Skip to content

Ibadah Haji Membuat Umat Islam Lebih Toleran dan Pro-Perempuan

Kamis, 11 Desember 2008

Dalam sebuah studi yang melibatkan 1600 orang Pakistan, Asim Ijaz Khwaja dari Harvard University menemukan bahwa mereka yang pernah melakukan ibadah haji menjadi lebih toleran dan berpandangan positif, tidak hanya terhadap umat muslim dari negara lain, tapi juga terhadap umat non-muslim. Tak hanya itu, mereka juga lebih mendukung pemberdayaan perempuan, seperti perlunya pendidikan bagi anak perempuan dan hak wanita untuk bekerja.

Apakah hasil ini juga berlaku pada para haji dan hajjah asal Indonesia? Menurut Khwaja, bisa jadi para jemaah haji Pakistan itulah yang terpengaruh oleh populasi jemaah haji asal Asia Tenggara yang relatif lebih liberal dan jumlahnya jauh lebih banyak. Sementara itu, menurut saya pribadi, harus dicari tahu pula pengaruh tingkat kemampuan ekonomi (tentu kita tahu besarnya biaya naik haji) mempengaruhi perubahan itu, juga adakah perbedaannya antara pergi berhaji ke Arab Saudi dengan liburan jalan-jalan ke negeri yang lain.

Bagaimana dengan pengalaman anda atau orang-orang terdekat anda? Apakah pergi berhaji mengubah anda atau mereka menjadi seseorang yang lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk?

clipped from edition.cnn.com
Muslims who undertake the hajj “return with more positive views towards people from other countries,” are more likely to say “that people of different religions are equal,” and are twice as likely as other religious Muslims to condemn Osama bin Laden, the study found.
“People become more orthodox yet more tolerant,” one of the study’s authors, Asim Ijaz Khwaja of Harvard University
Hajjis are also more likely to back education for girls and work for women, the study found.
Going on the hajj, which all Muslims must do at least once if they are able, can also embolden women to challenge religious authority when they return home.
Khwaja chuckled at the Mark Twain quote: “Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.” But Khwaja said it was not simply travel that changed pilgrims — it was seeing unfamiliar practices in the holiest of settings.
And indeed, Khwaja said, going on the hajj makes pilgrims less likely to observe strictly local customs, such as the use of amulets.
blog it
7 Komentar leave one →
  1. assetty permalink
    Jumat, 12 Desember 2008 5:51 am

    benar

  2. liroesdy permalink
    Jumat, 12 Desember 2008 1:27 pm

    Kalau dari orang-orang disekitar saya setelah naik haji sebagian besar ada yang membawa perubahan postif baik untuk dirinya maupun disekitarnya. Dan memang seharusnya begitu, jadi tidak asal hanya memiliki gelar Haji saja 😕

  3. Jumat, 12 Desember 2008 2:44 pm

    Bagaimana dengan pengalaman anda atau orang-orang terdekat anda? Apakah pergi berhaji mengubah anda atau mereka menjadi seseorang yang lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk?

    beda2 sih…
    ada yang biasa aja, tetep sama kaya dulu..
    ada yang jadi sombong dan belagu..
    tapi ada yang jadi lebih mendalami agama…
    mungkin tergantung orangnya juga kali ya mas?

  4. Jumat, 12 Desember 2008 11:04 pm

    Orang terdekat saya belom ada yang naik haji😆

  5. Sabtu, 13 Desember 2008 12:48 am

    Selamat idul adha … minal aidin wal faidzin, pembelajaran kehikhlasan melalui qurban🙂

  6. Sabtu, 13 Desember 2008 2:16 am

    Bagi sebagian orang, naik haji mungkin bisa jadi hal yang patut disyukuri, sementara di satu sisi pada kehidupan lain, orang bersusah payah hanya untuk mendapatkan makanan.
    Kebanggaan sesungguhnya adalah ketika manusia dapat melaksanakan suatu ibadah dan menjadi lebih baik karenanya.🙂

  7. Rabu, 24 Desember 2008 11:56 am

    Saya rasa,
    yang paling kentara perubahannya setelah pergi haji adalah Malcolm X. Sebelum pergi haji, dia seorang rasis, anti kulit putih, bahkan mengusir wanita kulit putih yang bersimpati pada perjuangannya. Setelah pergi haji, dia banyak mengubah pandangannya, menyesali sifat rasisnya dahulu.

    Agus Salim dahulu menggunakan ibadah haji untuk mencari dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Belanda sampai ketakutan dan melakukan pembatasan pada ibadah haji.

    Almarhum guru agama Islamku dahulu pernah bercerita pada kami bahwa yang paling terasa setelah pergi haji adalah, ia jadi tidak kaget melihat orang-orang lain yang cara sholatnya berbeda, melihat beberapa mazhab-mazhab lain.

    Tentu saja, tidak semua yang pergi haji mengalami hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: