Skip to content

Menghadapi Perubahan

Selasa, 30 Agustus 2011

Di suatu sore di bulan Juli, saya dan beberapa teman yang baru saja selesai sidang tugas akhir berkumpul dan mengobrol santai. Topik pembicaraan yang  kami angkat tidak spesifik, namun secara natural topik ‘apa yang akan saya lakukan setelah ini?’ muncul ke permukaan.

Salah satu teman mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya mengurus anak dan suami, teman lain mengatakan bahwa ia akan segera mencari pekerjaan sebelum ia sibuk dengan persiapan pernikahannya, satu teman lagi (yang single) bercerita cara-cara menjawab pertanyaan keluarganya seperti ‘kapan bekerja?’ ‘kapan menikah’ dan kapan, kapan lainnya.

Walau semuanya memiliki rencana sendiri-sendiri, yang pasti kami semua menghadapi satu hal, perubahan. Kami bukan mahasiswa lagi. Kamu sudah tidak bisa bersembunyi di balik kata ‘masih sekolah’ ‘ sibuk mengerjakan tugas’ ‘harus belajar’. Bab itu sudah selesai, di tutup, sekarang ada bab lain yang musti ditulis. Saya termasuk segelintir orang yang masih merasa limbung dengan perubahan ini. Di dalam pikiran saya berkecamuk berbagai hal seperti ada peran baru yang perlu diadopsi, ada tugas baru yang menanti, ada kewajiban baru yang musti dipenuhi. Karena perubahan merupakan sesuatu yang HARUS terjadi, dan saya HARUS bisa secepatnya menyesuaikan diri

Cerita diatas hanya contoh dari pengalaman pribadi. Manusia pada umumnya, terutama para dewasa muda akan mengalami masa-masa kritis yang dapat mengubah kehidupan. Beberapa masa kritis tersebut di teliti oleh Holland (2009)  adalah; masalah keluarga (diusir dari rumah, orangtua di PHK, perceraian), penyakit atau kehilangan karena penyakit (diagnosis terkena penyakit kronis, orangtua meninggal, keguguran), pindah (rumah, kota, negara), masalah pendidikan (tes, tugas akhir, bullying dsb), masalah kriminal. Ada juga perubahan yang menandakan kedewasaan seperti, menemukan agama dan menemukan orientasi seksual.

Perubahan-perubahan diatas terkadang tidak bisa dihindari dan harus bisa dihadapi. Bila tidak, maka stres akan menumpuk dan kehidupan akan menjadi stagnan. Jadi, ketika perubahan merupakan suatu keharusan, apa yang bisa kita lakukan?

Abigail Brenner, seorang psikiater dan penulis  menuliskan lima tips untuk merespon perubahan secara efektif.

Pertahankan perspektif

Seperti ketika kita sedang menikmati lukisan, ambil satu langkah ke mundur dan lihat gambaran keseluruhannya.   Seperti sebuah lukisan, perubahan adalah detail-detail yang dialami dalam membentuk gambaran kehidupan. Dengan mempertahankan perspektif, kita dapat menghindari respon emosional yang berlebihan.

Latihlah 5 P (Patience, Persistent, Practical, Positive, Purpose)

Patience : perubahan adalah proses, hasilnya tidak langsung terlihat. Jangan impulsif dan ingin secepat-cepatnya mencapai hasil yang diinginkan. Berikan waktu yang masuk akal untuk melihat prosesnya, cobalah untuk bersabar.

Persistent : Sangat mudah untuk menyerah bila perubahan terasa berat, masa depan terlihat gelap  dan stress mulai membebani. Bertahan dan jangan menyerah, siapa tahu hasil yang diinginkan hanya tinggal selangkah lagi.

Practical : Tidak usah terlalu terokupasi dengan perubahan yang terjadi dan dampaknya ke masa depan. Pertahankan perspektif dan hiduplah di masa kini. Dengan demikian kita dapat  mempertahankan keseimbangan dan tidak merasa limbung.

Positive : Coba memandang perubahan secara optimis.  Sadari bahwa ada dinamika yang akan dihadapi, ada yang naik dan ada yang turun. Berpikir secara realistis. Dengan menyadari naik turunnya keadaan dapat membantu untuk tetap fokus dan mempertahankan komitmen. Berpikirlah secara terbuka terhadap kemungkinan yang terjadi, belajar menjadi fleksibel, tetap termotivasi, dan pertahankan selera humur yang akan membantu dalam menghadapi gempuran yang menantang kebertahanan.

Purpose : Sadari dasar dan tujuan hidup. Dengan mengetahui tujuan besar yang ingin dicapai, maka akan membantu ketika manghadapi transisi.  Gunakan tujuan ini sebagai kompas agar tidak terseret oleh arus perubahan.

Fokuslah pada identitas dirimu dan apa yang kamu dibutuhkan

Tips ketiga ini lebih mudah dikatakan daripada dipraktekkan. Sungguh sulit untuk mempertahankan fokus mengenai diri sendiri karena kita biasanya mengidentifikasi melalui hal yang eksternal. Contohnya seperti ‘saya adalah seorang akuntan’, ‘saya adalah pacar X’, ‘saya manajer di perusahaan Y’, ‘saya seorang dengan status ekonomi yang mapan’.  Hal ini terutama terasa sulit bila perubahan yang dialami berkaitan dengan hal eksternal yang sangat melekat sebagai identitas diri, seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga terdekat, atau putusnya hubungan romantis.

Menemukan ‘diri’  dan ‘keinginan diri’ yang ajeg dapat membantu dalam menghadapi perubahan dunia eksternal. Temukan ‘diri’ selain sebagai pacarnya X, atau karyawan perusahaan Y. Ketika ‘diri’ dapat mandiri dari segala faktor yang eksternal, kita dapat berubah dan berkembang tanpa kehilangan jadi diri yang inti.

Perhatikan keyakinanmu terhadap perubahan.

Disadari atau tidak, cara kita dalam menghadapi masalah berkaitan dengan didikan keluarga dan pandangan budaya yang melekat sejak kecil. Perubahan dapat dipandang secara positif maupun negatif tergantung pada kepercayaan kita yang sudah terbentuk di awal kehidupan. Terkadang perubahan menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan perasaan bersalah. Tanyakan pada diri sendiri, apakah perubahan ini membuat saya tidak nyaman? apakah perubahan ini merupakan suatu kerepotan yang tidak perlu? Apakah pertanyaan itu berasal dari diri sendiri atau didikan dari kecil? Bila keyakinan terhadap perubahan sudah dipahami, kita akan mengerti mengapa kita memiliki cara tertentu dalam menhadapi perubahan.

Gunakan sebanyak mungkin waktu yang kamu butuhkan sebelum memberi respon.

Biasanya manusia dengan cepat bereaksi terhadap sesuatu hal tanpa dapat mempertanggung jawabkan perilakunya. Seperti seseorang yang terburu-buru mencari pengganti setelah diputuskan oleh pacarnya. Daripada berpikir cara bereaksi paling cepat terhadap situasi, pahami perilaku apa yang perlu dilakukan  dan ambil keputusan secara bertanggung jawab. Jangan sampai keputusan yang terburu-buru menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Lima tips diatas merupakan cara ideal yang dapat dipraktekkan dalam menghadapi perubahan. Penggunaannya dapat berbeda-beda tiap orang tergantung pada kepribadian dan konteks. Pada akhirnya semua kembali kepada diri sendiri. Sering kali, perubahan terasa menyakitkan karena kita terancam kehilangan sesuatu yang telah sekian lama membuat kita nyaman. Tapi bila sudah saatnya berubah, maka suka atau tidak, kita harus menghadapinya dan bagaimana kita bereaksi dalam menghadapi perubahan dapat kita putuskan sendiri.

Sumber :

Tips : Brenner, Abigail. 5 tips to help you respond effectively  to change. (July  5, 2011) http://www.psychologytoday.com/blog/in-flux/201107/5-tips-help-you-respond-effectively-change

Penelitian : Holland, Janet. Change and continuity in young people’s lives: Biography in Context. Dalam Mancini & Roberto.(2009). Pathways of Human Development.  Plymouth : Lexington Books.

3 Komentar leave one →
  1. Iman MR permalink
    Rabu, 31 Agustus 2011 12:48 am

    Nice Dan.. Smg sukses ya..🙂

  2. Kamis, 25 April 2013 2:18 pm

    Menbantu memberikan pencerahan atas kegalauan saya. Thx

  3. Sabtu, 16 November 2013 6:50 pm

    artikelnya bagus, sukses gan, banyak memberi dorongan kepada saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: