Skip to content

Persahabatan dan Kebahagiaan yang Menular

Sabtu, 6 Desember 2008

Persahabatan ternyata tidak hanya mengubah ulat menjadi kupu-kupu, tapi juga bisa membuat anda lebih bahagia. Ya, mungkin anda yang sering ditraktir ulang tahun atau datang ke resepsi pernikahan menganggap ini pengetahuan basi, tapi penelitian ilmiah mengenai kebahagiaan dengan skala sebesar ini (lebih dari 4700 orang dalam jangka waktu 20 tahun!) jarang sekali dilakukan sehingga rasanya patut dibahas sedikit.

James Fowler dan Nicholas Christakis, dua orang peneliti dari University of California, San Diego, menemukan bahwa perasaan bahagia kita banyak dipengaruhi oleh perasaan bahagia orang lain yang kita kenal lewat pelbagai bentuk hubungan sosial. Penyebaran ini utamanya terjadi melalui hubungan pertetanggaan dan pertemanan.

Ya, menurut penelitian ini, tetangga dan sahabat yang tinggal dalam jarak 1 mil lebih bisa membuat kita ikut bahagia (34% dan 25%) dibanding pasangan (8%), saudara (14%), apalagi rekan kerja biasa (0%) yang tinggal dalam jarak yang sama (jika mengabaikan jarak, efek rata-ratanya menjadi 9%) . Ditambah lagi, kekuatan peningkatan kebahagiaan akibat efek penyebaran ini dapat menyebar hingga tiga level berikutnya (sampai ke temannya temannya teman anda) dan bertahan hingga setahun.

Faktor-faktor apa lagi yang berperan dalam penyebaran kebahagiaan ini? Ada faktor jenis kelamin yang sama, konteks sosial yang mendukung, serta kedekatan fisik dan frekuensi kontak sosial. Satu hal yang patut dicatat dan menjadi perhatian adalah bahwa penelitian ini selesai tahun 2003, di mana ponsel dan internet belum digunakan sebanyak dan seintensif sekarang. Karena itu, mungkin saja teknologi kini dapat mengeliminasi kendala jarak yang dulu menjadi hambatan.

Bagaimana dengan anda? Apa anda merasa kebahagiaan anda selama ini banyak ‘tertular’ oleh kebahagiaan orang-orang terdekat anda?

Lihat penelitian selengkapnya: Dynamic spread of happiness in a large social network: longitudinal analysis over 20 years in the Framingham Heart Study

clipped from hosted.ap.org

A paper being published Friday in a British medical journal concludes that happiness is contagious – and that people pass on their good cheer even to total strangers.

American researchers who tracked more than 4,700 people in Framingham, Mass., as part of a 20-year heart study also found the transferred happiness is good for up to a year.

For this study, published in the British journal BMJ, they examined questionnaires that asked people to measure their happiness. They found distinct happy and unhappy clusters significantly bigger than would be expected by chance.

Happy people tended to be at the center of social networks and had many friends who were also happy. Having friends or siblings nearby increased people’s chances of being upbeat. Happiness spread outward by three degrees, to the friends of friends of friends.

Happy spouses helped, too, but not as much as happy friends of the same gender. Experts think people, particularly woman, take emotional cues from people who look like them
blog it
14 Komentar leave one →
  1. Minggu, 7 Desember 2008 12:35 pm

    Hmmm… pertanyaan di alinea terakhir agak susah menjawabnya. Tergantung sih. Terkadang kalau ada tetangga sedang berbahagia karena beli mobil baru, hati saya panas dingin ingin beli mobil baru juga walaupun nggak punya duit….

    Weeekz…. kebahagiaan yang seperti itu nggak termasuk ya??:mrgreen:😛

  2. Mas Kopdang permalink
    Minggu, 7 Desember 2008 10:06 pm

    kebahagiaan datangnya seperti kupu-kupu..
    berkelebat, bisa betah hinggap dalam jangkauan kita,
    bisa juga hanya sebatas kejapan mata.

    Tapi katanya, kupu-kupu hinggap di kala kita akan kedatangan tamu.
    Maka kebahagiaan sejati adalah ketika kita dapat berbagi, dengan “tamu-tamu” kita itu…
    😀

  3. Senin, 8 Desember 2008 2:48 am

    terus terang kadang kebahagiaan saya ituadalah melihat teman2 saya itu bahagia, bahkan sampe kebahagiaan saya sendiri saya eliminir buat mereka…
    kadang ada juga sampe teman mengatakan perhatikan kebahagiaan dirimu sendiri dulu baru orang lain, kamu malah menderita kalo ndak.

  4. Senin, 8 Desember 2008 7:33 pm

    IMO bukan kebahagiaan saja yang menular, setiap jenis atmosfir yang ‘diciptakan’ manusia bisa menular ke manusia lain atau tertanam di tempat itu selama beberapa waktu.

    Sensasi mencekam dari suatu kejadian mengenaskan di suatu rumah bisa tertanam selama bertahun2, itu salah satu contoh.

    Kembali ke topik😉, sayangnya penelitan tersebut gak menjelaskan bahwa apakah setiap kebahagiaan yang dimiliki setiap orang bisa menular, ataukah hanya jenis kebahagiaan tertentu yang dimiliki orang tertentu yang hanya bisa menular. Asumsi saya yang kedua, tapi saya tau tendensi penelitian tersebut memang untuk membantu program health care pemerintah Amerika, tidak salah memang, namun tidak juga akurat🙂

  5. Selasa, 9 Desember 2008 8:36 am

    Kata orang tua dulu .. teman atau persahabatan dapat mempengaruhi kepribadian kita seperti kata pepatah, bergaul dengan penjual minyak akan ikut wangi. Bergaul dengan tukang besi akan ikut terbakar. Begitu kira²🙂

    Hanya saja — seperti komentar J — apakah penelitian ini tidak memiliki tendensi tertentu? .. dengan adanya teknologi komunikasi yang makin canggih, jarak malah tidak ada pengaruhnya.

    Mungkin karena penelitian yang begitu lama, sehingga faktor teknologi (SMS, internet, jaringan sosial dlsbnya) terabaikan. Padahal saat ini banyak komplek perumahan yang tidak saling kenal satu sama lainnya. Tapi kita malah merasa akrab dengan teman internet yang jaraknya bisa ribuan kilometer?:mrgreen:

  6. Selasa, 9 Desember 2008 9:05 am

    Kunjungan pertama minggu ini, met kenal. Will visit again, someday..😉

  7. Rabu, 10 Desember 2008 7:23 pm

    Lha orang terdekat saya cuma satu😆
    Tapi, ya, sering tertular dan saling menulari😀 .

  8. Kamis, 11 Desember 2008 4:42 pm

    @Yari NK:
    Itu namanya iri hati Pak😀

    @J:
    Kalau tidak salah baca (sial, artikel lengkapnya sedang down >_<), penelitian itu hanya meneliti perasaan bahagia yang bersifat umum. Menurut anda, kebahagiaan itu bisa dirinci ke dalam jenis-jenis yang bagaimana saja?

    @Erander:
    Saya kira orang Indonesia masih peduli sekali sama yang namanya jarak dan tatap langsung; rasanya cuma netter Indonesia yang getol banget untuk kopdar (sampai mbela-belain lintas pulau) dan bikin perkumpulan2 berbasis kedaerahan, bukan?😉

  9. Rian Xavier permalink
    Minggu, 14 Desember 2008 1:42 pm

    yup. Memang saya sering tertular begini. Hehehehe. Saat orang yang saya cintai dan sayangi bahagia pasti saya juga ikut bahagia. Termasuk saat teman senang saya pasti senang. Saat mereka sedih saya juga sedih.🙂

  10. Rian Xavier permalink
    Minggu, 14 Desember 2008 1:43 pm

    Lho komen saya kok ga masuk ya?

  11. Rian Xavier permalink
    Minggu, 14 Desember 2008 1:44 pm

    Ow masuk sih.😛 Maap mas, salah lihat. hehehe.

  12. Rian Xavier permalink
    Minggu, 14 Desember 2008 1:45 pm

    Ow masuk sih.😛 Maap2 salah lihat. Hehe.

  13. Senin, 15 Desember 2008 6:27 am

    Kebahagiaan adalah kalau bisa berbagi, entah berbagi apa saja, sekedar sharing pengalaman atau apa. Kebahagiaan, jika kita masih ada teman untuk sekedar mengobrol sambil minum kopi.
    Atau masih bisa memeluk anak, yang makin sulit…lha iya, wong udah besar…

  14. Selasa, 20 Januari 2009 3:45 pm

    saya bersetuju…Tidak dinafikan faktor kedekatan salah satu punca. manakala faktor teknologi turut memainkan peranan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: