seperti halnya psi industri yang membuat para buruh semakin rajin bekerja walau gaji kuuuecil…atau sekolahdan kuliah psikologi yang semakin muaahal. Sama saja kita melembagakan kemiskinan dan kebodohan.
    Rasanya tidak banyak orang miskin yang berbicara disini!

  5. ree permalink
    Sabtu, 15 November 2008 6:04 pm

    jadi inget perkataan Lionel Luthor..
    “kemiskinan identik dengan kemalasan”
    saya cukup setuju…

  6. Senin, 17 November 2008 12:55 pm

    saya koq ndak setuju dgn penelitian hal ini,menurut saya miskin kaya itu cenderung menjadi kecemasan orang dewasa saja, bagi anak2, as long as mereka bisa bermain dan tidak dalam tekanan kekerasan ortunya, dalam kondisi ekonomi separah apapapun, saya rasa mereka akan baik2 saja

    lagipula sejarah mencatat, seberaapa banyak orang yg brilian nan hebat, justru berasal dari lingkungan yang sangat terbatas ?

  7. Senin, 17 November 2008 4:50 pm

    artikel yang bagus. saya menulis beberapa tulisan mengenai anak, tapi lebih teoritik. data dari anda tentu saja menarik bagi saya agar beberapa tulisan saya menjadi teoritik-praktis.

    trims
    v3
    http://psikologi-in.blogspot.com/

  8. Minggu, 21 Desember 2008 2:55 am

    sebenarnya kemiskinan itu disebabkan oleh para koruptor. gimana ya, apa sebaiknya koruptor itu diuhukum sebagaimana imam samudra dan amrozi? kan, koruptor menyebabkan rakyat sengsara bahkan mereka sengaja melakukan pembunuhan massal. Biar ada efek jera, gitu.

  9. fajar permalink
    Selasa, 6 Januari 2009 2:09 pm

    tolong kirimkan ke Email sy isu-isu mutakhir dalam psikologi perkembangan

  10. Senin, 16 Februari 2009 11:51 am

    Hmm, menurut saya kemiskinan itu bisa karena struktural dan juga kultural. sikatakan kemiskinan struktural terkait dengan pemerintah daerah setempat.. bukankah sekarang daerah sudah memiliki hak otonomi? dan saya kira kita semua sepakat bahwa tidak ada daerah di Indonesia yang tak memiliki potensi ekonomi bukan? masalahnya.. apakah pemerintah daerah setempat sudah mengoptimalkan SDM dan SDAnya dalam mengentaskan kemiskinan ini?

    harus ada pencerdasan ekonomi serta stimulasi ekonomi mandiri dan bertanggung jawab bagi masyarakat setempat (sesuai daerah). pencerdasan ekonomi maksudnya pemerintah daerah merus mampu menyadarkan masyarakatnya agar wawasan dan pikiran mereka terbuka bahwa ada banyak potensi yang dapat mereka garap. stimulasi ekonomi mandiri adalah pemerintah sebagai fasilitator untuk (misalnya) membangun jaringan (pemasaran, dll), publikasi dan mendukung usaha masyarakat baik dari segi kebijakan, informasi2.. dll. sedang kata bertanggung jawab adaah usaha yang sportif dan tetap menjaga lingkungan.

    kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang terjadi karena didalam masyarakat itu sendiri yang enggan keluar dari labirin kemiskinan itu, misalnya lemahnya etos kerja, sulit memulai usaha yang baru, dll.

    daerah miskin memang akan mempengaruhi perkembangan anak, termasuk sosio emosional anak. hal ini tentu terkait dengan peran dan pola asuh orang tua. juga budaya setempat yang pastinya berpengaruh pula pada peran dan pola asuh orang tua yang secara tidak langsung akan berpengaruh pula pada sosio emosional anak.

    menurut saya, pendidikan berbasis masyarakat bisa diterapkan pada komunitas ini.. pendidikan yang mengoptimalkan potensi masyarakat setempat. tentunya diperlukan pencerdasan terlebih dahulu bagi masyarakat setempat.. terutama para orang tua dan guru.

    Goleman mengatakan bahwa perkembangan sosial emosional dapat berdampak pada perkembangan kognitif anak. karena itu setiap aspek perkembangan anak garuslah seimbang..

    Best Regard,
    Dewi Julita
    Early Childhood Education
    State University of Jakarta

  11. Selasa, 3 Maret 2009 3:20 pm

    saya berjarap hal ini tidak hanya menjadi wacana, saya dan beberapa teman saya bergerak dalam perkumpulan yang memberikan pendidikan alternatif bagi anak-anak miskin pesisir. Seperti salah satu komentar salah satu teman kita bisa jadi saat ini anak-anak tidak merasakan dampak dari kemiskinan tersebut tapi lambat laun anak-anak akan jadi bagian dari kemiskinan tersebut. menurut hemat kami pendidikan untuk anak-anak miskin seharusnya mampu memberdayakan diri mereka sendiri, support untuk upaya pendidikan gratis tidak hanya itu sekolah-sekolah yang terletak di wilayah miskin harusnya memiliki kurikulum atau sejenis muatan lokal yang memberikan ketrampilan untuk memahami kondisi serta mencari solusi agar tidak terjebak pada kondisi kemiskinan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: